
"Kau pasti terkejut dengan kedatangan Mama yang tiba-tiba ya?" tanya Calia, ibu kandung Maxim. Wanita itu memang memutuskan untuk menemui sang menantu secara langsung.
"I—iya, Ma. Aku hanya sedang tidak memiliki persiapan apa pun." Merasa tak ada gunanya berbohong, Gwen pun menjawab pertanyaan ibu mertuanya dengan jujur.
Calia tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat merdu di telinga Gwen. Sekilas, sang ibu mertua mengingatkan gadis itu pada sosok mendiang ibunya.
"Sudah sejak lama sebenarnya Mama ingin kemari, tapi belum sempat karena beberapa hal yang harus dikerjakan," kata Calia.
"Ahh, seharusnya aku lah yang menemui Mama dan Papa. Maaf, jadi Mama yang harus repot-repot ke sini," ujar Gwen tak enak hati.
"Tidak masalah, Sayang," jawab Calia sambil terus mengeluarkan beberapa barang dari dalam kantong belanjaannya.
Gwen mengerutkan kening dalam-dalam saat melihat berbagai macam bahan makanan yang dibeli Calia. Pasalnya, bahan-bahan makanan tersebut memiliki terbaik semua dan harganya juga pasti mahal.
Bukankah keluarga mereka berasal dari keluarga sederhana? Apa Calia sengaja mengorbankan uangnya karena Gwen?
Berbagai macam pertanyaan sontak timbul di kepala gadis itu. Namun, dia tidak berani untuk mengatakannya secara langsung, apa lagi mereka baru pertama kali bertemu.
"Kau pasti belum makan siang, kan? Biar Mama buatkan ya?"
Gwen buru-buru menolak. "Tidak usah, Ma! Mama kan, baru datang. Jadi, kita beli saja di luar ya?" sergahnya tak enak hati.
"Mama sudah lama sekali ingin membuatkanmu makanan." Tanpa menghiraukan respon Gwen, Calia pun mengolah beberapa bahan makanan untuk mereka.
Gwen pun hanya bisa pasrah. Namun, dia bersikeras ingin membantu walau tidak banyak.
Sederet pujian kontan keluar dari mulut Gwen, begitu lidahnya menyentuh makanan sang ibu mertua. Pantas saja Maxim memiliki bakat memasak, sebab ternyata, keahliannya menurun dari Calia.
"Ma, apa perlu aku minta Max pulang lebih cepat?" tanya Gwen, setelah mereka selesai makan siang.
__ADS_1
"Tidak perlu, Sayang. Dia pulang jam berapa pun itu sama saja." Jawab Calia. Wanita itu kemudian meminta Gwen mendekat padanya. Mereka mengobrol santai mengenai kehidupan rumah tangga Gwen dan Maxim.
Tak banyak yang bisa Gwen katakan, selain hal-hal yang bisa dilihat dari luar. Dia enggan membeberkan hubungannya dengan Maxim yang kini terasa jauh.
"Pernikahan tanpa cinta diawalnya memang terasa sangat berat. Namun, Mama yakin kalian bisa melewatinya. Lambat laun perasaan itu pasti akan tumbuh seiring berjalannya waktu," ucap Calia.
Gwen terdiam. Dia ragu akan perkataan Calia, sebab dirinya sendiri tidak mengerti apa yang dirasakannya pada Maxim.
Satu-satunya hal yang bisa Gwen simpulkan saat ini adalah, rasa menggantungkan hidupnya, karena hanya pria itu lah yang dimilikinya di tempat asing ini.
Tiba-tiba Calia mengambil sebuah goodie bag berukuran besar yang diletakkannya di bawah televisi, lalu menunjukkannya pada Gwen.
"Album foto?" gumam Gwen.
"Kalian berdua harus lebih mengenal satu sama lain. Mama rasa dia sudah tahu tentang dirimu, tetapi kau belum tahu apa pun soal dirinya, kan?" Wanita cantik itu pun membuka tiap lembar album foto sembari menjelaskan secara singkat tempat-tempat atau makna yang terkandung ditiap foto tersebut.
Gwen tersenyum. Maxim terlihat sangat lucu waktu bayi. Wajahnya polos dan menggemaskan.
"Ini siapa Ma?" tanya Gwen.
"Ini Axel, kakak kandung Maxim. Usia mereka terpaut lima tahun. Axel merupakan satu-satunya idola Maxim. Sejak kecil dia selalu saja mengikuti jejak kakaknya, dari mulai sekolah di tempat yang sama, les, masuk ke perguruan tinggi hingga berkarir."
Gwen menganggukkan kepalanya. "Perguruan tinggi? Berkarir?"
"Ya, Axel merupakan perwira angkatan darat, dan Maxim pun turut mengikutinya."
Mendengar jawaban Calia, Gwen terkejut bukan main. "Ang—katan darat?" ujar gadis itu tergagap.
Calia mengangguk.
__ADS_1
"Dia tak pernah mengatakannya padaku! Selama ini, yang aku tahu, Maxim hidup sederhana dengan membuka toko buah. Itu juga yang dikatakan ayah!" Tanpa sadar Gwen meninggikan nada suaranya.
Calia tersenyum. Berusaha memahami perasaan Gwen. "Karena memang itu adalah masa lalu Maxim, Sayang. Sejak kejadian itu, Maxim memutuskan untuk meninggalkan segalanya tanpa mengungkit-ungkit lagi. Maka dari itu lah kini dia hidup sebagai pria yang kau kenal sekarang."
Gwen semakin tidak mengerti. "Lalu soal kejadian itu, kejadian yang bagaimana Ma?"
Mendapat pertanyaan demikian, raut wajah Calia berubah sendu. "Bekerja di tempat yang sama, membuat Axel dan Maxim sempat menjalani beberapa misi bersama. Salah satunya adalah menjaga wilayah perbatasan agar tidak terjadi pecah konflik lagi seperti tahun-tahun silam," ujar sang ibu mertua mengawali penjelasannya.
"Namun, entah bagaimana ceritanya, sekelompok orang tiba-tiba menyerang kamp militer angkatan darat dengan membabi buta, hingga menyebabkan beberapa korban berjatuhan. Sebagai atasan yang bertanggung jawab, Axel memutuskan untuk mengejar kelompok tersebut seorang diri. Maxim yang mengetahui hal itu akhirnya menyusul ...." Calia tiba-tiba menghentikan pembicaraannya untuk mengambil napas sejenak.
"Akan tetapi, ketika Maxim tiba di sana, Axel ternyata telah meninggal dunia. Maxim murka. Tanpa memerdulikan keadaannya yang hanya datang seorang diri, dia berusaha membalas kelompok tersebut."
Gwen hanya bisa mematung mendengar cerita Calia. Dia hendak menyuruh Calia berhenti, tetapi wanita itu keburu melanjutkan ceritanya.
"Maxim berhasil menumbangkan beberapa orang, termasuk dua orang yang telah membunnuuh Axel. Namun, tetap saja dia kalah jumlah. Saat Maxim hendak membawa Axel, tiba-tiba sebuah tank muncul dan menabrak dirinya yang sedang berada di atas motor."
Gwen membelalakkan matanya lebar-lebar, terlebih ketika Calia menyambung penjelasan terakhirnya.
"Karena kejadian itu, Maxim harus kehilangan tangan kirinya."
Setetes air mata yang sejak tadi ditahan Calia pun tumpah. Wanita itu menangis tanpa suara. Begitu pula dengan Gwen yang turut menangis.
Ingatannya kembali pada momen dimana mereka pulang dari toko menggunakan motor milik Mr. Donald. Pantas saja Maxim sampai jatuh pingsan ketika tiba di rumah. Sebab, traumanya ternyata cukup besar.
Lalu, bagaimana dengan tangan kiri pria itu? Apa selama ini dia memakai tangan palsu? Pasalnya, tangan tersebut sama sekali tidak berbeda dengan tangan asli pada umumnya.
Berbagai macam perasaan kini mulai berkecamuk di benak Gwen, termasuk perasaan bersalah.
Dia pernah menghina harga diri Maxim. Dia juga pernah meneriaki dirinya dan bersikap kurang ajar. Belum lagi soal ejekannya tentang motor saat itu.
__ADS_1
Sementara yang Maxim lakukan padanya selama ini ternyata menjaganya. Itu lah mengapa dia begitu marah, saat mengetahui Gwen pergi dari rumah dan malah menumpang di mobil Jack dan Allan.
Semua yang Maxim lakukan tidak seburuk pemikiran Gwen.