Wish You Know

Wish You Know
Chapter 12 : Dirty Hands


__ADS_3

.....☆♡☆.....


Dikoridor yang tak ada seorang pun kecuali dirinya, samar-samar ia mendengar kegaduhan. Semakin berisik terdengar. Dengan segera, Rena mencari sumber suara. Ia berjalan kebelakang ruang laboraturium dekat perpustakaan. Sebelum sampai, ia mendengar suara orang yang tengah dipukuli. Rena menyembunyikan diri dibalik tembok dengan kepala yang perlahan menyembul dengan hati-hati. Ia melihat Pram bersama dua teman lelakinya tengah memukul seorang siswa laki-laki yang merupakan adik kelas.


"Kalau lo pengen tau, gue benci sama orang yang enggak becus kaya lo tau nggak!" teriak Pram dengan marah.


Rena kembali bersembunyi.


Pram kemudian duduk dikursi usang yang ada disana. Ia menatap siswa baru itu dengan sengit.


"Habisin!" perintah Pram kepada kedua temannya.


Ekpresi Erik dan Onad terlihat senang karena akhirnya mereka mendapat giliran untuk melakukan peregangan ditangan dan kaki mereka. Mereka barusaja akan melayangkan pukulan mereka kalau saja Rena tak datang dan menghentikan mereka.


"BERHENTI!" teriak Rena dengan berani.


Pram yang melihat kedatangan Rena tampak tersenyum asimetris. Ia bangkit dari duduknya dan melangkah guna mengikis jarak diantara mereka.


"Wah wah wah! Berani juga lo! Gue belum kelar urusan sama ini anak. Jadi, mending lo sekarang pergi. Dan nggak usah ikut campur," ucap Pram.


"Lo pikir gue enggak punya hati sampai gue harus ninggalin anak itu dan ngerelain dia dipukulin sama kalian?!" ucap Rena.


"Mending lo pergi! Mumpung gue masih ngomong baik-baik," ucap Pram.


"Enggak sebelum lo lepasin dia! Lo Waketos, Pram! Perbuatan lo benar-benar enggak mencerminkan kalau lo itu orang yang patut menyandang status itu. Lo seharusnya bisa naungin dan ngerangkul mereka, bukan malah berbuat seenaknya dan mukulin anak orang sampai babak belur!" teriak Rena.


Pram tertawa pelan.


"Apa, nih? Apa hanya karena lo ikut klub sosial dengan anggota yang cuma segelintir itu sampai-sampai lo belain dia? Lo mau sok-sokan jadi pahlawan disini?" tanya Pram.


"Klub sosial memang cuma punya sedikit anggota, tapi kita nggak miskin moral," ucap Rena.


Rahang Pram semakin mengeras dengan kepalan tangan yang menguat. Raut emosi benar-benar tidak bisa Pram sembunyikan.


"Siapapun punya hak untuk melawan kalau dirinya sadar dia melihat sesuatu yang enggak seharusnya terjadi lalu dibiarkan," lanjut Rena.


"Dengar, ya, Na! Gue kaya gini bukan tanpa alasan! Kalau bukan karena dia enggak becus nurutin perintah gue, gue juga enggak mau ngotorin tangan gue buat bikin dia bonyok. Gue tegasin, dia pantes dapet pelajaran biar dia ngerti!" tegas Pram.


"Dia bukan pesuruh yang harus nurutin permintaan lo!" seru Rena tak ingin kalah.


"Gue tekanin sekali lagi sama lo! Dia berhak nurutin mau gue!"


"Pengecut!" cetus Rena.

__ADS_1


"Apa lo bilang?" tanya Pram yang nampak kian geram.


"Selain pengecut, lo juga tuli, ya? Hanya karena gue cewek, jangan pikir gue takut sama lo!"


"Brengsek!"


Pram hendak melayangkan tamparan jika saja tidak ada suara yang menginterupsi dan menghentikan layangan tangannya diudara.


"Wah! Pram! Lo kurang kerjaan, ya? Sampai mau mukul cewek juga!" seru Arjuna dari kejauhan.


Kedatangan dua lelaki itu membuat Pram tersenyum kecut. Esa dan Arjuna.


"Ternyata lo tipe orang yang ringan tangan juga, ya! Seharusnya lo lebih paham sama apa yang lo emban. Dan juga, bukan karena lo pengurus OSIS ataupun senior, lo bisa ngelakuin hal seenaknya ke adik kelas. Mau masuk golongan orang yang ngandelin status biar bisa ngelakuin hal senaknya? Iya?" ucap Arjuna.


"Bukan urusan lo," ucap Pram enteng.


"Orang kaya lo memang perlu dikasih paham. Lo harus pikirin juga gimana perasaan mereka. Lo enggak pernah dengar ada siswa yang meninggal gara-gara bullyan yang dia terima? Bahkan disekolah ini juga pernah kejadian hal serupa. Nggak mungkin lo pura-pura bego buat nggak tahu soal itu. Lo juga enggak mikirin, 'kan, kalau mereka nantinya bakalan takut buat datang kesekolah ataupun trauma. Dan lo yang notabennya anak OSIS, punya tanggungjawab untuk menjaga nama baik sekolah kita," ucap Esa.


"Orang bebal kaya dia mana bisa ngerti meskipun udah dijelasin seribu kali pun," sindir Rena.


"Terserah kalian, deh! Cewek itu emang rempong, ya! Enggak bisa diajak main dikit. Terlalu serius," ucap Pram mengejek.


"Secara enggak langsung lo juga ngatain kita cewek?" tanya Esa.


Esa mendekat dan menepuk pundak Pram.


"Perkataan lo itu adalah bentuk dari ketidakpuasan lo karena enggak ada yang setuju sama perbuatan lo. Lo adalah tipe orang yang enggak akan pernah puas. Apa gue salah?" ucap Esa.


Pram hanya terdiam karena marah. Esa tersenyum asimetris.


"Gue punya bukti video lo disini," ucap Esa sembari memperlihatkan ponselnya.


Esa yang menggoyang-goyangkan ponselnya ditangan, membuat Pram mengepalkan kedua tangannya.


"Kalau video ini sampai ke tangan MPK. Jabatan lo bisa dicabut," ucap Esa.


"Laporin aja! Gue enggak peduli!" seru Pram.


Erik dan Onad memandang mereka sinis sebelum akhirnya mengikuti langkah Pram untuk meninggalkan tempat itu. Sementara Rena berhambur menolong si adik kelas.


"Kamu nggak papa?" tanya Rena.


"Enggak papa, Kak! Makasih, ya, udah nolongin Dimas," ucap Dimas.

__ADS_1


"Iya. Kita ke UKS, yuk! Kamu harus obatin luka kamu," ajak Rena.


"Iya, Kak! Oh iya! Mengenai video tadi, jangan kasih tau ke siapa-siapa, ya, Kak! Dimas enggak mau cari masalah lain."


"Tapi hal ini perlu dilakukan supaya enggak terjadi lagi," ucap Rena.


"Jangan, Kak! Saya benar-benar mohon sama kalian," ucap Dimas.


Rena memandang Esa dan Arjuna.


"Yaudah. Kita enggak bakal laporin, kok!" ucap Esa.


"Makasih, Kak!"


.....☆♡☆.....


Liam yang tengah berjalan dikoridor tak sengaja melihat Rena yang tengah membantu Dimas masuk kedalam ruang UKS. Liam segera menyusul Rena dan masuk kedalam ruang kesehatan.


"Na!"


Rena yang tadinya sedang membersihkan luka Dimas mengalihkan pandangan kesumber suara.


"Liam? Lo ngapain ke UKS? Lo sakit?" tanya Rena.


"Gue kesini karena liat lo tadi. Dia kenapa?" tanya Liam.


"Ah... itu..." Rena menatap Dimas ragu.


"Tadi Saya jatuh, Kak! Kakak ini yang nolong Saya," ucap Dimas.


"Beneran jatuh?" tanya Liam.


"Iya," jawab Dimas.


Liam hanya diam dan memperhatikan luka-luka diwajah Dimas.


Dan diluar ruang UKS, Rena dan Liam memperhatikan Dimas yang berjalan kian menjauh setelah Rena mengobati luka-luka diwajah Dimas. Sebelumnya, Rena telah menawarkan diri untuk mengantar hingga ke kelas, namun Dimas menolak. Dimas bilang, dengan sudah membantu dan mengobati lukanya saja, Dimas sudah sangat berterimakasih.


"Gue enggak yakin kalau dia jatuh. Pelipisnya luka dan bibirnya juga ngeluarin darah. Kaya habis dipukul," ucap Liam yang kini tengah berjalan berdampingan bersama Rena dikoridor.


Rena sampai didepan kelasnya.


"Ada sedikit masalah tadi. Tapi udah selesai, kok! Nggak ada yang perlu lo pikirin. Gue masuk dulu, ya! Bye Am!"

__ADS_1


Rena lantas masuk kedalam kelas, menyisakan Liam yang masih berdiri ditempat. Bukan tidak mungkin jika ada hal yang coba Rena sembunyikan.


__ADS_2