Wish You Know

Wish You Know
Chapter 13 : Why is The Past Always So Painful?


__ADS_3

.....☆♡☆.....


Sepulang sekolah, Rena, Arjuna, Esa, dan Levina tengah menyantap makanan yang mereka pesan dikafe tempat mereka biasa kumpul. Levina yang berkata akan mentraktir itu pun menepati janji. Hanya saja, Liam tak bisa ikut karena ada kegiatan lain.


"Harusnya lo sering-sering baik gini ke teman. Traktir makan. Seminggu tiga kali juga boleh, deh, kalau dua hari sekali keberatan," ucap Arjuna.


"Lo kira minum obat pakai tiga dua kali. Masih untung lo gue ajak. Tau gini lo enggak usah gue ajak. Apalagi kalau ingat tadi siang gue udah lo kerjain sampai perut gue mules," ucap Levina.


"Bercanda, elah. Serius amat, sih! Nanti gue antar ke Dokter, deh, kalau perut loasih kerasa sakit. Tapi biaya nebus obat tetap elo yang bayar. Hehe," kekeh Arjuna diakhir kalimat.


"Nggak tau diri banget emang si Ajun," celetuk Esa.


"Sadar diri. Lo juga sama," ucap Rena pada Esa.


Seketika mulut Esa mengatup rapat. Arjuna yang melihat hal itu tertawa terbahak-bahak.


"Sesama nggak tahu diri emang dilarang saling menjatuhkan, sih, Sa! Lo liat tuh, balasannya. Haha!" tawa Arjuna.


Levina memutar kedua bola matanya malas. Memang diantara ketiga priabitu sepertinya hanya Liam saja yang normal.


"Sa! Lo masih punya video yang tadi? Kirimin ke gue, dong!" pinta Rena.


"Video apaan?" tanya Liam.


"Jadi tadi siang si Pram bikin masalah ke adik kelas. Hampir aja bonyok kalau Rena enggak nolongin. Tapi Rena juga hampir kena imbasnya kalau gue sama Esa nggak datang," jelas Arjuna.


"Pram Waketos itu?" tanya Levina.


"Yap!"


"Kalau lo lupa? Lo juga pernah suka sama Pram sebelum pindah haluan ke Orion. Makan, tuh, ganteng," celetuk Arjuna.


"Emang bangsat, sih, si Pram. Gue pernah lihat dia nyebat dibelakang kelas. Gayanya ikutan mimpin sosialisasi bahaya merokok. Taunya suka jilat ludah sendiri. Makanya gue pindah haluan," ucap Levina.


"Disekolah kita masih banyak anak model dia. Cuma tertutup rapat aja. Yang gue dengar juga Pram jadi Waketos karena nyogok anak-anak," ucap Esa.


"Waw! Kalau yang itu gue baru dengar," ucap Levina.


"Bokapnya Pram terkenal keras. Diktator. Pram bahkan selalu bisa nutupin kesalahannya supaya nggak sampai ditelinga orang tuanya," ucap Esa.


"Tau darimana lo?" tanya Arjuna.


"Btw, yang kita tolongin tadi itu adik tirinya Pram. Sepupunya Pram itu cewek gue.  Dan waktu SMP gue pernah satu kelas sama dia. Jadi, cukup lah buat tau tentang kehidupan dia," ucap Esa.


"Dimas adiknya Pram? Berarti Dimas bisa lebih terancam, dong, karena tinggal satu atap sama Pram," ucap Rena.


"Kemungkinan besarnya... Iya," ucap Esa.


Rena terdiam.


Suara pesan masuk terdengar di HP Arjuna. Arjuna segera membukanya dan tersenyum senang.


"Gue duluan, ya! Ada janji sama cewek gue. Hehe!" ucap Arjuna.


"Cewek yang mana lagi sekarang?" tanya Levina.


"Sekolah sebelah. Cari rasa baru."


"Rasa baru gundulmu! Lo pikir makanan pakai rasa baru segala. Capek gue nasehatin lo. Terserah, lah, mau sama siapa juga. Hidup gue bukan cuma buat nasehatin lo," ucap Levina.


"Akhirnya bisa sadar juga lo. Dari kemarin-kemarin kemana aja," ucap Arjuna.

__ADS_1


Arjuna kemudian menyalakan motornya.


"Gue cabut dulu! Thanks traktirannya. Bye, semua!" ucap Arjuna yang kemudian meninggalkan mereka.


"Kalau gitu gue juga pulang. Na! Ayo gue anter!" ucap Liam.


"Nggak bareng gue aja, Na? Kita, 'kan, searah," ucap Esa.


"Gue trauma gara-gara pohon angker," sindir Rena.


Seketika Esa merasa tersindir.


Rena segera membonceng Liam yang sudah bersiap dengan motornya.


"Kita duluan, ya! Bye! Lev!" ucap Rena.


"Ok! Bye! Hati-hati!"


Rena dan Liam kemudian pergi dan menyisakan Esa dan Levina.


..☆♡☆..


Esa beranjak dari duduknya lantas melihat Levina yang belum juga beranjak.


"Lo nggak pulang?" tanya Esa.


"Nanti."


"Sopir lo belum jemput?"


"Gue nggak dijemput."


"Lagi nggak mau aja. Nanti gue pulang naik taksi. Lo kalau mau duluan, duluan aja."


"Ok. Gue duluan, ya!"


Levina mengangguk. Esa sudah melangkah beberapa langkah, namun terhenti ketika mendengar suara yang tak asing baginya.


"Loh... Lev! Lo disini?"


Esa melihat Alex yang memakai seragam berbeda dari sekolahnya tengah terlibat pembicaraan dengan Levina. Levina yang nampak malas meladeni pun beranjak dan hendak pergi, namun dihadang oleh pria itu.


"Lo mau pulang? Gue anterin, ya! Ada yang gue mau omongin juga ke lo," ucap Alex.


"Nggak! Gue nggak ada waktu buat ngeladenin lo."


Levina hendak pergi namun tangannya ditahan oleh Alex.


"Gue anterin lo pulang!" ucap Alex.


"Gue bisa pulang sendiri," ucap Levina cuek.


Levina berjalan melewati Alex, namun sepertinya Alex tak ingin melepaskan Levina begitu saja. Alex mencengkram tangan Levina kuat.


"Gue bilang pulang bareng gue! Mumpung gue masih ngomong baik-baik sama lo, Lev!" ucap Alex.


Levina mencoba melepaskan cengkraman Alex, namun tak bisa. Cengkraman itu terlalu kuat.


Tak tinggal diam, Esa mencengkram tangan Alex yang membuat Alex menatapnya tak kalah tajam.


"Dia bilang kalau dia nggak mau pulang sama lo, 'kan?" ucap Esa.

__ADS_1


Alex menepis tangan Esa yang otomatis membuat tangan Levina terlepas dari genggamannya.


"Gue nggak ada urusan sama lo. Nggak usah ikut campur!"


"Jelas ini urusan gue. Levina sahabat gue. Gue punya tanggung jawab kalau Levina sampai kenapa-napa gara-gara cowok brengsek kaya lo. Lo belum puas nyakitin Levina?"


Alex tersenyum asimetris.


BUGH!


Tinjuan itu melayang dipipi kiri Esa.


"Alex!!" teriak Levina.


Levina menatap Alex tajam dimana kini pria itu tersenyum meremehkan kearah pria yang baru dipukulnya.


"Lo apa-apaan, sih?! Nggak usah main pukul bisa?!" geram Levina.


Esa dan Alex saling melemparkan tatapan tajam. Pengunjung dicafe pun sudah mulai memfokuskan atensi kepada mereka.


BUGH!


Kini, giliran Esa yang memukul balik Alex hingga pria itu jatuh tersungkur. Pukulannya yang cukup keras membuat sudut bibir Alex mengeluarkan darah ketika Alex mengusap sudut bibirnya yang terasa perih dengan jemarinya.


"Sekali lagi gue lihat lo gangguin Levina, abis lo sama gue!" ucap Esa.


"Esa! Lo juga! Kita pulang!" ucap Levina sembari menarik Esa perfi dari tempat itu.


Alex berdiri dan memperhatikan kedua orang itu berboncengan naik motor meninggalkan kafe. Alex yang tak bisa menahan emosi itu pun melampiaskannya dengan meninju meja kafe dan berteriak frustasi.


.....☆♡☆.....


Jalanan yang mereka lewati begitu lengang. Tak ada siapapun selain mereka yang melewati jalan itu. Entah dari arah yang sama ataupun sebaliknya. Selama perjalanan pulang, Levina dan Esa sama-sama mengunci mulut. Hanya suara deru mesin motor yang mereka tumpangi dibiarkan mengisi pendengaran mereka hingga mereka sampai didepan gerbang rumah Levina yang bak istana. Levina turun dari motor dan merapikan rambutnya yang berantakan terkena angin selama perjalanan.


Esa khawatir. Suara bariton Esa memecahkan keheningan.


"Lo nggak papa?"


Levina tersenyum.


"Kan lo yang ditonjok. Harusnya gue, dong, yang nanya. Pipi lo nggak papa?"


"Lo masih suka sama Alex?"


Levina tertawa.


"Pertanyaan lo nggak ada yang lain?"


"Buat apa, sih, Lev! Lupain cowok brengsek itu. Lo berhak dapat yang lebih baik."


Levina hanya diam dengan senyuman kecil. Mengenang masa lalunya dengan mantan kekasih.


"Pertama kali gue kenal Alex, saat Alex gue lagi patah hati. Dia yang nyembuhin luka hati gue sampai gue akhirnya jatuh hati ke dia. Tapi.... Alex kesepian, Sa! Saat itu gue lagi sibuk buat persiapan olimpiade Matematika. Disaat Nyokap Alex meninggal, gue nggak ada buat dia. Gue tau kecewanya dia kaya apa. Gue jarang banget ada waktu buat dia. Dan disaat itu, ada seseorang yang bisa hibur dia, yang selalu ada buat dia. Kalau gue ada diposisi Alex saat itu, nggak menutup kemungkinan gue juga bakal ngelakuin hal yang sama, 'kan?"


Esa hanya menghela napas berat.


"Thanks udah nolongin gue tadi. Lo nggak tau seberapa pengen gue menghilang saat gue lihat dia lagi tadi."


Esa hanya diam. Dia kemudian mulai mengikis jarak, menarik Levina kedalam pelukannya sembari mengelus surai panjang Levina. Levina tak bergeming untuk sekedar membalas pelukan hangat itu.


Ini adalah satu alasan mengapa Levina masih belum memiliki kekasih lagi setelah putus dari Alex. Jika Arjuna yang hobi meledeki Levina itu mengetahui alasan ini, pria itu mungkin akan merasa sangat bersalah.

__ADS_1


__ADS_2