
Montgomerie International Airport
Willona, Devin, dan Farrel sudah ada di bandara untuk mengantar Devin. Ona memakai baju bewarna hitam, katanya dia ingin memakai baju yang bewarna gelap untuk mengutarakan kesedihannya karena akan berpisah dengan Devin.
"Kenapa Ona memakai baju bewarna hitam?" Farrel bertanya kepada Willona yang berada digendongannya.
Dia bingung, karena tidak biasanya anak itu memakai baju yang bewarna gelap. Katanya, Ona memakai baju bewarna terang agar dia bisa membuat orang sekitarnya bahagia, tetapi pada hari ini, dia memakai baju bewarna hitam.
"Ona sedih akan ditinggalkan oleh kakak, maka dali itu, Ona mau pakai baju walna hitam saja untuk mengutalakan pelasaan Ona yang lagi sedih ini." Ucap Willona sambil melihat kebawah karena suasana hatinya sedang mendung hari ini.
Farrel yang mendengar alasan itu hanya menghela napas. Kadang-kadang pemikiran Ona terlalu lucu juga, hingga tidak masuk akal.
"Papa, tulunkan Ona, Ona ingin menanyakan sesuatu kepada kakak." Farrel pun langsung menurunkan Ona dari gendongannya.
"Kakak sudah bawa Bunny?" Willona memastikan untuk sekian kalinya bahwa sang kakak sudah membawa boneka kelinci imut miliknya itu.
"Sudah, Ona." Jawab Devin seraya terkekeh kecil saat melihat pipi Ona melebar ketika dirinya mencubit pipi Ona.
Devin memeluk Willona dengan erat, dia akan sangat merindukan adiknya ini. Dia berharap Ona tidak akan tumbuh besar, sehingga Ona tetap menjadi Ona yang polos.
Your attention please, Passengers of Montgomerie Airways on flight number AG32 to Montgomerie Private School airport, please boarding from door AF13, Thank you.
Pengumuman pun sudah disampaikan lewat pengeras suara yang menandakan Devin harus segera menaiki pesawat dan meninggalkan Ona. Devin tidak tega untuk meninggalkan Ona. Dia melihat Ona yang sudah akan mengeluarkan air mata lagi dari kedua mata indahnya.
Devin pun langsung memeluk Ona dan berbisik kepada Ona, "Kakak sayang Ona."
Devin mengatakan hal yang selama ini jarang sekali keluar dari mulutnya. Dia memang sangat menyayangi adiknya itu. Selanjutnya Devin pun menguraikan pelukannya pada Ona, dan mendekati Farrel. Devin memeluk Farrel untuk pertama kalinya dan berkata, "Terimakasih ayah."
"Belajar yang benar. Kamu adalah satu-satunya harapan bagi ayah." Farrel mengelus rambut Devin dan menatap
__ADS_1
Devin dengan mata berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, dia akan melepaskan putra satu-satunya untuk waktu yang cukup lama.
"Kakak pergi dulu, Ona, nanti kita ketemu lagi ya, jangan lupa suratnya." Setelah melihat anggukan dari
Ona pun, Devin berjalan mundur untuk melihat lebih lama wajah Ona. Dia akan meninggalkan adiknya untuk waktu yang lama. Devin pun langsung berjalan lagi dan meninggalkan Ona dan Farrel dibelakang.
...*********...
Sesampainya di mansion Farrel, Willona masih saja tampak murung, raut wajahnya mendung. Farrel yang melihat hal itu, langsung saja tersenyum seraya mengusap air mata Willona yang hampir jatuh.
"Ona, kenapa?" Tanya Farrel. Willona hanya menggelen sebagai balasannya.
"Ona mau turun," pinta Ona sembari merengek kepada Farrel.
Farrel langsung menurunkan Willona dari gendongannya.
Farrel menghela nafasnya, kemudian ia menyamakan tingginya dengan Willona.
Ekspresi wajah Willona seketika berubah saat mendengar kata 'sekolah'. Ona berlari menaiki tangga dan memasuki kamarnya, ia mengunci pintu kamarnya dan menaiki ranjang seraya menyelimuti dirinya di dalam ruangan itu.
Farrel mengetuk kamar Willona beberapa kali, namun tidak ada balasan dari Ona.
"Ona, Ona kenapa? Ona enggak mau sekolah? Ona enggak mau ketemu temen-temen Ona?" Tanya Farrel.
Ona tetap tidak mengubris pertanyaan Farrel. Saat baru pertama kali Ona masuk sekolah, ia memang sangat senang, namun lama kelamaan, dan setelah beberapa bulan ia sekolah, ia menjadi malas dan takut untuk kesana. Ia takut akan teman-temannya, pertanyaan-pertanyaan aneh dan menyakitkan selalu dilontarkan kepadanya.
Flashback
Willona memasuki gerbang sekolahnya, yaitu Sekolah Dasar Internation. Sekolah bergengsi yang hanya ada anak-anak pewaris kolomengrat yang bersekolah di sana. Ona memasuki ruang kelasnya, yaitu kelas 1.
__ADS_1
Ia kemudian menaruh tasnya pada meja yang sudah ia pilih sejak pertama kali masuk di kelas itu. Baru saja Ona mendaratkan bohongnya pada sebuah kursi, Willona langsung saja di kerumuni oleh anak-anak dikelas itu.
"Ona, Ona, kata Mamaku, kamu itu bukan anaknya om Farrel ya?" Tanya salah satu murid perempuan berkepang 2 kepada Willona, sebut saja namanya Nely.
"Iya, kata papaku juga gitu, katanya kamu itu dipungut ya?" Celetuk siswa lainnya.
"Terus kamu itu anak haram ya, kan kamu enggak punya orang tua," ucap anak yang bertubuh gemuk, namanya Dafie.
"Kalau gitu, Ona bukan temen kita dong, kan kata Mama, jangan temenan sama orang derajatnya dibawah kita," ucap Nely.
"Enggak, aku itu anaknya papa Fallel, semua yang kalian bilang itu enggak benel!" Willona sedikit menaikkan intonasi nadanya.
Willona sudah menjelaskan berkali-kali, namun semuanya malah menjauh dan tidak ada yang mau berteman lagi dengan Ona. Bahkan ia sering kali disebut anak haram, anak pungut, dan masih banyak lagi ejekan yang dilontarkan temannya.
Bukan hanya sekali, dua kali, tapi berkali-kali. Hari berganti hari, namun tetap saja Willona dirundung teman-temannya. Willona takut melapor kepada gurunya, karena ia diancam oleh teman-temannya.
Meja Willona terkadang dicoret-coret, untung saja berhasil dibersihkan olehnya. Tidak ada yang mengajaknya bermain, atau pun sekedar berbicara.
Willona takut untuk mengadu kepada Farrel, karena ia tak mau Farrel juga merasa sedih kembali. Willona terkadang memakan bekalnya di dalam toilet, ia takut untuk pergi ke kantin atau kelasnya, karena kalau ia makan di sana, pastinya teman-temannya akan mengganggunya, dan menumpahkan sesuatu di makanannya.
Sudah beberapa minggu berlalu, namun rundungan dan bully-an dari temannya semakin parah, bukan hanya dari perkataan yang temannya lontarkan, melainkan sekarang dengan tindakan yang tak patut dilakukan oleh anak-anak seusia Wiilona.
Willona tergolong anak yang pintar dari pada teman-temannya yang lain, ia juga anak yang rajin dan aktif di kelas. Namun semua itu memudar akibat bully-an teman-temannya.
Ia menjadi malas untuk pergi ke sekolah, malas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di papan, ataupun pertanyaan yang di lontarkan gurunya. Kepercayaan dirinya menurun, makanya ia takut untuk pergi ke sekolah.
Flashback Off
Farrel membuka pintu kamar Willona dengan kunci cadangan yang ia punya. Ia masuk kedalam ruangan itu, dan melihat Willona tengah terlelap dengan raut wajah sedih.
__ADS_1
Farrel duduk disisi kasur, ia kemudian mengelus pelan kepala Willona. Ia bingung kenapa Ona sangat takut untuk pergi kesekolah, biasanya ia begitu antusias untuk kesana.
Apakah Farrel harus memeriksanya sendiri, apa yang terjadi dengan Willona di sekolah? Farrel menguatkan niatnya untuk pergi ke sekolah esok. Ia berharap semoga tidak terjadi apa-apa dengan anaknya di sekolah.