Wish You Know

Wish You Know
Chapter 16 : Secrets in The Night


__ADS_3

.....☆♡☆.....


Rena sedang sibuk belajar dimeja belajarnya ketika ia mendengar ketukan pintu dari luar balkon. Rena bangkit menuju sumber suara.


Saat membuka pintu, ia terkejut.


"Dama! Lo ngapain disini?" tanya Rena nyaris tak terdengar.


Dama terlihat berpakain rapi dan mengenakan jaket, juga sepatu.


"Gue mau ngajak lo pergi," ucap Dama.


"Kemana? Gue enggak bisa. Bokap nyokap gue lagi ada dirumah. Kalau bokap gue sampai tau bisa jadi masalah."


"Yang penting lo kunci aja pintu kamarnya."


"Enggak. Gue enggak mau. Gue takut ketahuan. Lagian lo mau ngajak gue kemana, sih? Gue nggak biasa keluar malam. Apalagi tanpa ijin sama orang tua."


"Pokoknya lo harus ikut, ya! Waktu kita enggak banyak. Kalau lo enggak mau ganti baju, lo pakai jaket aja," ucap Dama.


Dama menerobos masuk, ia melihat jaket yang tergantung di standing hanger dekat pintu kamar lalu mengambilnya. Ia juga mengunci pintu kamar Rena. Dama kemudian mendekat pada Rena dan memakaikannya jaket.


"Dam! Gue takut," ucap Rena lirih.


"Enggak perlu takut. Ada gue. Gue bakal ngelindungin lo. Gue yang bakal bilang ke bokap lo kalau kita sampai ketahuan."


Selesai memakai jaket, mereka kemudian menuju balkon.


Dama lebih dulu menuruni anak tangga. Setelah sampai dibawah, Rena kemudian turun dengan hati-hati. Dama kemudian membawa tangga itu untuk keluar dari area rumah Rena. Mereka bahkan harus berdiri diatas pagar yang tinggi untuk membalikan tangga.


.....☆♡☆.....


Tempat itu sudah ramai oleh para pengunjung yang akan melaksanakan festival lampion. Rena dan Dama terlihat berada dikerumunan.


"Gue baru tau bakal ada festival lampion. Seharusnya lo bilang. Gue malu cuma pakai baju tidur," ucap Rena.


"Enggak perlu malu. Lagipula enggak ada yang merhatiin juga, 'kan?"


Mereka kemudian menuju penjual lampion untuk membeli satu lampion. Kemudian mereka bergabung bersama yang lain untuk segera melaksanakan festival. Dama dan Rena menunggu lampion mereka untuk terisi oleh udara. Dama melihat Rena yang tersenyum bahagia. Rena melihat kearahnya. Ia ikut tersenyum.


"Kalau lo punya sebuah permintaan, lo bisa berdoa sebelum lampion ini benar-benar terbang," ucap Dama.


Rena mengangguk. Ia memejamkan mata untuk berdoa. Ia kembali membuka mata dan lampion kemudian mereka terbangkan bersama dengan lampion lainnya. Seketika itu langit gelap mulai bercahaya. Lampionnya semakin terbang tinggi dan Rena terlihat sangat senang. Dama ikut senang melihat hal itu.


Setelah acara lampion itu, mereka kemudian membeli beberapa jenis makanan dan minuman yang dijual disana. Seperti takoyaki, seafood, sosis dan boba. Mereka terlihat sangat menikmati malam mereka.


Mereka berjalan sambil menikmati sosis bakar. Rena menatap Dama.


"Makasih lo udah ngajak gue ke tempat ini. Baru kali ini gue ngerasa sebebas ini," ucao Rena.


"Sama-sama. Tapi... emangnya lo sama sekali enggak pernah boleh keluar malam buat jalan-jalan?"


"Boleh aja. Asal udah dapat ijin dari bokap. Kalau menurut bokap hal itu cuma buang-buang waktu enggak bakalan diijinin. Bahkan untuk teman dekat gue sekalipun."


"Tapi bokap lo ngijinin lo buat pergi nonton bareng Liam."


"Jadi, bokap gue sama bokap Liam itu udah temenan dari SMP. Sampai sekarang juga masih terjaga silaturahminya. Bokap selalu ngijinin gue kalau tau gue bakalan pergi sama Liam. Bahkan ketika gue menolak ajakan Liam, bokap minta gue supaya gue mau diajak pergi."


"Kayaknya bokap lo sayang banget, ya, sama Liam."

__ADS_1


"Ya gitu, deh! Mungkin bokap juga udah nganggap Liam sebagai anak sendiri."


.....☆♡☆.....


Rena dan Dama tengah berada dilapangan. Terlihat Dama mengambil skateboard dibawah bangku panjang yang ada disana.


Terlihat Dama menaiki skateboard dan memainkannya dengan baik dilapangan. Rena terlihat tertarik. Dama kemudian menghampiri Rena.


"Lo jago main skateboard?" tanya Rena.


"Kalau dibilang jago enggak juga. Lo mau coba?


"Gue enggak bisa."


"Gue ajarin."


Rena kemudian naik ke papan skateboard dengan berpegangan pada Dama. Perlahan, Dama menarik Rena maju dengan tqngan yang masih bertaut. Meskipun terlihat bergetar tak bisa, Rena tak menyerah. Rena juga mencoba bermain tanpa berpegangan dengan Dama lagi. Ia bisa meskipun hanya jarak dekat. Rena terlihat bahagia. Dama tersenyum melihatnya. Lalu terlihat Dama mendorong Rena yang duduk dipapan skateboard memutari lapangan futsal.


.....☆♡☆.....


Diruangan yang cukup luas itu, terdapat perlengakap taekwondo yang lengkap. Ruangan yang biasa dikenal dengan istilah Do Jang oleh para pemain taekwondo. Dan diruangan itu, sudah ada Rainey dengan seragam taekwondo bersabuk hitam sedang melakukan kicking beberapa kali kearah sand-sack. Pukulan dan tendangan dengan gencar ia layangkan. Suara decit pintu yang terbuka sama sekali tak membuat Rainey beralih fokus.


Levina satang dengan seragam taekwondo bersabuk hitam. Dirinya memperhatikan Rainey sebelum akhirnya melakukan peregangan.


"Lo kenapa sampai ngelakuin hal itu ke Ajun? Lo pernah ada masalah sama dia?"


Rainey menghentikan sand-sack yang bergoyang dengan tangannya. Lalu kembali memukul dan meninju tanpa berniat membalas pertanyaan Levina.


Levina terlihat santai. Ia kemudian melakukan peregangan dengan duduk berselonjor.


"Gue nggak tau lo sebenci itu sama dia. Gue tau lo benar soal Ajun yang suka main cewek. Tapi cara lo salah kalau mau buat dia sadar sama kelakuannya," ucap Levina.


"Lo nggak tau apa-apa soal Ajun. Dan alasan kenapa dia sampai kaya gitu, lo nggak tau."


"Gue sama sekali nggak mau tau. Dan gue nggak peduli," jawab Rainey.


Levina diam. Tak berniat membuka kembali pembicaraan dan lebih memilih untuk melatih tendangan dan pukulan dengan sand-sack. Sama seperti yang dilakukan Rainey. Satu sand-sack yang tidak digunakan menjadi pembatas antara Rainey dan Levina. Keduanya sama-sama sibuk dengan kegiatan mereka.


.....☆♡☆.....


Dijam pulang sekolah, Rena terlihat sedang menunggu seseorang keluar dari kelas 1-3. Tak lama, Rena melihat Dama keluar dari kelas. Dama yang melihat Rena pun mendekat.


"Rena? Lo ngapain disini? Belum pulang?"


"Ayo ikut gue!"


"Kemana? Bukannya lo bilang lo harus langsung pulang?"


"Cuma sebentar doang. Ayo!"


Diparkiran, Dama segera menaiki sepedanya dan mengayuhnya kearah Rena.


"Naik!"


Rena kemudian naik keatas sepeda. Ia berdiri dibelakang Dama dengan berpegangan pada pundak Dama. Mereka kemudian meninggalkan area sekolah.


.....☆♡☆.....


Dama mengayuh sepedanya dijalanan yang sangat sepi. Banyak pepohonan besar dikanan dan kiri yang terlihat masih sangat asri. Rena yang berdiri dibelakang pun terlihat tersenyum menikmati udara segar.

__ADS_1


"Berhenti disana!"


Dama mengikuti perintah. Mereka kemudian berhenti ditempat yang Rena tunjuk. Dama memarkirkan sepedanya dibawah. Mereka kemudian menaiki anak tangga menuju rumah desain.


Setelah sampai diatas, Dama melihat sekeliling. Tempat itu masih terlihat asri dengan banyak pohon-pohon. Dan juga tidak ada rumah lain yang terlihat dalam pandangan Dama.


Setelah Rena membuka pintu, mereka kemudian masuk kedalam rumah tua itu. Dama melihat tulisan 'Hylo' tergantung didepan pintu. Ia kemudian ikut masuk. Pandangannya berkeliling melihat setiap sudut tempat itu.


"Ini adalah tempat dimana gue bisa menjadi diri gue sendiri."


Dama masih sibuk melihat sekeliling. Ia mendekat ke meja. Melihat gambar desain baju yang teetempel di dinding.


"Pertama kali gue tau tempat ini adalah ketika gue pergi camping bareng teman-teman yang lain. Gue datang kerumah ini seorang diri dan mencari tahu tentang rumah kosong ini. Saat gue tanya ke tetangga yang nggaknjauh dari rumah ini, ternyata rumah ini ditinggalkan lantaran anak dari pemilik rumah ini membawa ibunya yang sebatang kara untuk tinggal bersama mereka dikota. Awalnya gue niat mau nyicil rumah ini, tapi ternyata, anak dari Ibu itu bilang kalau rumah itu tidak akan pernah mereka huni lagi. Jadilah mereka ngijinin gue pakai rumah ini."


"Orang tua lo enggak tau kalau lo pakai rumah ini?"


Rena menggeleng.


"Cuma gue sama Levina yang tau tempat ini."


"Liam sama yang lain?"


"Gue belum ngasih tau ke mereka."


Dama melihat sebuah buku sketsa diatas meja.


"Boleh gue liat?" tanya Dama.


Rena mengangguk. Dama kemudian membuka buku sketsa itu dan melihat-lihat hasil dari goresan tangan Rena.


"Seharusnya orang tua lo bangga punya anak jago ngedesain kaya lo. Kenapa lo enggak coba tunjukin karya-karya lo ke orang tua lo?" tanya Dama.


"Gue bahkan enggak tau reaksi apa yang bakal mereka tunjukin ketika tau anaknya ngelakuin hal kaya gini. Dulu waktu umur gue masih 12 tahun, gue pernah bilang ke orang tua gue kalau gue pengen jadi desainer. Gue juga lihatin hasil gambar gue. Tapi lo tau apa? Bokap ngerobek gambar itu dan marahin gue. Sejak saat itulah gue enggak pernah nunjukin hal itu lagi."


Dama hanya diam. Ia kemudian tersenyum simpul.


Terlihat keduanya kemudian berdiri didekat jendela kayu. Memandangi hutan yang lebat.


"Gue juga punya tempat istimewa, tapi itu dulu. Sekarang tempat itu udah lebih dari sepeuluh tahun nggak beroperasi."


"Kalau boleh tau... emang itu tempat apa?" tanya Rena.


"Coffee shop. Setelah menikah, Nyokap gue buka usaha itu. Setelah Nyokap meninggal, coffee shop itu nggak ada yang handle. Hingga akhirnya Bokap gue memutuskan untuk menutup kafe itu. Padahal tempat itu adalah tempat dimana gue sama Ibu kandung gue ngabisin waktu lebih banyak,"jelas Dama.


Rena terdiam mendengarkan.


"Dari umur tujuh tahun itu gue tinggal sama Bokap. Tapi beberapa tahun terakhir Bokap tinggal di Australia. Gue sempat mau diajak tinggal disana, tapi gue pengen tetap disini."


"Terus kenapa lo malah pindah rumah sekarang? Kenapa lo nggak tinggal dirumah asli lo?"


"Gue pindah cuma sementara, kok!"


"Jadi, suatu saat lo bakal pindah?"


"Iya. Kenapa? Lo sedih karena gue enggak bakal jadi tetangga lo lagi?"


"Siapa tau kita bakal tetanggan sampai kita nemuin pasangan masing-masing dan punya anak cucu."


Dama tersenyum.

__ADS_1


"Kalaupun gue nggak jadi tetangga lo lagi, kita masih tetap bisa komunikasi."


__ADS_2