
Cerita beralih dari Yuanrang dengan para strigoi ke Yudhistira dan dua muridnya. Mereka bertiga sekarang berada di Bukit Lang Xue. Bersiap untuk menyambut siapapun yang menyuruh Qiong Qi untuk membantai seluruh bandit di sini. Demi mengklaim Bukit Lang Xue secara total. Untuk membantu dua strigoi dan untuk mendukung penyelidikan kedatangan monster dari utara. mereka bertiga sudah tiba sejak tadi siang menjelang sore. Sejauh ini, keadaan cenderung tenang dan tidak ada musuh atau monster yang datang. Yang kurang menenangkan bagi mereka hanya bau anyir darah para bandit saja. Sekarang, matahari sudah terbenam.
“Matahari sudah menghilang ...” Kata Mengde
“... Dan tak ada yang datang,” lanjut Miaocai.
“Haruskah kita menunggu ...” Kata Mengde lagi.
“... Untuk sesuatu yang belum tentu,” balas Miaocai.
“Mari kita beristirahat ...” Mengde membuat kalimat lagi.
“Untuk menghadapi esok hari yang berat,” balas Miaocai.
Yudhistira pun mendengus, “Apa-apaan pantun sialan barusan??!! Lebih baik kalian makan malam dan hentikan pantun sialan barusan.”
Yudhistira, Mengde dan Miaocai sekarang berada di bukit Lang Xue sejak tadi siang. Ketika datang, mereka disambut pemandangan yang menyedihkan, memilukan sekaligus menjijikkan. Puluhan mayat, potongan tangan, kaki dan kepala berserakan dimana-mana. Tidak mau melihat lebih lama, mereka segera masuk ke tempat persembunyian para bandit. Setelah itu, mereka makan siang dan segera tidur. Memulihkan energi dan stamina untuk menghadapi siapapun musuh yang datang. Mereka tidak perlu cemas juga jika musuh yang datang terlalu kuat. Karena sudah menyiapkan jalan kabur ketika mereka baru datang di sini.
Sekarang matahari baru saja tenggelam. Kondisi tiga pendekar ini sudah pulih setelah beristirahat dan makan. Mereka tidak menggunakan segala sumber cahaya di luar tempat persembunyian. Hanya di dalam gua saja mereka menyalakan api. Memang tanpa adanya api malah mengurangi jangkauan penglihatan mereka. Tapi itu juga mengurangi jangkauan penglihatan musuh. Sekarang tinggal menunggu siapa yang datang dulu? Musuh? Atau Yuanrang dan para strigoi?
“Aku sedikit iri dengan Yuanrang,” kata Miaocai.
“Kenapa?” tanya Mengde.
“Dia bersama Livilla yang cantik itu.”
“Tidak perlu iri. Mau bagaimanapun, mereka terkendala bahasa kan?”
Yudhistira hanya tersenyum mendengar pembicaraan dua muridnya. Memang, bocah seumuran mereka sudah waktunya untuk mengagumi lawan jenis. Mengde tertarik Xing Lian dan Miaocai mengagumi Livilla. Yudhistira memaklumi hal ini. Justru yang aneh adalah Yuanrang. Yuanrang terlihat tidak tertarik dengan cinta, kagum dan semacamnya. Pengendali logam itu lebih suka mengasah kemampuan bertarung daripada mengurusi cinta.
“Hei, hei, sudahlah,” Yudhistira tertawa, “Livilla itu susah, Miaocai. Selain karena faktor bahasa, juga ada faktor usia. Usia para strigoi sangatlah panjang. Jika kau bersama Livilla, nanti kau akan berubah menjadi kakek-kakek keriput. Tapi penampilan fisik Livilla akan tetap dalam kondisinya sekarang.”
“Bagaimana cara menjadi Immortal seperti guru?”
“Hmmm itu bukan hal yang mudah. Butuh kapasitas energi dan stamina yang cukup besar untuk menjaga agar tubuh tidak menua. Itu cukup susah untuk kalian yang masih perlu belajar.”
“Kenapa seperti itu?” tanya Mengde.
“Immortal memang bisa menyembuhkan luka fisik, mencegah penuaan, penguatan imun dan sebagainya. Kalau dirangkum, intinya kemampuan regenerasi. Kemampuan ini tidak gratis lho karena harus mengkonsumsi energi dan stamina yang tinggi,” kata Yudhistira, “Miaocai, coba amati keadaan luar dulu. Apakah ada musuh yang akan menyerang kita? Tak perlu terlalu mencolok. Cukup intip saja.”
“Baik, Guru,” kata Miaocai yang mengambil panah dan busur
__ADS_1
Miaocai sekarang mengintip dari mulut gua. Semua sangat gelap. Hanya tertolong oleh cahaya bulan. Kalau sumber penerangan Cuma itu, jelas kurang. Kalau meminta tolong Mengde menciptakan api, malah terlalu mencolok. Selama lima menit Miaocai mengamati kondisi luar dari mulut gua. Sampai akhirnya mendengar suara seseorang yang memanggil nama. Miaocai berpikir kalau dia salah dengar. Tapi malah terdengar lagi. Bahkan sampai empat kali.
“Hmm, aku baru tahu ada pria tua yang mampu menggeram seperti hewan buas,” gumam Miaocai.
Miaocai menajamkan pendengaran. Pola suara ini agak aneh. Seolah muncul dari lokasi yang berbeda. Kadang jauh, kadang dekat. Kadang dari barat dan kadang dari timur. Miaocai menyimpulkan kalau siapapun yang datang ini pasti ada banyak. Namun, dia langsung mengubah pikiran karena ada yang aneh. Meski tersebar di banyak titik, suara terdengar sama. Seolah diucapkan oleh satu orang saja.
“Aku sudah tidur dan makan. Tidak mungkin kepala kacau?,” kata Miaocai, “Bagaimana mungkin satu orang dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam waktu yang cepat.”
Miaocai sudah menyadari ada yang tidak wajar di sini. Yudhistira memang pernah menceritakan ada orang yang mampu mengendalikan cahaya dan listrik. Mereka mampu bergerak cepat. Sebenarnya tidak hanya cerita, bahkan mereka pernah latihan melawan beberapa di antara mereka. Tapi, kalau memang yang mereka hadapi adalah pengendali cahaya, kenapa dia tidak mengeluarkan cahaya supaya lebih mudah untuk mencari? Miaocai pun berbalik masuk untuk melaporkan ke gurunya.
“Kita amati dulu. Minimal kita tahu seperti apa musuh kita, Berapa jumlahnya,” kata Yudhistira, “Setelah itu, kita diskusikan lagi.”
Tiga pendekar itu segera memadamkan api dan mulai bergerak. Sekarang berada di lokasi tempat Miaocai mengamati tadi. Suara memanggil-manggil ini terdengar lebih diselumuti kemarahan.
“Dimana kau Qiong Qi, bangsat??!!” kata suara itu, “Bukankah kau ingin sayapmu sembuh??!!”
Mendengar kalimat itu, tiga pendekar langsung paham. Siapapun dia, pasti sedang mencari Qiong Qi. Dia tidak tahu kalau Qiong Qi sudah terbunuh. Apakah dia bajingan tua yang dimaksud Qiong Qi itu? Percuma jika kondisinya terus seperti ini. Mereka tidak akan tahu seperti apa wujud bajingan tua.
Yudhistira meminjam panah dan busur dari Miaocai. Kemudian, dia membakar ujung panah. Lalu segera menembakkan panah ke barat. Karena mulut gua memang menghadap ke barat. Target tidak terlalu jauh. Begitu sampai target, Yudhistira menggunakan pengendalian api untuk memperbesarnya. Supaya memancing siapapun yang ada di situ.
“Kita tunggu. Mungkin butuh waktu lama,” kata Yudhistira, “Dia sekarang juga masih di sisi utara bukit.”
“Aku tidak yakin lagi ini monster atau siluman?” Kata Mengde.
“Jinnanaluo,” kata Yudhistira.
“Guru pernah menghadapi juga?” tanya Miaocai.
“Tidak, aku hanya pernah mendengar kemunculannya dari seorang saudagar Arab,” kata Yudhistira, “Bisa dibilang, aku tidak terlalu mengenali makhluk jenis ini.”
“Apakah dia yang dimaksud 'bajingan tua' oleh Qiong Qi?” tanya Miaocai.
“Soal itu, aku juga ragu. Kita perlu memastikan juga,” kata Yudhistira, “Begini saja. Aku akan menjadi umpan. Nanti kalian akan menyusul. Miaocai, tolong gunakan tombak saja. Situasi sekarang terlalu gelap untuk memanah. Kecuali jika kuperintahkan untuk menggunakan panah, maka gunakanlah.”
“Baik, Guru. Berhati-hatilah,” kata Miaocai.
Yudhistira pun keluar gua sambil menggenggam tombaknya. Langkah Yudhistira terlihat santai, tapi sebenarnya dia sedang memperhitungkan banyak kemungkinan. Dia tidak pernah sekalipun menghadapi monster jenis ini. Jinnanaluo menyadari keberadaannya dan menghunuskan pedang.
“Kalian para bandit Lang Xue ... Ternyata masih hidup, ya?” kata Jinnanaluo.
“Aku bukan bandit. Aku bukan asli orang sini. Tadi di sini, aku hanya tidur dan makan siang,” kata Yudhistira, “Aku mendengar kau menyebut nama seseorang.”
__ADS_1
“Kalau kau bukan bandit, bagaimana kau bisa bertahan hidup di sini?”
“Kenapa kau seolah terlihat bingung? Ketika aku datang ke sini, semua bandit sudah mati. Akan kujadikan tempat ini untuk mendukung proyek pekerjaanku.”
Jinnanaluo mengarahkan ujung pedang ke wajah Yudhistira, “Pergilah dari bukit Lang Xue, jika kau ingin hidup.”
“Kau berniat merampok tempat ini dari kami?” Yudhistira balik mengarahkan ujung tombak ke wajah Jinnanaluo.
“Ketahuilah, kawan. Temanku duluan yang membantai semua bandit di sini. Dialah yang menaklukkan Bukit Lang Xue. Sehingga, Bukit Lang Xue milik kami.”
“Semua orang bisa mengaku dan mengklaim seenaknya. Tapi aku tidak melihat siapapun di sini. Hanya mayat-mayat saja. Aku juga tidak melihat orang yang kau bicarakan.”
Jinnanaluo dari awal sudah heran dengan pria ini. Pertama, Kenapa dia tidak takut dengan dirinya yang bertubuh manusia dan berkepala kuda? Manusia ini sungguh tidak wajar. Kedua, dengan mudahnya dia mengklaim tempat ini di hadapannya.
“Kita tidak sedang bernegosiasi, manusia,” kata Jinnanaluo, “Pergi dari sini, atau kau akan mati.”
“Coba saja,” kata Yudhistira.
Jinnanaluo menusukkan pedang ke perut Yudhistira. Yudhistira melompat ke kiri sambil menangkis serangan pedang. Kemudian memutar dan menggunakan pangkal tombak untuk menyerang kepala manusia berkepala kuda. Jinnanaluo mundur. Yudhistira memutar tombak lagi dan memukulkannya ke kepala. Jinnanaluo menggunakan tangkisan horizontal. Sekuat tenaga menahan serangan barusan. Tangan kiri Yudhistira merogoh saku, lalu menembakkan pisau lempar ke perut Jinnanaluo. Jinnanaluo bergeser sambil merotasi pedang. Terdengar suara benturan logam. Pisau lempar pun terbenam ke tanah.
Jinnanaluo berlari dan menebas pinggan Yudhistira. Yudhistira bersalto ke belakang sambil melemparkan dua pisau lempar. Semua berhasil ditangkis oleh Jinnanaluo. Jinnanaluo langsung berlari dan menyerang Yudhistira yang berada di udara. Baru mendarat, Yudhistira harus menangkis serangan yang mengarah ke leher. Pertahanan kiri Yudhistira kosong, sehingga Jinnanaluo menendang pinggang kiri Yudhistira. Yudhistira yang menyadari itu, merotasi tombak. Menggunakan pangkal tombak untuk menangkis. Namun kesadaran Yudhistira terlambat. Rotasi tombak barusan hanya mengacaukan arah tendangan, tapi tidak mengurangi tekanan. Yudhistira pun ujung-ujungnya tetap terhempas juga.
Jinnanaluo menyarungkan pedang dan mengejar Yudhistira. Kemudian bergerak seperti hewan berkaki empat dengan lompatan yang cukup tinggi. Di ketinggian, Jinnanaluo menghunuskan pedang. Memposisikan pedang dengan mata mengarah ke bawah. Siap menusuk Yudhistira.
Yudhistira menggulingkan tubuh ke kiri. Sambil melemparkan dua pisau. Jinnanaluo berhasil menangkis salah satu. Namun, sebilah pisau berhasil menusuk perut kiri. Jinnanaluo yang akan mendarat, dengan tebasan brutal ke kanan menyerang Yudhistira. Yudhistira yang baru bangkit, menangkis pedang barusan. Tapi Jinnanaluo berguling lagi dan menebaskan pedang. Kali ini berhasil menggores lengan Yudhistira. Dua belah pihak kini sama-sama berdiri dan saling waspada. Jinnanaluo mencabut pisau lempar dan melemparkan balik ke Yudhistira.
Bagi Yudhistira yang pengendali logam, mudah saja menghentikan pisau yang mengarah ke dirinya sendiri.
“Trik macam apa itu?” kata Jinnanaluo yang melihat pengendalian logam, “Apa kau anggota pasukan pelindung jalur sutra?”
“Bukan. Aku hanya pelayan rakyat biasa. Ini barusan Hanya teknik sulap murahan yang kugunakan untuk menghibur rakyat China, kawan,” jawab Yudhistira.
“Tidak usah merendah begitu. Aku sejak awal sudah curiga bahwa kau bukan manusia pada umumnya.” kata Jinnanaluo yang memunculkan percikan petir dari telapak tangannya, “Trik sulap murahan katamu, eh? Aku juga bisa. Meski sedikit berbeda dengan punyamu. Ini akan lebih seru. Menarik juga. Aku tidak menyangka bisa merasakan bertarung melawan pelindung jalur sutra di sisi timur laut China.”
Pengendalian petir adalah salah satu jenis dari sekian banyak pengendalian alam. Meski namanya pengendalian petir, tenaganya sangat jauh lebih lemah dari petir asli. Wajar saja karena sekuat apapun tubuh manusia, tidak akan mampu menampung energi petir yang asli.
Yudhistira mengarahkan mata tombak ke wajah Jinnanaluo, “Sudah kubilang, aku bukan anggota pelindung jalur sutra. Lalu, kenapa tidak kau gunakan sejak awal pengendalian listrikmu supaya lebih mudah?”
“Tidak seru jika langsung membunuhmu begitu saja,” kata Jinnanaluo yang melapisi pedang dengan petir kuning, “Tidak adil juga jika aku mengalahkan manusia biasa dengan teknik pengendalian. Kukira kau tadi manusia biasa.”
“Majulah!” kata Yudhistira.
__ADS_1