Yuanrang Monster Hunter

Yuanrang Monster Hunter
22. Lang Xue (2)


__ADS_3

Ini bukan pertanda baik juga bagi Yudhistira. Tombak Yudhistira terbuat dari paduan besi dan baja. Jika saling beradu melawan senjata yang diselimuti petir, maka akan tetap tersengat oleh petir juga meski tidak bersentuhan langsung. Itu karena logam adalah penghantar petir yang baik. Pilihan terbaik ada dua. Melapisi tombak dengan kain atau membuat tombak melayang. Untuk sementara, Yudhistira menggunakan pilihan kedua.


Jinnananluo menusukkan pedang ke kepala Yudhistira. Yudhistira memiringkan kepala ke kiri sambil menepis tusukan pedang ke kanan. Setelah tertepis, Jinnanaluo mengayunkan pedang dari bawah ke atas. Yudhistira merotasi tombak dari kanan ke kiri untuk menahan tebasan pedang. Sudah tertahan, Jinnanaluo menusukkan pedang ke lutut kanan Yudhistira. Yudhistira melemparkan diri ke kiri.


“Ah, kau menjaga supaya tidak terkena hantaran petirku?” kata Jinnanaluo.


Sambil melemparkan pisau. Jinnanaluo mengibaskan pedang. Tapi Yudhistira sebenarnya hanya memberi gerakan tipuan. Dia menghentikan pisau lempar di udara secara mendadak, setelah Jinnanaluo mengibaskan pedang, Yudhistira menggerakkan pisaunya lagi. Serangan barusan tetap gagal mengenai musuh. Karena Jinnanaluo menciptakan dinding petir. Pisau Yudhistira hanya terhenti di udara saja.


“Tak kena. Apa kau bo ...”


Merasakan bahaya dari belakang, Jinnanaluo langsung membalikkan diri dan memasang perisai petir. Berusaha menahan beberapa pisau lempar. Dari tadi sebenarnya Yudhistira mencoba menyerang dengan pisau lempar. Hampir semua serangan berhasil ditangkis oleh Jinnanaluo. Tapi Yudhistira tidak mengambil pisau lemparnya lagi. Membiakan berserakan di tanah untuk jebakan. Masih ada satu pisau lagi dan kali ini mengarah ke sisi kanan Jinnanaluo. Serangan ini terlambat untuk ditangkis. Terkejut, pisau lempar ini menusuk bahu kanan Jinnanaluo


“Kau ... Bajingan juga ...” kata Jinnanluo sambil mencabut pisau lempar dari bahu.


“Yah, meleset. Sebenarnya aku membidik lehermu,” kata Yudhistira yang terengah-rengah. Mengkonsentrasikan pengendalian logam ke banyak objek sekaligus dalam kondisi kurang cahaya bukan hal yang mudah.


Yudhistira melirik api yang dibuatnya tadi. Ukurannya perlahan mulai mengecil. Sepertinya bahan bakar di sekitar sudah mulai habis. Tak ada cara lain lagi untuk memperkuat sumber cahaya. Yudhistira harus mengelurkan api lagi. Padahal dia berniat menyembunyikan pengendalian apinya dulu. Sebenarnya ada cara lain, yaitu menyuruh Mengde keluar untuk menciptakan api. Namun itu berbahaya karena bisa merusak strategi bertarung. Mengde dan Miaocai seharusnya jangan keluar dulu. Yudhistira pun menciptakan api di tangan dan melemparkan ke beberapa mayat para bandit. Memanfaatkan lemak mereka.


“Ternyata kau juga mampu mengendalikan api, ya?” kata Jinnanaluo.


“Yah. Bisa tapi tidak terlalu baik dalam mengendalikan,” kata Yudhistira.


Yudhistira memfokuskan pengendalian logam ke gagang pedang yang digenggam Jinnanaluo. Tahu-tahu, pedang bergerak menusuk tuannya sendiri. Dengan reflek yang sangat cepat, Jinnanaluo menangkap pedangnya sendiri dengan tangan kiri. Tentu dia mengalami pendarahan. Kemudian segera melapisi lagi pedang dengan pengendalian listrik dan memperkuatnya. Supaya tidak diambil alih lagi oleh Yudhistira.


Jinnanaluo menjilat darah di tangan sendiri dan berkata, “Kau mampu memanfaatkan lengahku, pria India.”


“Apa kau tidak menyadari?”

__ADS_1


“Aku tahu kau berasal dari etnis India. Lalu kenapa kau bertarung sejauh ini?” tanya Jinnanaluo tanpa mempedulikan pertanyaan Yudhistira.


“Sederhana saja. Kan sudah kubilang aku melayani rakyat. Demi rakyat, aku harus membantu mereka


“Bukan usahamu. Maksudku kenapa kau jauh-jauh datang dari India hingga kemari?’”


“Aku diutus mendidik murid-muridku. Sesederhana itu.”


“Entah kenapa, aku susah mempercayai ucapanmu.”


Jinnanaluo tidak memperpanjang dialog lagi. Dia menciptakan satu tombak petir berwarna kuning. Kemudian, langsung saja melemparkan tombak itu ke Yudhistira. Serangan yang terlihat kuat tapi aslinya mudah dihindari. Yudhistira melompat ke kanan, menangkap muatan petir di pisau lemparnya. Lalu melemparkan kembali Jinnanaluo. Sebenarnya, mudah pula bagi Jinnanaluo untuk menangkis serangan barusan. Namun, dia telat merespon serangan muatan petir yang ada di pisau. Sehingga, meski sudah menciptakan perisai petir, tetap saja kekuatannya tidak maksimal. Karena muatan petir di pisau lebih kuat daripada perisai petir. Akibatnya, Jinnanaluo malah tersengat listriknya sendiri.


Kekuatan pengendalian petir bisa dilihat dari warna. Petir warna hijau paling lemah. Hanya mengejutkan biasa. Tidak melukai. Petir warna kuning bisa melumpuhkan tapi tidak melukai. Petir warna biru bisa melukai. Petir warna ungu efek lukanya lebih kuat daripada ungu. Paling kuat yaitu petir merah karena sangat fatal. Bisa langsung membunuh. Namun, petir merah sering kali membutuhkan energi yang jauh lebih banyak. Ada juga petir berwarna hitam. Petir hitam berada di luar ranking kekuatan pengendalian. Karena merupakan penggabungan antara pengendalian petir dan kegelapan. Efeknya memang tidak fatal. Tapi, selain melumpuhkan, energi dan stamina juga bisa terserap.


Jinnanaluo dalam kondisi nyaris lumpuh. Tapi dia segera menghisap kembali energi petir yang menyerang tubuhnya menjadi energi milik dirinya sendiri. Lumpuh pun segera hilang.


“Kalian tetap di sini. Kalau sudah aku beri tanda, keluarlah!” kata Yudhistira.


“Bagaimana kondisi makhluk itu?” tanya Miaocai.


“Aku sudah melukainya sedikit demi sedikit. Dia sekarang kabur. Tapi aku yakin akan kembali lagi,” jawab Yudhistira, “Tangannya terbakar. Mungkin dia butuh air untuk memadamkan.’”


“Guru tidak mengejarnya?” tanya Mengde.


“Mustahil. Dia mampu melompat tinggi dan jauh. Seperti belalang begitu. Itu juga alasan kenapa Miaocai mendengar suara teriakan satu orang di beberapa tempat yang berbeda. Sekuat apapun aku, tidak akan mampu menyamai jarak tempuhnya. Malah aku sendiri yang akan kehabisan stamina.”


“Guru, kenapa tidak mencoba serangan sergapan?” tanya Mengde.

__ADS_1


“Ide bagus. Baiklah. Aku akan bersembunyi. Tapi sebelum itu, gunakan dinding es untuk menutup pintu gua ini. Beri juga lubang-lubang supaya bisa tetap mendengar komandoku,” kata Yudhistira.


Yudhistira menembakkan panah yang diselimuti api lagi. Kali ini targetnya sedikit melenceng ke barat. Begitu menyentuh dedaunan kering dan benda yang mudah terbakar, api pun berkobar hebat. Dia segera berlari ke semak-semak dan menunggu kedatangan Jinnanaluo.


Tidak lama kemudian, Jinnanaluo muncul. Dia berjalan dengan tombak yang diselimuti listrik dan dikelilingi dengan bola-bola listrik berwarna biru. Sepertinya makhluk ini benar-benar berniat membunuh. Yudhistira menghitung bola listrik. Ada enam bola. Jelas itu bukan hal yang mudah untuk dilumpuhkan. Meski begitu, bukan berarti tidak Yudhistira tidak punya cara.


Cara Yudhistira yaitu menanamkan gumpalan api di pisau lemparnya. Lalu melemparkan semua pisau api ke enam bola listrik. Biarkan elemen api dan listrik saling menghancurkan. Bahkan efek terbakar bisa melukai Jinnanaluo sendiri. Tapi meskipun Yudhistira berhasil membakarnya, Jinnanaluo berpotensi kabur lagi dengan lompatan abnormal.


“Dimana kau, pria India? Kemari!! Hadapi aku!! Jangan pengecut!! Jangan kabur!!” teriak Jinnanaluo.


Yudhistira sebal mendengar bentakan barusan. Padahal, Jinnanaluo sendiri tadi kabur karena terbakar. Sekarang malah dirinya yang dikatai pengecut. Tapi tak ada gunanya juga jika harus terpancing emosi. Kepribadian Yudhistira sendiri juga cenderung sabar. Beda dengan adik pertamanya yang cenderung galak dan mengintimidasi.


Perlahan dan tetap tenang, Yudhistira mulai menjalankan taktik sergapan. Dia menembakkan tombak ke dua kaki Jinnanaluo. Membuat makhluk itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Sekarang dia panik. Di saat inilah, Yudhistira menembakkan semua pisau apinya ke bola-bola listrik. Dua energi yang tergumpal itu saling bertmbukuk dan meledak.


Tubuh Jinnanaluo pun terbakar hebat. Dia meronta-ronta di tanah. Mau kabur pun tidak bisa karena sepasang kakinya sudah tertusuk tombak. Supaya tidak menderita lebih lama, Yudhistira mengambil pedang milik Jinnanaluo, lalu memenggal kepalanya. Tubuh masih meronta beberapa kali selama lima detik, lalu tak bergerak lagi.


“Selesai sudah,” kata Yudhistira seraya menempelkan dua telapak tangan, “Semoga Tuhan memberimu keadilan di akhirat sana.”


Pertarungan pun selesai, Yudhistira mengambil semua yang sudah dilemparkan. Tombak dan pisau lempar. Kemudian memadamkan api dan berjalan kembali ke kedua muridnya.


Namun, langkah Yudhistira terhenti ketika mendengar sesuatu yang mendarat di belakangnya. Yudhistira pun menoleh ke belakang. Dua Jinnanaluo bertombak dan berpedang berdiri di belakang YudhistIra.


“Kau yang membunuh teman kami?” kata Jinnanaluo.


“Ya, begitulah,” jawab Yudhistira


Dua belah pihak itu saling menatap. Kemudian dua Jinnanaluo itu langsung menebaskan senjata ke Yudhistira.

__ADS_1


__ADS_2