Wish You Know

Wish You Know
Chapter 6 : What Is Karma?


__ADS_3

.....☆♡☆.....


Langkah kaki Rena dan Dama berhenti tepat didepan rumah mereka setelah memutuskan untuk pulang bersama dengan bertemankan keheningan disepanjang jalan menuju pulang. Dama yang teringat sesuatu lantas segera merogoh saku jaket tebal berwarna putih dan mengambil sesuatu dari dalamnya.


"Ini punya lo, 'kan?" tanya Dama sembari menunjukan sebuah benda ditelapak tangannya.


Kedua netra berwarna cokelat Rena seketika berbinar tatkala melihat gelang forget me not miliknya berada ditangan Dama.


"Itu- kok bisa ada di lo?" tanya Rena.


"Gue nemu dijalan waktu lo hampir dijambret. Gue bawa pulang buat gue kasih ke elo kalau suatu saat kita ketemu lagi," jawab Dama.


"Gue udah nyari gelang itu dimana-mana barang kali nyelip atau ketinggalan. Sempat pasrah karena enggak ketemu. Ternyata ada di lo. Makasih, ya! Gelang itu benar-benar penting banget buat gue."


Rena menerima gelang itu dengan senang hati. Ia pikir sudah benar-benar kehilangan gelang itu untuk selamanya. Untunglah Tuhan masih berbaik hati untuk mengijinkannya memiliki gelang itu lagi.


"Sekali lagi makasih banyak!"


"Sama-sama. Masuk, gih! Besok lo sekolah, 'kan?" tanya Dama.


Rena mengangguk.


"Gue masuk dulu. Bye, Dama!"


Rena segera masuk kedalam rumah. Sampai dikamar, Rena lantas duduk dimeja belajar. Kembali memperhatikan gelang yang diberikan Dama beberapa menit lalu. Kaitan gelang itu ia buka, lalu dipasangkan pada pergelangan tangan sebelah kiri. Diperhatikannya kembali gelang itu lamat-lamat. Senyuman lebar terukir ketika melihat bandul bunga forget me not yang sama sekali tak berubah meskipun sudah belasan tahun ia kenakan.


.....☆♡☆.....


Lagu Coldplay - Yellow mengalun indah melalui earphone. Menyumbat telinga Levina sehingga meredam sedikit suara dari luar. Padahal di jam pertama akan ada ulangan matematika, namun Levina seakan tak peduli. Dirinya justru asik membaca komik yang tinggal seperempat halaman.


CKITTT...


"Aduh, Pak! Kenapa ngerem mendadak, sih?!" Levina melepas salah satu earphonenya kesal.


"Maaf, Mbak! Itu ada pengendara motor yang berhenti mendadak didepan. Hampir aja Saya tubruk."


"Siapa, sih?!"


"Nggak tau, Mbak! Sepertinya teman sekolahnya Mbak Levina. Dari celananya sama kaya seragam sekolah punya Mbak," ucap Hadi ketika hanya melihat celana seragam berwarna krem sedangkan pria itu memakai jaket dan helm full face.


Levina melongok ke depan dengan perasaan kesal. Hanya dengan melihat tampilan moge berwarna merah menyala yang posisinya menyimpang dijalan saja Levina sudah hafal betul. Mengetahui siapa pelakunya membuat Levina semakin dongkol.


"Lewatin aja, Pak!" Kata Levina yang kembali memasang earphonenya.


"Baik, Mbak!"


Hadi memutar stir. Mundur dan mencoba untuk melewati motor itu. Namun lagi-lagi, motor itu memang sengaja ingin ditabrak. Terbukti dengan Hadi yang kembali mengerem mendadak. Membuat Levina menggeram kesal. Melepas seluruh earphone di telinganya dan meletakkan barang-barangnya dikursi mobil.

__ADS_1


"Bapak tunggu disini! Saya mau ngomong sama dia!" ucap Levina.


"Baik, Mbak!"


Levina membanting pintu mobil sekuat tenaga dan menghampiri pengendara motor yang merusak paginya.


"Eh, lo kurang kejaan banget, sih!? Lo bosan hidup apa gimana? Kalo lo pengen mati sana kejalan raya! Jangan didepan mobil orang tua gue!" teriak Levina dengan kesabaran setipis tisu.


Pemilik motor itu melepas helm. Menyengir kuda pada Levina seakan tak merasa bersalah.


"Hai Levina cantik pacarnya Aa Arcelo. Berangkat bareng, yuk! Udah ganteng, nih! Masa kagak punya gandengan. Malu-maluin emak gue entar."


"Yang ada gue yang malu jalan sama cowok letoy kayak lo! Minggir lo!"


"Ayo lah... Bolehin gue nganterin lo. Biar satu sekolah tau kalo gue tengah dalam tahap memperjuangkan cinta gue."


Levina memutar kedua bola matanya malas.


"Ar! Sumpah gue lagi nggak mood ngeluarin jurus gue. Tapi kalo lo pengen coba, sini maju!"


"Widih... Lo agresif banget, sih? Pake segala pengen nyerang gue. Aa jadi makin cinta."


"Somplak lo! Sana, ah! Kalau gue sampai telat gara-gara lo, abis lo sama gue! Awas aja!"


"Apa sih? Mau kasih gue jurus apa? Jurus cinta maksudnya? Duh... Bisa aja lo."


Tidak tahu saja kalau kesabaran Levina yang setipis tisu itu masih dibelah dua.


"Turun lo!" teriaknya.


"Aduh... Apa sih, Sayang? Iya ini turun."


"Lepas helm lo!"


"Kenapa, sih?"


"Lepas gue bilang!"


"Iya. Ok. Gue lepas. Gue turutin apa mau lo, Beb!"


Melihat Arcelo sudah melepas helm, Levina segera mengambil ancang-ancang. Melayangkan Jurus Dollyo Chagi pada telinga kanan Arcelo tanpa ragu-ragu. Sebenerarnya tidak terlalu keras juga, namun mampu membuat yang terkena mengaduh kesakitan sembari menutup telinganya yang terasa panas.


"Lev! Gila lo! Sakit, nih, kuping gue!" rintih Arcelo.


"Gue udah kasih peringatan, ya, sebelumnya. Lagian lo kagak ada kapoknya ngejar-ngejar gue. Pinggirin motor lo atau gue kasih juga yang sebelah kiri?!"


"Aish... iya-iya! Kalo bukan karena gue sayang sama lo, udah abis lo dalam pelukan terhangat gue," omel Arcelo sembari memakai kembali helmnya dan mengendarai motornya meninggalkan Levina.

__ADS_1


Melihat hal itu membuat Levina tersenyum meremehkan.


Hadi melongo melihat kelakuan Levina yang persis seperti ayam betina saat melihat anak-anaknya diganggu. Sensitif dan mudah marah.


"Cih... Mulut aja digedein. Tulang lembek kaya agar-agar gitu pakai segala belagu," ujar Levina.


Levina kembali masuk kedalam mobil.


"Jalan, Pak!"


"Wah... Mbak keren sekali tadi. Saya baru pertama kali lihat Mbak bisa segarang tadi." Kata Hadi yang melihat Levina melalui kaca spion bagian dalam mobil.


"Jalan sekarang, Pak! Atau Bapak mau juga?"


"Eh!? Engga, deh, Mbak! Saya masih pengen sehat. Hehe."


Hadi kemudian melajukan mobilnya.


.....☆♡☆.....


Suasana dikelas 11-1 sudah cukup ramai. Gadis yang tengah berkutat dengan buku paket itu mengernyit heran tatkala melihat Levina yang baru datang membanting tas ke atas meja dan duduk dengan kesal dikursinya.


"Lo kenapa? Pagi-pagi udah manyun aja," ucap Rena.


"Arcelo emang nggak ada kapoknya, ya! Udah gue bilang beribu-ribu kali kalau gue nggak suka sama dia. Masih aja dia ngejar-ngejar," jawab Levina.


"Padahal Arcel ganteng, kok! Lo yakin nggak suka sama dia?"


"Hah? Apa? Gue nggak salah denger, nih? Ganteng darimananya ya ampun! Tulang lembek kaya gitu lo bilang ganteng? Mata minus lo nambah?"


Rena diam.


"Nih, ya, Na! Dengerin baik-baik! Sampai kapan pun gue nggak bakalan suka sama dia. Never!"


"Hati-hati, Lev! Terlalu membenci seseorang bisa-bisa lo kena karma. Jatuh cinta beneran misalnya?"


"Idihhh!!! Nggak mungkin banget! Hih! Amit-amit, deh! Udah, deh! Kenapa jadi ngomongin dia mulu, sih!" gerutu Levina.


Rena terkekeh pelan.


"Tapi dari kisah nyata yang banyak terjadi, karma itu real. Nggak jarang mereka cerita kalau dulunya mereka nggak suka dan benci banget, tapi pada akhirnya mereka bersatu dipelaminan. Nggak ada yang nggak mungkin, sih!" ucap Rena.


"Wait! Jadi lo ngedo'ain gue bakal kena karma gitu? Jatuh cinta sama Arcelo yang... ewh!! Nggak akan! Camkan itu, Na!"


"Enggak ngedo'ain. Gue cuma ngomong apa adanya. Siapapun nanti pacar atau suami lo juga pasti gue dukung asal lo bahagia sama dia."


"Itu baru bagus! Dan yang pasti. Jangan sampai jodoh gue Arcelo. That's a bad things. I can't imagine," ucap Levina.

__ADS_1


Rena hanya menggelengkan kepala tak lagi ikut campur.


__ADS_2