
.....☆♡☆.....
Sepulang dari klub sosial, Rena dan Levina berjalan menyusuri trotoar jalan.
"Semoga aja Pak Kepala Sekolah setuju sama saran lo tadi, Na!"
"Iya. Gue juga berharap gitu."
Mereka kemudian masuk ke sebuah toko aksesoris dipinggir jalan. Terlihat Rena dan Levina yang tengah melihat-lihat banyak aksesoris yang dijual. Mereka banyak mencoba bando, jepit rambut, anting, gelang, dan banyak lagi. Tak hanya aksesoris, toko itu juga menjual berbagai macam boneka. Setelah Rena dan Levina melihat boneka. Mereka kemudian menuju kasir untuk membayar apa yang mereka beli.
Rena dan Levina terlihat baru keluar dari toko dengan masing-masing membawa kantong plastik kecil berisi aksesoris yang dibeli. Mereka kemudian pergi menuju ke tempat tujuan selanjutnya dengan menaiki taksi.
Sampai ditemoat itu, Rena dan Levina menaiki sebuah anak tangga menuju satu-satunya sebuah rumah sederhana yang terlihat tua. Rena dan Levina sampai didepan rumah tua. Didepan pintu tergantung papan kayu bertuliskan Hylo. Ia mengambil kunci dikantong tas depan kemudian membuka pintu.
Mereka masuk kedalam rumah tua. Meskipun dari luar terlihat tua, namun didalamnya bersih dan rapi layaknya studio gambar anak fashion design dengan versi lebih sederhana. Rena menuju sebuah meja yang dindingnya tertempel beberapa desain baju yang telah diwarnai. Disisi lain terlihat manekin dengan gaun yang simpel telah jadi. Ada sebuah mesin jahit tua dan beberapa gulung kain warna-warni. Sementara Levina tengah melihat sebuah gaun yang telah selesai Rena buat itu.
"Waw! Ini bagus banget, Na! Kenapa enggak coba lo jual aja karya lo di online shop?" ucap Levina dengan decak kagum yang tak kunjung henti.
"Emang bakalan laku?"
"Coba aja dulu. Siapa tau ada yang tertarik. Sayang banget, 'kan, kalau bakat lo cuma dipendam."
"Coba nanti, deh!"
Rena kemudian menarik tempat duduk dan duduk disana. Ia mengambil dan membuka buku yang berisi banyak desain baju buatannya hingga menemukan lembar kosong. Ia mengambil peralatan menggambar dan mulai menggambar mulai dari sketsa hingga benar-benar menjadi gambar gaun berwarna ungu muda yang sangit cantik.
.....☆♡☆.....
Sinar mentari yang keemasan masuk melalui kaca jendela yang tak terhalang gorden. Dikamar itu terdapat beberapa piagam penghargaan baik musik maupun mata pelajaran, medali perunggu hingga emas, serta beberapa foto Rena yang memenangkan kejuaraan nasional hingga internasional.
Pintu kamar terbuka. Menampakan Rena yang baru sampai rumah masuk kedalam kamar. Rena kemudian meletakkan tasnya diatas meja belajar. Ia mengambil pakaian ganti dilemari pakaian dan menyambar handuk, kemudian keluar kamar.
Rena yang kini memakai pakaian rapi tengah memasak telur ceplok didapur. Setelah matang, Rena menaruhnya diatas nasi goreng didekat kompor, kemudian membawa nasi goreng itu ke meja makan dan memakannya sendirian.
.....☆♡☆.....
Rena yang berpakaian rapi dengan menggendong tas biola dan paper bag itu menuju sebuah rumah cukup besar dipinggir jalan. Ia menekan bel rumah. Setelah menunggu beberapa waktu, pintu rumah terbuka. Menampakan wanita berusia lima puluh tahun.
"Eh! Rena! Ayo masuk!" ajak Riana.
"Iya, Tante! Oh, iya! Ini ada sedikit oleh-oleh dari Ayah!"
"Wah! Sampai repot-repot. Tolong ucapkan rasa terimakasih Tante ke Ayah kamu, ya, Rena!"
"Enggak repot kok, Tante! Iya. Nanti Rena sampaikan."
"Ayo masuk!"
Rena kemudian masuk kedalam rumah dan bertemu suami Rena, seorang guru les musik keturunan bule.
__ADS_1
"Selamat sore, Om!" sapa Rena.
"Selamat sore! Kamu sudah makan?" tanya James.
"Udah, Om!"
"Beneran udah? Kalau belum kamu makan dulu aja. Sekalian temenin Tante," tawar Riana.
"Beneran, kok! Tadi Rena masak nasi goreng."
"Ya sudah. Kalau begitu kita langsung ke ruang musik, ya!" ucap James.
"Siap!"
Mereka kemudian menuju ruang musik. Rena tengah bermain biola dengan sangat lihai. Sementara James memfokuskan pendengaran dengan memejamkan mata. Seorang mantan violinis terkenal yang kini merangkap menjadi guru musik pribadi. Siapapun yang ingin belajar musik biola dengannya akan James terima dengan senang hati. Bagi James, bermusik adalah nyawanya. Kalaupun dia tak lagi bersinar dipanggung, masih ada generasi baru yang akan menunjukan bakat bermain biola dari setiap pelajaran bermusik yang telah ia berikan. Baginya, itu sudah cukup memuaskan hatinya. Tak jarang pula James menjadi juri disetiap kompetisi bermusik yang digelar. Ia juga seorang kritikus musik paling ditakuti para musikus.
.....☆♡☆.....
Malam itu pukul sebelas malam. Jalanan yang dilalui Rena cukup sepi. Tiba-tiba, seorang pria berpakaian serba hitam dan mengenakan masker serta topi tiba-tiba merampas tas biola milik Rena. Rena yang panik tetap mempertahankan tas itu.
"Tolong! Jambret!" teriak Rena.
Terjadi tarik menarik tas diantara mereka. Jalanan sekitar terlihat begitu sepi dan Rena masih memegang tasnya kuat-kuat. Rena bahkan sempat terjatuh namun bangkit lagi. Karena dress pendek yang dipakainya, membuat lututnya menghantam aspal hingga meninggalkan luka gores cukup besar.
"Tolong!"
Tiba-tiba saja jambret itu tersungkur setelah menerima tendangan dari pria berkacamata yang mengendarai sepeda. Rena terkejut bukan main. Tas miliknya telah berhasil berada ditangannya.
"Ampun! Tolong maafkan Saya!" ucap Jambret.
Dama hendak memukul lagi namun terhenti.
"Cukup! Lepasin dia!" ucap Rena.
Dama melihat Rena sekilas sebelum akhirnya berdiri dan membiarkan jambret itu kabur.
"Lo nggak papa?"
"Enggak papa! Makasih sebelumnya."
"Lo mau kemana? Mau gue anter?"
"Gue mau pulang. Makasih atas tawaran lo, tapi gue bisa pulang sendiri. Lagipula rumah gue udah nggak jauh dari sini. Sekali lagi makasih, ya!"
Dama memandang kepergian Rena sebelum akhirnya mengambil sepeda yang ia jatuhkan. Saat ia hendak meninggalkan tempat, ia melihat sebuah gelang silver milik Rena dan memungutnya.
Sementara disisi lain, Rena barusaja sampai rumah. Ia kemudian masuk kedalam kamar. Saat ia meletakkan tas biolanya diatas meja belajar, ia melihat kearah pergelangan tangannya dimana ia telah kehilangan gelang silver miliknya. Ia memutuskan untuk kembali ke jalan saat ia bertemu Dama dan mencari gelangnya. Lama mencari, ia tak menemukannya dan pulang dengan putus asa.
.....☆♡☆.....
__ADS_1
Tribun sudah dipenuhi dengan para siswa-siswi yang tengah melihat pertandingan basket antar dua sekolah yang sedang berlangsung. Rena dan Levina duduk diantara penonton di tribun. Para suporter dari masing-masing sekolah tak hentinya memberi semangat kepada para pemain dilapangan. Pun cheerleader dari masing-masing sekolah yang juga ikut memeriahkan pertandingan tersebut.
Scoreboard menunjukan informasi nama sekolah dan waktu pertandingan--
TURNAMEN BASKET
Quarter 4, SMA HARDHYA GARINI dengan Skor 39, SMA PURINUSA Skor 40 dengan timer yang tersisa adalah dua menit.
Tim basket Liam tengah berkumpul dipinggir lapangan untuk mendapatkan arahan dari pelatih basket sekolah. Begitupun dengan SMA Purinusa. Dua komentator pria, Rio dan Teguh terus memberikan komentar mereka selama pertandingan.
"Kita akan lihat seperti apakah strategi dari masing-masing tim dimenit-menit terakhir!?" seru Rio.
"Yap! Dimenit-menit terakhir ini adalah hal yang sangat menegangkan. Dimana kita akan melihat bersama-sama siapakah pemenang akhir dari turnamen basket tahun ini. Setelah tahun kemarin SMA Hardhya Garini yang menjadi juara, akankah akan kembali mendapatkan kemenangan ataukah justru SMA Purinusa lah yang akan akan menyandang sebagai pemenang turnamen di tahun ini," seru Teguh.
Terlihat para pemain sudah memasuki lapangan.
"Baik. Kita lihat para pemain sudah mulai kembali ke posisi mereka. Nampaknya para pelatih dari masing-masing sekolah mereka juga tegang mengingat dua selisih poin dimana SMA Purinusa lebih unggul. Akankah SMA Hargin bisa membalikan keadaan dengan waktu yang tersisa kurang dari dua menit," ucap Rio.
Para pemain dari SMA Purinusa terus berusaha untuk mendapatkan skor dengan berusaha membawa bola ke ring lawan. Namun Arjuna berhasil merebut dan membawa bola.
"Para pemain dari SMA Hargin sepertinya berusaha sangat keras didetik-detik terakhir permainan ini. Arjuna, pemain dengan nomor punggung 58 berhasil merebut bola. Kita akan melihat apakah SMA Hargin akan berhasil mencetak skor dan mengejar ketertinggalan," ucap Teguh.
Arjuna membawa bola itu menuju ring lawan. Saat berhadapan dengan lawan, Arjuna kemudian melemparkan bola itu kepada teman satu timnya namun bola berhasil ditangkis tim lawan.
"Nampak sekali bagaimana mereka berusaha sangat keras didetik-detik terakhir ini. Dimana yang kita tahu dua sekolah ini memang lawan yang sama-sama sulit. Untuk masalah skill seperti yang sering kita bicarakan, mereka semua ini bibit-bibit hebat!" seru Teguh.
Tim SMA Purinusa mencoba melakukan jump shoot namun bola gagal masuk.
"Benar sekali. Tadi kita lihat tim SMA Purinusa mencoba untuk menambah skor namun gagal. Dan bola kini kembali dibawa oleh Tim SMA Hargin," ucap Rio.
Teriakan suporter lebih keras daripada sebelumnya saat melihat Liam yang membawa bola.
"Liam dengan nomor punggung 07 mencoba membawa bola!" seru Teguh.
Liam masih membawa bola dan tim lawan yang terus berusaha merebutnya. Kesempatan Liam untuk membawa bola lebih dekat ke ring lawan sangat sulit. Sementara scoreboard menunjukkan waktu hanya tersisa 4 detik. Liam yang berada diluar garis tiga angka masih berusaha melindungi bola. Liam menatap ring lawan, dan kemudian ia melakukan shooting diluar garis tiga angka.
"LIAM MELAKUKAN SHOOTING!" Teriak Rio.
Bagaikan slow motion, detik waktu di scoreboard terus berkurang. Para suporter, komentator, maupun para pemain dan para pelatih melihat kearah bola yang dilemparkan Liam melayang diudara. Tepat 0.003 milidetik sebelum waktu benar-benar berlalu, bola sudah masuk kedalam ring dan menunjukan skor SMA Hardhya Garini bertambah 3 poin dan bel berbunyi menandakan pertandingan telah berakhir.
"GOAL! "
Sorak-sorai penonton memenuhi lapangan indoor. SMA Hardhya Garini memenangkan pertandingan dengan skor 42-40.
"Sungguh luar biasa sekali! Liam melakukan buzzer beater dan berhasil mencetak 3 skor!!" seru Teguh.
Pertandingan benar-benar telah usai. Kini masing-masing pemain dari dua sekolah itu terlihat bersalaman. SMA Purinusa keluar dari lapangan dan tim SMA Hargin beserta pelatih masih merayakan kemenangan mereka. Beberapa suporter juga turun ke lapangan ikut merayakan.
"Dengan ini kami nyatakan bahwa Tim SMA Hargin adalah pemenang kompetisi basket tahun ini. Selamat untuk SMA Hardhya Garini,"ucap Teguh.
__ADS_1
"Salam olaharga dan sampai berjumpa lagi dipertandingan-pertandingan selanjutnya," ucap Rio.
Para pemain dan pendukung SMA Hardhya Garini bersorak atas kemenangan SMA mereka. Pun dengan Rena dan Levina. Terlihat Liam melihat kearah Rena dan Levina. Liam tersenyum dan melambai yang dibalas lambaian dan senyuman pula. Salah satu alasan mengapa Liam begitu populer adalah karena dirinya adalah Kapten di olahraga tersebut. Tak jarang pula Liam mendapat pengakuan cinta dari banyak gadis disekolahnya, namun belum ada satu pun yang Liam terima. Setelah putus dari mantan kekasihnya yang pindah sekolah ke luar negeri, Liam tak pernah lagi terlihat dekat dengan satu gadis pun.