
Mendengar bisikan Gwen, Maxim mendecih. Kendati demikian, dia sama sekali tidak menolak pelukan gadis itu. Keduanya hanya berdiam diri selama beberapa saat tanpa bicara.
Baru setelah itu, Maxim melepaskan diri dan berkata hendak meluruskan segalanya.
"Jangan!" sentak Gwen. "Jangan katakan apa pun. Aku tahu, aku lah yang bersalah atas kejadian lalu. Andai saja aku tidak egois memikirkan diri sendiri, dengan dalih rindu menjalani kehidupan yang dulu, mungkin malam itu tidak akan terjadi apa-apa." Gwen tidak bisa menyembunyikan wajah merahnya saat mengatakan hal demikian.
Rasa malu memang mulai menguasai Gwen. Namun, mereka tak bisa terus menerus bertingkah demikian. Alhasil, Gwen memilih untuk mengalah dengan mengesampingkan rasa malunya.
"Sekarang, silakan kalau kau mau marah atau pun mengusirku dari rumah. Aku tidak akan membantah dan berusaha mendebatmu lagi." Gwen menundukkan kepala.
Mendengar semua Gwen, Maxim justru terkejut. Dia lah yang sebenarnya berniat untuk membicarakan hal ini terlebih dahulu. Namun, Gwen ternyata mengambil langkah duluan.
"Kau melukai harga diriku sebagai laki-laki," ujar Maxim.
Gwen mengangkat kepalanya dan menatap Maxim dengan raut ketakutan. "Maaf, aku tida—"
"Kau melukai harga diriku, karena seharusnya aku lah yang lebih dulu membahas ini."
Suasana hening sejenak, sebelum akhirnya Maxim kembali bersuara. "Aku lah yang hendak meminta maaf duluan, karena telah mengancam akan membebankan semua kesalahan padamu malam itu. Padahal seharusnya, sebagai pria (apa lagi dalam keadaan waras), aku bisa saja menghindarimu."
__ADS_1
Gwen mengedip-edipkan matanya, seolah sedang berusaha mencerna seluruh perkataan Maxim.
"Apa maksudmu?" tanya gadis itu kemudian.
Maxim membalas tatapan Gwen sama herannya. "Kau tak ingat ucapanku malam itu?" tanyanya.
Gwen terdiam sejenak lalu menggelengkan kepala. "Sepertinya aku memang mendengar beberapa kalimat, tapi ...." Suara tawa terdengar dari mulut Gwen.
Maxim mendengkus. Tangannya kemudian terulur ke hadapan Gwen.
Gwen yang mengerti segera membantu Maxim memasang kembali tangannya. "Tangan palsu ini pasti membutuhkan banyak perawatan. Ajarkan aku untuk membantumu," ujar gadis itu.
Maxim menganggukkan kepalanya. Bersamaan dengan itu, bunyi klik kembali terdengar.
Gwen membuka lebar jendela mobil yang ditumpanginya untuk menghirup udara segar dalam-dalam. Dia dan Maxim baru saja sampai di Kota Keysersberg.
Matanya berbinar senang, tatkala menatap hamoatan kebun anggur yang sangat luas. Kota kecil ini memang menjadi salah satu area perkebunan anggur terbaik di kawasan Alsace. Tak hanya itu saja, kota ini juga memiliki bangunan-bangunan half-timbered houses yang berwarna-warni yang berjejer dan berhimpitan hingga membentuk jalan desa yang sempit. Menariknya lagi, atmosfer abad pertengahan dengan rumah kayu dan kebun anggur yang indah begitu terasa.
Selain kebun anggur, mata Gwen juga termanjakan dengan pemandangan beberapa bangunan khusus, seperti kastil, gereja tua abad pertengahan, museum, balai kota, hingga sumur tua yang terbuat dari batu.
__ADS_1
"Senang?" tanya Maxim singkat.
"Tentu saja!" jawab Gwen antusias. "Aku sudah lama tidak pergi keluar kota," sambungnya. Gadis itu berkali-kali menggumamkan kata-kata pujian pada pemandangan indah yang mereka lewati.
"Kau pernah ke sini?" tanya pria itu lagi.
Gwen menggeleng. "Hanya lewat saja. Aku lebih suka pergi ke kota yang ramai dan modern," kata gadis itu jujur.
"Berarti, sekarang tidak suka?" tanya Maxim lagi.
Gwen mencibir. "Kau kehabisan topik? Mengesalkan sekali pertanyaan-pertanyaanmu itu!" serunya ketus.
Maxim tertawa kecil. Bersamaan dengan itu, Aamauri, supir pribadi keluarganya, memberitahu bahwa mereka hampir sampai.
Gwen hanya bisa ternganga saat mobil yang ditumpanginya kini memasuki sebuah bangunan tua mirip kastil, yang jauh lebih besar dari rumah megahnya.
Gwen menatap takjub sebuah patung air mancur berukuran besar, yang terletak di tengah-tengah halaman rumah tersebut.
Aamauri menghentikan mobilnya tepat di depan pintu rumah dan turun dari sana untuk membantu Maxim dan Gwen keluar.
__ADS_1
"Selamat datang di rumahku." Maxim tersenyum tipis.
Gwen bungkam. Wajahnya memerah seketika, tatkala mengingat hinaan-hinaan yang selalu saja terlontar dari mulutnya waktu itu.