
Melihat kedatangan anak dan menantunya, Calia buru-buru menyambut mereka dengan wajah sumringah. Wajar saja, sebab Maxim sendiri sudah tidak pulang ke rumah setahun. Mereka hanya pernah bertemu saat Maxim hendak menikahi Gwen. Itu pun tidak lama.
"Ma!" sapa Gwen sembari memeluk erat ibu mertuanya.
Calia membalas pelukan Gwen sama eratnya. "Gwen sayang. Senang sekali melihat kedatanganmu ke sini," ucap wanita cantik itu.
"Bagaimana perjalanan ke sini Gwen?" tanya Calia setelah melepaskan pelukan tersebut.
"Menyenangkan Ma. Sudah lama aku tidak melakukan perjalanan jauh." Jawab Gwen senang. Meski canggung, dia berusaha tidak menampakkannya.
"Syukurlah." Balas sang ibu. Maxim pun turut memeluk sang ibu erat.
Calia kemudian mengajak mereka berdua masuk ke dalam rumah.
Gwen menatap interior rumah dengan pandangan takjub. Dalam sekejap, dia seolah masuk ke dalam abad pertengahan saja. Bagaimana tidak, rumah yang didominasi warna keemasan itu terlihat sangat mewah dan elegan. Dinding, plafon, bahkan semua barang-barang yang terpajang di sana, memiliki nilai seni yang tinggi.
Gwen menatap tangga besar menuju lantai dua yang sangat mewah dengan ukiran-ukiran rumit. Tak hanya itu saja, tangga tersebut bahkan dilapisi karpet merah mahal.
Akan tetapi, yang lebih menarik perhatian Gwen adalah foto keluarga berukuran raksasa yang terpajang tepat berseberangan dengan tangga.
Dalam balutan seragam militer, Maxim, Axel, dan Paul terlihat sangat gagah. Calia pun tak kalah cantik dengan gaunnya.
Melihat Gwen berhenti, Calia tersenyum. "Itu adalah foto terakhir kami, sebelum Axel dan Maxim pergi bertugas," ujarnya memberitahu.
"Foto yang indah." Gwen memuji. Matanya kemudian beralih pada satu bingkai foto lain yang letaknya tak jauh dari sana.
Gwen terkejut, sebab foto tersebut merupakan foto pernikahannya dengan Maxim.
"Maxim mengirim foto ini beberapa hari setelah kalian menikah. Mama langsung memajangnya. Apa kau suka?" tanya Calia kemudian.
Gwen mengangguk canggung. Dia masih belum terbiasa mendapati fakta, bahwa dirinya telah menjadi bagian dari keluarga terhormat ini.
"Aku suka." Gwen tersenyum.
"Nanti, kita foto keluarga bersama ya? Mama sedih sekali tidak bisa menghadiri acara pernikahan kalian, karena suamimu melarang," keluh Calia.
__ADS_1
"Kita memang harus berfoto bersama."
Belum sempat Gwen merespon, seorang pria berjanggut dan berkumis putih muncul dari dalam rumah. Meski menggunakan alat bantu jalan berupa tongkat berkaki satu, tetapi pria tersebut masih terlihat cukup gagah.
Gwen tercengang. Kini dia benar-benar yakin dari mana ketampanan sang suami berasal. Sebab, Maxim memang terlihat sangat mirip dengan Paul, sedangkan Axel memiliki kemiripan dengan ibu mertuanya.
Maxim lebih dulu menghampiri sang ayah dan memeluknya, disusul Gwen yang kini tampak sedikit canggung dan malu-malu.
Berusaha bersikap sesopan mungkin, dia pun membungkukkan badannya kepada Paul.
Hal tersebut membuat Paul tertawa. Dengan ramah pria itu membawa sang menantu ke dalam pelukannya.
Setelah saling menyapa, Paul pun mengajak mereka berbincang di ruang minum teh.
Ada banyak hal yang mereka perbincangkan di sana, salah satunya adalah hubungan Paul dan Abraham yang telah lama terjalin sebagai teman baik.
"Kami memang sempat hilang kontak, karena aku dipindah tugaskan ke luar, dan baru kembali setelah Axel dan Maxim masuk militer. Namun, kesempatan bertemu sangat sulit karena ayahmu juga sibuk dengan pekerjaannya."
Gwen mendengarkan dengan saksama cerita Paul.
"Maaf, aku sama sekali tidak ingat, Pa," jawab Gwen jujur. Dia memang pernah mengingat seorang bocah lelaki yang pernah bermain dengannya, tetapi hanya sebatas itu saja.
Paul tertawa. "Tidak apa-apa. Wajar saja, karena pertemuan kalian memang sangat singkat."
Setelah mengobrol, mereka pun dipersilakan makan malam.
Gwen menatap berbagai hidangan mewah yang tersaji di atas meja makan dengan wajah berbinar. Rasanya sudah lama sekali dia tidak menikmati makanan-makanan seperti ini.
"Awas, itu liurmu jatuh," bisik Maxim.
Gwen terkejut. Buru-buru dia mengelap bibirnya yang ternyata tidak ada apa-apa.
Maxim menyeringai tipis. Dia sama sekali tidak terpengaruh dengan pandangan tajam yang kini Gwen lancarkan padanya.
Setelah selesai makan malam, keduanya pun dipersilakan beristirahat di kamar. Besok rencananya, Paul akan mengajak mereka (khususnya Gwen) berjalan-jalan ke luar.
__ADS_1
Gwen lagi-lagi menatap takjub kamar Maxim. Luasnya mungkin melebihi kamarnya sendiri. Tanpa permisi, dia langsung merebahkan diri di ranjang besar pria itu.
"Sepertinya kau senang sekali mengetahui diriku yang sebenarnya," ujar Maxim.
"Tentu saja. Siapa yang tidak senang memiliki suami kaya?" jawab Gwen tanpa pikir panjang.
Maxim mendecih. "Kau benar-benar tidak bisa menyembunyikan tabiat aslimu ya," gumamnya.
Gwen sontak terduduk di tepi ranjang. "Maaf, mengecewakanmu, tapi aku bukan gadis bermuka dua. Aku hanya mencoba bersikap realistis dan apa adanya."
Maxim mengangkat bahu. Dia pun berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian, sedangkan Gwen masih berleha-leha di atas tempat tidur sang suami.
Lima belas menit kemudian, Maxim keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah lebih segar. Saat dia hendak menyuruh Gwen untuk membersihkan diri, gadis itu justru tengah asyik memejamkan matanya di atas ranjang.
Maxim tersenyum. Perlahan dia berjalan menghampiri Gwen dan membelai rambutnya lembut.
"Bangun gadis matre," bisiknya.
Gwen menggeliat, tapi tidak terbangun. Dia justru mengambil tangan kanan Maxim dan memeluknya erat.
Maxim berusaha melepaskan diri. Pasalnya dia masih belum berpakaian, dan hanya mengenakan celana saja.
"Bangunlah, lepaskan aku!" seru Maxim sambil terus berusaha melepaskan diri. Namun, Gwen malah semakin erat memeluk tangan pria itu.
Alhasil, demi membebaskan diri dari pelukan maut sang istri, Maxim pun menarik paksa dirinya hingga terjungkal ke lantai.
Gwen yang terkejut segera berdiri. Nahas, kakinya tersangkut kaki Maxim dan ikut terjatuh.
Mata mereka saling terbelalak, sebab ternyata, Gwen mendarat tepat di atas tubuh Maxim.
"Dasar messuum siaallan!" umpat Gwen saat menyadari posisi mereka. Buru-buru dia bangkit dari sana setelah memukul dada Maxim terlebih dahulu.
Maxim mengaduh kesakitan.
Sambil berjalan menuju kamar mandi, Gwen terus menggumamkan kata-kata tuduhan berisi makian pada suaminya.
__ADS_1
Mendengar itu, Maxim memicing sinis. "Seharusnya aku lah yang marah!" sahut pria itu kesal.