Wish You Know

Wish You Know
Chapter 4 : New Neighbor


__ADS_3

.....☆♡☆.....


Pagi itu masih pukul 6 pagi ketika Rena masih tertidur pulas. Suara sensor mobil parkir yang terdengar cukup keras itu benar-benar merusak tidur lelap Rena. Ya Tuhan! Ini hari libur dan Rena baru tidur jam dua malam. Kedua kelopak matanya serasa terkena lem saat mencoba membuka mata paksa. Rena duduk diam ditepi ranjang sejenak. Sebelum akhirnya bangkit dan menyibak tirai jendela kamarnya yang berwarna putih bersih.


Dilihatnya bangunan rumah bertingkat yang tepat berada didepan rumahnya. Rumah yang hampir satu tahun kosong itu sepertinya akan memiliki penghuni baru. Terlihat dari beberapa kardus besar yang mukai diturunkan dari mobil box oleh sopir dan satu helper. Ada juga sebuah sepeda yang nampak tak asing baginya baru saja diturunkan. Namun Rena terlihat tak peduli dan lebih memilih keluar kamar dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh ketimbang mencoba melanjutkan tidurnya yang terganggu.


Sementara disisi lain, terlihat Dama baru saja keluar dari dalam rumah. Setelah semua barang selesai dipindahkan kedalam rumah, si sopir dan helper berpamitan.


"Terimakasih banyak, ya, Pak!" ucap Dama.


"Sama-sama, Mas! Kalau begitu, kami pergi dulu, ya! Mari, Mas!" ucap si Sopir.


"Iya, Pak! Hati-hati!"


Setelah mobil box itu pergi, segera Dama masuk kedalam rumah. Beberapa barang dirumah itu masih terbungkus plastik putih bening seperti sofa, meja, lemari dan barang-barang lainnya. Dama kemudian membongkar kardus dan mulai menata rumah.


Berjam-jam Dama habiskan untuk menata semua barang dan tata letak setiap properti yang ada dirumah tersebut. Setelah selesai, Dama menatap ruang kamar yang terakhir ia bereskan. Ia kemudian mengambil handuk dan keluar kamar.


.....☆♡☆.....


Sore itu, Rena barusaja keluar dari gerbang rumah ketika melihat Dama yang menuntun sepeda itu juga barusaja keluar dari gerbang rumah. Tatapan mereka bertemu. Rena dapat melihat tatapan keterkejutan diwajah Dama.


"Oh? Lo cewek yang waktu itu, 'kan? Wah! Kebetulan banget. Oh iya! Kenalin. Gue Dama. Penghuni rumah baru sekaligus tetangga baru lo," ucap Dama sembari menguurkan tangan.


"Rena," ucap rena sambil membalas uluran itu.


"Lo mau kemana?" tanya Dama.


"Ke minimarket."


"Wah! Kebetulan. Gue juga mau kesana. Gue belum hapal jalan sini. Gue boleh ikut lo nggak?"


"Boleh."


"Lo mau nebeng? Tapi berdiri?"


Pandangan Rena terarah pada sepeda yang dipegang Dama.


"Jalan kaki aja gimana? Lagipula minimarket enggak begitu jauh."


"Ok! Bentar, ya! Gue masukin sepeda gue dulu."


Dama menuntun sepedanya kedalam dan tak lama kembali lagi. Keduanya berjalan bersama menyusuri jalanan komplek. Tak ada percakapan hingga suara Dama menginterupsi keheningan.


"Lo udah lama tinggal disini?" tanya Dama.


Rena mengangguk.


"Kalau lo? Lo kenapa pindah? Lo tinggal sendiri?" tanya Rena.

__ADS_1


"Pengen cari suasana baru aja. Iya. Gue tinggal sendiri," jawab Dama.


"Emang bokap nyokap lo ngijinin lo tinggal sendiri. Maksud gue, lo keliatan masih anak sekolah."


"Bokap gue tinggal di Australia dan jarang pulang. Sementara nyokap udah meninggal."


"Sorry. Gue enggak bermaksud nyinggung lo."


"Santai. Lagipula enggak salah juga lo nanya gitu," jeda Dama. "Lo sekolah dimana?" lanjutnya.


"SMA Hardhya Garini."


Dama mengangguk.


"Kalau lo?"


"Belum tau. Gue belum daftar lagi."


"Lo mau pindah sekolah?"


"Iya."


"Kenapa? Lo bikin masalah, ya!"


Dama tertawa.


"Gue cuma ngebela adik tingkat gue yang dipukul guru. Eh malah dikeluarin. Yaudah."


"Iya. Soalnya gue ngasih lem dibangku guru. Alhasil pas berdiri celananya sobek. Dan rekaman itu gue sebar sampai jadi trending topik disekolah."


"Jahat banget!"


"Lebih jahatan mana sama orang yang sembunyi dibalik profesi dengan dalih dia yang paling berkuasa. Meskipun gue keluar dari sekolah, guru itu akhirnya dipecat karena banyak yang bikin petisi dan banyak yang ngaku kalau guru itu emang suka main kekerasan. Banyak anak alumni juga yang dukung. Apalagi waktu itu ada siswa yang punya rekaman kekerasan buat bukti ke polisi. Dan ada beberapa siswi yang ngaku kalau dia pernah dilecehkan."


Rena diam.


"Kalau semua pengakuan dari kasus itu enggak terungkap, mungkin guru itu masih duduk santai dikursinya. Untungnya teman-teman pada berani speak up," ucap Dama.


"Emangnya guru lain enggak pada tau kalau guru itu suka main kekerasan?"


"Tau. Tapi mereka juga cuma bisa negur. Banyak guru yang peduli sama kita, tapi kepedulian itu cuma sebatas dimulut."


"Seharusnya pihak sekolah enggak ngeluarin lo, 'kan? Gue tau lo salah. Tapi enggak nyampe keluarin siswa juga."


"Awalnya gue dikeluarin. Karena kasus itu terungkap dan banyak yang ngebela gue, gue enggak jadi dikeluarin. Tapi gue tetap memutuskan untuk pindah."


Rena mengangguk mengerti.


Lama berjalan, mereka sampai dijalan raya. Diseberang jalan terlihat sebuah minimarket tujuan mereka.

__ADS_1


"Btw, lo sering jalan kaki?" tanya Dama.


"Iya. Gue lebih suka jalan kaki. Hitung-hitung olahraga juga."


Dama dan Rena kemudian menyebrang lewat zebra cross. Di minimarket. Dama membawa keranjang belanja. Mereka belanja kebutuhan sehari-hari bersama. Rena memperhatikan Dama memasukkan banyak mie instan kedalam troli.


"Lo beli mie instan kaya buat buat stok selama satu bulan aja. Kenapa enggak sekalian beli sekardus?" tanya Rena.


"Gue males masak. Dan satu-satunya alternatif ya masak mie yang gampang," jawab Dama.


Rena terlihat mengembalikan mie instan ke tempat semula. Dan menyisakan tiga bungkus saja.


"Lo boleh makan mie instan, tapi jangan terlalu sering. Kalau lo lagi males masak, lo boleh datang kerumah gue. Walaupun masakan gue mungkin enggak seenak yang lo bayangin, tapi seenggaknya masih bisa dimakan. Atau kalau enggak, sekarang udah banyak jasa delivery makanan. Tinggal pesan lewat hp kalau lo semales itu buat keluar," ucap Rena.


Dama terlihat terdiam memandangi punggung Rena yang kian menjauh. Rasanya sudah lama sekali tidak ada yang memperhatikannya. Entah itu masalah makan atau yang lainnya. Ayahnya mana mungkin peduli dengan apa yang akan Dama makan, tentang bagaimana Dama selama ia tinggal sendiri. Apakah dia baik-baik saja? Apakah ia makan dengan teratur? Apakah tidurnya nyenyak? Bagiamana dengan hari-hari yang dijalaninya? Apakah ia menemui hari yang baik? Dama bahkan lupa kapan terakhir kali sang Ayah memperhatikannya. Dan kapan terakhir kali Dama menerima kehangatan sebuah keluarga.


Rena yang sudah berjalan didepan menengok kebelakang. Melihat Dama yang masih terdiam.


"Dama! Ayo!"


Lama berbelanja, mereka akhirnya selesai dan segera menuju kasir.


Diluar minimarket, mereka membawa kantong belanjaan mereka.


"Lo udah makan? Kalau belum, gue tau tempat makan enak yang deket dari sini," ucap Rena.


"Iya boleh. Ayo!"


.....☆♡☆.....


Semua pegawai diwarung makan itu rata-rata pria yang menggunakan udeng, sebuah topi khas bali yang dililitkan secara manual. Tak perlu khawatir sebab udeng khas bali sudah banyak yang instan. Nyatanya, udeng bukanlah sekedar pengikat kepala khusus kaum pria, melainkan menyimpan sejarah dan makna filosofis tersendiri. Dan tidak sembarang orang bisa membuat udeng secara manual. Dan dari setiap lekukan lilitan pun ternyata memiliki makna tersendiri.


Rena dan Dama masuk kedalam rumah makan. Seorang pelayan muda datang membawa buku menu dan catatan kecil.


"Lo mau pesen apa?" tanya Rena.


"Samain kaya lo," jawab Dama.


"Nasi jinggo dua porsi sama ayam betutu dua potong ya, Mas! Minumnya es jeruk dua," ucap Rena pada sang pelayan.


"Baik, Mbak! Mohon ditunggu, ya!" jawab si pelayan.


"Baik, Mas!"


Pelayan itu lantas pergi.


"Lo sering makan disini?" tanya Dama.


"Nggak juga, sih! Paling kalau lagi pengen aja. Yang punya orang bali asli. Tenang. Semua makanan yang dijual disini halal, kok!"

__ADS_1


Dama mengangguk.


Tak lama pesanan datang. Mereka mulai menikmati hidangan didepan mata. Sesekali obrolan ringan terjadi demi memecah kesunyian disela makan mereka.


__ADS_2