Willona Sang Anak Adopsi

Willona Sang Anak Adopsi
S2. Chapter 21. Perkelahian


__ADS_3

"Baiklah, Ona tunggu disini ya, jangan kemana-mana."


Ona menatap sekilas ke Devin yang sedang berjalan untuk membeli es krim. Seketika dia pun teringat, bahwa ini adalah hari terakhir mereka bisa bersama-sama. Besok adalah hari keberangkatan Devin untuk menuju pulau tempat Devin akan bersekolah. Dia pun melamun sambil melihat kesekelilingnya.


Kenapa kakak itu tellihat sedih? Ona menatap bocah laki-laki yang tidak jauh dari keberadaannya.


Bocah laki-laki itu duduk hanya beberapa meter darinya.


Apakah aneh jika Ona menanyakan keadaannya? Ona hanya ingin melihat kebahagian saja hali ini.


Dengan keberanian, Ona pun melangkah menuju bocah itu.


Jika dilihat-lihat, umur bocah itu, terlihat sekitaran umur


Devin, mungkin sedikit lebih tua. Jika ditebak-tebak sekitaran umur 14 atau 15 tahun. Ona yang sudah berada didepan bocah itu pun ingin menyapanya, tetapi dia telat, bocah tersebut lebih dulu menanyakan keberadaannya.


"Mau apa kamu?" Bocah itu berkata dengan nada dinginnya kepada Ona.


Nada dingin itu, tidak membuat Willona menjadi takut. Oh, percayalah, Ona sudah melalui hal ini sebanyak beberapa kali, bahkan lebih parah dari itu. Bisa dibilang, dari pertama Ona memasuki panti asuhan, Ona menjadi terbiasa dengan hal tersebut.


"Umm, kenapa kakak tellihat sedih? Apa kalena kakak sendilian? Ona bisa menemani kakak." Bocah itu hanya menatap Ona sekilas dan setelah itu dia memalingkan wajahnya.


Ona jadi telingat lagi dimana kakak saat itu juga tidak mau bicala sama Ona. Semangat Ona! Ona pasti bisa membuat kakak yang ini juga jadi sayang sama Ona. Willona menyemangati dirinya untuk mengubah perilaku beruang es dihadapannya ini.


"Nama aku Willona. Kakak namanya siapa?" Ona tidak kehabisan akal. Dia ingin mengenal lebih dekat dengan kakak yang ada disebelahnya itu. Mungkin menanyakan namanya adalah permulaan yang cukup baik.


"Leo." Ona hanya menggangguk.


Leo? Namanya bagus dan mudah untuk Ona hapal.


"Kak Leo mau Ona temani?"


Leo menatap Ona dengan bingung. Dari tadi dia sudah memperlakukan dingin bocah ini, tapi kenapa dia tidak merasa terintimidasi? Selama ini, jika dirinya sudah berkata dengan singkat dan dingin, lawan bicaranya tidak akan mau untuk melanjutkan pembicaraan. Mereka pasti akan mencari alasan untuk menyudahi percakapan tersebut.


Willona yang tidak mendapat jawaban pun langsung saja duduk disebelah Leo dengan manis.


Ona tidak merasa takut sedikit pun dengan Leo. Bahkan dirinya saat ini sedang menceritakan kesedihannya karena besok kakaknya akan pergi. Leo hanya mendengarkan Ona berbicara, mungkin..keberadaan Ona membuat dirinya sedikit lebih nyaman.


"Kak Leo tau, besok Ona akan ditinggal oleh Kak


Devin. Ona sangat sedih, kalena Ona tidak bisa beltemu Kak Vin setiap hali sepelti kemalin."


Leo yang melihat Willona sedih pun tidak bisa melakukan apa-apa selain diam dan mendengarkannya. Leo mengernyitkan dahinya ketika tiba-tiba Ona merogoh sakunya dan mengeluarkan barang berupa gelang.


"Kak Leo, ini gelang buatan Ona. Tadinya Ona ingin membelikannya kepada Kak Devin. Tapi, kalena sepeltinya


Kak Leo sedang sedih, Ona akan membelikan ini ke Kak


Leo aja dulu." Leo hanya diam dan melihat tangannya yang dibawa oleh Willona kepangkuan milik gadis itu, untuk dipakaikan gelang.


Leo membenci gelangnya, bahkan dia sudah merencanakan akan membuang gelang itu setelah ini. Sudah sepatutnya dia membuang gelang bermotif bunga-bunga dan bewarna-warni. Hei! Dia ini adalah seorang laki-laki. Tidak sepatutnya, dia sebagai seorang laki-laki, memakai gelang bermotif bunga dan bewarna-warni yang suka dipakai gadis-gadis centil seumurannya. Tetapi yang Leo lakukan sekarang hanyalah diam dan mengikuti arahan Ona saja. Sangat bertolak belakang dengan apa yang ada dipikirannya sekarang.

__ADS_1


"Kak Leo jangan buang ya, Ona membuat gelang ini dengan sepenuh hati." Ucap Willona sambil memutarkan gelangnya agar tempatnya lebih sempurna ditangan Leo.


Leo yang mendengarkan ucapan Ona, seketika saja merasa terciduk, seakan-akan gadis kecil ini tahu jika dia akan membuang gelang ini.


"Kamu sering kesini?" Untuk mengalihkan pembicaraan


Ona pun, Leo berbasa-basi. Leo menanyakan apakah


Ona sering kemari atau tidak. Jika iya, mungkin dirinya juga akan kemari lagi sekedar untuk bertemu dengan


Ona.


"Tidak, tadi On-"


Bugh..bugh..bugh


Willona tidak bisa melanjutkan pembicaraannya, karena tiba-tiba Devin datang dan memukul Leo sebanyak tiga kali.


"KAKAK!" Ona berteriak ketika Devin menonjok Leo dan Leo menonjok balik Devin. Kedua bocah laki-laki itu saling menonjok dan tidak ada yang saling mengalah.


"KAU APAKAN ADIKKU HAH?!" Devin berteriak sambil menangkis tonjokan dari Leo. Dia sangat-sangat marah sekarang. Bisa-bisanya, adik kecilnya didekati oleh bocah ingusan seperti ini yang tidak tahu asal-usulnya. Sudah sepatutnya, Devin sebagai kakak yang baik, menjaga


Ona dari serangga-serangga yang mendekati adik kecilnya.


"KAU YANG APA-APAAN! DATANG DAN TIBA-TIBA


LANGSUNG MENONJOKKU!" Leo yang tidak tahu apa-apa pun menonjok balik Devin dengan kencang. Dia tidak kalah panas ketika dirinya ditonjok secara tiba-tiba oleh orang yang tidak dikenal.


Satpam tersebut melihat bahwa bocah yang sedang bertengkar adalah Devin Flint Montgomerie, langsung saja dia mengundurkan diri. Siapa yang tidak tahu keluarga Montgomerie, hanya orang bodoh saja yang tidak tahu seberapa pengaruhnya keluarga tersebut.


"KAKAK STOPP! BELHENTI SEKALANG JUGA ATAU


ONA MALAH SAMA KAKAK!" Willona berteriak dengan kencang agar kakaknya mendengar.


Bahkan sekarang wajah Ona sudah sangat memerah karena merasa marah dengan kedua kakak yang ada didepannya ini. Devin berhenti memukul dan berdiri, walau masih menatap sengit Leo. Leo berdiri dan tak kalah menatap sengit Devin. Wajah kedua bocah laki-laki itu memar dan terdapat darah diujung bibirnya. Devin akui, si


Leo ini lumayan pintar dalam bela diri.


"Kak ayo kita pulang saja. Kak Leo, Ona pulang dulu, dadah." Dengan tergesa-gesa, Ona menyeret Devin untuk pulang meninggalkan taman kota.


Leo yang melihat kepulang Ona pun hanya menatap datar punggung Ona sambil mengeratkan tangannya dimana terdapat gelang pemberian Ona yang sudah sedikit rusak karena pertengkarannya dengan Devin.


...**********...


Saat ini, Devin dan Ona sedang ada di kamar Ona.


Onq meminta agar Devin tidur dikamarnya hari ini, sebelum besok akan pergi meninggalkannya.


"Kakak tadi kenapa pukul Kak Leo? Kakak jadinya telluka sepelti ini." Ona menempelkan hansaplast pada dahi


Devin.

__ADS_1


Lebam-lebam yang ada di tubuh Devin tidak dikompres karena Devin merasa itu bukanlah hal seberapa. Tapi, Devin menerima plester dari Ona, yang bergambar ice bear, salah satu karakter dari film kartun berjudul We Bare Bears.


"Tuh kan, kakak jadi babak belul sepelti ini. Sini Ona pasangkan ice beal di luka kakak."


Dan Devin pun menurut kepada Ona seperti anak kucing menurut pada ibunya.


"Ona, kan kakak sudah bilang pada Ona untuk tidak berbicara dengan laki-laki selain kakak, kemarin. Kenapa tadi Ona malah mengobrol dengan si Leona?" Devin sangat tidak suka ketika tadi dia melihat Ona disentuh oleh laki-laki lain. Ona hanya akan menjadi adik kecilnya yang polos.


"Kenapa kakak mengubah nama Kak Leo menjadi Leona?


Kak Leo kan laki-laki. Masa namanya Leona?" Protes


Ona kebingungan.


Perasaan, tadi kakak tersebut bernama Leo. Kenapa sekarang kakaknya mengganti nama Kak Leo menjadi Leona?


"Dia bernama Leona, Ona. Karena dia sangat lembek dan lemah seperti perempuan." Devin berbicara dengan santai tanpa melihat perubahan wajah Ona yang menjadi sedikit mendung.


"Kakak mengatai Ona lemah dan lembek?"


Devin yang mendengar perkataan lirih yang keluar dari mulut Ona pun langsung saja menatap Ona dengan panik.


Dia sama sekali tidak berniat untuk menyinggung perasaan Ona. Dia hanya kesal saja dengan Si Leo itu yang sok jago dan sok berani. Dan sekarang, karena Leo juga, dirinya dan Ona berantem. Padahal, dia ingin membuat kenangan manis terakhirnya bersama Ona, sebelum besok dia akan pergi meninggalkan Willoma. Memang, ini semua gara-gara bocah sialan itu!


"Tidak, tentu saja tidak. Ona adalah adik kecil kakak yang sangat kuat dan pemberani. Buktinya, kakak saja bisa takut pada Ona." Devin langsung memeluk Willona agar adiknya itu tidak tersinggung dan salah paham.


Percayalah, Devin sangat menyayangi Ona bahkan lebih dari dia menyayangi dirinya sendiri. Maka dari itu, mana mungkin dia sengaja untuk membuat Willona sedih.


"Kakak?" Ona memanggil Devin dengan lirih.


"Iya, kenapa Ona?"


Hiks..hiks


Tiba-tiba saja Ona menangis. Selama kurang dari 2 minggu ini, Willona tidak pernah menangis lagi. Tetapi, detik ini, Willona menangis lagi sambil memeluk kakaknya dengan erat. Devin sangat sedih jika sudah mendengar tangisan Ona, karena dia tidak bisa membuat Ona berhenti menangis, dia hanya bisa mendengarkan dan menenangkan Ona sampai Ona berhenti menangis.


"Lho, Ona kenapa menangis?" Devin menguraikan pelukan mereka dan melihat wajah Willona yang sedikit basah akibat air mata yang dikeluarkannya.


"Kakak akan pelgi meninggalkan Ona besok, Ona akan melindukan kakak. Ona hanya ingin, kakak selalu bisa menjaga kesehatan kakak, jangan sampe kakak sakit, nanti Ona sedih, Kakak juga jangan melupakan Ona disini. Ona akan melindukan kakak setiap halinya. Jangan lupa untuk membawa Bunny dan menjaga Bunny, ya kak." Willona mengatakannya seraya memberikan Bunny kepada Devin yang sedari tadi ada disebalahnya.


Devin menerima Bunny, walaupun dalam hati, dirinya meringis melihat boneka kelinci bewarna pink itu.


Tapi, Devin akan membawa boneka tersebut untuk menemaninya saat dirinya pergi.


"Ona, sudah jangan nangis lagi. Ona kan besok harus tampil cantik ketika mengantar kakak ke bandara."


Devin menyeka air mata dipipi Ona dengan tangannya. Willona pun mengangguk menyutujui.


"Good night, kak." Willona mencium pipi Devin.


"Selamat malam, Ona." Devin memeluk Ona dan keduanya pun tertidur bersama.

__ADS_1


__ADS_2