
.....☆♡☆.....
Kedua netra berwarna coklat itu menatap matahari dengan sinar keemasan. Merasa terlalu sayang jika dilewatkan, Rena yang memang baru pulang dari sekolah itu segera mengambil ponsel dari saku seragamnya dan mengabadikan momen itu. Ia tak sengaja melihat Dama yang tengah meraih sesuatu didahan pohon, berada tak jauh dari rumah mereka.
"Dama? Lo ngapain?"
"Eh?! Ini. Gue lagi bantuin anak kucing. Dari tadi meong-meong mulu. Ternyata karena enggak bisa turun."
"Mana?"
Dama menunjuk anak kucing usia sekitar 3 bulan didahan pohon. Dama kemudian mengulur tangannya lebih keatas lagi untuk meraih anak kucing. Anak kucing yang diturunkan itu disambut gembira oleh Rena.
"Ih! Lucu banget. Punya siapa kira-kira?" ucap Rena.
"Menurut lo, siapa didaerah sini yang pelihara kucing?" tanya Dama.
"Yang gue tau, sih, Esa. Tapi kucing Esa 'kan bukan ini. Nggak punya anakan kucing juga dia. Gimana dong? Kasian kalau keliaran sendirian."
"Kita cari pemiliknya aja gimana?"
"Boleh. Sekarang aja!"
Dama mengangguk.
Rena dan Dama kemudian berjalan bersama. Mereka menyusuri jalanan komplek dan menanyai para tetangga hingga ujung komplek, tapi mereka mengatakan tidak kehilangan atau bahkan memiliki kucing.
"Induknya kemana, sih? Apa kucing ini sengaja dibuang? Kasian banget kalau iya. Padahal lucu. Bulunya halus banget," ucap Rena.
"Lo suka kucing?" tanya Dama.
Rena mengangguk.
"Lo pelihara aja dulu kalau gitu. Nanti kalau ada yang nyariin baru lo kasih," saran Dama.
"Enggak bisa."
"Kenapa?"
"Dulu gue cuma pernah pelihara kelinci, tapi mati. Pengen pelihara kucing tapi Bokap enggak bakal ngijinin."
"Kenapa enggak boleh?"
"Bokap gue alergi kucing."
"Lepasin aja kalau gitu. Nanti juga dia nyari induknya sendiri."
"Iya kalau dia ada induk. Kalau ternyata kucing ini emang dibuang gimana?"
Dama menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Dama melihat Rena yang tersenyum misterius padanya.
"Apa?"
"Lo aja yang pelihara," celetuk Rena.
"Kok gue?"
"Lo 'kan cuma tinggal sendiri. Lo enggak alergi kucing, enggak takut kucing, dan gue yakin lo nggak akan setega itu untuk biarin ini kucing keliaran gak tentu arah. Iya, 'kan? Udah. Lo aja yang pelihara. Nanti masalah makan gue yang beliin nggak apa-apa, deh!"
"Tapi ngurus kucing itu ribet. Kita enggak punya perlengkapan buat kucing poop, makan, minum."
"Kita beli, lah. Mang Obi kan punya pet shop. Jadi gimana? Mau ya? Please...."
"Yaudah, iya."
Rena tersenyum senang mendengarnya.
.....☆♡☆.....
Rena membawa anak kucing, sementara Dama yang berjalan dibelakang membawa dua kantong besar perlengkapan kucing. Mulai dari makanan hingga alas tidur. Dama kemudian membuka pintu rumahnya. Mereka masuk kedalam rumah.
Rena kemudian menurunkan anak kucing itu.
"Kamu pasti laper banget, ya!" ucap Rena. "Dama! Sini kantong belanjaannya," lanjutnya.
__ADS_1
Dama menyerahkan dua kantong belanja. Rena kemudian mengambil tempat makan yang tergabung dengan tempat minum kucing, lalu mengambil makanan kucing dan menaruhnya diwadah makan.
"Dama! Boleh minta ambilin air putih enggak? Buat si kucing."
Dama mengangguk. Lalu kembali dengan membawa segelas air putih. Rena lalu menuangkannya diwadah minum kucing.
"Kita kasih nama apa, ya, bagusnya? Lo ada saran nggak?" tanya Rena.
"Kitty?" saran Dama.
"Ih! Terlalu biasa. Banyak sama itu, mah!"
"Dia cewek atau cowok?" tanya Dama.
"Eh, iya! Gue liat dulu."
Rena lantas mengecek belakang kucing.
"Cowok," ucap Rena.
"Reyhan."
"Gak ah! Enak aja Reyhan."
Rena kembali berpikir.
"Gimana kalau Ken?" tanya Rena.
"Ken?"
"Iya. Ken. Gimana? Bagus nggak?"
Dama mengangguk.
"Bagus, kok!" jawab Dama.
Rena tersenyum lebar mendengarnya. Ia mengelus kucing yang masih makan dengan lahap.
"Nah! Sekarang nama kamu Ken," ucap Rena sembari masih memperhatikan Ken yang begitu lahap. "Kayaknya dia kelaparan banget," lanjutnya.
"Hm?"
"Lo baru pulang sekolah belum ganti baju belum apa tapi udah keliling kemana-mana. Ini udah hampir jam tujuh," ucap Dama.
"Gue masih kenyang, kok! Tadi siang gue udah sempat makan bareng teman-teman gue."
Rena kemudian membereskan perlengkapan milik Ken. Ia mengeluarkan tempat poop dan menuang pasir kedalamnya.
"Ini mau taruh dimana?" tanya Rena.
"Nanti aja gue taruh dekat kamar mandi," jawab Dama.
Rena mengangguk.
Merasa hari semakin malam, Rena memutuskan untuk segera pulang dengan diantar Dama dan Ken yang berada dalam gendongan pria itu. Keduanya kini tengah nerada diteras rumah. Sebelum benar-benar pulang, Rena mengelus bulu halus Ken.
"Ken... Kak Rena pulang dulu, ya! Kamu disini dulu sama Abang Dama. Abang Dama orangnya baik, kok! Kamu pasti betah tinggal disini."
Dama hanya tersenyum tak habis pikir.
"Lo jagain benar-benar, ya, si Ken! Gue pulang. Besok gue mampir lagi."
"Iya."
"Ok! Bye Dama! Bye Ken!"
Dama menggeleng melihat kelakuan Rena, kemudian masuk kedalam rumah.
.....☆♡☆.....
Jam dinding menunjukan pukul 11 malam. Suara kucing yang tanpa henti membuat Dama yang sudah tertidur pulas terusik. Ia kemudian bangun dan membuka pintu. Ia melihat Ken didepan pintu. Seulas senyum terukir diwajahnya sembari ia berjongkok guna mengelus bulu-bulu halus Ken.
"Ken... Kenapa? Kamu enggak bisa tidur, ya! Sebentar, ya!"
__ADS_1
Dama kemudian mengambil tempat tidur Ken yang ada dilantai bawah, lalu membawanya kedalam kamar bersama dengan Ken. Pintu dibiarkan sedikit terbuka. Dama meletakan tempat tidur Ken dibawah dekat ranjangnya.
"Nah! Biar kamu enggak kesepian, kamu boleh tidur disini," ucap Dama.
Dama kemudian meletakan Ken ditempat tidur kucing. Setelahnya, ia memposisikan diri untuk kembali tidur. Belum sampai Dama terlelap, Ken naik ke atas ranjang dan mendekati Dama. Dama terbangun dan tersenyum melihat Ken yang mendekat dan tidur dilengannya.
Suara Ken yang mengeong pelan itu seolah mengisyaratkan agar Ken bisa tidur bersamanya.
"Dasar anak nakal," ucap Dama sambil mengelus Ken lagi.
Tak butuh waktu lama, keduanya pun sama-sama terlelap.
.....☆♡☆.....
Pagi itu pukul enam lebih lima belas menit. Dama yang telah bersiap untuk berangkat sekolah itu menuntun sepedanya dan menutup gerbang rumah. Segera ia mengayuh sepedanya meninggalkan rumah.
Dan dijalan raya yang cukup lengang itu, Dama terus mengayuh sepedanya. Dilihat dari sisi manapun, Dama terlihat tampan dan menawan meskipun kacamata minus bertengger diatas hidungnya. Ia melewati jembatan di lajur sepeda, sebuah jalur yang khusus untuk para pesepeda. Dari sana, ia dapat melihat dua pemandangan sekaligus. Pemandangan sungai dengan dibingkai pepohonan rindang, serta hamparan langit biru bertemankan gumpalan awan dengan sinar mentari yang semakin menghantarkan kehangatan.
.....☆♡☆.....
Kelas sangat ramai disaat guru belum memasuki ruang kelas. Rena dan Arjuna tengah duduk ditempatnya. Mereka melihat Levina yang barusaja datang dan duduk ditempatnya.
"Haha. Mata lo kenapa? Udah kaya mata panda," celetuk Arjuna.
"Ini itu gara-gara nonton drakor tidurnya jam 3 malam," jawab Levina.
"Makanya cari pacar. Biar enggak halu terus. Apalagi sama siapa itu..." ucap Arjuna sembari berpikir.
"Cha Eun Woo," jawab Rena.
"Nah, iya itu. Lo, tuh, ya! Muka ok! Tajir iya! Masa percintaan zonk, sih! Haha!" tawa Arjuna.
"Bodo! Kaya lo nggak suka Korea aja. Gue nggak lupa, ya, sama standee figure Park Shin Hye dikamar lo. Lupa lo? Pernah nangis semalaman gara-gara tau Park Shin Hye mau nikah? Lagian gue bukan lo yang sukanya koleksi mantan," ucap Levina.
"M-mana ada! Siapa juga yang nangis. Ngaco Lo! Lagian, nih, ya! Yang namanya udah bosen ya gimana lagi. Makanya pacaran biar tau."
"Bodo ah! Ngantuk gue!"
Levina kemudian menelungkupkan wajahnya dibalik lengan.
Begitu seorang guru memasuki kelas, para murid yang duduk tidak pada tempatnya segera kembali ke kursi masing-masing. Kelas juga langsung hening.
"Kalian ini sudah kelas 11, kalau kalian gunakan waktu untuk belajar, itu jauh lebih bermanfaat ketimbang kalian gosip dan buang waktu buat hal yang enggak jelas," ucap Bu Wati.
Levina tak bergeming, ia ketiduran. Dan Wati menangkap hal itu.
Rena yang duduk disamping Levina mencoba membangunkan Levina.
"Lev! Bangun, Lev!" bisik Rena nyaris tak terdengar.
"Enggak ada harapan," ucap Arjuna ketika melihat Bu Wati berjalan mendekat kearah Levina dengan raut wajah yang sudah emosi.
Saat sudah berada disamping Levina, Wati segera menjewer telinga Levina hingga membuat Levina terbangun dan merintih kesakitan.
"Aduh aduh! Sakit, Bu!"
"Nah! Gue bilang juga apa," ucap Arjuna nyaris tak terdengar.
Teman-teman sekelasnya menertawai Levina. Wati lalu melepaskan jewerannya itu. Levina menggosok-gosok telinganya yang sudah memerah.
"Ini itu ruang kelas! Bukan ruang kamar! Cepat sana cuci muka!"
"Iya, Bu! Maaf!"
Levina lantas melangkahkan kakinya keluar kelas dengan ditertawakan teman sekelasnya.
"Diam semuanya!"
Wati kemudian menuju kedepan kelas. Ia meraih buku cetak dan memulai pelajaran.
Sementara disisi lain, Levina yang barusaja kembali dari toilet dan hendak menuju kelasnya, melihat Dama yang memakai seragam sekolah berbeda darinya. Pria itu tengah berada diluar kelas 11-3.
"OMG! Itu cowok ganteng banget. Murid baru, ya!" seru Levina.
__ADS_1
Terlihat Dama kemudian memasuki kelas.
Levina segera mendekat dan mengintip dari jendela. Ia melihat Dama yang sedang memperkenalkan diri. Levina terlihat terpesona sampai-sampai hampir ketahuan guru. Segera Levina menunduk dan kembali ke kelas dengan posisi membungkuk.