
Sesampainya di sekolah, Leon membuka pintu belakang mobil dan menuntun Willona turun. Setelah itu, mereka ber 2 memasuki sekolahnya. Mata Willona memperhatikan sekeliling, banyak mobil-mobil mewah yang terparkir dengan rapi.
Willona seketika berhenti saat melihat seseorang diparkiran kendaraan, yang membuat Leon juga menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Nona?" Tanya Leon.
Willona mendongakkan kepalanya, "paman Leon, boleh Ona minta tolong?"
"Ya, Nona?"
"Tolong, paman Leon buat olang yang ada di palkilan itu, jangan sampai pelgi dali sekolah, buat dia sibuk dan tetap di sana, ajak dia bicala atau apalah, yang penting ia gak pelgi. Tunggu 20 menit saja, ya paman," pinta Willona dengan serius. Tatapannya sedang tidak bercanda.
Leon pun mengangguk sebagai balasan, kemudian ia pergi ke areal parkiran sekolah. Sedangkan Willona, ia berjalan sendiri mencari papanya.
...****************...
"SAYA TIDAK MAIN-MAIN DENGAN UCAPAN SAYA! DIDIK ANAK KALIAN DENGAN BENAR! JIKA KEJADIAN INI TERULANG LAGI, LIHAT APA YANG BAKAL TERJADI PADA KELUARGA KALIAN!" Ancam Farrel dengan sangat marah kepada orang tua para siswa. Suaranya menggema di ruangan aula itu, apalagi dengan menggunakan mic.
"Apakah ada bukti kalau anak kami berbuat seperti itu, pak Farrel," bantah salah satu orang tua siswa yang tak terima.
Farrel kemudian naik ke atas panggung, ia memutar rekaman cctv saat Willona tengah di kerumuni dan sedikit ditarik rambutnya.
Melihat rekaman itu, lantas beberapa orang tua berbisik-bisik. Dan ada juga beberapa orang tua yang tak terima, apa lagi anaknya juga termasuk di dalam rekaman itu.
"Tapi pak Farrel, mungkin saja itu memang salah anak pak Farrel yang mengganggu anak kami duluan. Lantas anak kami membalasnya dong." Sekali lagi orang tua siswa membantah, yaitu pak Haikal, selaku orang tua Dafie.
"Apa mata kalian buta! Kalian tidak melihat bagaimana anak kalian melakukan perundungan di usianya sekarang! Saya bisa membawa kasus ini ke jalur hukum!" Ucap Farrel, menaikkan suaranya 1 oktaf.
Orang tua Nelly berdiri sembari meraih mic, "saya setuju dengan pak Haikal, bagaimana bisa dengan rekaman itu sudah membuktikan bahwa anak kami bersalah. Kan kita tidak tahu apa yang mereka bicarakan, dan bisa saja memang anak pak Farrel yang menjadi awal masalah!"
Farrel geram, rahangnya mengeras. Ingin rasanya ia menonjok satu persatu orang tua siswa di sana.
"Di rekaman ini sudah terlihat dengan jelas. Lihat dengan mata kalian, LIHAT!" Bentak Farrel. Yang membuat beberapa orang tua siswa takut untuk berdiri.
"Rekaman itu saja tidak bisa membuktikan kalau anak kami bersalah pak! Apakah pak Farrel tidak mempunyai bukti lain? Percuma pak Farrel akan melaporkan kami, jika pak Farrel saja tidak mempunyai bukti!" Ucap Haikal memojokkan Farrel.
Farrel hanya diam, dia memang tidak berfikir sampai di sana, yang ada dikepalanya hanyalah amarah, apalagi saat melihat anaknya seperti itu.
Saat melihat Farrel yang membisu, semua orang di sana hendak berdiri dan meninggalkan ruangan itu. Namun mereka mengurungkan niatnya saat melihat Willona yang terengah-engah sedang membuka pintu secara tiba-tiba.
"O-Ona punya buktinya," ucap Willona yang membuat semua pasang mata melihat ke arahnya.
Flashback
__ADS_1
"Ona kenapa murung?" Tanya Farrel seraya menyisiri rambut Willona.
Willona menggeleng pelan, ia masih berfikir keras. Bagaimana caranya ia bisa membuktikan pada papanya dan yang lain, bahwa ia diperlakukan dengan buruk di sekolahnya.
Farrel hanya tersenyum saat melihat anaknya, mungkin ia masih berfikir kalau Willona malas untuk pergi ke sekolah.
Willona tampak berfikir sejenak saat ia melihat radio antik milik kakeknya yang berada di kamar papanya itu.
"Pa, papa, Ona mau susu kedelai," pinta Willona.
"Ohh, Ona mau susu, papa suruh bibi dulu ya,"
"Enggak, enggak, Ona mau papa yang buatin," pinta lagi Ona, namun kali ini dengan pupil mata yang melebar.
Farrel hanya mengangguk seraya tersenyum. Kemudian ia menuruni anak tangga untuk pergi ke dapur dan membuatkan susu untuk Willona.
Disisi lain, Willona tengah berlari dengan cepat kesana kemari, ia membuka laci 1 per 1 di kamar papanya. Namun ia tak menemukan apa pun di sana, melainkan hanya beberapa lembar kertas yang bertulisan bahasa inggris.
Kemudian netra Willona memperhatikan sekeliling, jika ia menjadi papanya, dimana ia akan menaruh handphone Devin?
Kemudian tatapan Willona berhenti pada sebuah lemari. Ya, ia yakin kalau pasti di sana papanya menyimpannya. Ia kemudian membuka lemari itu, ternyata ada 2 laci di dalamnya.
Willona segera membuka laci laci itu, dan untungnya ia menemukan sebuah handphone, yahh walaupun di ingatan Willona, ia tidak pernah melihat Devin memakai handphone seperti ini.
Dengan cepat ia segera menutup laci dan pintu lemari papanya, kemudian ia bergegas memasukkan handphone itu kedalam tas sekolahnya.
Willona dengan antusias meraih gelas yang berisi susu itu dan menegaknya sampai habis. Farrel hanya tertawa kecil saat melihat tingkah Willona.
...****************...
Sesampainya di sekolah Willona, Farrel kemudian membuka setbealt dan menuntun Willona untuk turun dari mobilnya. Saat hendak mengantar Willona ke kelasnya, handphone Farrel berdering, menandakan ada yang menghubunginya.
Segera Farrel mengangkat panggilan itu. Willona melihat mimik wajah Farrel yang seketika berubah saat tengah berbicara dengan seorang laki-laki di seberang panggilan sana.
"Ona, maaf ya, papa harus ke kantor sekarang, ada urusan mendadak, Ona gak apa-apa kan kalau sendiri ke kelas?" Ucap Farrel setelah mematikan panggilan.
Willona mengangguk, "I-iya papa, enggak apa-apa kok,"
Farrel kemudian tersenyum seraya mengelus kepala Willona. Setelah itu ia kembali memasuki mobilnya dan melajukan kendaraannya meninggalkan Willona.
Willona berjalan menuju ke kelasnya. Sebelum ia memasuki kelasnya, Willona terlebih dahulu membuka tasnya dan mengoperasikan handphone yang ia bawa.
Willona menekan tombol rekam pada hp-nya. Kemudian ia memasukkan kembali hp-nya kedalam tas. Willona berniat untuk merekam percakapan dan suara anak-anak dikelasnya.
__ADS_1
Dan benar saja, baru beberapa langkah Willona memasuki kelasnya, ia sudah disambut oleh cacian yang dilontarkan oleh teman-temannya.
"Ehhh, anak haram sudah tiba," celetuk Nelly dan diikuti oleh yang lainnya.
Willona tidak menghiraukan cacian mereka. Dengan cepat dan hati-hati Willona meletakkan tasnya di atas kursi duduknya.
Kemudian Ona duduk dengan tenang. Nelly yang merasa diacuhkan, menjadi geram. Kemudian ia mendekat ke arah Willona yang tengah menegak air putih yang ia bawa.
Nelly dengan sengaja menyenggol tangan Willona yang sedang memegang botol air, hingga membuat Willona tersedak.
Willona terbatuk-batuk sembari mengelap hidungnya yang kemasukan air. Teman-temannya yang melihat itu, tertawa kegirangan, termasuk Nelly.
"Hahahaha, lihat muka anak pungut itu memerah, mirip banget sama piggy," ucap Dafie yang dibarengi dengan gelak tawa.
"Nelly! Sakit tauu!" Pekik Ona saat pita di rambutnya ditarik oleh Nelly.
Nelly melempar pita Willona kearah kearah temannya, yaitu salah satu siswa di sana. Saat Willona hendak mengambil pita itu, siswa yang memegang pita Willona malah melempar balik pita itu ke arah temannya yang lain. Dan seterusnya begitu saat Willona hendak mengambil pitanya kembali.
Cukup lama mereka menganggu Willona dengan bermain kucing-kucingan. Akhirnya ada salah satu siswa laki-laki yang meneriaki mereka semua, bahwa ada guru yang menuju ke kelasnya.
Nelly segera melempar pita itu kembali ke Willona. Mata Willona sedikit berkaca-kaca, kemudian ia dengan cepat menyeka air matanya.
Setelah itu, seorang guru memasuki kelas, dan mengucapkan selamat pagi kepada anak-anak di kelas itu.
Anak-anak di sana dengan cepat kembali ketempat duduk mereka, dan membalas ucapan salam dari guru.
Bu Marsya kemudian meletakkan bukunya di atas meja guru. Saat hendak mengabsen siswanya, netranya melihat ke arah Willona. Ia mengernyitkan dahinya.
"Willona, kenapa rambutmu berantakan? Sebelum ke sekolah, kamu sudah mandi kan?" Tanya Bu Marsya.
"Belum bu, mungkin saja Willona ga di urus, kan dia anak yang dipungut," celetuk Dafie.
"Enggak bu, Ona udah mandi kok," jawab Willona sembari merapikan rambutnya.
"Huusst, sana, benahi dirimu sendiri di kamar mandi," perintah bu Marsya. Willona mengangguk sebagai jawaban.
Kemudian Willona pergi kekamar mandi meninggalkan tasnya di sana. Bu Marsya menghela nafasnya kasar dan menggelengkan kepalanya.
"Anak-anak ibu sarankan, kalian jangan berteman dengan Willona ya, takut ketularan sialnya." Ujar bu Marsya kepada mereka.
"Emang kenapa bu?" Tanya Nelly yang sedikit mengompori dengan senyum sinisnya.
"Kalian tidak tahu, kalau dia itu anak yang dipungut oleh tuan Farrel? Mungkin kata nak Dafie benar, dia ga di urus di mansion tuan Farrel," ucap Bu Masrya.
__ADS_1
"Mungkin saja dia hanya pembantu di sana Bu," ucap Nelly sembari tersenyum.
Mendengar apa yang dilontarkan Nelly, membuat anak-anak yang lain tertawa. Gelak tawa menindas menggema di ruangan itu. Namun mereka tidak menyadari bahwa suara mereka terekam di sana.