Wish You Know

Wish You Know
Chapter 1 : The Girl With A Bracelet


__ADS_3

.....☆♡☆.....


Langit cerah kala itu. Suara debur ombak tak henti terdengar. Laut biru terlihat begitu memanjakan mata dengan batu-batu karang yang tak goyah dihantam ombak beribu-ribu kali setiap harinya.


Terlihat dua orang lawan jenis saling berhadapan ditepi pantai. Hanya terlihat kaki sampai sebatas bahu.


"Kenapa senja identik dengan manusia penyuka sastra? Dulu, senja enggak begitu jadi perhatian gue, hingga datang seseorang yang membuat senja menjadi suatu hal yang selalu gue rindukan," suara wanita itu.


Semilir angin menerpa pakaian mereka. Entah bagaimana rupa kedua orang itu. Terlihat hanya dress putih dan kemeja kasual yang tak henti diterpa angin.


10 TAHUN YANG LALU...


Suasana pagi Kota Bandung sudah ramai meskipun mentari belum terlalu terik. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Mulai dari pergi ke pasar, berdesak-desakan di angkutan umum demi berangkat kerja, atau bahkan sekedar lari pagi. Bangunan gedung-gedung besar nan mewah seolah sedang berlomba menunjukan siapa yang paling berkuasa.


Sebuah rumah besar dengan dua pilar penyangga terlihat bak istana. Gerbang rumah dicat dengan warna emas. Begitupun beberapa bagian kecil rumah untuk menonjolkan desain bangunan. Terlihat seorang gadis muda berseragam SMA lengkap dengan perlengkapan sekolahnya terlihat menuruni anak tangga dan bergabung dengan kedua orang tuanya dimeja makan. Sarapan bersama pagi itu hanya terdengar denting peralatan makan yang saling bertumbukan, hingga suara sang kepala keluarga menginterupsi keheningan.


"Nanti sore kamu ada les musik, kan? Jangan lupa kasihkan oleh-oleh buat Om James," kata Arya.


"Oke!" Jawab Rena.


"Uang saku kamu masih?" tanya Mala.


"Masih, Bu! Yang kemarin Ayah kirim juga belum aku ambil."


"Ya sudah!"


"Untuk les tambahan kamu besok sama Pak Rendra, kamu udah bilang ke Pak Rendra buat nambah materi?" tanya Arya.


"Belum, Yah! Rena lupa bilang."


"Sebantar lagi ujian kenaikan kelas loh. Apa perlu Ayah yang menghubungi Pak Rendra langsung?"


"Enggak perlu, Yah! Besok sekalian Rena datang ke tempat les aja."


"Ya sudah. Jangan sampai lupa."

__ADS_1


"Iya."


"Enggak ada Ayah Ibu pun, kamu harus rajin belajar. Jangan karena Ayah sama Ibu pergi terus-terusan dan jarang dirumah. Bukan berarti kamu lalai dari belajar. Nanti kamu pulang Ayah udah nggak ada disini. Kemungkinan dua minggu lagi baru pulang," ucap Arya lenuh penekanan.


Rena hanya mengangguk mengerti.


"Impian kamu itu tinggi, Na! Dan masuk universitas terbaik di Inggris itu enggak mudah. Banyak anak muda yang gagal masuk kesana. Dan Ayah enggak mau kamu gagal."


"Iya, Yah! Rena akan berusaha semaksimal mungkin biar bisa masuk ke universitas itu. Seperti kemauan Ayah."


"Ayah kemarin sempat belikan kamu beberapa buku. Kata teman Ayah, itu buku yang bagus dan teorinya mudah dipelajari. Ayah lupa kasihkan ke kamu. Nanti Ayah taruh dimeja belajar kamu, ya!"


"Iya, Yah!"


Selesai makan, Rena bangkit dan berpamitan pada kedua orang tuanya.


"Ayah! Ibu! Rena pergi dulu, ya! Assalamu'alaikum," ucap Rena.


"Wa'alaikumussalam."


.....☆♡☆.....


Mentari yang kian naik itu ditemani awan putih bersih bak menggumpal saling tumpang tindih. Hamparan langit biru pun terlihat memanjakan siapapun yang melihatnya. Kicauan burung kecil didahan pohon besar yang ada disepanjang jalan pun ikut menyambut pagi. Semilir angin mengayunkan setiap surai panjang Rena yang berwarna brunet. Rena benar-benar dibuat tersenyum disetiap langkah kaki yang ia ayunkan.


Rena sampai dihalte bus. Tak perlu menunggu lama, bus yang akan ditumpanginya datang. Segera ia masuk dan duduk dikursi penumpang dekat jendela. Bus tidak begitu penuh dan kebanyakan penumpang anak SMA. Rena kemudian mengambil earphone yang kemudian ia colokan ke HP. Mencari-cari frekuensi radio didaftar paling utama dan memutarnya.


"Nama gue Rena. Rena Alma Quenna. Dan umur gue tujuh belas tahun. Hobi gue salah satunya ya ini. Dengerin radio."


"Halo selamat pagi semuanya! Gue harap kabar kalian baik dan selalu sehat semuanya, ya! Ok! Di pagi hari ini sebelum gue berceloteh kesana-kemari kita dengerin dulu sebuah lagu yang gue harap bisa membakar semangat kalian. Apalagi langit hari ini cerah setelah dua hari Bandung diguyur hujan. Lagu spesial cuma buat kalian," ucap penyiar radio.


Lalu terdengar lagu yang Rena dengarkan di radio. Rena memandang keluar jendela dan tersenyum lebar.


.....☆♡☆.....


Terlihat bangunan sekolah SMA kaum elit yang diperlihatkan dari segala sisi. Disebelah pintu gerbang, tertulis SMA HARDHYA GARINI.

__ADS_1


"Ini sekolah gue. SMA HARDHYA GARINI. Sekolah yang masuk dalam daftar sekolah terbaik di Indonesia. Banyak orang yang bermimpi untuk sekolah disini. Selain karena fasilitas sekolah, sekolah ini terkenal dengan sekolahnya para idol. Mungkin karena paras siswa-siswi disini yang cantik dan rupawan. Nilai akhir sekolah juga jadi patokan untuk masuk disekolah ini dan telah meluluskan banyak siswa-siswi berprestasi. Ini mungkin jadi alasan yang tepat mengapa mereka ataupun kedua orang tua mereka memilih sekolah ini."


Banyak siswa-siswi yang berdatangan. Terlihat pula siswi yang diantar Ayahnya naik motor yang menampilkan keharmonisan keluarga. Semua memperlihatkan siswa-siswi dari culun, biasa-biasa saja, sampai paling modis. Ada pula tampang siswi yang terlihat judes barusaja turun dari mobil.


"Setiap sekolah, pasti selalu punya yang namanya penguasa sekolah. Dan yang baru turun dari mobil itu Levina. Keturunan dari pemilik sekolah ini. Meskipun tampangnya judes- eits bukan ralat. Savage, tapi hatinya baik kok! Justru karena dia keturunan pemilik sekolah, dia dituntut untuk selalu menjaga martabat keluarga, bukan malah menyalahgunakan status hanya untuk merugikan orang lain. Dan yang terpenting, dia sahabat gue."


Rena pun melambai pada Levina dan disapa lambaian pula. Keduanya kemudian berjalan bersama.


"Gimana kencan lo kemarin? Berhasil?" tanya Levina.


"Saking sayangnya sama gue dan karena gue jomblo dari orok, Levina sampai nyuruh gue buat kencan buta."


"Berhasil apanya? Nyokap sama bokap gue balik dari Aussie dan nginep semalaman. Gue mana bisa cabut," jawab Rena.


"What?! Terus cowok itu gimana?"


"Ya gue kabarin kalau gue nggak bisa ketemu. Dia ngajakin gue ketemu di lain waktu, tapi gue tolak dengan alasan banyak tugas."


"Kenapa lo nggak ngabarin gue?"


"I know you, Lev! Gue nggak mau nanti lo malah nyelinap ke kamar gue dan nyuruh gue kabur."


"Sayang banget. Padahal dia ganteng. Gue udah benar-benar cari tahu informasi tentang dia kalau lo bakal ketemu orang yang emang baik bukan dari modal tampang doang."


"Percaya. Lo nyari info orang lain cuma jentikin jari mah beres! Gue tau banget maksud lo baik, tapi kan lo tau kalau nggak dibolehin pacaran sampai gue lulus kuliah."


"Bukan tanpa alasan orang tua gue melarang gue untuk pacaran. Kalau gue pacaran, orang tua gue takut waktu yang seharusnya gue gunain buat belajar terbuang buat hal yang nggak penting yang berakhir bikin nilai gue anjlok."


"Ngebayangin jadi lo berasa hampa banget hidup lo. Kalau gue jadi lo, gue nggak bakal sanggup nurutin semua peraturan yang orang tua gue kasih," tutur Levina.


"Lagipula, ada benarnya juga, kok, orang tua gue melarang yang namanya pacaran. Bahkan di sekolah yang ada diluar negeri, ada yang nerapin kalau siswanya enggak boleh ada yang pacaran. Biar semua pikiran anak didik mereka terfokus cuma untuk belajar."


"Iya. Tau gue. Dan sumpah demi apapun gue enggak bakalan mau masuk ke sekolah itu."


Rena tertawa pelan.

__ADS_1


__ADS_2