
.....☆♡☆.....
Diruang kelas, terlihat Rena sedang memperhatikan Liam yang sedang berbicara ditelepon dengan harap-harap cemas.
"Iya, Om! Jadi boleh, 'kan?" tanya Liam.
Bel sekolah telah berdering sejak beberapa waktu lalu. Dan kini, kelima anak itu sedang berkumpul dikelas dimana hanya ada mereka berlima.
"Baik, Om! Makasih, Om!" ucap Liam yang kemudian menutup telepon.
"Jadi gimana?" tanya Rena tak sabaran.
"Boleh."
"Yeay! Thanks, Am!"
"Sama-sama!" balas Liam.
"Gue heran sama Bokapnya Rena, dia kalau sama Liam luluh banget dibanding sama anak sendiri," celetuk Arjuna.
Esa mengangguk setuju.
"Kalau bukan Liam yang mintain ijin, belum tentu Rena boleh pergi. Jujur sama gue, Am! Lo pakai mantra apa? Jimat dari dukun mana? Sampai-sampai Bokap Rena yang terkenal killer itu bisa luluh. Cuma sama lo doang, loh...." ucap Esa.
"Ya mungkin karena orang tua gue sama Rena yang udah temenan sejak lama. Jadi Bokapnya Rena percaya kalau Rena pergi sama gue," jelas Liam.
"Bisa juga, sih! Tapi itu belum menjawab rasa penasaran gue. Kaya ada sesuatu yang ngeganjel," ucap Arjuna.
"Ngeganjel pantat lo. Masuk akal lah, ucapan Liam itu. Itu karena pertemanan kedua orang tua mereka. Apalagi mereka sering terlibat bisnis bareng. Sok serius lo!" ucap Levina.
"Udah nggak usah ribut. Kita pergi sekarang aja, yuk!" ajak Liam.
Rena mengangguk senang. Mereka kemudian meninggalkan kelas itu.
.....☆♡☆.....
Anak-anak lain menunggu didepan sekolah selagi Liam mengambil mobil yang terparkir. Tak butuh waktu lama untuk menunggu. Mobil Liam datang dan mereka segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan sekolah.
Dijalan beraspal yang mereka lalui itu cukup lengang. Suara musik yang cukup keras memenuhi ruang kecil itu. Lagu Sheila On 7 - Hujan Turun membuat mereka ikut bernyanyi. Liam yang memegang kemudi menatap temannya yang ada dibelakang dari kaca spion dan tersenyum lebar. Disampingnya duduk Rena yang juga ikut bernyanyi.
.....☆♡☆.....
__ADS_1
Mereka berlima sampai di mall. Ketiga pria itu hanya mengekor mengikuti kedua gadis itu belanja. Tidak. Lebih tepatnya, Levina yang belanja banyak barang. Ketiga pria itu bahkan harus membawakan barang belanjaan Levina. Hampir semua toko pakaian Levina masuki. Sekedar melihat-lihat atau membelinya. Arjuna jengah melihat Levina yang tengah memilih-milih pakaian dengan dibantu Rena.
Selesai transaksi, Levina memberikan barang itu untuk Arjuna bawa. Kemudian tunggang langgang memasuki toko lain. Begitu seterusnya. Hingga Arjuna yang tak tahan meluapkan kekesalannya.
"Lev! Kapan selesainya? Kita berasa kek babu bawain barang lo. Lo nggak lihat tangan kita udah penuh sama barang belanjaan lo?" ucap Arjuna kesal.
Levina yang berjalan didepannya itu menghentikan langkah dan mendekati Arjuna. Menatap Arjuna dengan intens.
"Yakin berhenti disini? Padahal gue punya hadiah buat kalian. Jam tangan keluaran Vontifex model terbaru. Ada ditas gue. Tapi, kayaknya kalian udah kecapekan. Yaudah, kita stop, ya! Padahal masih ada dua toko lagi yang belum gue lihat. Dan itu berarti, jam tangan kalian hangus. Sayang banget..." ucap Levina yang pura-pura sedih.
"A-apa? Vontifex? Haha? Bercanda lo? Siapa bilang kita berhenti disini? Padahal gue cuma nanya lo tadi. Lo bilang masih ada dua toko lagi, 'kan? Ayo! Kalau perlu, nanti biar gue yang bawain barang-barangnya," ucap Arjuna semangat yang kemudian berjalan lebih dulu.
Levina tersenyum asimetris.
Puas berbelanja, mereka kini berada diarea timezone. Berbagai macam permainan mereka coba. Bahkan mereka sampai adu memasukan bola basket ke dalam ring. Mereka juga bermain pump it up dengan kelima-limanya ikut bermain dengan lincah. Tembak-tembakan, permainan capit,dan masih banyak lagi. Mereka tampak bersenang-senang tanpa henti. Tak lupa mengabadikan momen kebersamaan mereka di Photobox yang tersedia disana. Berbagai gaya mereka tampilkan, mulai dari yang imut sampai paling konyol.
.....☆♡☆.....
Salah satu ruangan karaoke ditempat karaoke itu menjadi satu-satunya ruangan yang paling berisik. Semua yang ada diruangan itu benar-benar heboh dan mewujudkan bentuk dari kesenangan yang sebenarnya. Kelima anak berseragam sekolah itu tengah bernyanyi bersama-sama membawakan lagu yang lagi-lagi lagu Sheila On 7. Tak heran sebab kelimanya adalah Sehila genk. Levina dan Arjuna bahkan sampai berduet menyanyikan lagu Anang Ashanty.
Selesai karaoke, mereka menuju food street. Mereka berjalan diarea food street, menjajal makanan kaki lima yang mereka inginkan. Mulai dari sosis bakar, cumi bakar, cuanki, takoyaki, es krim, dan masih banyak lagi.
"Eh! Lo buta? Kalau jalan liat-liat, dong!" teriak preman itu.
"Maaf, Pak! Saya nggak sengaja," ucap Levina.
"Pak Pak.... Emang gue Bapak lo? Gue nggak mau tau. Sekarang lo bayar ke gue!" ucap si preman nyolot.
"Loh.... Kok bayar, sih? Saya 'kan udah minta maaf," ucap Levina tak terima.
"Ya gue nggak mau tau. Lo bayar atau gue habisin lo sekarang juga!" ucap Preman itu.
Liam bergerak menengahi antara Levina dan preman itu.
"Tunggu-tunggu! Maafin teman Saya, ya, Mas! Biar Saya yang bayar. Berapa, Mas?" ucap Liam sambil merogoh saku celana seragamnya.
Levina menarik pundak Liam menjauh.
"Kok jadi lo yang bayar, sih? Nggak!" ucap Levina.
"Oh! Jadi lo nggak mau bayar?!" ucap Preman itu.
__ADS_1
"Ya Saya nggak mau bayar, Mas! Sampai kapan pun juga nggak mau. Toh, Saya udah minta maaf. Dan buat apa juga Saya harus bayar ke Mas? Emang Mas jualan? Emang Saya punya hutang sama Mas? Kalau Mas nggak mau maafin yaudah. Toh, Saya nggak rugi apapun," ucap Levina.
"Dasar cewek kurang ajar!" ucap Preman itu yang kemudian melayangkan kepalan tangan pada wajah Levina.
Namun Levina berhasil menghindar dengan membungkuk dan meninju perut preman itu hingga preman itu mundur dan memegangi perutnya. Teman-temannya bahkan terkejut melihat Levina seberani itu. Oke. Mereka paham Levina adalah penyandang sabuk hitam, namun tak menyangka jika Levina akan membalas preman itu dengan tinjuan.
"Gue sopanin malah ngelunjak, ya! Lo pikir gue takut apa sama lo?!" ucap Levina.
Teman-teman Levina mencegah Levina agar tak menyerang lagi.
"Lev! Udah! Nggak usah cari gara-gara. Lagian apa susahnya, sih, bayar?" ucap Arjuna.
"Apa lo bilang? Apa susahnya? Ya sayang lah duit jerih payah orang tua gue buat bayar ke orang yang kerjaannya cuma malakin doang!"
"Bacot!" seru preman itu yang kembali mencoba menyerang Levina lagi.
Levina mencengkram tangan yang hampir meninjunya dan segera memelintirkan tangan itu ke belakang tubuh sang preman, lalu menendang pantat si preman dengan kakinya sekuat mungkin hingga si preman jatuh tersungkur.
"Udah-udah! Kenapa jadi kelahi gini, sih?" ucap Esa frustasi.
Ternyata, Rena dan teman-temannya yang tak menyadari sekitar telah didatangi dua preman lain. Hanya Esa yang melihat kedatangan dua preman yang badannya lebih besar berotot itu.
"Mampus!" celetuk Esa.
Mendengar perkataan itu, teman-temannya melihat ke arah pandangan Esa dan melihat kedua preman itu. Salah satu preman bertubuh cungkring yang sempat jatuh itu pun sudah bangkit kembali. Terlihat ketiga preman dalam satu kubu tersenyum meremehkan.
"Nggak ada cara lain. Kita harus kabur," bisik Liam.
Teman-temannya yang mendengar hal itu mengangguk pelan dan menunggu aba-aba.
"Satu..." ucap Liam nyaris tak terdengar.
"Dua...."
"TIGA!! KABUR!!" teriak Liam.
Mereka berlima lantas berlari menghindari ketiga preman yang terus mengejar mereka.
"WOY! JANGAN KABUR KALIAN! BERHENTI!" teriak salah satu preman.
Mereka berlima terus berlari sekuat tenaga. Menjauh sejauh mungkin. Dan dipelarian mereka, mereka tertawa bahagia.
__ADS_1