Wish You Know

Wish You Know
Chapter 14 : Rainy Day


__ADS_3

.....☆♡☆.....


Mobil yang dikendarai Wirawan, pria paruh baya berusia lima puluh dua tahun itu berhenti didepan garasi. Terlihat istrinya Sintia, tengah berdiri diteras rumah menyambut kepulangannya. Wirawan kemudian keluar dari mobil dengan membawa tas kerjanya.


Saat Wirawan sampai diteras rumah, ia melihat Esa yang berpakaian rapi dan memakai jaket hitam keluar dari dalam rumah.


"Esa? Kamu mau kemana lagi? Kamu 'kan baru pulang," tanya Sintia.


"Mau kerumah teman, Mah! Esa suntuk dirumah terus," jawab Esa.


"Memangnya kamu mau kerumah siapa malam-malam begini? Arjuna?" tanya Wirawan.


"Bukan."


"Ya sudah. Hati-hati!" ucap Wirawan.


"Hati-hati, ya, pulangnya!" ucap Sintia.


"Enggak boleh sampai jam sepuluh malam," ucap Sintia dan Esa bersamaan.


"Esa ingat, kok, Mah!"


Sintia tersenyum dan mengacak-acak pelan helaian rambut Esa.


"Esa pergi, Mah! Pah! Assalamu'alaikum!" pamit Esa sembari mencium tangan kedua orang tuanya.


"Wa'alaikumussalam."


Bara dan renata menatap kepergian Esa yang meninggalkan halaman rumah mengendarai sepeda motor.


"Gimana operasinya, Pah?"


"Operasinya gagal. Sayang sekali anak itu tidak bisa bertahan setelah menerima jantung baru.


"Mungkin itu jalan yang terbaik. Dia udah enggak merasa sakit lagi," ucap Sinta.


Meskipun Bara merasa sedih, namun ia mencoba untuk tersenyum.


.....☆♡☆.....

__ADS_1


Suara petikan gitar menggema diruangan bernuansa biru gelap. Dama sedang mencari kunci untuk lagu yang dibuat olehnya. Lalu menuliskannya disebuah buku. Aktifitasnya terhenti ketika rungunya mendengar suara deru mobil yang berhenti. Dama beranjak dan melongok lewat jendela kamarnya yang berada dilantai dua.


Kedua netra yang memiliki iris berwarna coklat itu menemukan Rena yang diantar Liam. Liam pergi setelah Rena terlihat bertrimaksih dan melambaikan tangan. Netranya masih asyik memperhatikan sampai gadis itu masuk kedalam rumah dan lagi terlihat olehnya. Ditutupnya kembali gorden tebal berwarna navy dan mengambil langkah kembali menuju tempat duduknya semula. Tangannya yang hendak kembali menuliskan kunci lagu itu pun terhenti dengan pikiran yang berkelana entah kemana.


Hingga suara bel pintu rumahnya itu pun berbunyi.


.....☆♡☆.....


"Tapi, Pak? Bukannya itu juga untuk kebaikan siswa? Kenapa Pak Kepala Sekolah nggak setuju?" tanya Rena.


Rena merasa tak puas mendengar Pak Sandi menuturkan jika usulan sosialisasi untuk membahas kepedulian lebih tentang pentingnya mental siswa disekolahnya ditolak. Ia terheran-heran dengan keputusan Pak Kepala Sekolah. Tak hanya dirinya, melainkan teman satu klub sosialnya.


"Saya sudah berusaha untuk membicarakan hal ini dengan Pak Wisnu. Akan tetapi, Pak Wisnu mengatakan jika hal itu bukan hal yang perlu hingga harus mengadakan sosialisasi dengan wali murid. Bahkan di sekolah lain pun, tidak ada rapat demikian. Saya jelas mendukung kalian. Apapun hal yang menurut Saya bisa mendorong kalian untuk peduli dengan sekitar adalah hal yang patut dibanggakan. Tapi kembali lagi, semua tidak akan bisa terlaksana jika tidak ada persetujuan dari Pak Wisnu sendiri," ucap Pak Sandi.


Rena menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Teman-temannya yang lain pun nampak kecewa.


"Jadi benar-benar tidak bisa, Pak? Walaupun sekolah lain belum melakukan hal semacam ini, kita bisa mendorong sekolah lain untuk melakukan hal yang sama," ucap Levina.


"Levina... Sekolah ini adalah milik keluargamu. Apa menurutmu ini juga bukan karena keputusan dari pemilik sekolah? Setiap kegiatan yang terjadi di sekolah selalu diawasi dengan ketat. Sekolah ini bukan sekedar sekolah biasa. Banyak anak-anak dari kalangan keluarga terpandang yang tidak bisa dianggap remeh. Mereka dari keluarga sibuk dan tidak akan punya waktu hanya untuk membahas hal semacam ini," ucap Pak Sandi.


"Kita bisa melakukannya dengan cara lain," ucap Rena.


Semua mata tertuju pada Rena. Begitupun Rena yang kini memandang teman-temannya satu persatu. Lalu memandang Pak Sandi penuh keyakinan.


.....☆♡☆.....


Cuaca siang itu benar-benar tak mendukung. Di jam pulang sekolah, hujan turun dengan begitu deras. Para siswa-siswi yang terjebak hujan lantaran tak membawa payung masih berada diteras depan sekolah.


Rena yang barusaja sampai diteras depan sekolah cemberut melihati hujan yang turun. Rena melirik jam tangan dipergelangan tangannya, dan menatap kembali hujan seolah tidak sabaran.


Setelah menunggu cukup lama, hujan belum juga reda, namun tidak sederas sebelumnya. Rena menyiapkan diri untuk berlari.


Namun baru satu hentakan kaki, semua yang Rena rasakan bagaikan slow motion. Tangannya ditarik kebelakang hingga wajahnya membentur dada seorang pria dan satu lagi tangan pria itu berada dipinggangnya. Saat Rena melihat keatas, Rena melihat Dama yang kini juga menatapnya. Mereka bertatapan selama beberapa saat.


"Lo mau hujan-hujanan? Lo pikir tubuh kecil lo itu bisa nangkal sakit atau gimana?" tanya Dama.


Rena beralih menatap pergelangan tangannya yang digenggam Dama. Rena mendelik dan segera melepaskan tangannya seraya menjauh. Ia terlihat gugup dan malu. Sesekali Rena mengalihkan pandangan kearah lain.


"Itu- Gue enggak mungkin nunggu berjam-jam lamanya sampai hujan benar-benar reda. Lagipula... halte dekat, kok!" jawab Rena.

__ADS_1


"Dekat yang akan buat kamu basah kuyup karena hujan itu enggak bisa dibilang deket."


Rena menghela napas pelan sembari melihati hujan yang tak kunjung reda.


"Lo suka hujan?" tanya Dama.


Rena mengangguk.


"Biasa aja, sih! Gue bisa suka banget sama hujan disaat gue mungkin dalam keadaan penggen hujan turun dengan alasan tertentu. Dan gue juga bisa nggak suka hujan kalau situasinya semacam ini. Suka atau nggak sama hujan, tergantung sama situasi. Kalau lo?"


"Gue benci hujan," jawab Dama.


Rena menatap Dama. Menerka-nerka, apa gerangan yang membuat Dama begitu membenci hujan? Yang bahkan dalam setiap tetes air yang turun mengandung berkah dibaliknya. Rena kemudian memandang jauh kedepan. Persis seperti yang Dama lakukan.


"Setiap orang punya alasan kenapa mereka suka atau enggak sama hujan. Ada memori yang mungkin melekat dengan hujan. Entah itu sedih atau bahagia. Kalau kesedihan itu membuat dia benci hujan, bisa jadi memori itu menjadi hal yang teramat menyakitkan," ucap Rena.


Dama memandang dengan pandangan menerawang jauh kedepan.


"Memori yang paling melekat diotak gue saat hujan itu adalah ketika gue melihat dengan mata kepala gue sendiri nyokap gue terkapar ditengah jalan. Kaki gue lebih memilih melangkah mundur daripada maju buat ngelihat kondisi nyokap saat itu. Gue benci bau hujan karena ada bau anyir yang merebak bersamaan dengan air hujan. Dan dengan langkah yang berat, gue memutuskan untuk maju. Dan ketakutan gue benar terjadi. Nyokap udah enggak bernyawa saat itu," ucap Dama ketika mengenang memori pahitnya setiap hujan turun.


Rena yang mendengar itu menjadi kian simpati. Ia mungkin akan kembali berlagak memberi semangat dengan kata-kata yang dirinya saja sedang menderita dengan apa yang terjadi padanya.


"Nyokap lo pasti udah bahagia diatas sana. Gue enggak akan pernah bosan bilang ke elo untuk mengingat hal yang baik-baik. Jangan terlalu membenci bokap lo. Bokap lo juga pasti merasa bersalah banget atas kejadian itu. Sekali-sekali, ajak bokap lo bicara. Ajak dia sharing hal-hal bahagia ketimbang berdebat tanpa ujung. Karena bagaimanapun, dia Ayah kandung lo. Dia pasti kesepian. Dan cuma lo anak satu-satunya. Hubungan seorang Ayah dan anak seharusnya menjadi ikatan yang bisa saling menguatkan dan memberi kebahagian," ucap Rena.


Dama hanya diam menatap Rena. Mereka saling tatap untuk waktu yang cukup lama disaat tetes air hujan yang jatuh ke tanah belum juga menandakan akan segera berhenti.


.....☆♡☆.....


Malam itu, Rena tengah duduk dikursi belajarnya dan membuka room chatnya bersama Esa. Ia lantas kembali membuka video yang telah Esa kirimkan padanya. Sebuah video berputar memperlihatkan dimana Pram yang memukuli Dimas hingga akhirnya Rena datang dan adu mulut dengan Pram.


Lalu, datang Levina dari kamar mandi setelah mencuci muka dan menggosok gigi. Seperti rencana awal. Levina menginap dirumah Rena malam ini karena kedua orang tua Levina sedang tidak ada dirumah untuk menghadiri pernikahan rekan kerja yang ada diluar kota. Sedangkan pembantu yang ada dirumah Levina sedang libur karena anak perempuannya sedang melahirkan. Ditambah dengan sopir pribadi yang entah mengapa harus mengambil cuti dihari yang sama. Jadilah Levina tak akan berani jika berada dirumah sendirian.


"Lo nonton video apa? Ribut banget perasaan," tanya Levina.


"Video adik kelas yang ribut sama Pram," jawab Rena.


"Buat apa lo nyimpen video itu? Oh, iya! Katanya lo punya rencana soal meeting tadi siang. Lo ada rencana apa?" tanya Levina.


"Bantuin gue, ya! Kita begadang malam ini. Kita juga perlu rundingin ini di chat group anak klub sosial."

__ADS_1


"Ok! Tapi apa dulu rencananya?"


Rena memandang Levina serius.


__ADS_2