Wish You Know

Wish You Know
Chapter 11 : When We Talk About History


__ADS_3

.....☆♡☆.....


Selesai makan siang dikantin, Rena dan Levina segera kembali ke kelas untuk mengembalikan buku paket dimana masing-masing membawa lima belas buku. Mereka melangkahkan kaki dikoridor dimana masih banyak siswa-siswi yang berkeliaran. Koridor dan kantin adalah dua tempat yang paling banyak digemari siswa-siswi ketika menikmati jam istirahat mereka.


"Gimana, Na? Lo mau 'kan nginep dirumah gue?" tanya Levina.


"Lagian lo ada-ada aja. Tau penakut, senengnya nonton horror. Percuma juga nonton kalau yang ditonton cuma setengah layar," ucap Rena.


"Ya gimana. Gue suka horror tapi gue penakut. Gue beraninya juga nonton disiang bolong. Kalau enggak pas kita lagi kumpul doang gue nonton."


"Iya. Tapi habis itu nyusahin orang. Minta ditemenin ngambil minum karena takut, lah. Temenin ke kamar mandi, lah."


"Hehe. Enggak usah diungkit, dong! Mau, ya, nemenin gue. Cuma satu malam, kok!"


"Iya. Gue mana bisa nolak."


"Yes! Thanks, Na!"


"Untung orang tua gue lagi nggak ada dirumah. Kalau ada, gue nggak yakin bisa nemenin lo."


"Kapan orang tua lo balik?"


"Entah. Nggak nentu juga."


Levina mengangguk saja.


Ruangan cukup besar yang mereka datangi memperlihatkan bagaimana suasana rak penuh buku-buku itu menarik atensi mereka. Rungu mereka bahkan tak mendengar sedikitpun kebisingan dibanding yang terjadi diluar sana ataupun diruangan lain. Penjaga perpustakaan wanita dengan sorot mata tajam dibalik kacamata minus cukup tebal menyerahkan buku catatan peminjaman. Rena mengambil pena dan membubuhkan tanda tangan sebagai tanda kelasnya tak lagi terbebankan tanggung jawab buku paket yang dipinjam. Dengan cekatan penjaga perpustakaan menghitung buku dimeja counter.


"Kamu bisa kembalikan buku-buku ini kembali ke tempatnya," ucap penjaga perpustakaan. Bu Catherine.


"Baik, Bu!"


Keduanya melaksanakan perintah.

__ADS_1


"Tau nggak? Kapan pertama kali perpustakaan didirikan di Indonesia?" tanya Rena.


Levina menggeleng.


"Enggak tahu. Sejak zaman Indonesia merdeka mungkin," tebak Levina.


"Tepatnya sebelum kemerdekaan. Penjajahan Belanda di Indonesia nyatanya membawa banyak pengaruh barat untuk Indonesia. Kita tentunya tau sebuah perusahaan dagang Belanda yang diberi nama VOC yang bertugas untuk memonopoli aktifitas perdagangan dijalur Asia. Pada masa VOC itulah didirikan sebuah perpustakaan gereja di Batavia pada tahun 1624 untuk menunjang penyebaran agama mereka. Awalnya, perpustakaan yang akhirnya diresmikan pada 27 April 1643 itu diperuntukan untuk kalangan keluarga kerajaan aja. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, perpustakaan akhirnya bisa dinikmati oleh masyarakat umum. Lalu munculah perpustakaan lain yaitu Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW). Atau yang kita kenal sekarang, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Semakin meluas hingga muncul perpustakaan lain termasuk perpustakaan disekolah dan perguruan tinggi," jelas Rena.


Levina nampak mengangguk-ngangguk.


"Ternyata selain dampak buruk penjajahan, ada banyak dampak positif yang bisa kita rasakan," ucap Levina.


"Iya. Mulai dari bidang ekonomi, hingga kita bisa mengenal mata uang kertas dan logam. Pendidikan, hingga akhirnya didirikan sekolah-sekolah meskipun pada awalnya untuk kepentingan keagamaan mereka. Hingga muncul para cendekiawan yang berintektual, tergerak untuk membangkitkan kemerdekaan Indonesia pada masa pergerakan nasional  yang diawali oleh organisasi Budi Oetomo. Hingga muncul orang-orang yang memiliki peran penting seperti Ki Hajar Dewantara, Suwardi Suryaningrat, Moh. Hatta, dan Wahidin Sudirohusodo. Mereka semua adalah para aktivis intelektual yang namnya tercatat dalam sejarah," ucap Rena.


Levina mendengarkan dengan seksama.


"Dampak positif dibidang politik yang paling dirasakan pada masa penjajahan dulu adalah adanya upaya untuk memperjuangkan status kemerdekaan Indonesia. Ada juga dalam bidang budaya, seperti bahasa, cara berpakaian, tata cara berkehidupan. Namun, tetap saja penjajahan kala itu adalah masa paling kelam yang dirasakan orang terdahulu. Siapapun yang mendengar bagaimana kisah penjajahan kala itu pastilah menaruh simpati yang teramat. Kerja paksa sampai pembantaian habis-habisan ditanah kelahiran kita sendiri," ucap Rena.


"Iya. Lo bener, Na! Masih banyak tangan kotor di negara ini. Dan sampai saat ini, korupsi masih menjadi salah satu perbuatan paling kotor dimata masyarakat. Uang rakyat yang seharusnya untuk rakyat, malah masuk kedalam perut orang yang gila kekuasaan dan kekayaan," ucap Levina.


"Korupsi udah mengakar semenjak dulu, Lev! Ingat saat Tragedi Trisakti bulan Mei tahun 1998? Mereka menumpahkan darah melawan aparat karena menentang sistem orde baru yang banyak menekan masyarakat. Apalagi dengan maraknya aksi KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) dalam sistem pemerintahan. Pun dibarengi dengan krisis moneter yang melanda negara Asia Timur dan Asia Tenggara sejak Juli 1997. Mereka dengan semangat juang menyuarakan diberlakukannya sistem pemerintahan baru yaitu Reformasi. Banyak kejadian yang memilukan kala itu hingga pada akhirnya Reformasi bisa benar-benar diberlakukan pada sistem pemerintahan Indonesia."


"Kacau banget, Na! Ibu gue juga dulu sering cerita ke gue tentang masa itu. Dimana Ayah gue yang emang keturunan asli Tionghoa membawa semua keluarganya pindah ke Australia untuk waktu yang cukup lama sampai keadaan benar-benar aman. Kata Ibu, Jakarta kala itu benar-benar kacau. Sentimen Anti-Tionghoa menjadi pemicu pecahnya kehancuran Kota Jakarta dengan pembakaran dan penjarahan ruko. Aksi vandalisme yang benar-benar menakutkan walau sekedar dibayangkan," tutur Levina.


"Iya, Lev! Lo benar."


Selesai menata buku ke tempat semula. Tiba-tiba saja perut Levina terasa begitu melilit.


"Aduh! Na! Perut gue mules banget, nih!" rintih Levina.


"Ya ampun. Ini pasti gara-gara lo makan sambal kebanyakan, deh!"


"Awas aja! Bakal gue kasih pelajaran itu si Ajun!"

__ADS_1


"Lagian udah tahu lo dikerjain gitu, masih juga lo habisin itu satu mangkok bakso. Padahal bisa pesan lagi yang baru," ucap Rena.


"Sayang kalau dibuang, Na! Gue ketoilet dulu, ya! AAAA! Bye Na!" teriak Levina sambil berlari keluar perpustakaan.


Rena menggeleng heran. Untung saja ditempat itu sedang tidak ada siswa-siswi yang biasanya sibuk berkutat dengan buku-buku. Jika ada, habis sudah mereka dimarahi. Penjaga perpustakaan bahkan sudah menatap tajam Levina yang berteriak dan berlari meninggalkan perpustakaan. Bocah itu memang cari mati.


Karena masih betah berada disana, Rena kemudian berjalan-jalan sambil melihat-lihat buku. Sesekali mengambilnya dan membuka-buka sebentar halaman dibuku tersebut, lalu mengembalikannya ditempat semula. Hingga akhirnya Rena berhenti didepan rak buku khusus kumpulan novel karya sastrawan Indonesia maupun luar negeri. Lagi-lagi penulis novel asal negeri Paman Sam menarik perhatiannya. Buku novel karya Stephen King berjudul Doctor Sleep dari sekuel The Shinning tahun 1977 ada diantara barisan novel terkenal lainnya. Rena membuka sebentar, kemudian membawa buku itu ke meja tempat peminjaman dan membubuhkan nama dan kelasnya diatas halaman kertas bersama barisan nama peminjam lainnya, serta memasukan nomor ID card kesiswaannya.


"Waktu peminjaman hanya dua minggu. Jangan sampai lupa mengembalikan kalau tidak ingin mendapatkan peringatan!" ucap Bu Catherine


"Baik, Bu! Trimakasih! Saya permisi!" pamit Rena.


Rena mengangkat kaki meninggalkan perpustakaan. Sementara buku Sleep Doctor berada dalam dekapannya. Ia bak mendapatkan jackpot bisa menemukan buku yang ia cari-cari selama ini. Ayahnya tak pernah memperbolehkan Rena memiliki satu buku novel pun. Ayahnya bilang hal itu akan mengganggu fokus dan waktu belajar Rena. Jika Rena memilikinya pun, maka Rena mendapatkan novel itu secara diam-diam dan menyembunyikannya dengan baik sehingga orang rumah tidak akan tahu tentang hal itu.


.......


.........


.......


.........


.......


.........


.......


.........


.......


Baca part ini berasa kaya baca buku sejarah ygy 😷🤭 Hitung-hitung baca novel sambil nambah ilmu hehe 😄

__ADS_1


__ADS_2