
kalau ada yang typo, ditandain ya😊.
Happy Reading.
...****************...
Farrel mengendarai mobilnya menuju ke sekolah Willona, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan 60km/jam. Dengan kecepatan yang seperti itu, tidak sampai memakan waktu 30 menit, ia sudah tiba di sekolah Willona. Farrel memarkirkan kendaraannya di tempat yang sudah disediakan di sana. Ia kemudian berjalan menuju ruang guru.
Para guru yang melihat kedatangan Farrel dari pintu, spontan bangkit dari tempat duduknya. Salah satu guru menghampiri Farrel dengan gelagapan.
"Selamat pagi pak, ada yang bisa kami bantu pak?" Tanya Susi, selaku guru matematika.
Farrel menatap tajam kearah Susi, yang membuat Susi memalingkan wajahnya.
"Ehhh, duduk dulu, pak. Bapak mau minum apa?" Ucap Kepala Sekolah mempersilakan, sembari menawarkan minuman kepada Farrel.
Farrel mendaratkan bokongnya ke single sofa yang berada di ruang tamu sekolah. Mata elang Farrel menatap tajam ke arah wajah-wajah para guru di sana.
"Saya mau tanya, apa ada masalah dengan anak saya di sekolah?" Tanya Farrel.
"Eng-enggak ada, pak. Semuanya baik-baik saja," jawab kepala sekolah.
"Terus, kenapa anak saya takut untuk bersekolah, jangan kan hal itu, mendengar kata sekolah saja ia takut, apa kalian tidak menyembunyikan sesuatu?" Tanya Farrel secara tegas dan menaikkan sedikit intonasinya.
Dari kejauhan, salah satu guru mendengar hal yang dikatakan Farrel, membuat pupil matanya bergetar, ia takut.
Karena ia teringat pernah memarahi dan mengejek Willona secara diam-diam, hanya sebagian kecil guru yang mengetahui itu.
Flashback
"Pak gulu, pak gulu, tadi anak-anak yang lain mengejek Ona," adu Ona kepada pak Ramon.
"Em, terus," jawab Ramon dengan nada ketus.
__ADS_1
"Meleka mengejek Ona telus menelus, meleka bilang Ona anak halam, anak yang enggak punya olang tua, padahal Ona punya papa." Ujar Ona yang matanya sudah berkaca-kaca.
Ramon menatap rendah Willona, karena ia tahu, bahwa Willona memang bukan anak kandung Farrel. Dan ia berfikir bahwa, mungkin anak ini hanya anak yang dipungut untuk meningkatkan ketenaran Farrel, agar dikenal sebagai orang yang baik dan dermawan.
"Terus? Saya harus apa? Bukannya yang mereka bilang itu benar." Ucap Ramon
"Enggak, yang meleka bilang itu enggak benal, meleka salah, kata papa, Ona itu anaknya papa Fallel," ucap Ona meninggikan sedikit suaranya.
"Kamu enggak sadar diri ya, kamu itu anak yang dipungut oleh Farrel, yang temenmu katakan itu benar, kalau kamu itu anak haram, buktinya kamu dipungut oleh Farrel, entah dari mana asal usulmu, dasar anak haram enggak tahu diri!" Sarkas Ramon seraya menoel-noel kepala Willona.
Willona tak kuasa menahan tangisnya, air matanya perlahan jatuh, ingin rasanya ia mengadu kepada papanya. Tapi ia tak mau lebih jauh lagi untuk merepotkan Farrel. Ia berfikir, mungkin ia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
Flashback Off
"Bawa saya ke ruang cctv," pinta Farrel.
Mendengar hal itu, pupil mata Ramon bergetar, keringat kercucuran dari keningnya.
Setelah mendengar permintaan Farrel yang benar-benar tidak bisa ditolak maupun dibantah. Segera kepala sekolah serta beberapa guru dan staf tata usaha membawa Farrel ke dalam ruangan cctv.
Cukup lama ia menelusuri, hingga akhirnya ia menemukan ke anehan pada rekaman cctv pada bulan kemarin. Farrel dibuat bingung oleh sikap anak-anak di kelas Willona yang mulai menjauhi anaknya. Ia melihat Ona yang mulai bermain sendiri, termenung, hingga ia juga sering membawa bekalnya kedalam toilet.
Farrel masih berfikir positif saat itu. Sampai akhirnya ia melihat anaknya dikelilingi oleh teman sekelasnya, dan salah satu anak mulai menarik ikat rambut Willona dan melemparnya keluar jendela kelas. Setelah itu rambut Willona ditarik oleh salah satu anak perempuan, dan teman-temannya yang lain mulai meneriakinya.
Entah apa yang mereka bicarakan, karena dicctv memang tidak terdengar suaranya. Namun melihat perlakuan yang didapatkan Willona di sekolahnya, membuat pupil mata Farrel mengecil.
"INI YANG KALIAN BILANG KALAU TIDAK ADA APA-APA DENGAN ANAKKU DI SEKOLAH! KALIAN SENGAJA MENYEMBUNYIKAN INI DARIKU!" Bentak Farrel sembari melempar layar monitor cctv ke lantai hingga pecah berserakan, dan membuat orang-orang yang berada didalam ruangan itu terkejut dan takut.
Kepala Sekolah hanya membiarkan alat cctvnya dirusak oleh Farrel, karena Farrel adalah donatur terbesar di sekolah ini. Farrel menatap tajam kearah para guru dan kepala sekolah, kemudian ia menarik kerah baju kepala sekolah di sana.
"Dengar ya pria tua, adakan rapat pemanggilan orang tua siswa kelas 1 sekarang, jika tidak, anda tahu sendiri akibatnya," ancam Farrel sedikit berbisik ke telinga kepala sekolah. Kelapa sekolah hanya mengangguk anggukan kepalanya seraya menunduk kebawah.
...*******...
__ADS_1
Sementara itu, di mansion Farrel. Willona baru saja terbangun dari alam bawah sadarnya. Ia kemudian duduk di sisi kasur sembari mengumpulkan nyawa. Setelah sejenak ia mengumpulkan nyawa, kemudian ia turun dari kasur yang tingginya tak sampai 3 meter.
Willona memanggil- manggil papanya seraya membuka pintu dan menuruni anak tangga. Penjaga yang berada di depan pintu utama mansion, segera berlari setelah mendengar Willona berteriak memanggil manggil papanya.
"Ya, Nona, kenapa anda berteriak seperti itu?" Tanya Leon.
"Paman, papa ada dimana?" Willona bertanya balik.
"Papa Ona masih keluar, katanya sih mau ke sekolah Ona," jawab Leon.
Ona tampak berfikir sejenak, "sekarang jam belapa paman?"
Leon merogoh kantung celananya, kemudian ia mengambil benda pipih untuk melihat jam pada handphonenya.
"Sekarang jam 08.00 nona,"
"Emmm, tolong siapin baju sekolah Ona ya paman, Ona mau kekamal mandi dulu," ucap Willona seraya tersenyum.
"Tapi nona, kata papa Farrel, Ona gak boleh kemana-mana, lagian sekarang kan udah telat kalau mau ke sekolah," ujar Leon.
Willona kemudian mendongakkan kepalanya, "paman please, ini penting paman,"
Leon yang melihat mata Ona yang berkaca-kaca, tak sanggup untuk membantah nya, kemudian ia mengiyakan permintaan Ona, dan membuat gadis kecil dihadapannya itu senang.
Setelah itu, Leon kemudian menyiapkan keperluan untuk Ona pergi sekolah, sedangkan Willona, ia bersiap-siap untuk kedepannya.
Leon menghangatkan mobil yang akan dipakai untuk mengantarkan Willona kesekolah. Sedangkan Willona masih bersiap-siap dan menyiapkan dirinya, Willona Menaruh sebuah handphone pada tasnya. Handphone milik Farrel yang ia ambil beberapa minggu lalu.
Setelah dirasa sudah siap, Willona kemudian turun dan menghampiri Leon. Kemudian Leon menuntun Ona memasuki mobil.
"Ona gak mau menunggu papa di rumah saja?" Tanya Leon memastikan.
"Iya paman," jawab Ona tegas. Kemudian Leon menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Setelah gerbang mansion di buka, Leon pun melanjukan kendaraannya menuju sekolah Willona. Entah apa yang dipikirkan Ona sekarang, namun, saat Leon menatap dalam Willona, ia mengetahui bahwa Willona mempunyai sesuatu yang penting untuk ia lakukan sekarang.