Wish You Know

Wish You Know
Chapter 17 : Unlucky Day, Maybe?


__ADS_3

.....☆♡☆.....


Abdullah, seorang kakek berumur enam puluh tahunan tengah duduk sendirian di pangkalan ojek. Ia melihat Rena yang barusaja berlari, berhenti dipangkalan ojek dengan napas terengah-engah.


Melihat hanya ada satu tukang ojek, Rena segera berseru, "Kek! Tolong anterin Saya, Kek!"


Pagi yang sial bagi Rena. Gadis itu bangun pukul tujuh kurang lima belas menit. Alarm digitalnya tak berdering lantaran habis baterai. Pun dengan kedua orang tuanya yang sedang tidak berada dirumah. Rena bahkan sampai tak sempat membuat sarapan. Semalam ia hanya minum satu kotak susu rasa taro. Alhasil kadar glukosa atau gula dalam darahnya mulai menipis, memberi sinyal pada tubuhnya bahwa ia membutuhkan asupan bahan bakar sesegera mungkin. Membuat otot-otot dalam sistem pencernaannya berkontraksi. Dimana didalam otaknya diterjemahkan sebagai rasa lapar.


"Siap, Ndu!"


Abdullah segera menuju motornya dan memberikan helm pada Rena. Rena segera menerima dan memakainya.


Abdullah yang juga sudah mengenakan helm kini tengah menyiapkan motornya. Lumayan lama. Hingga membuat Rena tidak cukup sabar.


"Kek? Bisa tolong cepat sedikit, Kek? Saya buru-buru soalnya udah telat banget," ucap Rena dengan sopan.


Abdullah naik ke motor dan menyalakan mesin motor.


"Iya. Sabar, ya! Namanya juga udah tua," ucap Abdullah.


Rena segera naik. Dan mereka meninggalkan pangkalan ojek.


Dijalan raya yang cukup lengang, motor tua yang mengusung konsep teleskopik pada bagian depan itu melaju lambat. Motor yang sempat sangat populer di era 90an sebab digadang-gadang sebagai motor bebek paling kencang dan irit bensin sehingga mampu memikat banyak konsumen. Entah karena memang sudah cukup tua, atau karena pengemudinya yang sudah tidak sanggup untuk melajukan kendaraanya lebih cepat lagi. Yang jelas, raut muka Rena menunjukan ketidaksabaran dengan dibalut rasa sungkan dan takut menyakiti hati sang Kakek andai dia banyak berucap. Tapi lama kelamaan rasa sabarnya menipis juga.


"Aduh, Kek! Maaf, ya, Kek, ya! Tapi kenapa bawanya lambat begini? Bisa tolong lebih cepat lagi nggak?"


"Sabar, ya! Namanya juga udah tua," ucap Abdullah.


Rena melihat pada jam tangan dipergelangan tangannya dan menghela napas berat.


"Dulu tuh, ya, Ndu! Saya suka ikut balapan motor. Juara terus, sampai dikira saya pakai jimat atau apalah yang berbau mistis. Tapi sekarang Saya udah nggak bisa menikmati masa-masa itu."


Rena hanya meringis tak tahu harus berkata apa. Yang ia pedulikan adalah ia sampai ke sekolah secepat mungkin. Ia tidak tahu apakah guru killer itu akan memberikan keringanan untuk dirinya atau tidak.


"Menepi dulu deh, Kek!"


"Kenapa? Kan sekolahnya masih jauh. Katanya harus cepat-cepat."


"Menepi aja, Kek! Ya?"


Abdullah lalu menuruti perintah. Ia menepikan motornya. Rena langsung turun dari motor.


"Ada apa, sih?" tanya Abdullah.


"Kakek turun, ya! Biar Saya yang boncengin Kakek!"


"Memangnya kamu bisa bawa motor?"


"Kalau Saya enggak bisa, Saya enggak mungkin mengajukan diri, Kek! Saya masih sayang nyawa."


Abdullah turun dari motor, lalu Rena segera mengambil alih kemudi atas motor itu.


"Kek! Cepetan naik, Kek!" seru Rena.


"Sebentar! Namanya juga udah tua."


Rena terlihat memejamkan mata kuat-kuat sembari memaksa agar tersenyum untuk meredam sedikit rasa kesalnya.


Setelah Abdullah naik, Rena langsung mengegas motornya yang membuat Abdullah terhuyung kebelakang dan langsung berpegangan erat pada tas punggung Rena.


"Aduh! Jangan ngebut-ngebut, Ndu!"


"Namanya juga masih muda," ucap Rena yang mengikuti gaya bicara Abdullah.


"Aduh! Umur saya masih panjang, 'kan, ya?"


Motor yang dikendarai Rena menyalip pengendara lain. Tak sia-sia ia belajar naik motor dengan Ragil. Ia teringat saat menabrak semak-semak dilapangan dekat komplek rumahnya. Untungnya, motor Ragil yang masih cukup baru itu tak rusak parah. Rena juga baik-baik saja. Hanya mendapat luka lecet dilutut dan siku. Teringat pula saat ia memboncengkan Ragil yang ketakutan. Ketakutan Ragil persis seperti Abdullah kini.


Nampak sekali jika Rena bukanlah pengendara motor yang handal. Oleng kesana-kemari. Beberapa kali Abdullah meminta Rena untuk menghindar karena hampir menubruk pengendara lain dan meminta agar Rena lebih berhati-hati.


"Haduh, Ndu! Kamu bilang sayang sama nyawa. Ini enggak menunjukkan kamu sayang sama nyawa. Kita bukan kucing, Ndu!" celoteh Abdullah.

__ADS_1


"Tenang aja, Kek! Kan Saya berinisiatif membantu Kakek untuk mengenang masa dulu pas jamannya trek-trekan. Hehe."


Sesampainya diseberang sekolah yang gerbangnya telah tertutup, cepat-cepat Rema merogoh saku celana dan mengeluarkan uang seratus ribu.


"Ini, Kek! Makasih, ya, Kek! Kembaliannya buat Kakek aja," ucap Milli.


"Tapi ini kebanyakan, Ndu!"


"Enggak papa, Kek!"


"Makasih banyak, Ndu! Lain kali jangan naik motor aja, Ndu!"


"Kenapa?" tanya Rena yang terlihat sedikit sedih.


"Bahaya! Pusing saya naik motor dibonceng kamu."


"Namanya juga udah tua," ucap Rena dan Abdullah bersamaan.


"Kamu ngejek, ya?" tanya Abdullah yang nampak tersinggung.


Membuat Rena awalnya cengengesen langsung merasa bersalah melihat muka serius Abdullah. "Enggak, Kek! Bercandanya kelewatan, ya! Maaf, Kek!"


"Enggak papa. Saya juga bercanda tadi."


Rena melongo. Kalau kata warga TokTok isi komentarnya 'kakek prik'.


"Helmnya enggak mau kamu lepas?"


Rena memegang kepalanya yang masih memakai helm.


"Oh iya! Hehe."


Rena melepas helm dan menyerahkan nya ke Abdullah.


"Makasih loh, Kek!"


"Iya. Sama-sama, Ndu!"


Rena segera berlari menyebrang jalan, kemudian menyempatkan berbalik dan melambai pada Abdullah.


Abdullah menggeleng heran.


Misi Rena untuk dapat sampai ke kelasnya masih belum tuntas. Ia masih harus berhadapan dengan satpam dan meminta agar dibukakan pintu. Satpam sekolah akan tetap membukakan pintu karena jika ada siswa yang telat, hanya perlu meminta surat kepada guru piket. Dan jika terlalu sering terlambat, tentu akan mendapat hukuman agar siswa lebih disiplin. Siswa yang kebetulan terlambat saat jam guru killer, jangan harap bisa terlepas dari sebuah hukuman. Maka dari itu, Rena merasa was-was sebab jam pertama adalah jam pelajaran guru killer.


.....☆♡☆.....


Pelajaran biologi di salah satu ruang kelas yang awalnya tengah berlangsung itu tiba-tiba terhenti ketika Rena yang barusaja sampai dipintu kelas dengan napas tersenggal-senggal. Levina sudah menatap Rena was-was. Arjuna pun hanya bisa memperhatikan temannya itu. Entah nasib seperti apa yang akan dihadapi. Dibiarkan lolos atau mendapat hukuman seperti yang biasa terjadi.


Bu Laura yang berkacamata minus tebal membenarkan kacamatanya yang melorot. Memperhatikan Rena yang kini sudah berdiri didepannya dengan raut bersalah.


"Kamu terlambat dua puluh menit. Mau kamu siswa paling pintar sekalipun, keterlambatan kamu tidak bisa Saya terima. Kamu dihukum lari dilapangan sebanyak sepuluh kali. Kalau sudah selesai, baru kamu boleh kembali ke kelas. Paham?" ucap Bu Laura.


"Paham, Bu!"


"Sekarang kamu taruh tas kamu ditempat duduk. Baru kamu langsung pergi ke lapangan ourdoor!" ucap Bu Laura.


"Baik, Bu!"


.....☆♡☆.....


Matahari masih belum terik ketika Dama berjalan menuju lapangan sekolah. Langkah Dama terhenti saat melihat Rena yang tengah berlari keliling lapangan.


Saat Rena sedang berlari, pandangannya menangkap sosok Dama. Lantas Rena mendekati pria itu.


"Lo terlambat juga?" tanya Rena.


"Enggak. Gue dihukum guru karena enggak bawa buku tugas. Seharusnya dikumpulin sekarang," jawab Dama.


Rena mengangguk mengerti. Lalu bertanya, "Dihukum lari juga?"


Dama mengangguk.

__ADS_1


"Berapa kali?" tanya Rena.


"Sepuluh. Lo?"


"Sama. Sepuluh."


"Udah dapet berapa?"


"Baru juga satu putaran."


Dama tertawa pelan. Melihat Rena kembali berlari, Dama segera ikut berlari.


"Lo kenapa bisa telat? Bangun kesiangan?" tanya Dama.


"Iya. Alarm gue nggak bunyi. Orang tua juga lagi nggak dirumah. Jadilah nggak ada yang bangunin gue."


Mereka terus berlari keliling lapangan. Rena semakin memelankan larinya karena kelelahan. Keringatnya mengucur banyak. Lalu, Dama kembali berlari disampingnya.


"Ayo! Lo tinggal dua putaran lagi," seru Dama.


Rena berhenti. Dama ikut berhenti. Rena menumpu tubuhnya dengan kedua tangan diatas lutut sembari mengatur napas, lalu mengusir Dama dengan tangannya.


"Lo duluan, deh, sana!"


Dama mendekat pada Rena.


Tiba-tiba saja Dama berjongkok didepan Rena dengan posisi satu kaki ditekuk kebelakang dengan lutut menyentuh tanah untuk menumpu badan dan satu kaki lagi ditekuk keatas. Rena yang melihat itu lantas berdiri tegak dan memandang Dama heran.


"Lo ngapain?" tanya Rena.


"Ayo naik!"


"Hah? Enggak!"


"Udah buruan!"


"Dibilang enggak mau!"


Dama berdecak pelan. Lalu memundurkan tubuhnya dan segera menarik kaki Rena begitu saja agar menempel dengan punggungnya. Rena yang terkejut sontak berpegangan pada bahu Dama.


"Eh mau ngapain?" tanya Rena.


Dama segera menggendong Rena.


"Dama! Turunin! Nanti lo capek! Gue berat asal lo tau. Lagian kita itu disuruh lari. Bukan malah gendong-gendongan kaya gini. Kalau ketahuan guru, bisa-bisa hukuman kita nambah gara-gara salah paham."


"Enggak akan ketahuan. Lo tenang aja."


Dama mulai berlari kecil dengan menggendong Rena. Rena melihat Dama dalam diam. Perlahan, tangannya mengalung dileher Dama.


Dama lalu menurunkan Rena dipinggir lapangan didekat ransel dan jaketnya berada setelah berlari dua putaran.


"Gih, sana balik ke kelas!" ucap Dama yang kemudian kembali berlari.


Rena tak bergeming. Ia hanya diam melihat Dama yang tengah berlari. Cukup lama. Hingga Rena akhirnya pergi dari lapangan yang tertangkap oleh pandangan Dama.


Dama masih berlari ketika melihat Rena kembali datang dengan sebotol air mineral. Gadis itu barusaja kembali dari kantin. Terlihat gadis itu duduk dikursi dekat lapangan. Memperhatikan dirinya yang masih berlari.


Dama yang telah selesai berlari sebanyak sepuluh putaran lantas tidur terlentang disamping Rena dengan napas yang masih tersenggal-senggal. Wajahnya penuh keringat. Apalagi rambut dan kaosnya yang juga basah karena keringat.


Rena tertawa pelan melihat itu.


"Lo, sih, pakai gendong gue segala. Udah tau gue berat. Nih! Minum!"


Dama menerimanya.


"Thanks."


Dama memgambil posisi duduk dan menimun air mineral itu. Setelah istirahat sebentar, Dama lantas beranjak.


"Ayo ke kelas!"

__ADS_1


Rena mengangguk.


Keduanya berjalan bersama menelusuri koridor menuju ruang kelas mereka.


__ADS_2