
“Mana pedangku?!” kata Yuanrang, “Kita tebas kepala bandit-bandit!”
“Tenang, Yuanrang!” bisik Mengde, “Diam dulu dan kita amati pergerakan musuh!”
Suara derapan kuda semakin mendekat. Kemudian melewati rumah tempat mereka menginap. Kemudian suara derapan kuda hilang sesaat. Beberapa menit kemudian, derapan kuda terdengar lagi. Dibilang menjauh juga tidak. Suara derapan kuda tidak segera menghilang. Pendengaran Yuanrang yang tajam menyimpulkan kalau penunggang kuda ini seperti mengelilingi seluruh lokasi pedesaan.
“Mungkin bandit,” kata Mengde, “Hanya orang bodoh yang berkeliling di desa ini malam-malam begini.”
“Bandit?? Seorang diri?? Aku mendengar, kira-kira hanya satu kuda,” kata Mengde.
“Siapa tahu sekelompok bandit mengirimkan satu utusan untuk memantau kondisi sekitar, kan?” jawab Miaocai, “Kemudian kembali lagi dan melaporkan ke pimpinan mereka kalau situasi sudah aman.”
“Ah, benar juga. Enak saja para bandit. Kita yang membunuh hewan buas dan mereka tinggal menikmatinya begitu saja,” kata Yuanrang, “Kita tangkap saja. Miaocai, buka pertahanan esmu!”
Miaocai menatap Mengde. Mengde pun hanya berkata, “Boleh juga. Lagi pula hanya satu orang, kan, lawan kita? Tinggal kita tangkap, sembunyikan dia ke rumah, ikat dia dan selesai sudah. Tinggal interogasi. Bandit tidak akan melapor ke pimpinan mereka.”
“Lalu kawanan bandit akan datang kemari karena kehilangan rekan mereka,” kata Miaocai.
“Tangkap atau tidak kita tangkap, sama saja, Kelompok bandit akan datang kemari, Miaocai. Kita selesaikan saja dulu yang ini,” kata Yuanrang.
“Begini rencana kita,” kata Mengde, “Pertama, hilangkan dulu es yang menyegel pintu depan. Kedua, ketika suara kuda mulai menjauh, kita panjat rumah. Ketiga, setelah dia mendekat, kita sergap dari atas. Jangan bunuh kudanya. Lumayan untuk kita jual.”
“Berarti tinggal kupanah saja sampai dia kehilangan keseimbangan,” kata Miaocai.
Yuanrang menggeleng, “Kita jegal saja sampai terjatuh. Aku pinjam tombakmu dan biarkan pengendalian logamku yang bermain. Panahmu sudah mulai menipis kan?”
Miaocai hanya mengangguk saja karena perkataan Yuanrang cukup efektif. Realita juga mendukung kalau panah Miaocai juga sudah bisa dihitung dengan jari. Sia-sia jika harus buang-buang panah hanya untuk menangkap bandit. Mereka pun mulai menjalankan semua rencana. Yuanrang berdiri sendirian di atas rumah. Sementara Mengde dan Miaocai berdiri di rumah seberang. Tombak Miaocai sudah diletakkan secara horizontal di tengah jalan. Siap untuk menjatuhkan bandit. Supaya tidak ketahuan, mereka tetap dalam posisi tiarap.
“Seperti biasa, kita gunakan siulan untuk berkomunikasi,” kata Yuanrang.
Suara derap langkah kuda semakin mendekat dan datang dari timur. Kemudian, kuda berbelok ke selatan. Namun, sayang sekali keadaan tidak sesuai ekspektasi. Penunggang kuda sekarang hanya menyuruh kudanya untuk berjalan kaki saja. Percuma. Sekalipun Yuanrang mengangkat tombak dengan pengendalian logam, si bandit tidak akan terjatuh.
__ADS_1
Begitu mendekat, penunggang kuda pun berkata, “Apa kalian menyergap musuh dengan cara seperti itu? Menyedihkan! Sungguh membuatku kecewa!”
Suara yang sangat dikenali tiga pendekar. Suara dari orang yang berjuluk Zhengyi Zhi Mao. Yang berarti Tombak Kebenaran. Untuk memastikan lagi, Mengde melemparkan api ke dekat si penunggang kuda. Cahaya api pun menerangi wajah penunggang kuda. Ternyata guru yang sangat mereka hormati. Yudhistira.
Yudhistira adalah seorang pertapa yang punya banyak pengalaman bertarung. Dia memenangkan peperangan besar di tanah India ribuan tahun yang lalu. Melawan saudara sepupu sendiri. Setelah semua kehidupan sebagai kasta Kshatriya selesai, Yudhistira mengabdikan diri menjadi Brahmana.
“Kau mau membunuh gurumu sendiri, Mengde??” kata Yudhistira yang kemudian tertawa,
“Tak kusangka guru sendiri yang kemari,” kata Miaocai.
“Aku juga tak menyangka kalian akan menemui musuh yang sangat langka,” kata Yudhistira yang turun dari kuda dan mengekang tali kuda ke pilar penyangga rumah, “Ayo. Segera turun. Aku bawa makanan untuk kalian.”
Di tengah situasi yang penuh potensi kematian dan ketidak pastina seperti sekarang, kemunculan Yudhistira cukup membuat hati mereka senang. Seolah kecemasan, ketakutan dan ketegangan pun sirna. Seperti orang yang tersesat di padang pasir lalu menemukan sumber mata air. Tiga pendekar pun segera turun. Mereka membungkuk bersamaan di hadapan Yudhistira. Dalam hati, Yuanrang juga sudah sadar, Kalau sampai Guru Yudhistira sendiri sampai turun tangan, berarti kasus kali ini lumayan berbahaya.
“Maaf aku terlambat,” kata Yudhistira, “Aku sudah melihat mayat manusia serigala. Kalian sangat hebat. Mampu menghadapi musuh yang cukup susah tanpa bantuanku.”
“Darimana guru tahu kalau kami akan menyergap?” kata Yuanrang.
“Kami tadi mengira bandit yang datang,” kata Miaocai.
“Kewaspadaan yang baik,” puji Yudhistira, “Jangan terlalu optimis dalam menghadapi semua situasi.”
Mungkin, ketika orang mendengar kata ‘pertapa’, orang akan membayangkan sosok tua, berkeriput, berambut dan berjanggut putih. Namun tidak untuk Yudhistira. Meski sudah berumur ribuan tahun, penampilan fisik Yudhistira terlihat seperti orang berumur tiga puluh tahun. Dia berkulit putih seperti etnis Arya pada umumnya. Kulit putih pun masih normal seperti manusia. Bukan seperti makhluk aneh bertaring yang ditemui tiga pendekar di dalam gua. Yudhistira juga memakai baju perang khas Dinasti Han seperti yang dipakai oleh murid-muridnya. Tangan kanan menggenggam tombak. Di punggung, dia membawa tas yang terbuat dari kombinasi kayu dan kain.
Tidak hanya kuat, Yudhistira juga sangat bijak untuk mendeteksi bakat dan kelemahan dari seorang pemuda. Dari deteksi itu pula, Yudhistira mampu mendidik dan memaksimalkan semua potensi dan meminimalkan semua kelemahan. Semua aspek keunggulan yang ada di tiga pendekar ini diasah oleh Yudhistira. Mengde yang otaknya paling menonjol, diasah ilmu analisis dan perumusan strategi. Yuanrang yang berbakat dalam pertarungan jarak dekat, mendapat ilmu pengendalian logam. Sementara Miaocai, yang ahli dalam pertarungan jarak jauh dan menengah, mendapat ilmu memainkan tombak dan memanah.
Tiga pendekar pun mengajak Yudhistira masuk ke rumah. Mereka sangat ingin bercerita tentang pengalaman hari ini. Namun Yudhistira segera menahan mereka. Malah menyuruh mereka untuk tidur. Cerita bisa dilanjutkan besok pagi ketika sarapan.
Besok pagi, sesuai rencana, semua petarung ini makan dan saling bercerita. Mengde menceritakan pertarungan melawan dua lipan raksasa. Dimulai dari penjelajahan hutan, pertemuan dengan hewan buas misterius, membunuh lipan jantan, masuk ke gua, bertemu dengan dua manusia pucat dan kemudian. Sementara Yuanrang menceritakan pertemuan dengan Xing Lian dan pertarungan melawan hewan buas.
“Ketika aku membaca surat dari kalian, pikiran dan hatiku berkecamuk,” kata Yudhistira, “Aku sendiri merasa heran dan sekaligus tidak percaya kalian menemui makhluk seperti itu. Seharusnya, di dataran China … tidak … hampir semua tanah Asia Timur, sangat jarang ada. Pertanyaanku, kenapa mereka ada di sini? Yah, terima kasih untuk Xing Lian. Kalian beruntung bertemu dengan Xing Lian.”
__ADS_1
“Bagaimana kondisi Xing Lian sekarang?” tanya Mengde.
“Itu yang kau tanyakan, Mengde? Serius?” tawa Yuanrang, “Kemarin, kau ngotot ingin mendapat informasi tentang manusia bertarung dan hewan berbulu. Sekarang, yang kau pikirkan, hanya Xing Lian?”
Miaocai juga tertawa, “Kalau urusan gadis cantik, langsung membuyarkan semua teka-teki yang muncul di otakmu, Mengde.”
“Hei, hei, hei …,” kata Mengde, “Tidak salah, kan … jika aku menanyakan kabar orang yang menolong kita.”
“Sudah, sudah,” Yudhistira terbahak, “Xing Lian masih aman dan sehat, kok. Setelah ini, dia mungkin akan datang membawakan anak panah dan bahan makanan untuk kalian.”
“Syukurlah,” kata Mengde.
“Syukuralah,” ulang Yuanrang dengan nada mengejek.
Kemudian Yudhistira berkata, “Sekali lagi, aku mohon maaf kepada kalian karena aku terlambat. Yah, ada sedikit urusan di danau. Ada laporan penampakan Goushe di sungai. Aku perlu menyelidiki sebentar.”
Goushe adalah hewan mitologi China yang berwujud ular besar. Dalam pengukuran dunia modern, panjang Goushe kira-kira dua puluh meter. Bagian ekor berbentuk mirip garpu berkait. Goushe sangatlah beracun, kejam dan agresif. Biasanya, Goushe hidup di aliran air di pegunungan. Biasanya Goushe menghabiskan waktunya sebagian besar di akhir. Ketika lapar, Goushe sering kali menculik hewan dan manusia. Kemudian menyeret mangsa ke dalam air. Laporan yang didapat dari penguasa setempat, ada beberapa anak kecil yang bermain terlalu dekat di danau. Kemudian, mereka terseret oleh Goushe. Tadi, Yudhistira harus bertarung melawan Goushe. Namun, Goushe berhasil kabur. Tapi, Yudhistira berhasil mengambil sampel racunnya. Lumayan untuk membuat penawar racun.
“Nanti kita akan menghadapi Goushe,” kata Yudhistira, “Kita fokus mengerjakan hutan terkutuk itu dulu.”
“Jadi aku kujelaskan dulu, murid-muridku,” kata Yudhistira, “Dua makhluk yang kalian temui kemarin, adalah monster dari Eropa. Sebenarnya disebut monster juga ambigu. Karena, ketika kita memakai kata ‘monster’, maka identik dengan makhluk yang bernaluri hewan dan bekecerdasan rendah. Yang kalian hadapi, mereka punya kecerdasan seperti kita. Ah sudahlah, lupakan tentang definisi. Yang jelas, bukan berasal dari China.
“Mereka berasal dari dataran Eropa yang sangat jauh. Tepatnya di wilayah Kekaisaran Romawi. Dua makhluk bertaring dan bertubuh pucat, orang-orang Romawi menyebut mereka dengan strigoi. Makhluk penghisap darah. Jika kebutuhan utama kita makanan, para strigoi membutuhkan darah. Gerakan dan kemampuan regenerasi mereka cukup cepat. Umur mereka lebih panjang dari manusia biasa. Manusia serigala yang kalian lihat juga berasal dari area Kekaisaran Romawi. Meski tidak secepat strigoi, manusia serigala lebih kuat. Kulit manusia serigala juga cukup keras. Tentu kalian sudah merasakan kekerasan kulit manusia serigala.”
Pikiran Yuanrang menerawang jauh dan membayangkan seperti apa Kekaisaran Romawi. Yuanrang tinggal di China sekarang yang dalam masa pemerintahan Dinasti Han. Di tanah barat yang sangat jauh dari China, ada peradaban tinggi bernama Kekaisaran Romawi. Yang peradabannya mampu menyaingi Dinasti Han. Saat itu diperintah oleh seorang kaisar bernama Aurelian. Yuanrang hanya mampu membayangkan kondisi di sana dari lukisan-lukisan para saudagar.
“Apa mereka punya kelemahan?” tanya Miaocai.
“Strigoi tidak tahan matahari dan mudah diracuni dengan racikan bawang putih. Mampu melemahkan mereka. Ada dua cara untuk membunuh strigoi. Yaitu dengan pemenggalan dan menusuk jantung mereka. Sedangkan manusia serigala bisa kita lukai dengan perak. Selain itu, manusia serigala yang kekurangan energi akan segera berubah kembali menjadi manusia. Mereka punya waktu transformasi. Untuk perak, aku sudah membawa dua puluh kepingan perak tajam. Plus dua pedang perak untuk Mengde dan Yuanrang dan dua puluh anak penah perak serta tombak perak untuk Miaocai. Jaga-jaga untuk menghadapi jika manusia serigala yang lain.”
“Apa guru tahu Jiangshi? Apa bedanya dengan strigoi?” tanya Yuanrang.
__ADS_1
“Beda. Seperti yang kita tahu Jiangshi adalah mayat hidup yang tidak sepenuhnya hidup. Memang secara fisik mereka terlihat hidup. Tapi tubuh mereka diisi oleh hantu atau setan sebagai pengganti jiwa. Intinya adalah wadah kosong yang diisi oleh sesuatu yang bukan pemilik dari wadah itu sendiri. Setan atau hantu pengisi berperan menjadi perantara untuk para penyihir dalam mengendalikan Jiangshi. Singkatnya, Jiangshi tidak benar-benar bebas dan hidup,” kata Yudhistira, “Sedangkan strigoi. Mereka sama seperti kita. Bebas. Wadah mereka sendiri dan tubuh mereka sendiri. Tidak dikendalikan oleh siapapun. Mereka benar-benar hidup. Untung tubuh strigoi dan manusia serigala tidak sekeras Jiangshi. Butuh tenaga yang sangat kuat untuk hanya sekedar menggores kulit Jiangshi.”