
.....☆♡☆.....
Laju motor yang dikendarai Dama hanya 50km/jam. Jalanan yang sepi itu mendukungnya untuk leluasa mengingat masa lalu yang selalu terbayang olehnya. Meskipun wajahnya tertutup helm dan hanya menyisakan kedua matanya saja, namun siapapun yang melihat akan mengerti bahwa dalam sorot mata itu mengisyaratkan banyak luka. Salah satu impian yang entah kapan akan bisa ia wujudkan dengan luka didalamnya. Kata-kata Rena seketika lewat dalam pikirannya.
"Kalau lo memilih untuk memaafkan, maka lo bisa berdamai dengan keadaan. Tapi kalau lo masih tetap bertahan dalam kesakitan itu, selamanya lo enggak akan bisa sembuh."
Memaafkan? Dama bahkan lupa apa itu arti dari kata maaf. Melepaskan kesalahan orang lain dan melupakannya begitu saja? Sejak kapan kata maaf itu begitu menyakitkan jika harus dikatakan? Baginya, kata maaf itu bahkan tidak seharusnya terlontar dari mulutnya, tapi oleh orang yang telah menyakitinya. Yang telah membuat dunianya hancur seketika. Dirinya terlalu dibuat sibuk untuk melihat ke masa lalu tanpa tau caranya berhenti. Membuat dirinya tak bisa membayangkan kehidupan di masa depan.
Laju motor Dama berhenti disebuah coffee shop dipinggir jalan. Coffee shop yang tetulis closed pada pintu. Dama melepas helm dan melangkah pelan menuju pintu utama. Membuka pintu yang terkunci engan sebuah kunci yang selalu dibawanya.
Ketika masuk kedalam ruangan, semuanya rapi dan bersih. Seperti tempat yang selalu dirawat dan dibersihkan setiap harinya. Hanya saja, bangku-bangku itu ditata keatas meja dan tak pernah lagi diduduki seorang pun pelanggan semenjak sepuluh tahun yang lalu.
Peralatan yang ada di kafe itu pun maaih lengkap. Dama tersenyum simpul. Seolah ia bisa melihat bayangan Mamanya yang bekerja di kafe dengan sepenuh hati. Bahkan kehangatannya masih terasa ketika ia teringat kembali masa itu.
Renata sibuk membuat capuccino di balik counter. Membuat setiap step dalam pembuatan kopi dengan begitu lihai. Dimana ada Dama kecil yang saat itu berumur tujuh tahun tengah memperhatikan setiap gerak Mamanya dengan duduk disalah satu kursi didepan counter.
Secangkir kopi dengan bentuk pohon itu disajikan diatas meja.
...
...
"Pohon?"
Renata tersenyum mendengar pertanyaan Dama.
"Iya. Kamu tau kenapa Mama membuat art pohon alih-alih bentuk hati atau yang lainnya?"
Dama menggeleng pelan dengan wajahnya yang masih begitu polos.
"Mama ingin kamu bisa hidup layaknya pohon. Pohon yang kokoh berdiri meskipun diterpa banyak masalah. Meskipun dedaunanmu jatuh karena semakin tua atau karena diterpa angin, kamu justru menumbuhkan daun baru yang membuat pohonmu semakin kuat berdiri. Meskipun satu persatu dahan pohonmu kelak ditebang, tak membuat kamu kehilangan semangat dan justru semakin kokoh berdiri dibandingkan pepohonan lain. Meskipun kamu tak mendapat asupan air untuk bertahan hidup, tak membuat kamu kemudian menyerah dan lebih memilih mati begitu saja. Bahkan ketika pohon itu pada akhirnya ditebang yang membuat kamu tak lagi memikili alasan untuk berdiri, kayumu bisa bermanfaat bagi orang lain. Dunia adalah panggung. Setiap orang menjadi peran utama dikehidupan masing-masing. Tak peduli sebanyak apapun masalah yang kamu hadapi kelak, Mama ingin kamu kuat bertahan dan menjadi kebanggan untuk Mama."
Setitik air mata jatuh mengenai sepatunya. Itu adalah hari terakhir ia dan Mamanya bersama. Kata-kata itu seolah menjadi pesan terkahir sebelum Mamanya pergi.
Suatu saat, ia pasti akan membuka bisnis coffee shop itu kembali. Itu adalah satu janjinya kepada sang Mama yang telah tiada.
.....☆♡☆.....
Rena tengah membantu Ibunya masak untuk makan malam.
"Bu... Ibu tau didepan rumah udah ada penghuni baru?"
"Tau. Dia masih muda, 'kan? Mungkin sepantaran kamu. Ibu pernah disapa waktu Ibu buang sampah didepan."
"Iya. Namanya Dama. Dia sekolah disekolah yang sama dengan Rena dan cuma tinggal sendiri. Jadi, boleh nggak Rena kasih Dama sedikit makan malam buat Dama?"
"Boleh, dong!"
__ADS_1
Rena tersenyum lebar mendengar hal itu.
Mereka masak beberapa sayur dan ayam goreng. Mala memberikan kotak bekal yang sudah ia siapkan.
"Ini. Ibu sudah siapkan untuk Dama," ucap Mala pada Rena yang baru kembali mengantarkan lauk pauk ke meja makan.
"Makasih, Bu!"
"Iya. Yaudah. Sekarang kita makan malam dulu. Baru nanti kamu antar kotak itu ke Dama."
"Iya, Bu!"
.....☆♡☆.....
Bel rumah Dama berbunyi. Segera Dama menuju pintu utama dan membuka pintu.
"Rena?"
"Hai!"
"Ada apa malam-malam kesini?"
"Nih!"
Dama menerima kotak bekal yang tiba-tiba disodorkan ke dadanya.
"Itu ada sedikit makanan dari Ibu. Lo belum makan, 'kan?"
"Makasih."
"Sama-sama. Oh, iya. Ken mana?"
"Ada dikamar gue. Dia kalau tidur sama gue terus."
"Oh, ya? Wah! Gue mau ketemu Ken," ucap Rena yang menerobos masuk kedalam rumah.
Dama menutup pintu dan mengikuti Rena.
"Dimana kamar lo?"
"Lantai atas."
Rena segera menaiki tangga menuju lantai atas. Dama meletakan kotak makanan diatas meja. Kemudian menyusul Rena ke lantai atas. Namun seketika kedua bola matanya membelabak teringat sesuatu.
"Eh, Na! Tunggu dulu!" ucapnya dan segera berlari menyusul Rena.
"Ini kamar lo?"
Terlambat. Rena sudah membuka pintu kamar dan hendak masuk. Segera Dama menerobos masuk. Membereskan pakaian yang berserakan diatas kasur.
__ADS_1
Rena nampak tak peduli akan Dama yang tiba-tiba sibuk membereskan kamar. Ia sibuk mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan itu. Hal yang paling menarik perhatiannya adalah koleksi action figure yang cukup banyak terpajang dietalase kaca. Tak menyangka jika Dama adalah bagian dari anak wibu. Sebab, kebanyakan action figure itu adalah tokoh anime dari negara jepang. Ada pula transformers dan yang sejenis dengannya. Entahlah, Rena tidak tahu namanya. Pandanganya kemudian menemukan Ken yang tengah duduk posisi roti diatas kasur.
"Ya ampun. Ini perasaan gue aja atau emang Ken nambah gemuk, sih? Makin gembul tau nggak," ucap Rena gemas.
Dama memasukan kedua tangannya ke saku celana. Memperhatikan Rena yang masih mengelus bulu halus Ken hingga akhirnya Ken yang merasa nyaman itu menutup kedua matanya.
"Gue selalu jaga pola makan Ken. Dia juga rutin gue kasih vitamin. Kemarin juga gue baru bawa Ken klinik buat disuntik vaksin lengkap."
"Kenapa lo nggak bilang? Kan gue bisa ikut nemenin lo."
"Nggak papa. Bukannya lo ada jadwal les musik kemarin sore. Lagipula klinik nggak jauh, kok!"
"Lo sampai hapal, ya, sama jadwal les gue. Berasa sok sibuk banget gue."
Rena berdiri. Mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru ruangan dan pada apa yang nampak pada penglihatannya. Satu hal membuat dirinya bergerak untuk mendekat.
Rena memegang sebuah buku bertukiskan resep yang berada diatas meja.
"Ini apa? Lo belajar masak?" tanya Rena.
"Bukan. Itu buku resep milik Mama."
"Nyokap lo chef?"
Dama menggeleng pelan.
"Itu buku resep kopi. Mama gue dulunya seorang barista."
"Boleh gue liat?"
Dama mengangguk. Memperhatikan Rena yang membuka lembar demi lembar dari buku itu.
"Wah! Ini bukan cuma sekedar resep loh... Ada banyak hal yang tercantum dan semuanya tentang kopi."
Rena benar. Di buku itu digambar secara manual dan disampingnya diberi penjelasan yang akan mudah untuk dipahami. Mulai dari kopi, peralatan, hingga cara membuat. Berbagai jenis minuman kopi dijelaskan dengan sangat detail cara pembuatannya.
Hingga diakhir lembaran buku, Rena menemukan sebuah tulisan dipojok kanan bawah. 'Untuk Dama'.
"Gue pernah janji sama Mama buat buka kembali bisnis itu ketika Mama udah nggak ada. Itu satu-satunya mimpi yang pengen banget gue wujudin," ucap Dama.
"Kenapa nggak lo mulai dari sekarang?"
"Gue masih sekolah, Na! Gimana gue bisa mulai bisnis kaya gitu."
"Kenapa? Gue juga hobi bikin baju yang akhirnya gue coba jual di online shop. Meskipun nggak tau bakalan laku atau enggak. Seenggaknya gue udah mencoba," ucap Rena.
Dama hanya diam.
"Kalau lo mau, gue bisa bantuin lo," ucap Rena.
__ADS_1
Jari-jemarinya mengelus sebuah tulisan yang bertuliskan 'Untuk Dama'.
Dama masih diam. Memperhatikan lekat-lekat wajah gadis yang memakai hoodie ungu itu. Hingga gadis itu menatap kedua matanya dan tersenyum bak bulan sabit, tiba-tiba debar jantungnya berdetak lebih cepat.