
Tak cukup puas dengan jawaban Gwen, Calia juga berusaha mengulik isi hati Maxim, putra yang dikenalnya tak pernah benar-benar jatuh cinta pada gadis mana pun selama ini.
Alih-alih menjawab pertanyaan gamblang Calia soal perasaannya pada Gwen, Maxim malah mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Memangnya sebuah keharusan aku menjawab pertanyaan Mama?"
Calia berdecak kesal. "Tentu saja! Mama harus tahu bagaimana kehidupan pernikahan kalian, Sayang. Siapa tahu dengan Mama mengetahui isi hati kalian masing-masing, Mam bisa membantu,' ungkapnya.
Maxim terdiam sejenak. "Rumah tangga kami baik-baik saja. Memang agak sedikit hambar. Mungkin karena perasaan kami satu sama lain belum bisa tertaut, tapi aku jamin semua baik-baik saja." Hanya itu jawaban yang bisa diberikan Maxim.
Calia memicing. Kentara sekali keduanya tengah menyembunyikan sesuatu. Namun, apa mau dikata, mereka berdua sudah sama-sama dewasa, dan Calia tak bisa memaksa.
Wanita itu pun mengembuskan napasnya beberapa kali. "Baiklah kalau begitu. Mama harap kalian benar-benar bisa menjalani rumah tangga seperti orang-orang pada umumnya."
Tak seperti dengan Gwen, berbincang dengan Maxim soal ini hanya membutuhkan waktu tak sampai sepuluh menit.
...**********...
Pada siang hari Paul pun menepati janjinya untuk mengajak Maxim dan Gwen jalan-jalan.
Gwen pikir, Paul akan mengajak mereka mengunjungi beberapa tempat-tempat wisata. Namun, tidak demikian. Pria itu malah mengajak Gwen ke sebuah kilang anggur milik keluarga Eginhard, dan menunjukkan padanya bagaimana proses produksi anggur di sana.
Ternyata ladang anggur yang sempat dia lihat waktu datang kemari, sebagiannya merupakan milik keluarga Maxim. Tak hanya itu saja, Paul juga mengajak Gwen ke tempat peternakan kuda milik mereka.
Saat tiba di sana, seekor kuda hitam gagah tiba-tiba berlari ke arah Maxim dan menubruknya pelan.
Maxim pun tertawa. Dia lantas mengelus kuda tersebut penuh sayang.
"Namanya Alcandor. Dia adalah kuda kesayangan Maxim." Paul membuka suaranya, tatkala mendapati wajah penasaram sang menantu.
"Pantas. Dia pasti merindukan tuannya, Pa," ujar Gwen.
"Memang. Awal-awal kepergian Maxim, Al sempat jatuh sakit dan tidak mau makan. Namun, lambat laun dia bisa beraktivitas seperti biasa." Paul menimpali.
Gwen mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
Tak lama Maxim pun datang menghampiri Gwen sembari membawa Alcandor ke hadapan gadis itu.
"Bolehkah aku memegangnya?" tanya Gwen.
"Pegang saja. Perlahan," titah Maxim.
Gwen dengan takut-takut mengulurkan tangannya ke wajah kuda hitam tersebut. Gadis itu sempat tersentak saat sang kuda bersuara. Namun, dia berhasil melakukannya.
Gwen tersenyum senang.
"Mau mencoba menaikinya?" tanya Maxim.
"Aku tidak bisa naik kuda." Jelas Gwen.
Maxim tidak menjawab. Dia hanya meminta Gwen untuk ikut dengannya, sekaligus meminta seseorang untuk membantu mereka naik.
Bersama Maxim yang duduk di belakangnya, mereka mengelilingi peternakan kuda.
"Kau sama sekali tidak pernah menaiki kuda?" tanya Maxim keheranan. Pasalnya, orang-orang kaya seperti mereka tak luput dari hobi berkuda.
"Ayah selalu mengajakku, tapi aku terus menolak karena tidak tertarik dengan hewan ini. Namun, setelah mencobanya ternyata seru sekali." Jawab Gwen jujur.
"Kalau begitu, kapan-kapan kau harus mengajak ayah berkuda," kata Maxim.
Gwen menganggukkan kepala. Mereka menikmati waktu cukup lama di sana, sebelum akhirnya Paul mengajak mereka untuk pulang karena sang istri telah memasak makan malam istimewa.
Saat tengah berjalan sendirian, Gwen terkejut mendapati tangannya tiba-tiba digenggam erat oleh tangan Maxim.
Gwen semula hendak melepaskannya, tetapi setelah melihat raut wajah Maxim yang seolah terbuasa, Gwen langsung mengurungkan niatnya. Biarlah di hadapan mertua, mereka bersikap demikian agar tidak menimbulkan kekhawatiran.
...**********...
Satu minggu kemudian.
__ADS_1
"Aihh, akhirnya kita kembali lagi ke rumah ini!" celetuk Gwen begitu kakinya melangkah masuk ke dalam rumah mungil mereka.
Maxim yang tengah mendorong lima buah koper sendirian, sontak bersuara. "Sepertinya kau menyesal kembali ke sini," terkanya.
"Tentu saja. Siapa yang tidak kerasan tinggal di istana megah!" Tanpa merasa sungkan, Gwen menimpali perkataan Maxim.
Maxim hanya bisa menggelengkan kepala sembari bersungut-sungut karena mendapat tiga koper jumbo tambahan dari sang ibu, yang isinya berbagai macam kebutuhan rumah.
Sudah pasti pria itu yang akan membereskannya, karena Gwen sama sekali tidak pandai menata stok barang.
"Biarkan koper-koper ini di sini dulu, aku akan ke toko sebentar," ujar pria itu kemudian.
Gwen mengernyitkan dahinya. "Ini sudah jam dua siang dan kau ingin membuka toko?" tanyanya.
"Tidak. Aku hanya ingin memeriksanya sekaligus mengambil lemari kayu kecil di sana. Kita kekurangan tempat untuk menampung barang-barang," kata Maxim merujuk pada tiga koper jumbo di antara mereka.
"Mau aku temani?" Gwen menawarkan diri.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Maxim bergegas keluar dari rumah dan pergi menggunakan mobil antiknya tersebut, sementara Gwen mendorong dua koper pakaian mereka ke kamar untuk dibereskan.
Saat sedang sibuk memasukkan kembali pakaian-pakaian mereka ke dalam lemari, pintu rumah tiba-tiba terbuka.
Gwen mengira bahwa Maxim sudah pulang ke rumah. "Cepat sekali kembalinya. Kau tidak jadi ke toko?" tanyanya tanpa menoleh ke belakang. Namun, tak ada satu pun jawaban yang keluar dari mulut Maxim.
"Max?" Gwen kembali bersuara.
Hening. Hanya ada langkah kaki yang terdengar sangat pelan.
Kesal dengan tingkah Maxim yang mengira sedang menakut-nakutinya, Gwen pun segera berbalik dan hendak berjalan menuju pintu. Namun, hal buruk kemudian terjadi.
Seseorang berpakaian serba hitam dengan masker dan topi tiba-tiba membekap mulut Gwen, begitu sang gadis membalikkan tubuhnya.
Gwen tak sempat meronta. Tubuhnya terkulai lemas seketika.
__ADS_1