
Pada malam hari, dikamar Willona, Devin dan Willona sedang bermain game. Devin akan menanyakan pertanyaan tentang dirinya dan jika Ona menjawab benar, Devin akan mencium pipi Ona. Jika Ona yang salah, Devin akan mengacak-ngacak rambut Willona, begitu pula sebaliknya.
"Kakak suka makan apa?" Devin menanyakan pertanyaan tersebut pada Ona yang membuat Ona kebingungan.
Karena selama ini, ia tidak pernah melihat apa yang akan kakaknya makan, ia hanya akan fokus pada makanannya sendiri jika sedang waktunya makan.
"Hm, mungkin kakak suka makan coklat?"
"Itu kayanya Ona deh yang suka, bukan kakak."
Devin mengacak rambut Ona. Willona pun hanya mengerucutkan bibirnya. Ini sudah yang ke 5 kalinya,
Willona salah. Sedangkan kakaknya selalu benar. Tapi
Ona tidak akan menyerah begitu saja. Dia akan memberikan pertanyaan yang sulit.
"Ona lebih sayang sama kakak atau sama papa?"
"Sudah pasti jawabannya kakak. Ona ga boleh sayang sama siapapun selain kakak."
Willona berdiri dan mengacak rambut Devin. Dia harus berdiri untuk mencapai kepala Devin, karena dirinya pendek dan Devin sudah seperti jerapah.
"Jadi, Ona gak sayang sama kakak hm? Terimalah ini!"
Devin mengelitiki perut Willona dan Willona pun langsung saja tertawa kegelian sambil meminta ampun.
"Haha...ampun..ha..Ona sayang kakak."
Devin pun langsung berhenti menggelitiki perut Ona dan memeluk Willona dengan erat.
"Kakak lebih sayang sama Ona."
Cup
Devin mencium kening Ona. Mereka berdua pun tertidur lelap sambil berpelukan satu sama lain seperti koala.
...*******...
Hiks..hikss
Willona sedang berada dipojokkan kamarnya yang luas dan sedang menangis. Sudah 2 jam dia menangis dan sudah 2 jam pula Devin mengetuk kamar Ona. Sebenarnya
Devin bisa saja menggunakan handphonenya untuk membuka smart lock door milik Ona. Tetapi Ona mengancam akan membenci Devin jika dia berani memasuki kamarnya.
"Pokonya, kalau kakak masuk ke kamal Ona, hiks...Ona akan malah sama kakak." Kira-kira seperti itu ketika Ona mengancam Devin.
Devin pun terpaksa untuk mengalah dan membiarkan adik kecilnya didalam. Sedari tadi Devin sudah meminta maaf kepada Ona. Tetapi Ona tidak memperdulikannya dan melanjutkan acara menangisnya. Hingga Farrel pun datang untuk membujuk Ona keluar dari kamar.
Tok...tok.. tok
"Ona, Ona ayo keluar, papa mau bicara sama Ona."
__ADS_1
Farrel dan Devin mendengar Ona memberhentikan tangisannya dan tiba-tiba saja pintu kamar Ona terbuka. Ona langsung memeluk Devin dan menangis kembali.
"Ka..kalau kakak pelgi, Ona disini sama siapa? Ona akan belmain sama siapa?" Willona menangis dipelukan
Devin.
Devin pun tidak tahu harus bagaimana selain memeluk dan menenangkan Ona. Dia tidak tahu bahwa kehadirannya bisa berpengaruh sebegini besarnya terhadap Willona.
"Tapi kakak harus belajar, Ona. Apakah Ona mau kakak menjadi orang bodoh yang tidak bisa menjaga Ona?"
Willona pun menggeleng dan berkata, "Tapi kan ada papa yang akan menjaga kita, kak."
"Right, but kakak juga mau menjaga Ona. You're our priority. Jadi kakak harus menjadi pintar agar bisa menjaga Ona."
...*******...
2 jam sebelumnya
Farrel dan Devin sedang berada di ruang kerja milik Farrel.
Farrel meminta Devin agar mengunjunginya di ruang kerja miliknya agar dapat membahas tentang pendidikan yang akan ditempuh oleh Devin.
"Ona akan ulang tahun."
"Dan saya tidak akan berada disebelahnya saat hari lahirnya." Devin terlihat sedih.
Memang dirinya tidak akan berada di mansion ini lagi karena dia harus melanjutkan studinya. Sudah menjadi kebiasaan bagi pewaris keluarga untuk melanjutkan studi ke Montgomerie Private School yang berada di suatu pulau milik Montgomerie. Banyak sekali anak pewaris keluarga kaya raya yang melanjutkan studi di Montgomerie Private School karena disana mereka akan diajarkan cara untuk berbisnis, menggunakan senjata, dan lainnya yang tidak akan dipelajari pada sekolah pada biasanya. Dan sekarang merupakan giliran Devin untuk melanjutkan studinya disana.
"Lebih baik, kamu kasih tahu dari sekarang kepada adikmu." Farrel memberikan pendapatnya.
...********...
"Kakak, sebelum kakak pelgi, Ona mau menghabiskan waktu dengan kakak saja." Ucap Willona yang dibalas anggukan dari Devin.
Memang waktunya tidak banyak, hanya seminggu dari sekarang Devin akan meninggalkan keluarganya. Sedangkan ulang tahun Ona adalah 2 hari setelah kepergian Devin.
"Nanti Ona akan membuat list kegiatan kita sebelum kakak pelgi."
Devin mengangguk lagi. Dia tidak tahu, bagaimana dirinya akan bertahan jika tidak bersama adiknya. Dia pasti akan merindukan Ona-nya. Bagaimana cara Ona tersenyum, tertawa, menangis, meminta maaf, dan memeluk dirinya. Dia pasti akan merindukan semua dari diri Ona.
"Ona, Ona mau foto bersama kakak?" ini adalah salah satu cara agar Devin bisa meredakan rasa rindunya kepada Willona nanti.
Mereka pun berpose saat fotografer menyuruhnya.
Terlihat sangat manis ketika Ona yang berada dipangkuan Devin sedang tertawa saat Devin mencium pipi Ona. Masing-masing dari mereka akan mendapatkan semua fotonya. Dan Devin akan menyimpan foto itu di pigura dan menaruhnya disebelah ranjangnya ketika nanti sudah bersekolah.
...******...
"Kakak, hali ini, Ona mau mencoba untuk menaiki kuda." Willona pun menarik tangan Devin dan membawanya ke halaman belakang dimana banyak sekali kuda-kuda yang berjejer dengan rapih.
"Ona tidak boleh menaiki kudanya sendiri, harus sama kakak, Kaki Ona kan pendek." Devin tidak membiarkan Ona menaiki kuda sendiri karena dia khawatir Ona akan terjatuh.
__ADS_1
"Ona tidak pendek, kakak saja yang ketinggian kaya jelapah." Ona membalas perkataan Devin dengan marah.
Devin yang melihat Ona menggembungkan pipinya pun tertawa dan mengacak-acak rambut Ona yang membuat pemiliki rambut tersebut semakin marah kepadanya.
Mereka pun berjalan-jalan sekitar kandang kuda untuk memilih kuda mana yang akan mereka tunggangi.
Willona memilih kuda bewarna putih yang sangat indah dimatanya. Devin mengangkat tubuh Ona dan menaikinya diatas kuda tersebut dan selanjutnyta dia menaiki kuda tersebut dengan posisi berada dibelakang Ona.
Devin memegang tangan Ona yang sedang memegang tali dan Devin mulai menjalankannya.
"Wahh, Ona balu peltama kali naik kuda. Telnyata selu ya kak." Ona tersenyum dengan bahagia.
"Nanti kapan-kapan kakak akan mengajak Ona menunggangi kuda lagi bersama kakak." Ucap Devin yang dibalas anggukan oleh Ona.
Mereka menunggangi kuda selama sekitar 30 menit.
Setelah itu, mereka kembali lagi kedalam mansion untuk mandi.
...*******...
Selama beberapa hari ini, Willona dan Devin menghabiskan lebih banyak waktu berdua, sebelum Devin pergi untuk sekolah. Ona ingin menghabiskan sisa waktu bersama kakaknya itu, karena nanti setelah kakaknya ke sekolah, mereka tidak akan bertemu untuk waktu yang lama. Devin hanya diperbolehkan untuk pulang hanya sekali dalam setahun, tepatnya pada bulan Desember. Setelah itu, dia akan melanjutkan sekolahnya lagi. Maka sebelum kakaknya pergi, Ona ingin memberikan sesuatu untuk kakaknya itu.
Dari semalam Ona dibantu oleh Ria dan Lily, selaku pembantu pengasuh Ona, untuk membuat gelang dengan tangannya sendiri untuk Devin. Tidak hanya itu, Willona memberikan boneka kelinci kesayangannya untuk dibawa oleh Devin.
Sekarang, mereka berdua sedang berada di taman kota.
Ona meminta agar para pengawal tidak usah ikut, karena dia hanya ingin berduaan dengan kakaknya. Devin yang merasa dirinya cukup untuk menjaga Ona pun, menyetujuinya.
"Ona, nanti kalau kakak pergi, Ona harus jaga diri Ona baik-baik ya. Jangan meninggalkan mansion tanpa memberitahu papa ataupun pengawal. Ona juga harus makan yang banyak, jangan sampai Ona jadi kurus. Ona juga nanti ga boleh temenan sama laki-laki. Ona juga harus mengabari kakak. Kakak ingin nanti Ona memberikan surat untuk kakak." Devin berkata panjang lebar kepada Willona apa saja yang harus dilakukan oleh Ona selama dirinya pergi.
"Kenapa tidak video call saja kak? Tulisan Ona masih jelek." Ona memang sudah diajarkan menulis, membaca dan menghitung oleh Devin, Farrel serta di sekolah Tk-nya, dan ternyata Ona sangat pintar, bahkan kurang dari 1 bulan, Ona sudah bisa melakukannya dengan baik. Devin sangat bangga pada adiknya.
"Tidak mau, kakak ingin melihat tulisan Ona, apakah sudah bisa dibaca atau tidak. Pokoknya kakak mau Ona menuliskan surat untuk kakak." Ucap Devin keras kepala.
"Baiklah." Ona pun pasrah menyetujui.
Dia pun melihat kesekelilingnya yang sangat ramai. Banyak sekali keluarga yang sedang berpiknik, dan yang paling menarik perhatian Ona adalah...truk ice cream.
Seketika air liur Ona ingin keluar, ketika penjual itu menaruh 1 scoop ice cream kedalam cone-nya.
"Kakak, boleh tidak Ona beli es klim itu?" Ucap Willona sambil menunjuk truk ice cream yang berada tidak jauh dari tempat mereka.
"Boleh, Ona mau rasa apa? Biar kakak belikan."
"Ona mau lasa setlobeli dan mangga."
"Baiklah, Ona tunggu disini ya, jangan kemana-mana."
Devin pun bangun dari tempat duduknya dan berjalan menuju truk ice cream untuk membelikan ice cream yang
Ona mau.
__ADS_1
Devin mengeluarkan uang merahnya dan langsung pergi tanpa mengambil kembaliannya. Ketika Devin melihat kearah tempatnya dia dan Ona tadi berada, Devin melihat Ona dan satu bocah laki-laki.
CATAT! LAKI-LAKI! Devin pun langsung saja melempar es krim yang sudah dia beli dan berlari menuju Ona.