Wish You Know

Wish You Know
Chapter 7 : The Riot Gang


__ADS_3

......☆♡☆.....


Kantin sudah ramai dan hampir seluruh kursi yang tersedia terisi. Setelah mengantri sekitar 4 menit dengan masing-masing membawa tempat makan berbahan steinless steel, Rena dan Levina akhirnya bisa duduk tenang dan menikmati makan siang.


"Eh! Bener nggak sih, rumor tentang Orion yang pacaran sama Kiara?" tanya Levina.


"Masih belum pasti. Tapi banyak juga yang ngomongin itu. Secara, dia masuk dalam daftar cowok terpopuler disekolah. Wajar kalau ada kabar tentang dia sampai bocor, pasti langsung nyebar," jawab Rena.


"Yah... padahal gue naksir dia. Tampan, baik, pinter, Ketua OSIS. Sayangnya saingan gue Kiara. Mending gue mundur teratur, deh!" ucap Levina putus asa.


"Namanya cinta ya diperjuangin. Udah saling kenal juga, 'kan? Kasih kode makanya," ucap Rena.


"Gue bukan cewek bermuka tebal. Masih punya urat malu gue. Orion juga kaya yang nggak ada rasa sama gue. Tapi temenan doang gue udah seneng, kok!" ucap Levina.


Dua nampan makanan baru saja di letakan di atas meja. Esa, Arjuna dan Liam baru saja ikut bergabung.


"Ngobrolin apaan tadi? Gue lihat dari kejauhan kaya yang serius banget," ucap Arjuna.


Kesenangan Levina rusak begitu saja setelah mendengar suara Arjuna menyapa pendengarannya.


"Privacy. Cowok enggak boleh tau,"ucap Levina sewot.


"Yaelah.. pake privacy segala. Pasti enggak jauh lah dari masalah cowok. Kan, berita Orion mulai terendus secara nyata. Bakal bertahan lama jadi trending kalo beneran dia pacaran sama Kiara. Sang primadona sekolah," ucap Arjuna.


Levina cemberut tentu saja.


"Ternyata lo bisa serumpi itu, ya? Cocok kalau diajak kumpul sama cewek. Nyambung. Haha," ucap Rena terkekeh.


"Bener. Gue juga mikirnya Ajun ketuker sama jiwa cewek," sahut Esa.


Arjuna melengos.


Yang lain tertawa tentu saja. Tetapi tidak dengan Levina yang tertangkap oleh kedua mata Arjuna.


"Lev? Kenapa lo? Kesambet jin sekolah lo? Biasanya lo yang paling kaya lato-lato diantara kita semua. Lagi ada masalah?" Arjuna.


Pandangan yang lainnya teralihkan pada Levina.


"Bukan urusan lo!" ucapnya sewot.


"Sans kali... " Arjuna menatap Rena. "Kenapa dia? PMS?"


"Biasa. Dia dikejar-kejar Arcel. Tadi pagi Arcel rencana mau nganterin Levina berangkat sekolah. Tapi, ya, lo tau lah... Arcel berakhir kaya gimana? Dan lagi kabar tentang Orion sama Kiara yang masih simpang siur. Nggak heran kalau nanti betenya Levina bertahan seharian ini," jelas Rena.


"Terus si Arcel, sekarang bagian mana yang kena?" tanya Es.


"Baru telinga, besok-besok gue serang juga bagian pentingnya biar nggak bisa punya anak!" ucap Levina santai.


Esa, Arjuna, dan Liam meringis ngilu bersamaan.


"Maaf-maaf, nih! Tapi lo nggak takut kena karma apa?" tanya Esa.


Liam mengangguk setuju.


"Pertanyaan itu lagi? Selamanya gue nggak akan pernah yang namanya jatuh cinta sama tulang lunak! Titik!" kekeuh Levina.

__ADS_1


"Terserah, deh! Gue aja yang lupa kalau lo batu," ucap Esa.


"Eh gue baru ingat! Lo tadi malam kenapa neriakin gue hantu?" tanya Arjuna pada Rena.


"Maksud lo?" tanya Rena tak mengerti.


"Iya. Pas yang di dekat rumah kosong itu. Gue abis balik dari rumah teman gue. Enggak sengaja liat lo. Gue panggilin budeg banget lo. Kopok lo kagak pernah dikorek apa gimana? Gue tepuk malah kabur. Rusak mata lo? Lo nggak liat orang segede gini malah lo katain hantu?"


Jadi, yang semalam memanggil dan menepuk pundaknya itu Arjuna? Bisa-bisanya dirinya berhalusinasi jika itu hantu. Pasti saking penuh isi pikirannya dengan hal-hal mistis sampai mengira Arjuna itu hantu.


"Hehe. Sorry. Gue enggak tau kalau itu elo. Lo nggak tau kalau gue ketakutan semalam gara-gara lo?" tanya Rena.


Esa berdehem. Sudah merasa tak nyaman.


"Lah... Kenapa malah nyalahin gue? Emangnya gue tau kalau lo bakal ketakutan padahal cuma dipanggil sama ditepuk doang?"


"YA KARENA LO NGGAK TAU DI POHON GEDE ITU ADA APAAN!!" teriak Rena kesal.


Glek!


Esa menelan ludah.


Teman-temannya terkejut melihat Rena marah-marah.


"Kenapa lo ikut marah-marah, sih? Cewek-cewek hari ini pada kenapa, dah?" ucap Arjuna.


Rena meniup anakan rambut yang mengenai wajahnya.


"Jadi, ditempat dimana lo nepuk punggung gue semalem ada pohon gede banget yang angker. Apalagi ada rumah kosong yang sekitar empat tahun ditinggalin karena penghuninya tewas gantung diri," jelas Rena.


Arjuna yang melongo mendengar penjelasan Rena kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Haha!! Percaya aja lo! Pohon angker apaan? Itu cuma bohongan kali," jawab Arjuna.


"Tau darimana kalau itu bohongan? Kata Esa, para warga juga ngomong gitu, kok!"


"Itu cuma akal-akalan mereka aja biar anak-anak mereka yang masih kecil enggak keluar malam-malam. Apalagi pas maghrib. Lagian lo ketinggalan info banget ginian aja kagak tau. Lo nggak jelasin hal itu ke Rena, Sa?" ucap Arjuna.


Seketika Rena terdiam. Esa sudah meringis melihat Rena sudah melemparkan bombastic side eye padanya. Bisa-bisanya Esa membohongi dirinya. Memangnya dia anak kecil apa sampai jadi target bercandaan? Semalaman Rena berpikir bahwa ia mungkin telah berpapasan dengan hantu sungguhan sampai matanya berkaca-kaca. Bahkan untuk tidur saja sulit karena isi kepalanya yang berisik.


"Hehe... Sorry, Na! Gue nggak maksud bohongin lo," ucap Esa.


"ESA!!!! Gara-gara lo gue tidur jam satu malam saking nggak bisa tidurnya tau nggak?!"


"Ya sorry... Gue juga udah janji 'kan bakal traktir lo sebagai permintaan maaf gue. Janji, deh, nggak bakalan jahilin lo lagi."


Rena masih cemberut sebelum akhirnya mulutnya mengeluarkan kata-kata yang membuat Esa merasa lega.


"Gue maafin," ucap Rena.


"Thanks, Na!" ucap Esa sumringah. "Nah, sekarang terserah lo mau jajan apa aja. Gue yang bayar," tawar Esa.


"Beneran?"


Esa mengangguk.

__ADS_1


Rena tersenyum misterius. Tiba-tiba saja perasaan Esa menjadi tidak enak. Rena bangkit dari duduknya.


"WOY! SEMUANYA BOLEH JAJAN SEPUASNYA DI KANTIN INI. GRATIS! ESA YANG BAKAL BAYAR! AYO SIAPAPUN BOLEH JAJAN SEPUAS- MMMM!!!"


Esa membekap mulut Rena. Menatap sekitar dan meringis kuda. Lantas mendekat pada indra pendengaran Rena.


"Gue 'kan cuma traktir lo, kenapa malah lo umumin?" bisik Esa.


Rena yang berhasil melepas tangan Esa menatapnya tajam.


"Jadi nggak mau dimaafin? Yaudah!"


Rena lantas duduk santai. Esa ikut duduk dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Haha! Mampus lo, Sa! Salah siapa lo jahilin Rena. Udah tau dia paling takut sama hantu," celetuk Arjuna.


"Tau. Kaya nggak ada target lain aja," ucap Levina.


Esa pasrah.


"Yaudah iya! Lo boleh, tuh, umumin ke semua yang ada dikantin. Gue yang bayar," ucap Esa.


Rena tersenyum sumringah dan bangkit lagi dari duduknya.


"AYO SIAPAPUN BOLEH JAJAN! GRATIS!" teriak Rena.


"Beneran nggak, nih?" celetuk salah satu siswa.


"Iya beneran. Jangan lupa ucapin makasih setelah kalian jajan ke Tuan Esa yang terhormat," ucap Rena.


Para siswa segera berebut di kantin untuk bisa jajan sepuasnya. Sementara Esa mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Yang sabar, ya! Gue yakin kekayaan keluarga lo yang tujuh turunan itu nggak bakal habis cuma buat traktir anak-anak," ucap Rena santai sembari menepuk-nepuk punggung Esa.


Teman-temannya hanya bisa tertawa dan menggeleng melihat pembalasan Rena.


Bukan masalah ia dari keluarga kaya atau tidak. Masalahnya, Esa tengah dihukum oleh kedua orang tuanya lantaran ketahuan pacaran. Esa sama sekali tidak dibolehkan pacaran hingga ia lulus SMA. Tapi karena ia jenuh terus menyendiri ditambah selalu kena bully oleh Arjuna, jadilah ia memantapkan diri punya pacar untuk yang ketiga kalinya. Baru seminggu yang lalu Esa ketahuan dan berkahir uang jajannya dipotong hingga 85%. Kalau seperti ini, bukan tak mungkin Esa harus memecahkan celengan ayam miliknya untuk bertahan hidup.


"Makasih, ya, Sa!"


"Thanks, Sa!"


"Makasih, Sa! Sering-sering aja lo traktir gini."


Begitulah para anak-anak yang jajan dikantin pakai duit Esa. Esa sudah semakin lesu saja. Apa lagi melihat si gendut berkacamata tebal datang membopong banyak makanan ringan dan minuman sampai ada yang jatuh ke lantai.


"Esa! Makasih banyak, ya! Gue pasti bakal habisin semua ini," ucap Bobby.


Esa tersenyum paksa. "Haha... Iya, By! Makan aja sepuas lo. Hahaha!" tawa Esa.


Teman-temannya memandang heran pada Esa yang tak kunjung berhenti tertawa dan berakhir menjedug-jedugkan kepalanya ke meja kantin bak orang frustasi.



Genk dengan member terusuh seantero jagat raya.

__ADS_1


__ADS_2