
Gwen terbangun dari tidurnya pukul setengah tujuh pagi. Tak seperti biasa, Maxim masih terlelap di atas tempat tidur. Maklum saja, sebab semalam saat dia hendak beristirahat, sang ayah tiba-tiba mengajak pria itu bermain catur dan baru kembali pukul setengah lima pagi.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Gwen memutuskan untuk keluar dari kamar terlebih dahulu.
"Gwen, kau sudah bangun?" Calia yang sedang sibuk menyiram tanaman di halaman belakang rumah segera menyapa sang menantu yang datang menghampirinya.
Gwen hanya tersenyum. Entah sang ibu mertua tahu atau tidak, gadis itu memang tak bisa bangun pagi jika tidak dibangunkan Maxim. Seingatnya baru kali ini dia bisa bangun sendiri. Mungkin karena merasa tak enak, sebab sedang berada di rumah keluarga suaminya sendiri.
"Bunga-bunga yang indah, Ma," ujar Gwen tatkala mendapati pemandangan bunga di halaman luar tersebut. Gadis itu pun berjalan mendekati Calia.
Calia tersenyum. "Kau tahu, Mama sebenarnya tidak menyukai berkebun atau merawat bunga. Semua ini adalah hasil tangan ayah mertuamu," katanya.
Mendengar itu, Gwen terkejut lalu tertawa kecil. "Tidak kusangka, dibalik tubuhnya yang kekar papa memiliki jiwa yang lembut."
"Itulah mengapa Mama sangat mencintainya!" celetuk Calia sembari menimpali tawa Gwen.
Gwen mengangguk setuju. Dia pun meminta izin untuk mengambil alih menyiram tanaman. Calia pun dengan senang hati mengizinkan.
"Lalu, bagaimana dengan kau sendiri Sayang?" tanya Calia kemudian.
Gwen mengalihkan pandangannya pada Calia. "Maksud Mama soal apa?" tanya gadis itu.
"Soal hubungan kalian berdua." Jawab Calia.
Gwen kontan terdiam. Dia tak tahu harus menjawab pertanyaan tersebut bagaimana, sebab dia takut jawabannya akan menyakiti Calia yang merupakan ibu dari Maxim.
__ADS_1
Kalau dipikir-pikir, meski pun mereka telah berbaikan tapi tidak mengubah keadaan apa pun, termasuk perasaan satu sama lain.
Entahlah, bagi Gwen hingga detik ini dia sama sekali tidak memahami isi hatinya.
"Aku tidak tahu Ma." Gwen akhirnya menjawab jujur pertanyaan Calia.
Mendengar jawaban sang menantu, Calia sama sekali tidak tampak kecewa. Agaknya dia sudah tidak terkejut mendengarnya, sebab mereka memang pernah membicarakan hal ini saat dia datang ke rumah tempo hari.
"Kau tidak keberatan, kan, Mama menanyakan hal ini lagi?" tanya Calia.
Gwen menggeleng. "Tentu saja tidak Ma. Lagi pula aku sepertinya memang butuh sedikit sentilan agar bisa berpikir. Sebab terkadang aku merasa tidak benar-benar menjalani rumah tangga dengan Maxim."
Calia tercengang. Namun, Gwen buru-buru menambahkan kalimatnya.
"Bukan karena kami tidak akur Ma. Hubungan kami baik-baik saja. Perlakuannya padaku juga sangat baik. Itulah mengapa akhirnya aku mengambil kesimpulan, bahwa selama ini aku seperti merasa memiliki teman serumah saja."
Gwen mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Maksud Mama? Maaf, aku tidak mengerti."
Calia berdeham sejenak. "Hmm, apa kalian tidak pernah memiliki momen romantis, yang disengaja mau pun yg tidak disengaja?"
Mendapat pertanyaan demikian dari sang ibu mertua, wajah Gwen berubah merah padam seketika.
Bagaimana tidak, ingatannya langsung tertuju pada malam panas mereka yang berawal dari ketidaksengajaan.
Mengetahui perubahan raut wajah dan warna pipi Gwen saja, Calia sudah bisa menebak jawabannya. Wanita itu pun tersenyum tipis.
__ADS_1
"Tidak perlu kau jawab, Mama sudah tahu jawabannya."
Gwen tidak bisa menahan rona wajahnya yang kini semakin memerah seperti tomat busuk.
"Lalu, setelah itu bagaimana? Tak perlu malu, terkadang kita sesama perempuan saling membutuhkan dukungan satu sama lain."
Gwen membenarkan pernyataan Calia. Namun, dia tak mungkin membeberkan semuanya pada sang ibu mertua. Mungkin akan lain ceritanya bila yang menanyakan hal tersebut adalah sahabat-sahabatnya.
"Tak ada Ma. Semua berjalan seperti biasa saja. Aku bahkan sempat menjauh karena merasa semua ini tidak benar." Hanya itu jawaban yang bisa diberikan Gwen.
Calia mengangguk-anggukkan kepalanya. "Mama memang tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian berdua. Namun, saran Mama, alih-alih menjauh, mengapa tidak saling membicarakannya?"
Gwen melipat kedua bibirnya. "Kami sudah pernah membicarakannya."
"Lalu?"
"Kami sepakat melupakannya." Gwen menjelaskan secara singkat.
Calia mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Berarti yang kalian bicarakan tak jauh dari saling menyalahkan diri lalu meminta maaf kan?"
Gwen terkesiap. Dari mana sang ibu tahu soal itu?
"Mengapa tidak membicarakan perasaan satu sama lain setelah momen itu terjadi? Bukan perasaan bersalah atau hal-hal semacamnya. Kau pasti memahami apa maksud Mama, kan?" ujar Calia.
Gwen terdiam. Dia mencerna sepenggal kalimat panjang yang baru saja dikatakan Calia.
__ADS_1
Perlahan, Gwen menganggukkan kepalanya.