
“Kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah?” kata Yuanrang.
Setelah menghantam berkali-kali dalam, akhirnya pintu es-es di bagian yang menyegel bagian bawah rumah rusak juga. Namun dia tidak kunjung keluar. Padahal Mengde dan Yuanrang sudah mempersiapkan diri. Yuanrang juga sudah mengkode Miaocai untuk bersiap dengan siulan. Setelah beberapa detik juga tidak keluar.
“Kenapa tidak jadi keluar?” tanya Mengde.
“Mungkin dia mendadak sakit perut, sembelit atau ada gangguan lain. Sehingga harus buang air dulu?” duga Yuanrang.
Mengde mengangkat bahu dan berkata, “Bisa jadi, ya.”
Tiba-tiba saja hewan buas melompat dari lantai dua. Langsung terjun dan mengarah ke Yuanrang. Saat sudah dekat, Yuanrang melompat dan memberikan dua tendangan sekaligus. Mendorong hewan buas ke jalanan. Di saat itulah Mengde mengaktifkan jebakan api. Dari tanah, jilatan api yang sangat besar keluar dan membakar tubuh hewan buas. Hewan buas menjerit dan berlari ke selatan mencari jalan kabur. Yuanrang dan Mengde langsung mengejar.
Ketika sampai perempatan, hewan buas menginjak jebakan es milik Miaocai. Dua kakinya tertembus duri-duri es. Keseimbangan pun kacau karena rasa sakit seperti menginjak paku dan dia pun tidak menyangka akan ada jebakan di sana. Mau berdiri pun susah. Setiap mencoba berdiri atau mencoba menggunakan kaki Sebagai tumpuan, dia langsung gagal. Karena duri-duri es yang cukup keras itu semakin menusuk kakinya lebih dalam. Mengacaukan keseimbangan. Tubuh sudah terbakar plus duri-duri es di kaki. Entah mana yang harus dibereskan dulu. Yang ada di pikiran hewan buas hanya berguling-guling berusaha memadamkan api.
Dari dalam rumah, melesatlah anak panah berlapis. Panah pertama menusuk kaki kanan dan panah kedua menusuk kaki kiri. Habis sudah harapan hewan buas. Miaocai muncul dengan tombak. Siap untuk bertarung jarak dekat.
“Makanya pakai sandal,” kata Miaocai yang melesatkan panah es ke bahu kirinya.
Di saat itulah, hewan buas menyadari tiga kesalahan yang dirinya lakukan selama ini. Pertama, karena terlalu gelap, dia tidak melihat ada duri-duri es di sana. Ditambah lagi dia sedang panik karena dilahap oleh api. Kedua, Setiap dia bersembunyi dari tiga pendekar, tiga pendekar ini tidak menyia-nyiakan waktu. Malah memanfaatkan waktu untuk mengatur strategi dan membuat jebakan. Kesalahan ketiga, yaitu terlalu meremehkan bocah-bocah ini. Dia menyesali keputusan untuk melawan tiga pendekar remaja ini. Otak hewan buas benci mengakui. Kalau tiga remaja ini sangatlah pintar dan sangatlah sempurna dalam berkoordinasi. Bahkan perasaan yang dia derita sekarang jauh lebih menyiksa daripada tusukan duri es, tusukan panah dan kobaran api. Sekarang, dirinya sudah nyaris lumpuh.
Serangan tambahan diikuti oleh Yuanrang dan Mengde. Yuanrang menusuk-nusuk tubuh hewan buas dengan brutal. Mengde juga membakar dengan api yang sangat besar. Raungan dan geraman hewan buas seolah tidak mereka pedulikan.
“Tunggu, tunggu, tunggu,” kata Miaocai yang menghentikan Yuanrang dan Miaocai, “Bukankah kita harus menginterogasi dia?”
“Ah, benar juga,” kata Mengde.
“Tidak perlu, Mengde,” kata Yuanrang yang masih mengendalikan tiga senjata tajam dan menusuk-nusuk tubuh hewan buas itu, “Dia sudah hampir mati. Sudah terlambat untuk menginterogasinya. Sekalipun kita menginterogasi dia, pada akhirnya kita harus membunuhnya. Tidak cukup jika hanya diserahkan pada penguasa. Dia memakan manusia, lho.”
Mengde dan Miaocai saling berpandangan dan mengangguk. Memang argument Yuanrang sangat benar.
Yuanrang meneruskan argumennya, “Bahkan dia tidak mengenal istilah negosiasi. Dia juga cukup bodoh dan tidak berharga. Selain itu hanya mengandalkan otot saja. Kalau cuma mengandalkan otot saja kan sangat bodoh. Bahkan kuli bangunan di Luoyang (ibu kota Dinasti Han pada saat itu), jauh lebih baik berotak dari dia.”
“Hei, hei, iya sudah. Aku setuju dengan pendapatmu,” kata Mengde yang kemudian menatap Miaocai, “Kita eksekusi dia. Tolong bekukan tangan dan kakinya, Miaocai.”
Proses eksekusi pun dimulai. Miaocai menarik nafas dalam lalu menghembuskan. Mengumpulkan energi dari alam. Teknik meditasi singkat. Penyegelan dengan es dilakukan mulai dari tangan dulu. Lalu berakhir di kaki. Hewan buas itu tidak bergerak. Entah hanya pingsan biasa karena tidak kuasa menahan rasa sakit atau memang sudah mati. Proses pembekuan tangan dan kaki memang perlu. Jaga-jaga kalau dia ternyata berpura-pura mati. Di akhir proses, Yuanrang dan Mengde memenggal kepalanya dari sisi yang berlawanan. Matilah hewan buas ini.
__ADS_1
“Apakah kita bisa tidur?” kata Yuanrang yang menyandarkan tubuh ke dinding rumah, “Aku sudah lelah.”
“Kita tidur saja di bagian selatan desa. Malam ini sangat melelahkan,” kata Mengde.
“Bahkan hewan buas barusan lebih melelahkan dari dua lipan tadi siang!” kata Yuanrang.
“Hei, ayolah. Ada banyak rumah di sini. Kenapa harus tidur di sisi selatan?” kata Miaocai, “Tinggal masuk rumah juga sudah selesai.”
Mengde mendengus dan menatap jauh ke utara. Kemudian dia berkata, “Hutan aneh ini ada di utara. Semakin kita jauh dari hutan, maka semakin baik. Jangan lupa kita masih punya musuh di hutan aneh itu.”
“Belum lagi kemungkinan lain. Kita belum sepenuhnya bisa menaklukkan hutan itu,” kata Yuanrang.
“Lalu mayatnya?” kata Miaocai yang menunjuk mayat hewan buas.
“Kita bawa ke teras rumah situ,” kata Mengde yang menunjuk rumah di belakangnya, “Setelah selesai, kita sebaiknya segera tidur.”
Bersama-sama, mereka membawa mayat hewan buas. Tapi mereka tidak kuat. Beratnya nyaris dua kali berat tubuh manusia biasa. Solusinya, Miaocai menciptakan lintasan dari es yang tebal, licin dan landai. Setelah selesai, tiga pendekar ini mendorong mayat. Tidak lupa mereka awetkan tubuh hewan buas dan kepalanya. Setelah selesai, mereka berjalan ke selatan.
“Pada akhirnya, jebakan yang kita buat tadi malah tidak terpakai,” kata Miaocai sambil meminum air.
“Ah, benar juga,” kata Miaocai yang menyerahkan botol air ke Yuanrang.
Yuanrang meminum air secukupnya lalu berkata, “Ya, berdoa saja. Semoga mereka tidak menyerang malam ini. Gila saja kalau mereka menyerang.”
Hanya Mengde yang terus diam dan termenung. Beberapa kali dia menoleh ke utara. Lalu menoleh ke depan lagi. Kemudian menoleh lagi ke utara. Seperti orang cemas. Sesekali juga dia menghembuskan nafas yang panjang. Hatinya tidak tenang karena masih ada potensi ancaman. Mengde tidak tahu kemampuan macam apa yang dimiliki dua orang pucat di dalam gua. Apakah ada hubungan antara hewan buas yang barusan mereka bunuh dengan dua orang pucat di hutan? Jika mereka berteman, maka keadaan akan buruk. Dua manusia pucat akan menyadari temannya yang tidak kembali. Lalu ada kemungkinan akan ke desa ini. Mengde sengaja tidak mengungkapkan kecemasan pada Yuanrang dan Miaocai. Mereka berdua nanti tambah panik. Sekarang bukan waktunya untuk panik. Sekarang waktunya beristirahat.
“Kenapa kau hanya diam, Mengde?” kata Yuanrang.
“Tidak apa-apa. Aku hanya lelah,” kata Mengde.
Mereka bertiga memeriksa beberapa rumah. Siapa tahu ada yang tidak dikunci. Setelah mendapatkan rumah yang terbuat dari batu bata, mereka segera masuk. Tidak lupa juga mereka memeriksa semua sudut rumah. Mengeliminasi semua pintu dan jendela yang bisa menjadi jalan untuk siapapun yang menerobos ke dalam. Akan buruk nanti jika musuh menyerang ketika mereka sedang beristirahat. Tidak hanya dua manusia pucat, mereka bertiga juga memperhitungkan serangan bandit yang berniat memanfaatkan situasi dan menjarah desa. Di rumah, ada dua pintu dan empat jendela yang mengarah langsung ke luar. Hanya menyisakan sedikit untuk ventilasi udara. Miaocai pun menyegel semua dengan dinding es. Setelah semua selesai, mereka masuk kamar dan menaruh barang-barang. Hanya Mengde dan Miaocai yang merebahkan diri. Yuanrang keluar lagi dan berjalan ke dapur.
“Meski kita sudah mengalahkan hewan buas. Kita masih butuh informasi makhluk apa yang kita kalahkan,” kata Mengde,
“Jelas. Baru pertama kali kita mengadapi yang aneh,” kata Miaocai, “Ada kemungkinan kita akan menghadapi yang aneh lagi.”
__ADS_1
“Besok, Xing Lian akan sampai dan mengantarkan surat dari Guru Yudhistira. Beliau akan menjelaskan makhluk apa yang kita hadapi tadi.”
Yuanrang muncul di depan pintu sambil menyantap roti mantou. Dia melemparkan dua roti mantou ke Miaocai dan Mengde. Tentu mereka sangat senang dan langsung memakan dengan lahap. Dari tadi mereka hanya meminum air. Haus memang sudah hilang tapi rasa lapar karena kelelahan masih ada. Roti mantou ini menyelesaikan masalah lapar.
“Tak kusangka masih ada yang meninggalkan makanan,” kata Miaocai.
“Mungkin mereka buru-buru,” kata Yuanrang sebelum meminum air.
Setelah melahap gigitan terakhir mantou, Mengde berkata, “Kita cari pemilik rumah ini, setelah semua selesai. Kemudian bilang kalau kita memakan mantou mereka. Kita berhutang tiga mantou hari ini. Kita bukan pencuri. Guru Yudhistira menekankan bahwa kita harus jujur.”
“Ah, buat apa?” kata Yuanrang, “Nanti di akhir kita akan mendapatkan hadiah dari penduduk desa ketika mereka kembali.”
“Oh ayolah, Yuanrang,” kata Miaocai, “Kita bukan bandit, kan?”
“Kita memang bukan bandit. Bandit mencuri semua dan meninggalkan begitu saja. Kita mengambil roti mantou setelah kita menyelamatkan desa mereka,” kata Yuanrang.
Mengde tertawa, “Alasanmu boleh juga. Di antara kita bertiga, kau yang paling bengal, Yuanrang.
Karena sudah lelah dan mengantuk, mereka bertiga pun segera tertidur. Memang sebelum menghadapi hewan buas berbulu hitam tadi, mereka sudah sempat tidur untuk memulihkan stamina. Tapi menghadapi hewan buas sangatlah menghabiskan tenaga lebih banyak daripada menghadapi dua lipan. Supaya besok lebih maksimal, mau bagaimana pun harus tidur.
Meski sudah tertidur, Yuanrang tidak bisa tidur dengan tenang karena bermimpi buruk. Dalam mimpi, dia berada di bangunan besar yang arsitekturnya sangat asing. Semua nyaris gelap. Hanya diterangi oleh obor-obor dengan nyala api berwarna merah. Di dalam bangunan, dia dikejar oleh belasan manusia berkulit pucat dan bertaring. Dia sibuk mencari-cari Mengde dan Miaocai. Tidak bisa berteriak karena takut kalau ketahuan manusia berkulit pucat. Dia sangat frustasi di situasi seperti itu. Mau kabur pun tidak mungkin. Karena prinsip Yuanrang tidak mau meninggalkan Miaocai dan Mengde dalam situasi apapun. Saking putus asanya, dia berharap Guru Yudhistira datang. Namun, Yuanrang tahu kalau harapannya mustahil. Dia bersembunyi di dalam ruangan gelap. Sampai ada suara langkah kaki menghampiri ruangan. Muncullah manusia berkulit pucat. Dengan cekatan, Yuanrang menutup mulut musuh, merobohkan, menikam berkali-kali lalu menggorok lehernya.
“Satu musuh jatuh,” kata Yuanrang, “Dimana kalian … Mengde … Miaocai …”
Yuanrang menyembunyikan mayat musuh ke bawah jerami. Kemudian dia bergerak lagi. Dengan rencana keluar desa dahulu. Kemudian meminta tolong pada penduduk dan penguasa setempat. Perlahan, akhirnya Yuanrang sampai di bagian bawah bangunan. Di sana dia mendengar derap suara langkah kuda.
“Penolong!!” kata Yuanrang.
Tiba-tiba, Yuanrang merasakan gempa bumi. Dia berpikir kalau bangunan akan roboh. Gempa bumi semakin kencang. Jelas Yuanrang semakin panik. Dia mencari celah untuk keluar sebisa mungkin. Kemungkinan besar, para kulit pucat akan segera keluar karena ketakutan juga. Meski taktik itu berisiko. Mungkin Yuanrang harus mencari jubah atau kain yang cocok untuk membaur dengan mereka. Lalu segera menyelamatkan diri.
“Yuanrang, bangun!” kata Miaocai, “Aku mendengar suara derap langkah kuda! Cepat bangun, Yuanrang!”
Terkejut karena kesadarannya masih di berada di alam mimpi, dengan mata terpejam dia berkata, “Bunuh mereka!”
__ADS_1