
Ketika sampai di tanah lapang, mereka Memotong bangkai induk lipan menjadi beberapa bagian. Kemudian mengangkut ke gerobak. Setelah semua selesai, mereka lanjut memasuki hutan dan berjalan menuju gua.
“Pintar juga kau, Miaocai,” kata Yudhistira yang melihat gumpalan es yang membungkus tubuh lipan raksasa “Mengawetkan tubuh bangkai.”
“Aku sendiri tidak tahu apakah lipan mengenal kanibalisme atau tidak,” kata Miaocai.
“Entahlah,” kata Yudhistira, “Tapi sepengetahuanku, jika kita menganalogikan dengan lipan kecil, normalnya mereka memakan daging atau tumbuhan. Umumnya mereka menyerang hewan yang lebih kecil dari diri mereka. Jadi, kemungkinan besar mereka akan memakan tubuh induk mereka. Selama mencium bau daging. Tidak tahu lagi kalau lipan raksasa. Aku memang pernah membunuh lipan raksasa ketika di daerah utara. Cuma untuk kebiasaan makan mereka, tidak sedetail itu.”
“Hewan apa yang jadi predator lipan?” tanya Yuanrang.
“Beberapa jenis burung pemakan daging atau serangga,” jawab Yudhistria, “Kalau lipan raksasa berarti kita butuh burung raksasa.”
“Berarti kita butuh bantuan Zhuque,” kata Mengde.
“Tak perlu memanggil makhluk suci seperti itu. Kita saja cukup mengalahkan induk lipan,” kata Yuanrang.
“Tapi sangat efektif kan jika kita dibantu Zhuque,” jawab Mengde
Zhuque termasuk hewan dalam mitologi China. Mungkin ukuran mereka sangat besar. Sehingga masuk kategori monster burung. Tapi sebenarnya tidak. Karena termasuk hewan suci. Berbentuk burung raksasa dan secara fisik mirip dengan banyak ekor. Tiap ekor mampu melecutkan api seperti panah. Zhuque sendiri disimbolkan dengan elemen api.
“Bicara tentang burung monster. Apa kalian pernah mendengar simurgh dan roc?” tanya Yudhistira.
“Tidak tahu. Kalau Garuda aku tahu.”
“Hei, itu berbeda, Yuanrang.”
“Bisa tolong jelaskan, guru?”
Yudhistira pun menjelaskan simurgh dan roc. Simurgh yang juga bisa dieja sebagai "Simorgh" atau "Simorg", adalah burung legendaris dalam mitologi Persia. Itu sering digambarkan sebagai makhluk mitos yang baik hati dengan kemampuan berbicara dan diberkahi dengan kebijaksanaan yang luar biasa. Menurut cerita, Simurgh tinggal di atas pohon di pegunungan Alborz dan memiliki pengetahuan tentang zaman. Dikatakan bahwa burung itu memiliki bulu berbagai warna, tubuh seukuran elang raksasa, dan kepala seperti anjing. Diyakini bahwa Simurgh memiliki kekuatan untuk menyembuhkan orang sakit, dan sering dicari untuk bimbingan dan nasehat. Sedangkan Roc atau juga bisa dieja sebagai Rukh, adalah burung pemangsa legendaris dalam mitologi Arab. Burung itu diyakini sangat besar, dengan lebar sayap yang bisa menjangkau bermil-mil, dan kekuatan untuk membawa gajah dan hewan besar lainnya. Dalam beberapa legenda, Roc dikatakan mampu menciptakan hembusan angin yang sangat kuat sehingga bisa membawa seekor gajah ke langit. Ia juga dikatakan memiliki paruh dan cakar tajam yang dapat dengan mudah merobek logam.
“Kelak jika kita ke Kekaisaran Romawi, kita akan melalui jalur sutra. Jelas kita akan melewati tanah Arab atau Persia. Bersiaplah kalian untuk menghadapi dua burung monster itu. Dua lipan yang kalian hadapi tidak ada apa-apanya,” kata Yudhistira, “Sekarang kutanya, bagaimana strategi kalian jika menghadapi mereka?”
“Hancurkan kakinya!” kata Yuanrang.
“Ya. Dengan begitu mereka tidak bisa mencengkeram kita,” kata Miaocai, “Kalau kita tercengkeram dan dibawa terbang, pasti akan susah. Sekalipun kita berhasil menghancurkan kaki mereka ketika di udara, kita tak akan bisa hidup ketika jatuh dari ketinggian.”
“Ah, cerdas kalian,” kata Yudhistira, “Secara umum, biasanya para sekelompok pelindung jalur sutra akan mengincar paruh, sayap dan dua kaki. Mereka akan memprioritaskan kaki dulu.”
__ADS_1
“Apa yang dilakukan pelindung jalur sutra ketika ada seorang teman mereka yang terbawa oleh Roc?” tanya Yuanrang.
“Banyak kemungkinan, Yuanrang. Tergantung seperti apa teman-temanmu nanti. Ada yang ditinggalkan begitu saja. Kalau kau dapat tim yang baik, mereka akan mengejarmu bahkan sampai naik gunung dan bukit,” kata Yudhistira.
Tiga pendekar dan Yudhistira sudah sampai di depan gua. Mereka sebelumnya sudah menebarkan potongan daging di depan mulut gua. Tinggal empat potongan lagi. Setelah memastikan kondisi permukaan gua dan langit-langit gua aman, Mereka berempat memasuki gua dan menaruh satu potong di bagian dalam gua yang dekat dengan mulut gua. Kemudian berjalan lagi hingga menemui persimpangan.
“Yang itu guru,” kata Yuanrang yang menunjuk jalan dimana para strigoi kabur.
“Baiklah. Kita tunggu di sini. Biarkan bau daging masuk ke lebih jauh ke dalam sarang bayi lipan,” kata Yudhistira.
Cukup beberapa menit menunggu, sudah terdengar suara merayap dari kedalaman gua. Mereka tak perlu menunggu terlalu lama. Pasti para bayi lipan kelaparan setelah menunggu dua induknya sekian lama.
“Ayo kita keluar,” kata Yudhistira, “Nanti jangan lupa hitung mayat mereka. Aku ingin menghitung siklus kemunculan bayi lipan dan pertumbuhan. Lalu membandingkan dengan ke
Empat petarung itu keluar dari gua. Mereka segera menjauh dan menunggu lagi sampai para lipan keluar. Benar saja. Para bayi lipan keluar dari sarang. Diawali satu hingga tiga. Lalu sekarang sudah belasan hingga puluhan. Daging-daging hewan pun langsung disantap para lipan dengan lahap. Seperti belum makan puluhan tahun.
“Sekarang!” kata Yudhistira.
Para pendekar pun keluar dari semak-semak dan mulai membantai para bayi lipan. Kali ini cukup mudah. Karena kulit para bayi lipan tidak sekeras kulit dua induk. Yuanrang dengan kemampuan berpedang, mampu membunuh dua hingga tiga lipan sekaligus cukup dengan satu ayunan. Karena memang menarget muka. Bahkan Miaocai pun cukup menggunakan tombak dan pengendalian es.
Diserang oleh dua lipan sekaligus, Yuanrang mundur beberapa langkah. Sebelum menggunakan kaki sebagai tumpuan dan melompat. Menebas mata dan otak para lipan sekali ayunan pedang. Kemudian, dia menggunakan kepala para bayi lipan yang sudah terbunuh sebagai pijakan. Sambil melompat dan menusuk-nusuk kepala lipan tepat di otak. Karena seperti makhluk hidup pada umumnya, otaklah yang mengontrol semua syaraf manusia. Bahkan ada beberapa bayi lipan yang kepalanya langsung hancur begitu dihantam pedang Yuanrang. Mungkin karena bayi lipan masih terlalu muda.
Sementara cara bertarung Miaocai lebih terlihat malas. Dia cukup diam di tempat saja dan menciptakan barikade es. Menunggu para bayi lipan mendekat. Begitu mendekat, lapisan es runcing akan menusuk rahang hingga tembus ke otak. Beberapa bayi lipan yang beruntung karena tidak terkena barikade es, dihabisi oleh Miaocai dengan tombak. Kali ini, Miaocai tidak menggunakan panah satu kali pun. Cukup menggunakan tombak yang dilapisi oleh pengendalian es. Miaocai menusuk mulut bayi lipan, lalu langsung mengarahkan ke bayi lipan yang lain. Normalnya, bayi lipan mampu bergerak lebih cepat. Tapi pergerakan mereka sudah diperlambat oleh duri-duri es yang menusuk kulit-kulit.
“Lumayan bisa buat olahraga,” kata Miaoicai, “Dua puluh lipan.”
Mengde menyemburkan api sebanyak-banyaknya supaya lebih cepat dan efektif karena membidik area luas. Bahkan api Mengde sampai menjalar ke tanaman. Serangan Mengde yang luas membuat dia ditegur oleh Yudhistira.
“Hei, hei, hei, Mengde! Kontrol apimu!” kata Yudhistira, “Sekalipun kau mampu membunuh semua lipan dan monster yang ada di hutan ini, kalau hutannya terbakar olehmu, penduduk desa tak mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka! Aku tahu niatmu ingin efektif dan lebih cepat. Tapi tidak sebrutal ini.”
“Baik, Guru,” kata Mengde.
“Berikan pedangmu padaku dan padamkan apimu sendiri sebelum menjalar lebih luas dan menghancurkan hutan!” kata Yudhistira, “Yuanrang! Miaocai! Mundur! Berdiri di belakangku!”
Yudhistira pun memulai pengendalian logam. Dia menggunakan tombak miliknya dan pedang milik Mengde. Kemudian memutar secara horizontal dan vertikal. Dalam waktu singkat, semua lipan sudah tercabik-cabik. Tak berdaya di bawah kemampuan pengendalian logam Yudhistira. Tubuh mereka tercerai-berai dan tercacah. Memang sebenarnya membunuh lipan pekerjaan mudah. Bahkan tidak perlu Yudhistira, cukup tiga muridnya saja. Yang mereka cemaskan hanya manusia bertaring di dalam gua. Yudhistira menatap sekeliling. Semua api yang membakar hutan sudah diredam oleh Mengde.
Belum langsung masuk ke gua, Yudhistira menghitung dulu jumlah bangkai bayi lipan. Setelah satu menit, ternyata total ada 62. Bisa disimpulkan ada dua kali siklus reproduksi yang dilakukan lipan jantan dan betina. Meski begitu, Yudhistira belum menyelesaikan hitungan. Karena dia masih berjaga-jaga jika ada lipan lain di dalam gua yang belum keluar.
__ADS_1
“Kuberi kalian pertanyaan,” kata Yudhistira sambil mengembalikan pedang milik Mengde, “Manusia bertaring ada di dalam gua dan ada juga kemungkinan masih ada bayi lipan yang memang belum terpancing. Ingat, jangan terlalu yakin. Belum tentu semua bayi lipan keluar. Mungkin masih ada sisa-sisa di dalam. Mana yang sebaiknya kita hadapi dulu?”
“Bunuh strigoi!” jawab Yuanrang.
Yudhistira menghela nafas, “Jangan terlalu bernafsu, Yuanrang!”
“Kenapa harus mengecek bayi-bayi lipan dulu? Kan ada guru di sini?”
“Iya itu benar. Maksudku begini, selama tidak terlalu mendesak, kita selesaikan yang mudah dulu. Jangan sampai, sesuatu yang kita anggap mudah malah nanti jadi tidak terkendali ketika kita sedang menghadapi yang kuat. Bagaimana menurut kalian?”
“Kelemahan taktik itu, bagaimana jika kita sedang membantai lipan, tapi dua strigoi malah menyerang kita dari belakang? Kita akan terjepit, guru!” kata Miaocai.
“Pertanyaan yang bagus. Aku suka sikap kritismu,” kata Yudhistira, “Apa kalian bisa menjawab pertanyaan Miaocai?”
“Aku bisa,” kata Mengde, “Kalau guru berkenan, guru saja yang menjelajah piintu masuk persimpangan kiri ini. Meminimalkan kemungkinan dua strigoi itu menyerang kami dari belakang. Kita tidak tahu struktur dalam gua seperti apa. Siapa tahu area gua tempat mereka tinggal punya pintu lain. Yang memungkinkan untuk berputar dan malah menyerang kita dari depan. Memang kita tidak tahu kondisi dalam gua nanti. Jika itu terjadi, kami cukup mundur dan kembali pada guru.”
“Kau menyuruhku untuk mengeksplorasi? Kau yakin akan maju tanpa perlindungan dariku? Kenapa tidak mengajakku maju bersama-sama saja dengan kalian? Kita tidak tahu ada apa di dalam gua ini?” tanya Yudhistira.
“Kan kalau kita membagi tugas ini menjadi dua tim, semua akan lebih cepat, guru,” kata Mengde, “Lebih cepat lebih baik.”
“Cepat memang lebih baik. Tapi tidak baik juga jika kita asal cepat saja tapi tidak berhati-hati,” kata Yudhistira, “Sudahlah ayo kita ke sisi kanan. Aku dan Mengde di depan. Biarkan Mengde menerangi jalan dengan api. Yuanrang dan Miaocai, tetap jaga bagian belakang.”
Tak sengaja, mata Yudhistira pun melihat pintu masuk gua. Otak pun mulai menganalisis kemungkinan. Kondisi sekarang saja masih penuh ketidakpastian. Bagaimana jika ada yang masuk dari mulut gua. Setelah mereka melewati pintu masuk, Yudhistira pun memerintahkan Miaocai untuk menyegel mulut gua dengan es.
“Kalau di dalam gua tidak terkendali, kita langsung balik ke sini. Hancurkan saja esnya dan kita keluar,” kata Yudhistira setelah penyegelan selesai.
Empat pendekar pun melanjutkan penjelajahan gua. Mereka mulai dari persimpangan kanan. Mengde terus melemparkan bola-bola api sejauh mungkin sebagai penerang. Jika di depan memang ada bahaya, mereka sudah menyadari lebih awal. Yang mereka temui hanya bayi-bayi lipan yang terlambat keluar. Semua langsung dihabisi oleh Yudhistira. Memang seolah Yudhistira terlihat memanjakan tiga muridnya dengan menghabisi semua bayi lipan dengan tangan. Sebenarnya tidak begitu. Tujuan Yudhistira menjaga supaya stamina tiga muridnya tetap terjaga sebelum menghadapi musuh yang lebih berbahaya.
“Tetap awasi sisi kanan dan kiri kalian!” kata Yudhistira sembari menusuk muka bayi lipan, “Aku takut ada jurang atau kejutan yang aneh-aneh.”
Sampai akhirnya, mereka melewati pintu gua yang cukup sempit. Di dalam, ada area yang luas dan tinggi seperti aula. Begitu masuk, Mengde langsung menembaki langit-langit gua. Area yang mirip aula ini semakin terang. Terdengar suara tetesan air dari bebatuan gua. Bahkan setelah dilihat lebih teliti, ada tempat mirip kolam dan dipenuhi air. Selain itu ada kumpulan telur lipan yang masih belum menetas. Ukuran dan volume seukuran kaki manusia. Telur-telur itu berkelompok dan saling menempel satu sama lain. Sekilas terlihat membentuk formasi seperti buah anggur. Ada yang berwarna putih dan ada pula yang kuning. Selain telur, mereka juga melihat beberapa tulang manusia yang berserakan.
“Air. Pantas saja mereka betah di sini,” kata Yuanrang.
“Yah, sesuai teori. Dimana ada air, di situ ada potensi kehidupan,” kata Yudhistira, “Murid-muridku, aku kasihan jika para calon bayi lipan ini harus menetas dan menghadapi kejamnya dunia tanpa ayah dan ibu. Aku merasakannya dulu karena ayahku sudah meninggal duluan sebelum aku lahir. Hanya ada Ibu Kunti dan aku berperan sebagai seorang ayah untuk membimbing empat adikku dan melawan saudara-saudara sepupuku yang licik itu. Aku saja yang yatim begini susah, apalagi para lipan yang akan lahir yatim piatu kan? Karena itulah, selamatkan mereka dari kejamnya realita dunia. Mereka tidak akan bisa bertahan.”
Yuanrang pun tertawa, “Padahal guru hanya menyuruh kami untuk membantai mereka. Kenapa harus pakai kalimat yang panjang dan susah?”
__ADS_1
Yudhistira balas ketawa juga, “Lho, kutunjukkan seni pencitraan pada kalian.”
Tiga pendekar pun bekerja untuk membunuh para calon bayi lipan. Tidak butuh waktu lama bagi mereka. Karena kali ini, Mengdelah yang berperan dominan. Dia menyemburkan api sebanyak-banyaknya. Yudhistira tidak menahan Mengde karena tidak ada pepohonan, tanaman atau objek yang mudah terbakar di sini. Yuanrang dan Miaocai hanya menghancurkan telur yang tidak terbakar sempurna. Namun, semua terhenti ketika ada seseorang yang mampu mengendalikan air di gua.