Wish You Know

Wish You Know
Chapter 5 : Man In The Field


__ADS_3

.....☆♡☆.....


Dama sedang tidur dikamar dengan pencahayaan yang hanya berasal dari lampu tidur diatas nakas. Peluh telah membasahi wajah Dama yang nampak tak nyaman dalam tidurnya. Raut ketakutan menggambarkan seburuk apa mimpi yang tengah dialaminya.


Renata, wanita berusia hampir kepala empat itu menarik koper dengan menangis hendak meninggalkan rumah. Dama yang saat itu berusia tujuh tahun datang berlari dan menahan tangan Renata. Pipinya sudah basah oleh air mata.


"Ma! Jangan pergi! Jangan tinggalin Dama! Mama!"


Renata tak kuasa dan memilih melepaskan cengkraman buah hatinya dari bajunya. Lebih memilih mengedepankan ego ketimbang mencoba memperbaiki keadaan.


"Ada Papa yang akan jaga kamu, Dama! Mama janji akan sering temuin kamu," ucap Renata.


"Enggak! Dama nggak mau Mama pergi. Nanti kalau Mama pergi Dama enggak punya Ibu. Dama nggak mau kalau Dama enggak punya Ibu," ucap Dama dengan tangis yang semakin menjadi.


"Kata siapa Dama enggak punya Ibu? Dama tetap anak Mama. Mama nggak akan pernah lupain Dama. Mama pergi bukan berarti Mama benci sama Dama. Justru Mama berharap dengan kepergian Mama,  Dama enggak akan sedih lagi karena Mama dan Papa. Dama enggak perlu lagi merasa takut kalau Mama dan Papa bertengkar lagi," ucap Renata.


Ditatapnya sang anak dalam-dalam.


"Mama yakin Dama bisa! Dama masih anak hebatnya Mama, 'kan?"


Dama hanya menangis semakin keras hingga sesenggukan.


"Ma! Mama!" igau Dama.


Dama seketika terbangun dengan napas tersenggal-senggal. Dama terdiam selama beberapa saat dan mengambil posisi duduk, melihat pada jam dinding yang menunjukan pukul 22.03. Kedua kakinya melangkah menuju balkon. Didekat pagar pembatas itu Dama berdiri, memandang langit-langit malam yang tak menampakan satu bintang pun. Setidaknya, masih ada rembulan yang sinarnya begitu benderang masih mau menjadi peneman sang langit.


.....☆♡☆.....


Warung Mang Asep yang sering jadi tongkrongan banyak anak-anak remaja itu tak pernah sepi pembeli. Menu yang tersedia pun banyak. Mulai dari nasi goreng, nasi bakar, mie tek-tek, dan masih banyak lagi. Rena dan Esa sedang duduk dikursi warung sembari memandangi langit malam. Ditangan mereka tergenggam minuman bersoda. Esa adalah tetangga Rena. Melihat Esa yang mengeluarkan motor dan hendak pergi, Rena yang sedang berada dibalkon itu menanyakan tujuan Esa. Dan disinilah mereka sekarang.


HP Esa berdering nyaring. Rena pasang pendengaran ketika telepon itu diangkat.


"Halo?"


"Sayang... Kamu dimana, sih? Kamu lupa mau nganterin aku beli makan?" ucap seorang wanita diseberang telepon.


"Ya ampun, Sayang! Maaf banget aku kelupaan. Aku kesana sekarang!" ucap Esa yang segera memasukan HP kembali kekantong celana jeansnya..


Buru-buru Esa menuju motornya. Rena bangkit ketika Esa menyalakan motor.


"Na! Gue pergi dulu, ya!" seru Esa.


Rena menarik jaket Esa, menahan agar Esa tidak cabut begitu saja.


"Eh eh eh! Mau kemana? Lo mau ninggalin gue? Sendirian?" tanya Rena dengan sangat tidak percaya.


"Iya. Soalnya gue lupa ada janji sama pacar gue," ucap Esa.


"Sa! Masalahnya, gue nggak berani pulang sendiri. Lo nggak inget apa jalan pulang lewat mana? Itu jalan satu-satunya, Sa!"


"Ya lagian lo udah gue bilangin nggak usah ikut. Kekeuh, sih!"


"Ya gue pikir nanti balik juga sama lo makanya gue ngotot pengen ikut."


"Duh gimana, ya? Pacar gue udah nungguin. Kalau nganterin lo balik dulu gue nggak yakin gue nggak dimusuhin. Masalahnya kalau dia ngambek bisa satu abad baru bisa baikan lagi."

__ADS_1


"Sa...."


Esa menyalakan motor dan segera kabur.


"SORRY, NA! BESOK GUE TRAKTIR, DEH! INI DEMI GUE BIAR NGGAK JOMBLO LAGI!"


"ESA! BANGSAT LO, YA!"


Melihat Esa yang semakin ngebut membuat Rena semakin naik darah.


"Neng! Cewek jangan ngomong begitu atuh... Nggak baik," ucap Mang Asep.


"Iya, Mang! Maaf!" ucap Rena dengan ringisan diakhir kalimat.


Mang Asep hanya geleng-geleng.


"Mang! Boleh minta tolong nggak?" tanya Rena dengan tampang memelasmya.


"Naon?" tanya Mang Asep.


"Anterin Rena pulang boleh nggak, Mang? Rena takut."


"Aduh... Neng! Mang Asep 'kan lagi jualan. Mana bisa Mamang tinggal-tinggal," ucap Mang Asep tak enak hati.


"Yah... Mang! Please... Rena beneran takut, Mang! Mamang nggak kasihan apa sama Rena?"


Mang Asep dilema.


"Sekali lagi mohon maaf ya, Neng! Mamang nggak bisa. Lihat, nih! Warung lagi banyak banget pelanggan."


"Mang nasi goreng satu, ya!" seru pembeli yang baru datang.


"Makan sini, Mang!"


"Siap! Sebentar, ya!" Mang Asep lalu menatap Rena. "Neng! Maaf, ya! Mamang sibuk ini."


Pundak Rena melemas.


"Yaudah deh, Mang!"


Melihat Rena yang berlalu pergi, Mang Asep merasa bersalah.


.....☆♡☆.....


Dijalan yang cukup gelap itu Rena berjalan sendirian. Teringat pula akan perkataan Esa soal rumor pohon besar diseberang jalan.


"Kalau lewat situ harus baca do'a. Itu pohon keramat."


Kini nyali Rena semakin menciut ketika jaraknya semakin dekat dengan pohon besar itu. Bergoyang-goyang saat terkena angin malam. Dan lagi rumah kosong yang sudah sekitar empat tahun itu ditinggalkan. Jauh lebih menyeramkan jika malam hari.


Rena berdehem. Memasukkan kedua tangan yang tergenggam erat kedalam jaket. Berusaha mengusir rasa takut yang terus menguasainya. Rena berjalan menunduk tanpa menengok kearah manapun. Sementara mulutnya komat-kamit baca mantra.


"Rena..."


Jantungnya seakan berhenti berdetak. Rena segera mempercepat langkahnya ketika samar-samar mendengar suara itu.

__ADS_1


Semakin dekat.


"Ren..."


Rena jelas mendengar suara yang memanggil namanya. Rena sudah hampir menangis ketika keterkejutan membuat jantungnya hampir lepas dari tempatnya.


PUK!


"AAA... "


"Lah? Itu Rena bukan, sih?"


Arjuna menggaruk tengguknya yang tidak gatal saat melihat Rena berlari menjauhinya.


"HANTU...!! AAA....!! "


"Sialan gue dikatain. Udah cakep kaya Leonardo DiCaprio gini dibilang hantu," ucap Arjuna saat mendengar Rena masih saja berteriak melarikan diri.


.....☆♡☆.....


Sementara dijalanan komplek yang sangat sepi itu, baru Rena berhenti berlari dan mengatur napas.


"Gila! Ternyata itu pohon beneran ada hantunya?" guman Rena tak percaya.


Pandangan Rena terpaut pada lapangan futsal dimana terlihat seseorang yang sedang bermain bola sendirian disana.


Ia adalah Dama yang sedang bermain futsal sendirian dilapangan dekat komplek rumah. Ia beberapa kali mencoba memasukkan bola kedalam gawang, tendangan yang asal-asalan membuat bola sering kali tidak masuk gawang.  Tendangannya yang asal-asalan membuat bola tak pernah masuk ke gawang. Masih ada Rena yang memperhatikan setiap pergerakannya tanpa ia sadari.


Dama menendang bola ke gawang lagi dan lagi, seperti orang yang frustasi.


"Lagi ada masalah, ya?"


Dama melihat ke sumber suara dimana Rena tengah berjalan mendekat padanya.


"Gue enggak maksa lo buat cerita. Tapi... kebanyakan orang bilang kalau cerita itu bisa meringankan sedikit beban," ucap Rena.


"Oh, ya? Tapi enggak semua cerita bisa menghilangkan beban bagaimana rasanya ditinggalkan seseorang untuk selamanya," jawab Dama.


"Menerima. Itu adalah obat dari segala jenis cara yang bisa lo lakuin. Hidup pasti bakal terasa berat kalau lo membiarkan rasa sakit teras mengendap dalam hati lo."


Dama tersenyum asimetris.


"Terus, apa ada cara untuk memaafkan seorang pembunuh yang dia adalah Ayahnya sendiri?"


Rena terdiam membeku.


"Dan yang dibunuh itu... adalah istrinya sendiri?" ucap Dama.


Mulut Rena terkunci..


"Enggak semua orang punya ruang dihatinya untuk memaafkan. Dan enggak semua orang percaya kalau dia bisa berdamai dengan keadaan," ucap Dama.


"Tapi semua orang... selalu memiliki rasa dia bisa melakukannya. Itu adalah sebuah pilihan. Kalau lo memilih untuk memaafkan, maka lo bisa berdamai dengan keadaan," tutur Rena.


Dama masih berdiri ditempat tak bergeming.

__ADS_1


"Tapi kalau lo masih tetap bertahan dalam kesakitan itu, selamanya lo enggak akan bisa sembuh," ucap Rena lagi.


Dama hanya diam. Lebih memilih melempar pandangan sejauh mata memandang.


__ADS_2