
“Guru, kita kan belum bicara dengan Livilla,” kata Mengde yang berbisik pada gurunya supaya tidak terdengar Xing Lian, “Apakah kira-kira mereka setuju soal tempat tinggal mereka berikutnya? Warga Romawi tinggal di sarang kumuh bandit?”
Yudhistira tersenyum dan balas berbisik pula, “Kalau menurutku, lebih banyak setuju daripada tidak setuju. Karena letaknya lebih condong ke utara, minimal sudah layak ditinggali manusia, jauh dari pemukiman penduduk dan terkenal banyak serigala di sini. Organisasi mereka juga dilatih untuk siap menghadapi banyak kondisi. Yah, kalau memang mereka tidak berminat, bisa kita carikan tempat lain. Yang penting mereka pindah dulu.”
Para pendekar dan Xing Lian sudah hampir sampai di kaki bukit Lang Xue. Di depan, Yuanrang bisa melihat keindahan perbukitan Lang Xue. Bukit Lang Xue menjulang di atas dataran sekitarnya. Mungkin, dari atas, Yuanrang bisa melihat pemandangan daerah sekitarnya yang sangat indah. Bukit Lang Xue ditutupi tanaman hijau subur. Ada dua pepohonan yang dominan di sini. Yaitu pohon bambu dan pohon yinxing. Selain itu juga penuh bunga liar berwarna-warni, atau beragam pohon, tergantung iklim dan lokasinya. Dari kejauhan Yuanrang juga bisa melihat puncak bukit Lang Xue. Puncak bukit cenderung datar atau landai. Ditambah dengan hamparan padang rumput yang luas atau terlihat berbatu. Perbukitan Lang Xue dihiasi oleh sekelompok pepohonan. Pohon-pohon ini digunakan hewan liar untuk berteduh. Ada kelinci, rubah, musang dan beberapa hewan mamalia di sini. Mungkin Qiong Qi masih kenyang. Sehingga para hewan liar masih bisa bertahan hidup. Qiong Qi belum sepenuhnya kehabisan stok mayat para bandit. Jika sudah kehabisan stok, kemungkinan Qiong Qi akan memangsa hewan-hewan di sini. Di kaki bukit inilah, Yudhistra menyuruh Xing Lian untuk tetap di sini.
“Guru yakin tidak mau bantuan lebih banyak dariku?” kata Xing Lian.
“Aku yakin butuh bantuan lebih banyak. Tugasmu yaitu sebagai pembawa pesan antara kita dan penguasa kan?”
Xing Lian menghela nafas, “Iya, deh.”
Para pendekar segera menaiki bukit. Meninggalkan Xing Lian. Mengde menoleh ke belakang mengamati Xing Lian. Wanita itu bersembunyi di balik pepohonan. Mengde mengembalikan pandangan ke depan. Mencoba menghilangkan rasa khawatir.
“Mata ke depan, Mengde,” kata Yuanrang.
“Ah, tidak, aku melihat rerumputan,” kata Mengde.
“Bagaimana rumputnya? Cantik? Putih? Tinggi? Atau bagaimana?” tawa Yuanrang.
“Berhenti!” perintah Yudhistira, “Miaocai! Sembunyi di pohon di belakang kita!”
Para murid Yudhistira pun segera menghentikan kuda. Yudhistira menunjuk ke satu titik di puncak perbukitan. Dari sana, muncul sesuatu. Para petarung segera turun dari kuda. Siap menyambut apapun yang datang. Yuanrang berjalan dan sekarang berdiri di sisi kiri Yudhistira. Mencoba mengamati dengan baik. Sesuatu itu berjalan perlahan lalu berlari. Dari tempat Yuanrang berdiri, bentuknya semakin jelas. Hampir seratus persen sesuai dengan deskripsi Yudhistira tadi. Ternyata tidak butuh waktu lama untuk menunggu Qiong Qi. Qiong Qi pun berdiri di hadapan para pendekar.
“Ah, kalian ingin membalas dendam kematian teman-teman kalian?” kata Qiong Qi.
Yuanrang mengamati kondisi fisik Qiong Qi. Sayapnya memang tinggal satu. Dari penampilan, memang efek kerennya berkurang. Dari persepektif fungsi pun juga sudah tidak maksimal. Dia tidak mampu terbang lagi. Dari kulit-kulit pun, ada beberapa batang panah yang menusuk kulitnya. Beberapa bagian kulit pun sudah lecet karena puluhan tebasan. Jelas para bandit sempat melakukan perlawanan yang gigih. Meski mereka tahu yang mereka hadapi bukan hewan biasa, para bandit jelas tidak mau rumah mereka dikuasai. Karena Qiong Qi sudah tidak bisa terbang dan terluka seperti ini, otomatis bukan pekerjaan yang sulit. Apalagi ada Guru Yudhistira di sini. Semua bisa dikerjakan lebih cepat. Meski begitu, Yuanrang tetap tidak mau meremehkan karena belum pernah menghadapi makhluk seperti ini sebelumnya.
“Tidak. Bukan itu tujuan kami,” kata Yudhistira.
Qiong Qi tidak langsung merespon kalimat Yudhistira. Monster itu mengamati semua penampilan fisik dan wajah para pendekar. Yudhistira memang sengaja tidak menyerang dulu. Karena masih ingin mendapatkan informasi dari Qiong Qi. Setelah mengamati, Qiong Qi kemudian tersenyum sinis dan kembali menatap. Terdengar suara geraman. Lalu Qiong Qi tertawa.
“Memang. Kulihat kalian bukan kawanan para bandit sialan itu. Seorang pria yang bukan etnis Cina dan dua pengawalnya yang dari etnis Cina,” kata Qiong Qi yang menatap Yudhistira, “Darimana kau, pria bertombak!”
“India,” jawab Yudhistira.
“India???” Qiong Qi tampak berpikir keras, kemudian tersenyum dan menggeram, “Aaaah, Aku ingat! Asia Selatan! Daerah Hindustan! Barat daya China! Dekat dengan Himalaya kan?”
“Ya begitulah. Apa kau membunuh semua bandit di sana?”
“Tidak semua. Ada beberapa dari mereka yang berhasil kabur dariku. Perlawanan mereka cukup gigih juga,” Qiong Qi menggeleng.
Kegigihan para bandit sudah jelas. Yudhistira sudah paham ketika melihat puluhan luka tebas dan anak panah yang menusuk-nusuk Qiong Qi. Tapi maksud Yudhistira bukan itu. Jika tidak ada bandit di sana, berarti tidak ada halangan lagi setelah mengalahkan Qiong Qi. Cukup mengalahkan Qiong Qi satu ini dan Bukit Lang Xue pun berada di genggaman.
__ADS_1
“Lalu apa tujuan kalian? Kenapa kalian sangat baik? Dengan ikhlas menyerahkan diri untuk menjadi mangsaku?” tanya Qiong Qi.
“Siapa yang memotong sayapmu?” tanya Yuanrang langsung.
“Seorang bajingan tua dari utara, Nak! Mengingat mukanya saja membuat perutku mual,” kata Qiong Qi, “Apakah tujuanmu hanya menanyakan hal itu? Kalau iya, sudah kujawab kan?”
“Kau sudah menguasai Bukit Lang Xue kan? Bolehkah kami menguasainya? Gantian, kan?” tanya Yuanrang
“Wow, boleh saja,” kata Qiong Qi, “Kenapa tidak kau coba mencuri Lang Xue dariku, Nak?”
Setelah menyelesaikan kalimat, Qiong Qi langsung melompat tinggi dan menyerang Yuanrang. Menggunakan gigi yang tajam yang siap meremukkan tengkorak kepala Yuanrang. Yuanrang pun berguling ke kanan sambil menebas kaki kanan musuh. Qiong Qi tak percaya penglihatannya. Karena dia melihat pedang yang seolah melayang. Mencoba menyerang lagi, Qiong Qi tak menyerah. Tapi dia sudah ditahan oleh tusukan tombak Yudhistira tepat ke perut, Sementara Mengde menyemburkan api yang menyebabkan Qiong Qi mundur.
Qiong Qi pun mundur dan matanya tampak terkejut. Kemudian, Qiong Qi terbahak, “Ternyata kalian bukan manusia biasa. Pengendali alam! Ha! Apa kalian anggota pasukan pelindung jalur sutra??”
“Tidak juga,” kata Yuanrang.
Tombak Yudhistira melayang di udara. Lalu melesat cepat ke mata Qiong Qi. Qiong Qi bergeser ke kiri dan langsung mencoba menyerang Yuanrang. Kali ini dengan cakar. Yuanrang menangkis cakar kiri barusan. Kemudian Qiong Qi mencakar dengan tangan kanan. Lagi-lagi, Yuanrang berhasil menangkis. Tombak Yudhistira melayang ke kaki belakang Qiong Qi. Tusukan Yudhistira gagal mengenai Qiong Qi karena makhluk itu langsung berguling.
“Menyerangku dari belakang, Pria India?” kata Qiong Qi.
Tak ada jawaban dari para pendekar. Sudah terkepung dari tiga arah, Qiong Qi malah mendapat serangan tombak dan pedang yang melayang, semburan api dan tembakan panah es. Namun Qiong Qi berhasil menghindari semua serangan.
“Panah apa barusan?” kata Qiong Qi.
“Kau … cukup hebat juga …” kata Qiong Qi.
“Kau saja yang melemah, kawan harimauku,” kata Yudhistira.
Tanpa disadari Qiong Qi, Yuanrang memberi isyarat kode. Miaocai yang bersembunyi di pohon segera melapisi panah dengan es dan menembak. Panah es barusan menusuk kaki Qiong Qi. Karena masih syok dengan cobaan serangan Yudhistira tadi, panah Miaocai berhasil melukai kaki kanan depan Qiong Qi. Qiong Qi pun meraung keras. Kesakitan karena benih-benih es mulai mengacaukan syarafnya. Sebenarnya, teknik benih es yang mengacaukan syaraf ini membutuhkan energi yang tidak sedikit. Tapi karena hari ini, energi dan stamina Miaocai masih penuh, jadi tidak masalah. Selama dia kesakitan, para pendekar menghujani Qiong Qi dengan serangan bertubi-tubi. Qiong Qi semakin kesakitan karena tusukan tombak, tusukan pedang dan hujan api tanpa henti. Tak kuasa, menghadapi serangan seperti itu, Qiong Qi mundur lebih jauh lagi.”
“Tak ada gunanya melawan, Qiong Qi,” kata Yudhistira, “Serahkan saja Bukit Lang Xue pada kami, pergi dan jangan kembali.”
“Kau sudah melemah, harimau,” kata Mengde.
Qiong Qi melihat pepohonan di sisi selatan. Monster itu tidak menghiraukan perkataan Yudhistira dan Mengde. Karena sudah menyadari ada pendekar keempat yang bersembunyi di balik pepohonan. Qiong Qi menggeram merah. Mau bagaimana pun, dirinya sekarang tidak mampu membunuh pemanah yang bersembunyi di pepohonan.
“Kalian ada empat orang?” geram Qiong Qi.
“Ya. Itu jugalah alasan kenapa kau lebih baik menyerah, Qiong Qi,” kata Mengde, “Serahkan saja bukit Lang Xue pada kami dan pergilah yang jauh.”
“Aku bersumpah. Kalau bajingan tua itu sudah menyembuhkan sayapku nanti malam,” kata Qiong Qi, “Aku akan membunuh pemanahmu.”
“Jelaskan padaku siapa sebenarnya bajingan tua yang memotong sayapmu itu?” kata Yudhistira.
__ADS_1
“Akan kujelaskan jika kau mampu menyembuhkan sayapku. Apa kau mampu?”
“Kalau aku tidak mampu?”
“Aku akan mempertahankan Bukit Lang Xue sampai bajingan tua itu kemari! Jelas aku akan membunuh kalian!”
“Sebentar, teman Qiong Qiku yang gagah. Ada yang perlu kupastikan. Kau menaklukkan Lang Xue dari para bandit, lalu menunggu bajingan tua kemari untuk menyembuhkan sayapmu yang sudah dia potong,” kata Yuanrang, “Apakah itu bisa diartikan kalau bajingan tua itu sengaja memotong sayapmu, memperalatmu untuk menaklukkan Lang Xue lalu ke sini untuk mengklaim usahamu?”
Sadar karena tanpa sadar membuka rahasia, Qiong Qi tak banyak bicara lagi dan langsung berlari ke Yuanrang. Dia melompat bagai harimau yang mengincar mangsa. Dengan cepat, otak Yuanrang mengkalkulasi dimana kira-kira Qiong Qi mendarat. Yuanrang pun melompat mundur beberapa langkah. Setelah Qiong Qi mendarat dia melompat lagi. Yuanrang mengendalikan pedang dan mengarahkan pedang ke perut Qiong Qi. Qiong Qi berhasil menepis pedang hingga jatuh ke tanah. Namun tepisan barusan sudah dalam kalkulasi Yuanrang. Yuanrang berguling ke kanan. Lalu menembakkan dua pisau ke perut kiri Qiong Qi. Qiong Qi kesakitan tapi terus menyerang Yuanrang. Yuanrang kini memasang posisi bertahan. Fokus menangkis, menghindar dan menepis. Untuk serangan dengan cakar dan taring, Yuanrang masih bisa menangkis. Sekalian mencoba melukai dengan mata pedang. Karena permukaan kulit lebih lunak daripada kulit lipan. Untuk serangan dengan tanduk, memang agak susah karena lebih keras. Sehingga Yuanrang harus menghindari. Kalau tidak, malah terhempas. Mata Yuanrang tak sengaja menatap Yudhistira dan Mengde. Dua pendekar itu sebenarnya bisa saja bertarung. Tapi dikode oleh Yuanrang untuk tetap diam. Yuanrang terus mundur tetatur sambil terus bertahan. Tindakan Yuanrang bukan tanpa alasan. Dia sengaja menggiring Qiong Qi supaya lebih dekat dengan Miaocai.
“Kau hanya bisa menangkis, menepis dan menghindar??” kata Qiong Qi, “Apa kau terlalu bodoh untuk menyerang?”
Tidak terpancing oleh provokasi Qiong Qi, Yuanrang hanya berkata, “Lumayan untuk melatih kecepatan dan reflekku.”
Semakin murka dan malah terprovokasi, Qiong Qi berkata, “Kau pikir aku barang untuk latihan??”
Qiong Qi mempercepat dan memperkuat tekanan serangan. Yuanrang sadar, kalau begini, tidak cukup hanya modal reflek dan kecepatan tangkis saja. Sehingga harus kombinasi dengan menjaga jarak. Semakin sebal karena Yuanrang terus mundur dan menjaga jarak, semakin cepat pula perpindahan Qiong Qi untuk mengejar Yuanrang. Monster itu semakin sering melompat. Justru karena tindakan seperti itulah, Qiong Qi semakin cepat mendekati Miaocai yang bersembunyi di balik pepohonan.
Yuanrang memberikan dua jari kiri untuk Miaocai yang berada di belakangnya. Dua panah es pun menderu. Satu panah mengenai punggung Qiong Qi. Satunya lagi menusuk kaki kanan depan. Qiong Qi pun menjerit.
Meski serangan melambat karena bibit es yang mengacaukan syaraf, monster itu tidak menyerah dan terus menyerang Yuanrang. Di sini Yuanrang sadar. Meskipun Qiong Qi bisa berbicara seperti manusia, mau bagaimanapun nalurinya masih didominasi hewan. Kalau manusia, mungkin sudah menjauhi pohon supaya pemanah di atas sana tak bisa menjangkaunya.
Yuanrang kini mengubah mode bertarung. Dari yang awalnya total bertahan, kini mulai mengkombinasikan dengan serangan. Memanfaatkan kesempatan karena pergerakan musuh sudah melambat sesaat akibat benih es. Qiong Qi tak mampu menangkis dan bermanuver lebih cepat. Sayatan dan tebasan membuat Qiong Qi berlumuran darah. Tapi karena tetap tidak menyerah, Yuanrang sebal juga. Dia memutuskan untuk memberi serangan khusus.
Yuanrang mengkode dengan lima jari pada Miaocai. Lima panah dengan bibit es pun menghujani tubuh Qiong Qi. Maka semakin melambatlah gerakannya. Di sinilah Yuanrang memotong sayapnya yang tinggal satu. Membuat Qiong Qi menjadi harimau bertanduk biasa. Kemudian memotong kaki kanan depan.
“Terjun, Miaocai!!” teriak Yuanrang.
Dengan melapisi tombak dengan bibit es, Miaocai terjun dari pohon dengan tombak berlapis es yang mengarah ke bawah. Tusukan tombak barusan menembus tulang, rahang bawah dan hingga menyentuh tanah. Yuanrang pun mengakhiri makhluk malang itu dengan memenggal kepalanya.
“Hebat, hebat!” Mengde bertepuk tangan, “Kalian bisa mengatasi seekor makhluk yang sangat kuat hanya dua orang.”
“Tidak, Mengde. Tidak ada kepuasan atas kemenangan di sini. Qiong Qi ini sudah lemah, sudah cacat dan sudah tidak optimal lagi,” kata Miaocai sambil mencabuti anak panah yang bersarang di tubuh Qiong Qi, “Tanpa sayap. Kita tidak menghabisi Qiong Qi. Melainkan hanya menghabisi harimau biasa yang sudah terluka dan cacat.”
“Benar. Ingin rasanya aku menghadapi Qiong Qi yang benar-benar optimal dan tidak cacat,” kata Yuanrang.
Yudhistira tersenyum, “Bagus. Pemikiran yang bagus. Memang pada dasarnya Qiong Qi adalah makhluk yang kuat. Bahkan jenis Qiong Qi yang terlemah seperti dia pun masih dibilang kuat untuk kalian bertiga.”
“Kita tidak benar-benar hebat,” kata Yuanrang, “Sekarang bagaimana, Guru? Ayo, sebaiknya kita segera ke Lang Xue untuk memeriksa kondisi gua.”
“Lang Xue, ya? Tidak, Yuanrang. Setelah Qiong Qi ini tanpa sadar bercerita kalau dia hanya disuruh oleh 'bajingan tua' untuk menaklukkan Bukit Lang Xue, berarti bukit di sana masih belum sepenuhnya aman. Kalau kita ke sana sekarang, mungkin akan kosong. Tapi nanti pasti akan ada yang datang.”
“Lalu apa rencana guru sekarang?” tanya Mengde.
__ADS_1
“Kita kembali ke gua dan kita ceritakan ini semua pada Livilla,” kata Yudhistira, “Perlu diingat, jangan sampai Xing Lian tahu soal keberadaan Livilla dan partnernya.”