Wish You Know

Wish You Know
Chapter 10 : New Member Unlocked


__ADS_3

.....☆♡☆.....


Liam, Esa, Arjuna, Levina, dan Rena tengah makan siang dikantin. Hampir semua kursi yang tersedia disana penuh seperti biasanya.


"Tau nggak? Ada murid baru dikelas sebelah. Budakna.... beuh... kasep pisan," ucap Levina.


"Naksir lo sama murid baru?" tanya Esa.


"Belum, sih! Tapi jarang loh, ada cowok seganteng dia. Boleh lah masuk list teratas."


"Gantengan mana sama gue?" tanya Arjuna


"Yang ini sih, spek dewa. Bisa lah jadi Don Juan baru sekolah," ucap Levina.


"Wah! Berani-beraninya itu anak geser posisi Liam."


Levina melihat Dama yang tengah antri ambil makan dikantin.


"Eh! Itu anaknya!" seru Levina.


Keempat teman Levina mencari-cari yang dimaksud.


"Yang mana, sih?"


"Itu, yang antri baris nomor tiga. Yang seragamnya beda sendiri. Gimana-gimana? Ganteng, 'kan?"


Rena yang melihat Dama pun sedikit terkejut. Liam kembali menikmati makannya tak peduli.


"Iya, sih! Ganteng," celetuk Arjuna.


"Kan? Apa gue bilang."


Levina memperhatikan Dama yang tersenyum kearah mereka dan mendekat.


"Itu anak senyum ke siapa? Dia kemari!" ucap Levina heboh.


Arjuna menatap Dama yang berdiri disampingnya, begitupun Rena, Esa, Liam, dan Levina.


"Hei! Boleh gabung, 'kan?" ucap Dama pada Rena.


Rena mengangguk.


Levina dan Arjuna saling pandang. Begitupun Liam dan Esa yang memasang raut penuh tanda tanya.


"Kalian saling kenal?" tanya Esa.


Rena mengangguk.


"Kenalin. Nama gue Dama. Anak baru, kelas 11-3," ucap Dama.


"Dama... Kenalin! Ini Levina, yang itu, Arjuna, Esa dan ini Liam."


"Salam kenal," ucap Dama.


"Kalian gimana bisa saling kenal?" tanya Levina.


"Dia tetangga baru gue. Baru pindah beberapa hari yang lalu," ucap Rena.


"Kok, lo enggak pernah cerita?" ucap Levina.


"Gue kenal juga belum lama ini, kok!"


"Dama! Lo jomblo nggak?" tanya Levina.


Dama mengangguk santai.


"Mau nggak sama Rena?" tanya Levina.


Rena yang sedang makan itu tersedak. Liam segera memberinya air putih.


"Lev! Gue bukan barang segala pake lo obral."


"Hehe. Maksud gue 'kan baik. Siapa tau kalian bisa pacaran beneran."


"Ngaco banget. Bahas yang lain lah..."


"Tau lo. Daripada ngobral teman lo, kenapa lo nggak obral diri lo sendiri? Lo 'kan juga jomblo. Kalau lo lupa," ucap Arjuna.


"Dih! Ya biarin. Lebih baik jomblo daripada punya abis itu dicampakin. Ganti baru lagi. Campakin lagi. Itu pacaran udah kaya permen karet aja. Heran gue. Insyaf, Jun! Insyaf!"


"Lo tuh yang harusnya insyaf! Cha Eun Woo!"


"Bacot!" ucap Levina sambil menyumpal mulut Arjuna dengan roti.


"Mmmm!!"

__ADS_1


.....☆♡☆.....


Kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung dikelas Rena. Seorang guru wanita, Bu Asti, sedang menuliskan soal pelajaran fisika dipapan tulis sebanyak sepuluh soal yang kemudian diikuti oleh murid dikelasnya.


"Jangan lupa tugas harus dikumpulkan di mata pelajaran Saya selanjutnya."


"Iya, Bu!"


BEL PULANG BERBUNYI.


Asti kemudian menuju ke meja guru untuk membereskan buku dan alat tulisnya, kemudian menuju pintu keluar.


"Selamat Siang!"


"Siang, Bu...!"


Para murid segera menberesi perlengkapan mereka dan mulai beranjak untuk pulang.


"Ayo pulang, Na!"


Rena tersenyum dan mengangguk.


.....☆♡☆.....


Rena yang baru pulang sekolah tak langsung menuju rumahnya, melainkan berdiri didepan gerbang rumah Dama yang tertutup rapat. Tak lama, terlihat Dama yang mengayuh sepeda dan juga baru pulang sekolah datang.


Rena tersenyum.


"Hai!"


Dama tersenyum dan membuka gerbang. Mereka masuk kedalam rumah.


Rena dan Dama masuk kedalam rumah langsung disambut oleh Ken. Rena segera mengangkat dan mengelus Ken.


"Hai, Ken! Kangen banget sama kamu. Abang Dama enggak nakalin kamu, 'kan? Kalau dia nakal, cakar atau gigit aja, ya!"


Dama terkekeh. Ia lantas menuju dapur dan membuka kulkas. Ia mengambil sekotak besar jus jeruk dan menuang ke dua gelas kosong. Ia mengambil beberapa snack dan membawanya kembali keruang tengah.


Terlihat Rena masih asik bermain dengan Ken.


"Minum dulu, Na!"


Rena mengangguk. Ia meminum sedikit dan kembali bermain dengan Ken.


"Gue liat-liat, orang tua lo jarang banget dirumah."


Dama mengangguk mengerti.


"Gue laper, nih! Katanya gue bisa minta ke elo. Dikulkas, sih, cuma ada beberapa bahan makanan. Jadi... lo mau 'kan masakin gue?" tanya Dama.


Rena menatap Dama lama.


.....☆♡☆.....


Terlihat Dama dan Rena yang masih mengenakan seragam sekolah sudah mengenakan celemek. Mereka tengah sibuk berkutat dengan bahan makanan didapur.


Rena sudah menyiapkan daging ayam cincang dan jamur kancing yang telah dimasak, memotong daun bawang, wortel, bawang bombay, paprika merah, dan mencincang bawang putih untuk membuat omelet.


Sedangkan Dama tengah memecahkan lima butir telur yang kemudian dikocok.


"Udah, Na!"


Rena kemudian memasukan semua bahan makanan yang sudah ia siapkan kedalam telur. Ia menambahkan beberapa bumbu sebelum akhirnya dikocok kembali.


Dama hanya memperhatikan Rena yang tengah menyalakan kompor, menaruh teflon, menaruh margarin diatas teflon hingga memasak omelet itu menjadi dua porsi.


Setelah omelet matang, ia menaruhnya diatas piring. Rena segera menghias omelet dengan saus.


Terlihat Dama yang tengah mengambil nasi yang baru matang. Ia kemudian membawa dua piring nasi itu ke ruang tengah dimana Rena barusaja meletakan dua omelet diatas meja.


Disisi lain, Ken juga tengah makan.


Rena memperhatikan Dama yang memasukan sesendok omelet kedalam mulut.


"Gimana? Enak nggak?" tanya Rena.


"Wah! Ternyata lo jago masak juga, ya! Enak, kok!"


"Syukur, deh, kalau lo suka," ucap Rena yang kemudian ikut menikmati makan siangnya.


.....☆♡☆.....


Pukul delapan malam, Mala masuk kedalam kamar Rena dengan membawa jus jeruk dan beberapa irisan buah apel. Mala tersenyum melihat Rena yang sedang sibuk belajar dengan pencahayaan yang hanya berasal dari lampu belajar.


"Rena! Ibu bawain kamu buah. Dimakan, ya!"

__ADS_1


"Wah! Iya, Bu! Makasih, ya!"


Mala tersenyum dan mengangguk.


"Yaudah! Kalau gitu Ibu keluar dulu. Kamu yang semangat, ya, belajarnya!"


"Iya, Bu! Pasti!"


Mala kemudian keluar kamar dan menutup pintu.


Setelah Mala keluar, Rena berhenti belajar. Ia terlihat lelah dan jenuh saat menyandarkan punggungnya disandaran kursi. Ia melihat buah dan minuman dinampan tanpa minat, lalu beralih mempermainkan bandul gelang forget me not dipergelangan tangannya.


Rena kemudian mengambil sebuah kotak dari meja belajarnya. Ia membukanya. Hanya ada selembar foto berukuran 6R yang telah kusam. Foto saat dirinya masih bayi. Hanya itu satu-satunya foto yang ia punya. Ibu Panti bilang, foto itu sudah ada saat ia ditinggalkan didepan panti. Sebuah foto dimana dibaliknya tertulis nama lengkapnya. Rena Alma Quenna. Bandung, 09 Juli 2005.


.....☆♡☆.....


Dihari minggu pagi yang cerah, terlihat Rena barusaja turun dari bus dengan membawa satu paper bag dan beberapa kantong plastik cukup besar yang dibawanya. Ia menyusuri jalan yang hanya bisa dilalui mobil satu arah hingga sampai disebuah rumah bertuliskan "Panti Asuhan Mentari".


Beberapa anak-anak berumur tiga sampai delapan tahun terlihat sedang bermain didepan panti. Seorang wanita tua terlihat tengah menyiram tanaman bunga beraneka jenis yang berjajar rapi dihalaman panti. Hingga salah satu anak perempuan berusia delapan tahun itu melihat kedatangan Rena.


"Kak Rena!" seru Lita.


Rena tersenyum ketika anak-anak mendekat padanya. Bu Jessy, wanita berusia enam puluh tahun itu sontak menengok kearah sumber suara.


"Hai, Sayang! Gimana kabar kalian?" tanya Rena.


"Baik, Kak! Kita kangen banget sama Kakak!" seru Lita.


"Iya, Kak!" seru yang lainnya.


"Kak Rena juga kangen sama kalian."


Rena tersenyum melihat Bu Jessy mendekat padanya. Terlihat senyum haru terpancar diwajah Bu Jessy. Segera Rena mencium punggung tangan Bu Jessy.


"Bu!" ucap Rena.


"Sayang! Ibu rindu sekali sama kamu," ucap Bu Jessy.


"Rena juga rindu, Bu! Ibu sehat-sehat aja, 'kan?"


"Ibu sehat. Kamu kesini sendiri?"


"Iya, Bu!"


"Kamu pasti capek habis perjalanan jauh. Ayo masuk!" ajak Bu Jessy.


Rena mengangguk dan berjalan saling beriringan dengan Bu Jessy diikuti dengan anak-anak lainnya.


Mereka kemudian masuk kedalam panti.


"Lita! Ini ada sedikit makanan dari Kak Rena. Tolong bagikan ke teman-teman yang lain, ya!" ucap Rena.


"Baik, Kak!"


"Ardan! Tolong bantu Kak Lita, ya!" ucap Rena.


"Siap, Kak!" ucap Ardan.


Beberapa kantong bawaan Rena itu dibawa Lita dan Ardan masuk.


"Jadi ngerepotin kamu, Nak!" ucap Bu Jessy.


"Enggak repot kok, Bu!"


"Sini duduk!"


Rena lantas duduk disofa yang tersedia diruangan itu bersama Bu Jessy.


"Oh, iya! Rena bawain puding kesukaan Ibu!"


Rena kemudian menyerahkan satu paper bag untuk Bu Jessy.


"Wah! Trimakasih banyak, ya!"


"Sama-sama, Bu! Maaf, ya, Bu! Rena jarang datang nengokin Ibu!"


"Tidak apa-apa. Ibu juga tahu kalau kamu pasti sibuk. Kamu sekarang ada disini aja Ibu sudah senang sekali," ucap Bu Jessy dengan senyum diwajahnya.


Rena ikut tersenyum mendengarnya. Bagi Rena, Bu Jessy tetaplah sosok Ibu baginya. Ia yang telah merawat dan membesarkannya disaat orang tua kandungnya memilih meninggalkan dirinya didepan panti.


...



...

__ADS_1


...Dama ketika makin sayang sama Ken 😌...


__ADS_2