Wedding Mission

Wedding Mission
13. Ketakutan Maxim.


__ADS_3

Gwen lah yang pertama kali memalingkan wajah sambil berteriak memaki Maxim. "Dasar mesum! Kau mau ambil kesempatan ya?"


Mendengar kalimat kurang ajar yang terlontar dari mulut Gwen, Maxim melebarkan matanya. "Sembarangan saja! Bukannya terima kasih, malah menghinaku. Itu makananmu!" Maxim meletakkan makanan Gwen di atas meja, sementara dia pergi ke sudut lain untuk menghabiskan makanannya sendiri.


Gwen merengut. Mengapa keadaan jadi berbalik? Bukankah seharusnya dia yang marah, karena Maxim tiba-tiba menyentuhnya?


...**********...


Pasar sudah mulai agak sepi, saat Maxim dan Gwen menutup tokonya. Kehadiran Gwen, membuat pria itu memilih menutup toko lebih cepat dari biasanya.


"Tunggu di sini, aku akan mengambil mobil," ucap pria itu, mengingat akan ada banyak bahan makanan yang harus mereka bawa pulang. Kebetulan ada banyak keranjang juga yang harus dia bawa.


Gwen mengangguk.


Sesampainya di sana, Maxim terkejut mendapati salah satu ban belakang mobilnya bocor. Pria itu sampai memastikan berkali-kali ... dan memang benar, ban mobilnya bocor.


Maxim memaki. Pasalnya, dia tidak memiliki ban cadangan, sedangkan bengkel mobil terdekat berada tak jauh dari terminal.


Pria itu akhirnya memilih untuk kembali ke toko guna menemui tetangga tokonya yang memiliki mobil.


"Mana mobilnya? Kenapa berjalan kaki?" tanya Gwen, tatkala melihat keberadaan Maxim.


"Ban mobil kita bocor. Aku tidak memiliki cadangan, dan tidak ada bengkel terdekat di sini." Jawab Maxim.


Gwen terkejut. "Lalu, bagaimana kita akan pulang?" tanyanya panik.


"Aku akan meminjam mobil seseorang." Maxim Pria itu kemudian berjalan menuju salah satu toko yang hanya berbeda tiga lapak dari tokonya. Di sana, dia terlihat sedang berbicara dengan seorang pria bertubuh tambun.


Beberapa saat kemudian, wajah Maxim tampak frustrasi.


Gwen lantas mengerutkan keningnya. Penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan, Gwen memutuskan untuk menghampiri.


"Ada apa?" tanya Gwen, seraya menyapa sang pemilik toko.


"Mobil Mr. Donald sedang dipinjam." Maxim menoleh ke arah sudut toko dan menemukan sebuah sepeda motor bebek. "Beliau hanya memiliki itu." Sambungnya.


Gwen mengangkat alisnya. "Loh, memangnya kenapa? Urusan barang-barang bisa belakangan, yang penting kita bisa pulang," ujar gadis itu.

__ADS_1


Maxim terdiam. Sementara Mr. Donald terlihat sedikit cemas. "Apa istrimu tidak tahu, kalau kau tidak bisa mengendarai sepeda motor, Max?"


Mendengar hal tersebut, Gwen sontak membelalakkan matanya. Tawa gadis itu pun menggelegar seketika.


"Benarkah? Ya Tuhan, kenapa tidak bilang dari tadi, sih!" seru Gwen pada Maxim. "Mr. Donald, kalau begitu saya pinjam motornya ya?" tanya gadis itu pada sang tetangga.


Mr. Donald beradu tatapan dengan Maxim terlebih dahulu. "Kau yakin Max? Alih-alih bertanya pada Gwen, pria itu malah mengajukan pertanyaan tersebut pada Maxim.


"Tentu saja yakin, Mr. Donald! Aku pandai mengendarai motor," jawab Gwen.


Maxim mengembuskan napasnya sesaat, lalu mengangguk pelan. "Kalau begitu, kami pinjam motor Anda, Mr. Donald," pinta Maxim.


Mr. Donald tersenyum tipis. "Baiklah. Titipkan saja mobilmu di sini. Nanti aku akan menyuruh seseorang untuk memanggil montir, dan mengantarnya ke rumah," tawar pria tambun berhati baik tersebut.


"Terima kasih, Mr. Donald," ucap Gwen tulus. Dia pun berjalan mengikuti Mr. Donald untuk mengambil motornya.


Sementara itu, Maxim hanya bisa berdiam diri sambil menatap motor bebek tersebut dengan penuh ketakutan. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya, begitu erat melekat.


Tangan kanan pria itu bahkan sudah terlihat gemetaran.


Setelah mengambil motor, Gwen pun menghampiri Maxim dan meminta pria itu untuk menjaganya terlebih dahulu. "Biar aku yang mengunci toko," ucap Gwen sembari berlalu pergi.


Yah, mau bagaimana lagi, untuk yang satu ini Abraham memang tidak bisa memberi toleransi keringanan. Dia sangat tidak menyukai Gwen mengendarai motor.


"Aku ... tidak bisa," jawab Maxim dengan suara nyaris tak terdengar.


"Hah? Kenapa? Tenang saja, aku yang akan menyetir motor, sedangkan kau cukup duduk diam. Begini-begini, bawaanku adalah motor-motor besar tahu!" seru Gwen percaya diri.


Maxim terdiam. Kedua tangannya kini saling bertautan.


"Ck, sudah, ayo! Aku janji akan mengendarai motor ini dengan aman!" ujar Gwen.


Setelah sedikit memaksa, Maxim akhirnya melangkah menaiki motor. Tubuhnya yang tinggi membuat motor tersebut jadi terlihat mungil.


"Nah, apa susahnya tinggal naik? Seperti orang trauma saja!" gumam Gwen, sebelum kemudian menjalankan sepeda motor pinjaman itu. Tak lupa, dia mengucapkan terima kasih pada sang pemilik, Mr. Donald, yang ternyata masih memerhatikan mereka.


Berbekal keringat dingin sebesar biji jagung, Maxim berpegangan pada pinggang Gwen. Wajahnya senantiasa tertunduk, tampak enggan menatap sekeliling.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja?" ta y Gwen kemudian.


" ... ya, jangan cerewet dan fokus saja pada kemudi!" tegas Maxim.


Gwen mencibir. "Tak kusangka, pria sepertimu memiliki kelemahan juga. Pantas saja kau tak pernah terlihat mengendarai sepeda motor sebelumnya? Apa kau tidak ingin belajar? Aku bisa kok mengajari dirimu. Gratis!" tawar gadis itu kemudian.


"Tidak, terima kasih!" jawab Maxim singkat.


Gwen mengangkat bahunya. Dia tidak mengajak Maxim bicara lagi dan memilih untuk fokus mengendarai sepeda motor. Namun, saat mereka hendak sampai di rumah, tiba-tiba saja seekor tupai melompat ke arah motor.


Gwen kehilangan keseimbangan. Keduanya pun jatuh ke aspal.


"Ouch!" seru Gwen sambil menggosok-gosokkan bokongnya yang tampak kesakitan. Gadis itu kemudian mengalihkan pandangannya, guna mencari keberadaan Maxim.


Maxim rupanya sedang duduk terdiam di atas jalanan sambil memegang kepalanya.


"Max, kau tak apa?" tanya Gwen khawatir. Dia mencoba memeriksa tubuh bagian luar Maxim. "Syukurlah, tak ada luka di tubuhmu."


Gwen pun bergegas mendirikan motornya dan memeriksa keadaan motor pinjaman tersebut.


"Syukurlah motornya juga tidak apa-apa." Helaan napas keluar dari mulut Gwen.


"Max, ayo!" seru Gwen.


Maxim perlahan berjalan menghampiri Gwen. Mereka pun kembali menaiki motor dan pergi menuju ke rumahnya.


"Ahh, akhirnya kita sampai. Sepertinya kita harus bilang pada ... Max!" Gwen yang baru saja hendak turun dari motor, sontak terkejut, tatkala mendapati Maxim terjerembab tak berdaya di halaman rumah mereka.


Secepat kilat, Gwen menopang tubuh Maxim yang sudah keringat dingin. Wajahnya bahkan sudah sepucat kapas. "Max, kau kenapa?" tanya Gwen panik.


Maxim tidak menjawab. Tak tahu apa yang harus dia lakukan, Gwen akhirnya berteriak meminta pertolongan.


Beberapa orang tetangga segera keluar dari rumah mereka dan menghampiri Gwen.


"Gwen, ada apa dengan Max?" tanya Helen.


"Aku tidak tahu. Dia baru saja jatuh dari motor, begitu tiba di sini."

__ADS_1


Mendengar penjelasan Gwen, para tetangga yang berkumpul di sana kompak terdiam. Namun, akhirnya salah satu dari mereka berinisiatif memapah Max ke dalam rumah.


__ADS_2