
Setelah empat hari persiapan, akhirnya hari perburuan telah tiba. Para pendekar akan memburu ular air raksasa yang menyerang para penduduk. Yudhistira harus ikut serta di misi ini karena selain ukurannya besar dan beracun, dia tidak mau murid-muridnya terseret ke dalam air. Membunuh musuh amfibi di dalam air sangatlah merepotkan. Kecuali ada pengendali petir di antara mereka. Dengan pengendalian petir, cukup sengat saja ketika di dalam air. Monster air akan tersengat juga.
“Pasti Guru pernah berkali-kali menghadapi monster air. Pertama kali menghadapi makhluk air, Bagaimana cara gu menghadapinya?” tanya Yuanrang.
“Iya. Selama ini kita hanya menghadapi monster darat,” kata Miaocai.
“Pertanyaan bagus. Kau menggali pengalaman pertama seseorang,” kata Yudhistira, “Tapi pengalaman pertamaku terlalu mudah untuk dijadikan contoh. Tidak cocok untuk kalian yang juga baru pertama kali. Karena dulu aku bersama dengan tim yang sempurna untuk berburu. Sempurna secara pengendalian maksudku. Waktu itu kami berburu ular laut di pantai barat India. Adik pertamaku, Bima, dia mampu mengendalikan tanah dan batu. Dia juga punya kemampuan fisik yang di atas normal. Sehingga pertahanan kami sangatlah bagus. Penyerangan pun tidak kalah bagusnya. Adik keduaku, Arjuna, dia mampu mengendalikan listrik. Ular pun tidak punya pilihan. Di darat dia kena dan di air di juga kena. Kemudian, dua adik kembarku, Nakula dan Sadewa, bagian serangan pendukung. Mereka berdua juga ahli dalam pengobatan sehingga kami tak perlu khawatir jika keracunan. Mereka sudah menyiapkan penawar dengan jumlah yang banyak dan kualitas yang tidak diragukan. Umur berapa ya waktu itu? Seingatku, lebih tua beberapa tahun daripada kalian.”
“Yah, seandainya di antara kita ada pengendali petir,” kata Yuanrang.
“Tapi guru kan juga sudah menyiapkan penawar,” kata Mengde, “Mungkin, kalau urusan air, kita memang perlu hati-hati. Tapi kalau urusan racun, kita tidak perlu khawatir.”
“Tetap berhati-hati, Mengde,” kata Yudhistira, “Memang aku mempelajari ilmu identifikasi racun dan pembuatan penawar dari Nakula dan Sadewa. Tapi tetap saja aku tidak sehebat mereka. Otomatis, kualitas penawar racun buatanku tidak sebagus buatan dua adik kembarku.”
Xing Lian juga membantu keempat pendekar untuk berburu ular raksasa. Sama seperti sebelumnya, dia bertugas sebagai transfer logistik dan pembawa pesan. Sebenarnya, empat pendekar juga dikawal oleh tentara. Namun para tentara hanya sampai batas aman saja yaitu di mulut hutan sebelum perairan. Xing Lian berperan menghubungkan empat pendekar dengan para tentara. Para tentara menghubungkan kondisi lapangan ke penguasa. Meski peran Xing Lian hanya sebagai pendukung, dia tetap dibekali senjata. Plus kuda tercepat dan terbaik. Hanya untuk jaga-jaga.
“Dimana para adik Guru Yudhistira sekarang?” Kata Xing Lian.
“Mereka menyebar ke seluruh dunia untuk mengajar. Sama sepertiku yang sekarang berada di Asia Timur. Bima mengajar di Kekaisaran Romawi. Arjuna mengajar di Persia. Nakula dan Sadewa bergabung dengan pasukan pelindung Jalur Sutra,” kata Yudhistira.
“Ah, begitu,” Xing Lian menghela nafas.
“Memang ide yang bagus jika niatmu meminta bantuan mereka,” kata Yudhistira, “Tapi kita tidak bisa mengharapkan bantuan mereka karena jarak yang jelas sangat jauh. Semisal kami semua berada di Dinasti Han, Mereka punya kesibukan masing-masing.”
“Guru Yudhistira, siapa sebenarnya anda?” kata Xing Lian.
“Seperti yang kau tahu, aku hanya brahmana biasa. Pertapa dari India yang sedang bertapa dan mengajar di Dinasti Han,” senyum Yudhistira.
“Bolehkah aku mengetahui lebih spesifik?”
“Spesifik bagaimana, Nona Muda?”
“Kau terlihat memiliki banyak pengalaman dengan monster. Kebijaksanaanmu juga sangat tinggi.”
“Ah, kau berlebihan memujiku. Untuk pengalaman, aku memang pernah bekerja sebagai pemburu monster di India, Kekaisaran Romawi dan Cina. Pernah juga membantu para pelindung jalur sutra. Yah, hanya beberapa kali saja. Tidak banyak. Tapi, menurutku, pengalamanku hanya sedikit. Aku masih harus terus belajar, belajar dan belajar. Dunia ini sangat luas, Xing Lian. Pengetahuanku hanya beberapa persen dari apa yang ada di dunia ini. Jika menurutmu aku bijaksana, ini juga bukan sesuatu yang berasal dari diriku sendiri. Selama aku berburu monster, aku juga belajar dari banyak orang yang punya pengetahuan dan pengalaman yang berbeda. Menurutku, aku masih jauh dari kata bijaksana.”
__ADS_1
Para murid Yudhistira hanya diam mendengarkan penjelasan gurunya. Mereka sebenarnya tahu siapa sebenarnya Yudhistira. Guru mereka jauh luar biasa dari penjelasan barusan. Bahkan mereka paham sifat Yudhistira sendiri yang sangat rendah hati. Namun para murid Yudhistira tidak mau menyebarkan identitas dan latar belakang gurunya. Mereka sangat setia pada Yudhistira.
Latar belakang Yudhistira sendiri pada dasarnya sangat kompleks. Yudhistira adalah pahlawan ketika dunia ini masih berada di era Mitologi India. Dulu dia juga adalah raja yang memerintah negara yang indah dan makmur bernama Kerajaan Indraprasta. Setelah mengalahkan para sepupu mereka yang licik, Yudhistira pun menguasai Hastinapura. Dari Hastinapura itulah Yudhistira menguasai seluruh daratan India. Selama berjuang, dia dibantu oleh keempat adiknya. Sering kali, mereka berlima disebut dengan Pandawa. Mungkin muncul pertanyaan, bagaimana mungkin seorang raja yang bergelimang penuh harta kemudian menjadi brahmana yang hidupnya lebih susah?
Setelah mengetahui pertanda-pertanda khusus yang terjadi di alam maupun kejadian-kejadian tertentu di India, para Pandawa memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi. Meninggalkan kehidupan mereka dari kasta Kshatriya menjadi Brahmana. Ketika menjalani hidup sebagai Brahmana, muncullah seorang Dewa di hadapan mereka. Memberi mereka pilihan untuk penebusan dosa. Pada dasarnya, Pandawa adalah orang yang baik. Namun, sebagai manusia, tetap saja mereka tidak luput dari dosa. Sang Dewa memberi dua pilihan: Menebus dosa di akhirat atau menjalani kehidupan di dunia dan mengajar para manusia di generasi berikutnya? Para Pandawa memilih alternatif kedua. Mungkin untuk orang sebaik mereka, tidak butuh waktu lama untuk menjalani penebusan dosa di akhirat. Tapi, mereka mempertimbangkan bahwa angkara murka harus dibendung.
Lalu bagaimana mungkin seorang terlahir ribuan tahun yang lalu masih hidup hingga saat ini? Atas konsekuensi dari pilihan penebusan dosa itulah, dewa mengubah para Pandawa menjadi Amar. Amar berasal dari Bahasa India. Jika diterjemahkan, berarti abadi. Amar adalah sebagian kecil manusia yang memang berumur panjang. Para Amar tidak bisa menua. Kondisi fisik mereka setara dengan manusia normal yang berumur dua puluh lima hingga tiga puluh lima tahun. Tidak bisa meninggal karena penyakit atau usia. Meski begitu, para Amar masih bisa terbunuh. Dalam Kekaisaran Romawi, para Amar disebut dengan Immortalis. Sedangkan para murid Yudhistira menyebut Buxiu. Yang secara bahasa berarti abadi juga.
Seiring berjalannya waktu, para Pandawa cenderung dianggap sebagai tokoh dari kisah mitologi saja. Tidak pernah dianggap benar-benar nyata. Seperti banyak orang bilang: sejarah akan berubah menjadi legenda dan legenda akan berubah menjadi mitos. Misal Xing Lian mengetahui kisah mitologi India ini, mungkin Xing Lian hanya menganggap Yudhistira ini hanya orang yang namanya terinspirasi dari tokoh mitologi. Bukan tokoh mitologi itu sendiri.
Selain karena faktor kesetiaan pada guru, faktor itu jugalah yang membuat para murid Yudhistira tidak mau menceritakan latar belakang Yudhistira. Tidak ada masyarakat yang akan mempercayai fakta bahwa ada manusia yang tetap hidup selama ribuan tahun dengan fisik yang tidak menua. Sedangkan, penampilan luar Yudhistira sangatlah sama seperti orang berusia tiga puluhan. Yang berbeda hanya etnisnya saja. Seperti orang India yang memakai busana khas Dinasti Han. Tidak ada yang mencolok.
Setelah berjalan di hutan selama beberapa menit, Para pendekar akhirnya sampai juga di perairan tempat tinggal ular raksasa. Kemungkinan besar, ular ini masih berada di sini.
Danau Xi ini sangatlah indah. Pemandangan yang sangat indah untuk dilihat, dengan pemandangan yang menakjubkan dan air sebening kristal. Dikelilingi oleh pepohonan dan bambu yang sangat menyejukkan. Danau Xi dikelilingi oleh hutan lebat, pegunungan yang menjulang tinggi, atau perbukitan. Tepi danau yang indah sering kali dikelilingi tanaman hijau subur, termasuk pepohonan, semak belukar, dan bunga liar. Menciptakan latar belakang warna-warni di perairan yang tenang. Kumpulan formasi pohon bambu memberikan latar belakang yang indah untuk air danau yang berkilauan. Permukaan danau sekarang terlihat tenang. Mungkin ular air raksasa yang tinggal di sana sedang tidur. Dari kejauhan, Yuanrang melihat permukaan air yang memantulkan pemandangan sekitarnya seperti cermin. Terlihat juga riak dan ombak yang tertiup angin, menciptakan efek yang memukau. Warna danau sekarang berwarna kelabu. Sebenarnya, warna danau dapat bervariasi tergantung pada waktu atau musim, dengan nuansa biru, hijau, dan abu-abu berpadu bersama. Udaranya bersih dan segar, serta aroma pohon pinus dan bunga liar memenuhi udara.
Sebenarnya, Danau Xi merupakan tempat tinggal yang cocok bagi para hewan. Penduduk kerap kali melihat berbagai jenis satwa liar, seperti ikan, burung, dan mamalia, yang terlihat berenang atau terbang melintasi air. Namun, sekarang tampak sepi. Hanya ada beberapa saja yang terlihat.
Ketika Danau Xi belum dikuasai oleh ular raksasa, penduduk sering beraktivitas di sini. Beberapa penduduk mencari ikan di sini. Sedangkan beberapa orang berada di danau ini untuk bersantai. Seperti berkemah, berperahu, atau untuk menenangkan diri. Namun sekarang sudah tidak bisa lagi. Semua keindahan dan kenikmatan hilang. Direbut oleh ular raksasa.
Strategi Yudhistira sebelum kemari yaitu membuat ular raksasa kelaparan selama berhari-hari. Dia sudah mengusulkan pada penguasa setempat untuk melarang para penduduk mendekati perairan. Masalah air juga sudah teratasi dengan membeli air yang cukup banyak dari provinsi tetangga. Selain itu, Yudhistira juha sudah mengusulkan untuk membendung semua aliran sungai. Mencegah hewan ini pindah ke wilayah lain menggunakan aliran sungai. Tapi Yudhistira sadar kalau dua cara itu tidak cukup. Seperti biasa, untuk memancing hewan buas, mereka juga membawa daging hewan. Cocok untuk memancing hewan buas yang sudah kelaparan berhari-hari. Tapi, daging hewan masih berada di mulut hutan. Diamankan oleh tentara. Setelah semua jebakan siap, Xing Lian akan kembali untuk mengambil umpan.
“Jika aku tidak berusaha lebih keras, kemungkinan itu jelas ada. Mengingat ular adalah hewan amfibi,” kata Yudhistira, “Namun, aku dan penguasa sudah menjalin komunikasi dengan para penguasa lain yang jaraknya cukup dekat dengan tempat ular ini. Penguasa lain menyebarkan para informan di sekitar sini. Jika ada yang melihat keberadaan ular, para informan akan melapor ke penguasa. Kemudian, penguasa akan melapor ke penguasa lain terkait pergerakan ular. Intinya, kami sudah membangun jaringan informasi. Hingga saat ini, masih belum ada laporan terkait penampakan ular. Bisa disimpulkan, ular ini masih belum berpindah tempat.”
“Baiklah, sebaiknya kita segera buat jebakan,” kata Yuanrang.
“Tunggu, ada yang perlu kutanyakan pada kalian,” kata Yudhistira, “Kalian sudah tahu kalau hewan yang akan kita hadapi ini punya racun. Bagaimana strategi kalian untuk mengurangi risiko racun?”
“Mengambil pengalaman dari lipan raksasa, kita harus mengetahui dulu bagaimana ular memproduksi racun. Kami tahu kalau lipan raksasa memproduksi cairan aneh dari organ yang dekat dengan leher. Tapi kami tidak tahu dengan bagaimana cara ular memproduksi dan menyerang dengan racun. Setelah tahu, strategi kami yaitu merusak proses produksi racun dan jalurnya,” kata Yuanrang.
“Baiklah, akan kujelaskan dulu bagaimana ular memproduksi racun,” kata Yudhistira.
“Guru tahu banyak tentang racun ular?” tanya Miaocai.
“Seperti yang kalian tahu, aku berasal dari India. Di sana ular adalah hal biasa. Sehingga pengetahuan tentang ular pun sudah cukup lumrah,” kata Yudhistira.
__ADS_1
Yudhistira pun menjelaskan bagaimana ular memproduksi racun.
Produksi racun pada ular melibatkan proses kompleks yang bervariasi tergantung pada spesies ular. Racun biasanya diproduksi di kelenjar khusus yang terletak di belakang mata ular yang disebut kelenjar racun. Kelenjar racun terdiri dari sekelompok penyusun tubuh yang memproduksi dan mengeluarkan racun ke dalam saluran yang mengarah ke taring ular. Taringnya berongga dan bisa dilipat ke belakang ke langit-langit mulut saat tidak digunakan. Saat ular menggigit mangsa atau pemangsanya, otot di kepala menekan kelenjar racun, memaksa racun melewati saluran dan masuk ke taring. Racun tersebut kemudian disuntikkan ke korban melalui taring berlubang. Komposisi racun ular dapat sangat bervariasi antar spesies dan bahkan antar individu dalam satu spesies.
Kelak, penelitian di dunia modern membagi racun ular menjadi dua jenis. Di China ketika masih Dinasti Han, jelas masih belum ada penelitian tentang jenis racun. Beberapa spesies menghasilkan racun yang terutama bersifat neurotoksik, sementara yang lain menghasilkan racun yang bersifat hemotoksik. Tapia da juga spesies yang menghasilkan racun yang mengandung campuran neurotoksin dan hemotoksin. Neurotoxin bisa berdampak ke syaraf. Yudhistira menyebut ini sebagai racun jenis pertama. Contoh dampaknya yaitu susah mengkoordinasikan bagian tubuh dan susah berbicara dengan jelas. Sedangkan Hemotoksin mempengaruhi darah atau pembuluh darah: beberapa menghancurkan lapisan pembuluh darah yang lebih kecil dan memungkinkan darah meresap ke dalam jaringan, menghasilkan perdarahan lokal atau meluas, sementara yang lain membuat darah kurang dapat dikoagulasi atau menyebabkan pembekuan cepat yang tidak normal, yang menyebabkan kolaps peredaran darah. bisa berakibat fatal. Yudhistira menyebut hemotoxin sebagai racun jenis kedua.
“Setelah kalian mengetahui cara bagaimana ular memproduksi racun, apa yang kalian serang?” tanya Yudhistira.
“Taring!!” tiga pendekar menjawab dengan kompak.
“Plus ekornya. Karena kita menghadapi ular khusus,” tambah Yuanrang.
“Bagus. Jadi nanti akan kita bagi. Yuanrang akan merusak racun di bagian ekor. Aku, Mengde dan Miaocai akan menjadi umpan dan mengatasi dua taring yang beracun,”, kata Yudhistira yang kemudian menatap Mengde dan Miaocai, “Memang kalau kalian kiata bisa menghancurkan dua taring akan lebih baik. Tapi tidak perlu sejauh itu. Minimal kita buat si ular tidak menyadari keberadaan Yuanrang. Selagi ular lengah, biarkan Yuanrang menebas ekornya. Setelah itu, kita berempat akan sama-sama mengatasi giginya.”
“Ah, mudah dipahami,” kata Miaocai.
“Tapi meski kita berhasil merusak semua jalur racun, tetap jangan lengah dan jangan merasa menang. Ular ini berukuran cukup besar. Meski semua jalur racun rusak, ular masih bisa membunuh kita dengan tubuhnya. Bahkan satu kibasan tubuh, mampu melemparkan kalian ke danau. Karena itulah kita juga perlu membawa ular ke hutan. Jauhkan dari danau,” kata Yudhistira, “Ingat. Jangan selebrasi dulu sebelum kita memisahkan kepala dari tubuhnya.”
“Siap, guru!!” jawab para murid Yudhistira
Para pendekar pun mulai memasang jebakan. Dibantu oleh Xing Lian. Yudhistira memprioritaskan jebakan es buatan Miaocai. Sementara Yuanrang membuat garis-garis untuk menandai dimana jebakan akan dipasang. Mata Yuanrang tak kuasa menahan diri untuk melihat keindahan danau. Ada seekor burung elang yang menukik turun ke permukaan danau. Sepasang cakarnya menyentuh permukaan air dan Yuanrang bisa melihat seekor ikan yang menggelepar di sepasang cakarnya. Baru tiga meter di atas permukaan Danau Xi, elang malang itu langsung dilahap ular raksasa. Ular raksasa langsung masuk lagi ke dalam danau. Yuanrang menelan ludah. Dia bisa melihat ukuran kepala dan diameter tubuh. Sisiknya pun bewarna kehijauan seperti zamrud. Sebelum semua bagian tubuh tenggelam ke dalam air. Yuanrang menoleh ke belakang dan melihat teman-temannya juga melihat ke danau.
“Kalian melihat apa yang aku lihat?” tanya Yuanrang yang langsung ditanggapi anggukan oleh semuanya.
“Aku melihat bahan makanan yang sangat banyak untuk penduduk,” tawa Yudhistira.
“Guru mau memberi makan penduduk dengan daging makhluk beracun seperti itu?” komentar Miaocai.
“Ular brengsek itu harus ganti rugi. Dia sudah memakan jatah ikan milik penduduk dan merusak lingkungan. Untuk racun, jangan khawatir, nanti kita coba menetralkan semua jenis racun. Tentu saja kita bersihkan juga, Miaocai,” kata Yudhistira.
“Ini masalah makan atau dimakan,” kata Mengde yang merasa tertantang.
“Kenapa kalian berempat malah terlihat menikmati seperti ini?” kata Xing Lian, “Apa kalian tidak melihat tanduknya?”
“Memangnya kenapa dengan tanduknya?” kata Yuanrang.
__ADS_1
“Be … be … besar,” kata Xing Lian.
“Bagus kalau begitu, kan? Cocok untuk hiasan di tempatku,” kata Yuanrang.