Yuanrang Monster Hunter

Yuanrang Monster Hunter
10. Tiga Pendekar Versus Hewan Buas (2)


__ADS_3

“Kenapa kau tidak menghilang lagi?” tanya Mengde.


            “Kalian yang senang,” kata hewan buas, “Bukankah itu sama saja memberi kalian waktu untuk memasang jebakan?”


            “Kalau kau segitu takutnya dengan jebakan kami, kenapa tidak kabur saja daripada menghadapi kami?” kata Yuanrang.


            “Kau … sejak awal selalu mengejekku ya?” kata hewan buas.


            Hewan buas tidak berkata-kata lagi. Dia langsung melompat dengan tangan kanan terbentang ke atas. Yuanrang sudah bersiap dengan dua pedang. Hewan buas mengayunkan pedang tapi ditangkis oleh Yuanrang. Meski sudah sekuat mungkin memasang kuda-kuda, tetap saja Yuanrang bergeser dan sedikit kehilangan keseimbangan. Ketika Yuanrang masih memposisikan kaki lagi, kaki kanan hewan buas berputar dan menendang bahu kiri Yuanrang. Posisi kaki yang belum sempurna membuat Yuanrang terlempar, menghancurkan pintu rumah dan melesat sampai ke dalam rumah.


            “Apakah tendanganku enak?” kata hewan buas.


            “Sangat enak!” kata Mengde.


            Mengde menyemburkan api ke hadapan hewan buas. Hewan buas melompat mundur. Sekuat apapun hewan buas, matanya cukup perih hanya karena radiasi panas dari api. Hewan buas selamat dari api. Tapi dia tidak mengira kalau api barusan tidak bertujuan untuk melukai hewan buas. Melainkan untuk membutakan dia. Telat menyadari, Mengde sudah berada di bawah kaki kanan. Secepat mungkin, Mengde menebaskan pedang ke mata kaki bagian belakang hewan buas.


            Hewan buas pun meraung keras. Dia mengambil batu dan melemparkan ke Mengde. Mengde sendiri gagal menghindari batu barusan. Melukai sisi kanan dahi hingga pendarahan. Lari Mengde terhenti karena pusing. Penglihatan Mengde pun berkunang-kunang.


            “Matilah, Nak!” geram hewan buas.


            Tembakan Miaocai menghentikan langkah hewan buas untuk membunuh Mengde. Tembakan barusan melukai bahu kanan hewan buas. Membekukan persendian bahu untuk mempersulit pergerakan. Hewan buas itu menatap dan menggeram pada Miaocai. Miaocai langsung menggenggam tombak lagi. Bersiap untuk bertahan karena hewan buas akan menyerang dirinya.


            Ternyata dugaannya salah, dia tetap mengincar Mengde. Meski syaraf bahu kanannya membeku sesaat, dia masih punya tangan kiri dan sepasang kaki. Ayunan serangan tangan dan kaki hewan buas begitu cepat dan kuat. Dari belakang, proyektil es yang cukup runcing melukai punggung hewan buas. Namun makhluk itu seolah tidak peduli. Dia terus menyerang dengan membabi-buta. Memang rasa pusing Mengde sudah hilang. Namun tetap saja menahan serangan hewan buas bukan hal yang mudah.


            “Kau otak mereka, ya?” kata hewan buas.


            “Kami punya otak masing-masing, hewan menjijikkan!” kata Mengde.


            “Kupotong tanganmu lalu kucabik-cabik otakmu!”


            Cakar kiri hewan buas mengarah ke lengan kanan Mengde. Mengde menahan serangan barusan dengan pedang. Lalu membakar lengan kiri hewan buas. Hewan buas itu menjerit. Mengde menggunakan kesempatan ini untuk menebas mata kaki. Dan ternyata berhasil. Namun, hewan buas berhasil menendang punggung Mengde. Mengde pun terlempar sejauh sepuluh langkah. Kini dua mata kaki hewan buas sudah terluka meski belum rusak sepenuhnya.


            “Jadi kalian memang sengaja menyerang kakiku?” geram hewan buas yang menahan sakit.


            Yuanrang muncul di depan Mengde dan berusaha melindunginya. Dia berkata, “Kau baru sadar? Ternyata otakmu lemot juga, ya?”


            “Bagaimana jika kupatahkan kaki kalian?”


            “Coba saja kalau bisa.”

__ADS_1


            “Akan kutekuk kakimu ke depan, anak-anak brengsek!”


            Hewan buas melompat lagi. Meski lompatan sekarang tidak sejauh dan sesempurna lompatan sebelumnya. Kali ini langsung menyerang sepasang kaki Yuanrang. Yuanrang menusukkan pedang ke tanah dengan mata pedang menghadap ke arah hewan buas. Begitu dekat, Yuanrang segera melemparkan dirinya ke samping. Tak mampu mengontrol lompatan, moncong hewan buas malah menghantam mata pedang. Mata pedang dan hewan buas pun terjatuh ke tanah.


            Dengan pengendalian logam, Yuanrang mengambil lagi pedangnya yang tergeletak. Dia mengamati hewan buas yang kini sudah berdiri dari posisi awalnya. Yang awalnya memunggungi para pendekar dan kini berbalik. Tangan kiri hewan buas memegangi muka. Bisa disimpulkan, jebakan pedang dari Yuanrang cukup sukses.


            “Kalian kumpulan bajingan cilik … ternyata berotak semua,” kata hewan buas yang mengusap darah di kepala.


            “Miaocai, bisa kita coba, ‘santapan udara’?” kata Yuanrang yang tidak mempedulikan perkataan hewan buas.


            “Kau ‘punya’?” tanya Miaocai, “Jangan gunakan dua pedangmu!”


            “Aku punya dua. Aku mendapatkan di dapur di dalam rumah. Sudah kusiapkan di posisi yang bagus,” kata Yuanrang.


            Santapan udara adalah kode dari taktik bertarung yang hanya dipahami oleh mereka bertiga. Miaocai hanya mengangguk dan langsung menggenggam tombak. Dia mengangkat tombak di atas bahu kanan dan melemparkan tombak. Hewan buas pun melompat ke samping. Namun gerakan Miaocai hanya tipuan. Miaocai tidak benar-benar melepaskan tombak. Tombak masih di genggaman. Di saat hewan buas masih di udara, dua bilah golak meleset ke sisi kanan dan kiri hewan buas. Pisau yang mengarah ke sisi kiri berhasil menikam perut hewan buas. Yuanrang mendekat melihat taktiknya berhasil.


            “Ggrrr!!” hewan buas itu membungkuk dan menggeram. Sambil berusaha melepaskan pisau yang menikam perutnya.


            Golok yang tadi terlempar ke sisi kanan hewan buas tidak sepenuhnya sia-sia. Kini malah melayang ke kepala kanan hewan buas. Hewan buas menggunakan golok yang menikam perut untuk menepis lemparan barusan. Golok yang tertepis barusan menghilang di kegelapan. Hewan buas menatap Yuanrang yang berdiri di hadapannya sejauh lima langkah. Kemudian, dia lemparkan golok barusan ke Yuanrang.


            Tidak perlu usaha yang besar bagi Yuanrnag untuk mengatasi lemparan golok. Golok barusan hanya berhenti di udara. Dengan santai, Yuanrang menggenggam gagang golok dan kini menjadi senjata ketiga.


            “Kau serius barusan melemparkan logam ke pengendali logam?” kata Yuanrang, “Aku sangat suka idemu.”


            Yuanrang menyilangkan tiga senjata besi ke depan. Terdengar benturan logam dan batu. Tangkisan Yuanrang berhasil menepis batu. Namun sialnya, pantulan batu barusan malah mengenai bahu kanan Miaocai.


            Lemparan batu barusan bertujuan untuk membutakan Yuanrang. Sesaat setelah melemparkan batu, hewan buas tadi langsung melompat dan menghantam tubuh Yuanrang. Dua petarung itu jatuh dan berguling-guling. Tidak menduga serangan barusan, Yuanrang cukup terkejut. Meski begitu, Yuanrang berusaha bangkit. Hewan buas mengangkat tangan kanan untuk membunuh Yuanrang. Namun, tombak api yang dilemparkan Mengde berhasil mencegah potensi serangan. Tombak api barusan menusuk tangan kanan hewan buas.


          “GRRAAAHHHH!!!” geram hewan buas.


            Selama hewan buas kesakitan, Yuanrang menggunakan momen dengan baik. Dia menggenggam erat pedang dan menebas dua sisi belakang lutut. Dengan pengendalian logam, Yuanrang menusukkan pedang dan golok masing-masing ke setiap mata kaki hewan buas. Raungan kesakitan hewan buas semakin terdengar nyaring. Dia membalikkan badan dan menendang Yuanrang. Yuanrang terlempar sampai terbatuk darah.


            Hewan buas sekarang berdiri di bawah Miaocai. Miaocai menggenggam erat tombak, terjun dan menusukkan tombak ke kepala hewan buas. Terasa beda. Batok tengkorak kepalanya jauh lebih kuat daripada lipan raksasa yang siang ini mereka hadapi. Ujung tombak tidak mampu menembus. Miaocai mencoba lagi dan mencoba menusuk bahu kanan hewan buas yang tadi sudah terluka karena panah. Miaocai memperkuat lapisan es di tombak dan menusuk bahu kanan hewan buas. Hewan buas menjerit, memutar tubuh dan mengibaskan Miaocai. Miaocai terlempar ke sisi yang sama dengan Yuarang.


            “Sakit??” kata Yuanrang yang masih terbatuk darah.


            “Lumayan. Untung aku sempat menangkis dengan tombakku,” kata Miaocai.


            Hewan buas menggeram karena menahan rasa sakit. Dia menatap Yuanrang dan Miaocai yang berdiri di selatan dengan penuh kemarahan. Lalu hewan buas menatap Mengde yang berdiri di utara. Para pendekar pun masih terengah-rengah. Mengumpulkan energi dan stamina lagi. Tidak bisa langsung memberi serangan beruntung meski momen ini cukup baik. Mereka cukup kelelahan karena lawan kali ini jelas lebih kuat daripada lipan.

__ADS_1


            “Gunakan ‘tangan panjang’!” teriak Mengde.


            Hewan buas tak paham apa maksud dari ‘tangan panjang’. Tahu-tahu, dirinya sudah dihujani oleh serangan jarak jauh yang bertubi-tubi. Dengan api, dengan proyektil es dan tertusuk berkali-kali oleh pedang dan golok sekaligus. Meski tubuhnya lebih keras dari manusia dan serigala biasa, dia tetap merasa kesakitan juga. Karena tak kuat, hewan buas masuk ke rumah untuk memulihkan diri.


            Seperti biasa, para pendekar berkoordinasi menggunakan kode-kode tertentu yang hanya dipahami oleh mereka sendiri. Makna ‘tangan panjang’ berarti serangan jarak jauh. Bahkan tidak hanya ‘tangan panjang’, mereka punya beberapa kode lagi yang bermakna sama dengan serangan jarak jauh.


            Para pendekar pun segera mendekati rumah tempat hewan buas bersembunyi. Memang hati mereka bernafsu untuk segera membunuh hewan buas ini. Namun otak mencegah mereka untuk bertindak gegabah. Entah apa yang direncanakan oleh hewan buas ini. Rumah punya dua lantai. Jadi ada dua kemungkinan. Dia keluar dari atas atau dari bawah. Terlihat juga rumah ini milik orang kaya. Tidak terbuat dari kayu. Hanya pintu saja yang terbuat dari kayu. Sebagian besar terbuat dari bata. Mereka juga sudah mengecek bagian samping dan belakang rumah. Tidak ada pintu belakang.


“Miaocai, tolong bekukan pintu dan jendela bagian bawah. Mengurangi dua kemungkinan menjadi satu kemungkinan,” kata Yuanrang, “Dia tidak akan bisa melihat dari dalam dan tak akan bisa keluar dari dalam. Keluar dari dalam sih bisa, tapi harus memukul.


            “Ide yan bagus, Yuanrang. Sekarang kita lihat. Apa yang dia rencanakan?” kata Mengde.


            “Yang pasti, bukan sesuatu yang pintar dan out of the box,” jawab Yuanrang.


Mengde tertawa, “Ah benar juga. Selama dia lebih bodoh dari kita, tidak akan menakutkan. Dia hanya besar di otot saja. Otaknya kecil.”


“Mungkin otaknya barang murah. Subsidi dari pemerintah,” respon Yuanrang.


“Jika dijual pun, pasti harus dijual dengan harga murah,” timpal Miaocai sambil menyegel jendela dan pintu lantai bawah dengan pengendalian es.


“Mau bagaimana lagi? Apa yang bisa kita harapkan dari barang subsidi?” kata Yuanrang.


“Perlu subsidi otak lebih banyak sepertinya,” kata Mengde.


“Benar,” kata Miaocai, “Dia akan mendapat subsidi tambahan jika sudah mendaftar jaminan sosial yang dibentuk oleh Dinasti Han.”


Tiga pendekar ini terbahak di tengah malam. Memang mereka terluka dan masih merasa sakit. Tapi seolah rasa sakit dan perih hilang sesaat karena candaan barusan. Setelah tertawa, mereka saling berbisik dan menyiapkan rencana baru.


“Apakah kita harus menggunakan ‘seni’ yang kita buat tadi sore?” tanya Yuanrang, “Kan kita sudah melukai bahu kanan, dua mata kaki dan sisi belakang lututnya.”


“Kok sepertinya tidak perlu ya?” tawa Mengde, “Ya kita lihat nanti sajalah.”


“Baiklah, aku pergi dulu,” kata Miaocai.


Sekarang hanya menyisakan Mengde dan Yuarang yang menunggu di depan rumah. Tepatnya, mereka berdua berada di rumah yang ada di seberang jalan. Sekarang tinggal dua pilihan bagi hewan buas. Dia akan keluar dari mana? Pertama dengan cara yang halus dan lebih mudah, yaitu dari lantai atas. Kedua, dengan cara yang kasar dan lebih sulit, yaitu menjebol lapisan es yang sudah dibuat Miaocai.


“Pilihan mana pun yang dia buat, akan mempermudah kita.”


Dari dalam rumah tempat hewan buas bersembunyi, terdengar suara amukan dan geraman. Hewan buas itu berusaha merusak lapisan es sekuat tenaga. Yuanrang dan Mengde tertawa melihat tingkah hewan buas ini.

__ADS_1


“Aku tidak terkejut. Otaknya pun terbuat dari otot,” kata Yuanrang.


“Dia hidup dengan slogan,” kata Mengde, “Kalau ada jalan yang susah kenapa memilih jalan yang mudah?”


__ADS_2