Wish You Know

Wish You Know
Chapter 2 : Mental Concern


__ADS_3

.....☆♡☆.....


Lorong sekolah penuh dengan siswa-siswi yang masih berkeliaran. Bercanda tawa atau hanya sekedar duduk dan mengobrol ringan. Rena dan Levina berjalan dilorong sekolah. Kemudian mereka masuk kedalam ruang kelas yang sama dimana tertulis kelas 11-1.


Ruang kelas menyediakan kursi dan meja single untuk para murid. Levina duduk dikursi tengah dan Rena duduk di samping kanannya. Tak lama bel tanda masuk berbunyi. Seorang guru wanita berusia tiga puluh empat tahun masuk ke dalam kelas. Semua kursi murid telah terisi, kecuali kursi disebelah kiri Levina yang terlihat kosong.


"Ada yang tidak masuk hari ini?" tanya Bu Friska.


"Arjuna ijin katanya lagi sakit, Bu! Itu suratnya ada diatas meja," jawab Levina.


Bu Friska mengecek surat itu dan kemudian membuka buku cetak.


"Baik! Kalau begitu, kita langsung mulai saja pelajarannya," ucap Bu Friska.


Semua siswa terlihat mengikuti pelajaran dengan tetib.


Dimata pelajaran lain pun, Rena terlihat lebih aktif. Seperti pelajaran matematika yang sedang berlangsung kini, terlihat Rena tengah mengerjakan soal dipapan tulis. Seorang guru pria berkacamata terlihat tengah duduk dikursinya dan memperhatikan jawaban yang sedang coba Rena pecahkan dengan cepat.


Lalu dipelajaran sejarah sedang ada kuis. Dimana siswa perempuan dan laki-laki dibagi menjadi dua kubu. Kedua tim saling berebut menjawab. Termasuk Rena yang berulang kali mengacungkan tangan dan menjawab dengan benar pertanyaan yang diberikan guru membuat timnya bersorak.


.....☆♡☆.....


Dijam istirahat, ada beberapa siswa yang bermain basket dengan masih mengenakan seragam sekolah. Beberapa siswa-siswi yang berada didekat lapangan pun tengah melihat permainan mereka.


Adalah Liam yang kini tengah mendribble bola dan kemudian melakukan jump shoot. Seperti dugaan, bola tepat masuk kedalam ring. Melihat seseorang yang tengah duduk dikursi panjang tak jauh dari lapangan, Liam tersenyum sebelum akhirnya berpamitan pada teman-temannya.


"Gue udahan, ya!" ucap Liam.


Teman-temannya kembali bermain sementara Liam keluar lapangan dan menghampiri Rena yang sedang fokus dengan sebuah buku bacaan. Ia kemudian duduk disamping Rena.

__ADS_1


"Baca apa sih? Serius banget..." ucap Liam.


Rena tersenyum pada Liam. Lalu menunjukkan cover buku yang dibacanya. Sebuah novel karya novelis perancis.


"Mau baca juga? Gue udah mau selesai, kok!"


"Enggak, deh! Tapi kayaknya gue pernah denger judul novel ini."


"Iya. Ini sama kaya judul film yang pernah kita tonton. Yang waktu kita nginep dirumah Levina. Gue baru sempet baca novelnya."


Liam mengangguk mengerti.


"Nanti lo ada jadwal klub, 'kan?" tanya Liam.


Rena mengangguk.


"Rencana sih, mau ke toko aksesoris nanti bareng Levi. Habis itu ke Hylo. Lo mau ikut juga?"


"Enggak, deh!"


Rena mengangguk mengerti dan kembali membaca novel. Sementara Liam memperhatikan Rena yang terlihat serius dengan buku bacaannya. Membuat sebuah lengkungan kecil dibibir Liam terukir.


.....☆♡☆.....


Bel pulang sekolah telah berdering. Semua siswa-siswi berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Rena dan Levina terlihat menyusuri sebuah koridor dan masuk kedalam sebuah ruangan yang telah diisi oleh empat siswa lain.


Klub sosial berfokus pada setiap gerak anak remaja. Mulai dari kekerasana, pembullyan, kenakalan, semua hal yang dianggap negatif dan perlu penanganan yang tepat. Dan Rena bersama teman-temannya adalah bagian dari segelintir orang yang peduli akan semua hal itu. Seorang guru BP bernama Sandi lah yang awalnya mencetuskan klub tersebut. Awalnya, hanya Rena dan Levina yang tertarik, namun lambat laun, ada juga yang ikut bergabung meskipun belum sesuai dengan banyaknya anggota yang diharapkan.


Seperti saat ini, para anggota klub telah lengkap berkumpul termasuk Pak Sandi. Membahas tentang kematian Anna dimana hari kematian Anna menjadi hari paling kelam kala itu. Anna jatuh dari atap gedung sekolah. Tidak ada yang melihat hal itu hingga tukang bersih-bersih sekolah, Pak Mamat, melihat jasad Anna yang telah terbujur kaku dipagi hari.

__ADS_1


"Hari Senin, seharusnya menjadi semangat bagi para siswa untuk memulai kegiatan belajar setelah libur. Namun sebagian dari kita, masih mengingat hari ini sebagai hari yang kelam. Semua dari kita memang tak bisa lepas dari bahan ejekan dan olok-olok. Hal itulah yang memicu Anna untuk mengakhiri hidupnya. Meskipun para pelaku sudah diberi arahan dan konseling, tak bisa menjamin anak lain tak melakukan hal yang sama. Kita perlu menyebarluaskan tentang pentingnya kekuatan mental seseorang. Tidak semua orang kuat dan mampu untuk menahan beban sendirian. Dan kesalahan terbesar dari kebanyakan korban bully adalah rasa dimana mereka merasa tidak dipedulikan, tidak memiliki tempat bercerita, dan merasa menjadi orang paling tak diinginkan," jelas Pak Sandi.


Semua anggota mendengarkan dengan seksama.


"Kebanyakan dari korban bully memilih mengakhiri hidup mereka dengan bunuh diri dari ketinggian, menenggak racun, meminum obat hingga overdosis, hingga gantung diri. Mereka berpikir itu adalah hal tercepat untuk mengakhiri hidup tanpa merasakan sakit lebih lama. Tidak hanya bully, masalah percintaan juga jadi faktor mereka bunuh diri," ucap Pak Sandi.


"Tapi penyebab yang mungkin tak pernah terlintas, keluarga juga bisa jadi faktor utama mengapa seseorang lebih memilih mengakhiri hidup," jelas Rena.


Rena memandang semua orang yang ada diruangan itu. Senyuman kecil itu sama sekali tak bisa menghilangkan raut sendu yang Rena coba tutupi. Levina jelas adalah seseorang yang paling paham kemana arah pembicaraan Rena sebenarnya.


"Tekanan, tuntutan, kekerasan. Hal itu bisa saja dilakukan seorang Ayah dan Ibu kepada anaknya. Faktornya bisa banyak. Ketidaksukaan, ambisi, ketidakpedulian, atau memang karena sifat orang tua yang terlampau tempramental. Ketidaksukaan dan ketidakpedulian mungkin bisa terjadi karena terlalu membangkang atau karena memang benar-benar tak diinginkan. Sementara ambisi dan tempramen mungkin adalah satu hal yang memang tidak dipisahkan. Ambisi orang tua yang menginginkan sosok anak sempurna dikehidupan mereka terkadang memang dibutuhkan, tapi jika terlalu berlebihan, tidak baik juga untuk sang anak. Dan anak tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauan mereka. Salah satu kasus paling terkenal adalah tentang kematian remaja berusia 18 Tahun di Orlando. Dimana perempuan itu telah ditekan semenjak kecil untuk selalu mendapat nilai sempurna disetiap mata pelajaran. Semua berjalan lancar hingga kemudian dia melakukan tes ujian masuk perguruan tinggi dan berhasil lolos. Perempuan itu akhirnya tak lagi tinggal bersama keluarganya sebab jarak kampus yang sangat jauh," ucap Rena.


Rena terdiam sesaat.


"Orang tuanya yang ingin berkunjung sekalian datang ke kampus untuk menjemputnya. Lama menunggu, sang anak tidak juga keluar. Dihubungi pun tak bisa. Hingga kedua orang tuanya menanyakan sang anak ke bagian informasi. Dan mengetahui fakta bahwa sang anak tak pernah berkuliah disana. Perempuan itu berbohong. Perempuan itu sejujurnya memang ikut tes ujian masuk, namun gagal. Dia memalsukan semuanya agar tak membuat kedua orang tuanya marah. Ia justru tak pernah kuliah dan malah bekerja di sebuah bar. Dan orang tuanya yang mengetahui fakta itu memukuli sang anak hingga babak belur. Tidak ada ampun. Sampai perempuan itu berpikir bahwa mereka tak pernah mencintainya. Keesokannya, perempuan itu ditemukan meninggal. Jatuh dari atap gedung sebuah bangunan hotel berlantai 30 yang sedang dibangun. Dan orang tuanya baru merasa menyesal. Peran orang tua juga penting. Mereka juga perlu tahu tentang pentingnya mental anak mereka. Dan Saya rasa, sebuah rapat untuk membahas hal seperti ini perlu dilakukan kepada orang tua murid."


Pak Sandi menatap Rena lama hingga akhirnya mengangguk pelan.


"Ya. Kamu benar. Lingkungan keluarga yang sehat juga dibutuhkan untuk menekan angka kematian remaja," ucap Pak Sandi.


Semua yang ada diruangan itu mengangguk setuju.


"Saya akan coba untuk bicara kepada Kepala Sekolah tentang hal ini. Dan Rena..."


Rena menatap Pak Sandi.


"Kerja yang bagus."


Rena hanya mengangguk pelan dan tersenyum kecil.

__ADS_1


__ADS_2