
Ketidaknormalan pria misterius terlihat ketika dia membuka cadar. Memperlihatkan giginya yang penuh taring-taring tajam. Tidak mungkin manusia normal punya gigi seperti hewan buas pemakan daging. Beberapa bagian tubuh yang terlihat pun mulai menumbuhkan bulu-bulu hitam yang sangat tidak asing bagi tiga pendekar. Tulang mulut pun mulai bergerak abnormal. Membentuk moncong seperti anjing atau serigala. Mata yang di awal mirip manusia normal, kini berubah menguning dan pupil pun mempipih seperti hewan buas. Jari-jari yang tadi berwarna mirip manusia normal juga mulai menghitam, ditumbuhi bulu dan cakar yang tajam. Selama proses perubahan, pria misterius itu meraung-raung dan mengaduh kesakitan. Suara rintihan kesakitan yang awalnya sama dengan manusia biasa, berubah menjadi mirip raungan dan geraman khas hewan buas pemakan daging. Selama bertransformasi, pria misterius itu masih berdiri di tempat. Sepasang sepatu yang dia pakai juga rusak perlahan. Sepasang kaki yang membesar menghancurkannya. Pakaian pun juga mulai robek karena dia berubah menjadi semakin kekar.
“Kalian … mengiraku … bandit … kan?” kata pria misterius yang terbata-bata, “Tebakan … kalian … salah …”
Para pendekar seolah terbius melihat pemandangan barusan. Memang bulu-bulu hitam yang muncul seiring transformasi membuat para pendekar yakin. Kalau hewan buas inilah, atau yang sejenisnya, yang mereka temui tadi siang di hutan. Yang membuat mereka tidak percaya adalah bagaimana mungkin manusia bisa berubah menjadi makhluk mirip serigala. Selama berburu monster di bawah bimbingan Guru Yudhistira, mereka tak pernah melihat yang pertemuan antara manusia dan monster seperti ini. Di pikiran mereka, manusia ya manusia dan monster ya monster. Tidak ada perubahan seperti ini. Bahkan Yuanrang yang berani dan kuat, Mengde yang cerdas dan Miaocai pun tak sanggup menguasai keterkejutan ini. Tangan kiri dan kanan Miaocai seolah bergetar melihat pemandangan ini.
“Apa-apaan ini?” kata Yuanrang yang gemetaran.
Hanya Miaocai yang segera bebas dari pikirannya. Dia langsung menarik busur panah dan menembak tepat di leher. Panah Miaocai memang berhasil menembus leher. Tapi entah kenapa makhluk ini tidak roboh. Manusia normal, seharusnya sudah sekarat. Memang hewan buas itu kesakitan. Tapi seolah tidak fatal.
“Sial! Aku lupa menambahkan elemen es di panahku,” kata Miaocai yang mengambil anak panah lagi, “KENAPA DIAM?? YUANRANG!! MENGDE!!”
Teriakan Miaocai seolah membebaskan pikiran Mengde dan Yuanrang. Dua petarung jarak dekat yang awalnya berdiri di formasi pengepungan. Kini mulai merapat dan berdekatan. Bahkan otak cerdas Mengde pun tak mampu berpikir.
“Mengde! Apa yang harus kita lakukan??” kata Yuanrang.
“Ah, aku …” hanya itu yang terucap di bibir Mengde.
“SIAL!!!” kata Yuanrang yang berlari maju.
Yuanrang pun melompat dan mengincar kepala hewan buas. Bermaksud untuk membelah kepalanya. Namun, serangan Yuanrang dalam jangkauan serang hewan buas. Hewan buas itu mengayunkan pedang secara horizontal. Mengincar sisi kiri Yuanrang. Yuanrang segera berposisi untuk menangkis. Meski begitu, tekanan hewan buas menghempaskan Yuanrang hingga membentur pintu.
“Brengsek!” kata Yuanrang sambil memegangi perut, “Seharusnya tadi jarak jauh saja.”
Hewan buas ingin menyerang lagi dan kali ini yang diincar Mengde. Mengde sudah bersiap. Hewan buas mengangkat pedang tinggi untuk membelah kepala Mengde. Belum sempat mengayunkan, panah Miaocai yang dilapisi elemen es berhasil mengenai tangan hewan buas. Raungan kesakitan terdengar sangat nyaring. Seperti raungan sekawanan serigala digabung jadi satu. Pedang pun terjatuh ke tanah. Hewan buas tidak mampu merasakan tangan kanan. Seolah semua syaraf membeku. Dia berusaha mencabut anak panah dari tangan.
Sudah bangkit, Yuanrang menggunakan kesempatan ini untuk mengambil pedang milik hewan buas. Mumpung hewan buas sedang kesakitan. Tanpa senjata saja sudah susah apalagi dengan senjata. Kini Yuanrang menggunakan dua pedang. Satu pedang di genggaman dan pedang milik hewan buas tetap melayang di udara. Baru akan menyerang, Yuanrang harus berguling karena hewan buas melemparkan anak panah yang barusan dilepaskan ke mukanya.
Mengde menembakkan belasan bola api ke kepala hewan buas. Sudah dia siapkan ketika hewan buas sedang mencabut panah tadi. Lagi-lagi mereka melihat pemandangan yang aneh. Hewan buas menepis semua belasan bola api hanya dengan tangan. Begitu bola api habis, Mengde memasang posisi bertahan karena hewan buas mulai maju.
Hewan buas berlari menuju Mengde. Begitu dekat, hewan buas langsung menusukkan cakar-cakar tangan kiri yang tajam ke lengan Mengde yang tidak dilapisi baju perang. Mengde berhasil menangkis. Namun serangan belum selesai. Kaki kanan hewan buas yang juga penuh cakar berusaha menusuk perut kiri Mengde. Tangan kiri Mengde menggenggam sarung pedang dan menepis tusukan mematikan barusan.
Tangan kanan hewan buas masih belum bisa digerakkan. Mengde menggunakan kesempatan ini dan berusaha memotong tangan kanan hewan buas. Memang berhasil kena. Namun tidak mampu melukai secara dalam. Mengde mencabut pedang dan bersamaan dengan itu, tangan kiri hewan buas mengayun ke kepala Mengde. Mengde merunduk. Nyaris. Bahkan Mengde merasakan hembusan angin di atas rambutnya. Hasil dari kibasan cakar hewan buas. Tapi tetap saja Mengde telat menduga serangan berikutnya. Kaki hewan buas menendang Mengde. Menghempaskan ke utara.
Yuanrang segera meraih tangan Mengde dan membantu dia bangkit. Dua pendekar ini terengah-rengah. Musuh yang mereka hadapi sekarang sangat tidak umum.
“Bagaimana?” hewan buas menggeram, “Kenapa tidak mengolokku lagi? Sudah mulai menyesal karena sudah mengolokku?”
__ADS_1
Panah es Miaocai melesat lagi. Namun kali ini, hewan buas sudah memperhitungkan. Sehingga mudah baginya untuk menghindar. Miaocai tidak menyerah dan mencoba lagi. Namun kali ini berhasil dihindari juga. Akhirnya, Miaocai tidak mampu menembak lagi. Hewan buas berdiri di bawah teras rumah. Pandangan Miaocai pun tertutupi.
“Tidak sama sekali,” kata Yuanrang, “Kami mendapat pengetahuan baru kalau ada makhluk sepertimu.”
“Makhluk apa kau sebenarnya?” kata Mengde, “Kau manusia atau monster?”
Tangan kanan hewan buas sudah mulai normal kembali. Dia mengibas-ibaskan tangan. Pedang kedua Yuanrang pun melesat ke kepala hewan buas. Namun kali ini hewan buas mengibaskan tangan dan pedang pun terlempar. Melesat dan menusuk pintu sebuah rumah. Yuanrang mengambil lagi pedang milik hewan buas dengan pengendalian logam.
“Percuma juga ya,” kata Yuanrang, “Harus mencari momen khusus.”
“Aku pertemuan antara manusia dan serigala, anak-anak,” kata hewan buas.
Hewan buas tidak bergerak juga. Sepertinya dia menunggu tangan kanan serratus persen normal. Bibirnya menyeringai memperlihatkan gigi-gigi yang tajam. Dia sudah sepenuhnya berubah menjadi serigala. Serigala yang berdiri.
Miaocai pun tak bisa menembak karena masih terhalang. Mau pindah pun percuma. Karena meski pindah tempat, hewan buas ini bisa pindah lagi.
“Kau yang mengawasi kami di hutan tadi?” tanya Yuanrang.
“Ya,” kata hewan buas yang menunjuk para pendekar, “Kau pengendali api, kau pengendali logam dan teman kalian yang di atas mampu mengendalikan es.”
“Kenapa kau tadi tidak langsung membunuh kami setelah kami berhasil membunuh lipan?” kata Mengde.
Tiba-tiba, hewan buas melompat dan mengarah langsung ke Yuanrang dan Mengde. Mereka berdua melompat mundur. Begitu hewan buas mendarat, muncul api di tanah yang langsung membakar tubuh hewab buas. Hewan buas meraung, menggeram dan menjerit kesakitan. Di momen ini pula, Yuanrang mengendalikan dua pedang dan menusuk-nusuk tubuh hewan buas. Dia pun berguling dan berlari ke gang-gang di desa.
Sebenarnya, jebakan barusan adalah pertahanan Mengde. Secara prinsip, mirip dengan jebakan es milik Miaocai. Bedanya hanya pemakaian elemen api. Mengde menanam jebakan api ketika hewan buas berdiam di teras rumah untuk menunggu tangan kanan pulih. Menyikapi Tindakan hewan buas yang pergi entah kemana, Mengde menyebarkan api ke segala arah supaya mudah dilihat. Meminimalkan risiko kegelapan.
“Dia memanfaatkan kelemahan kita dengan menggunakan kegelapan,” kata Mengde.
“Ya. Serigala punya indra penciuman yang lebih baik dari manusia,” kata Yuanrang, “Dia kegelapan seperti ini, dia menggunakan hidung untuk melihat kita.”
Mendengar penjelasan Yuanrang, Miaocai pun tiarap. Dia mengganti mode jarak jauh menjadi jarak menengah. Tangan kanan menggenggam erat tombaknya. Kalau berdiri, bisa jadi hewan buas ini akan melompat dan menerkam dari balik kegalapan. Lompatan hewan buas ini sangat tidak normal. Terlalu jauh untuk lompatan manusia biasa. Kakinya seolah punya pegas. Sambil tiarap, tidak lupa juga Miaocai menanamkan jebakan es ke sekeliling.
“Mengde, haruskah aku turun?” kata Miaocai.
“Tidak. Tetap di situ saja,” kata Mengde.
“Saling memunggungi, Mengde!” kata Yuanrang.
__ADS_1
Tiga pendekar membuka lebar-lebar penglihatan mereka. Kondisi seperti ini memang harus teliti. Musuh bersembunyi dan memanfaatkan kegelapan untuk menyergap para pendekar. Tiga pendekar itu juga sudah tahu daya lompat yang mencengangkan dari hewan buas itu.
“Hei, Mengde, aku punya ide. Bagaimana jika aku menjadi umpan?” kata Yuanrang.
“Sejujurnya, Yuanrang … aku tidak mampu membedakan apakah kalimatmu tadi memang taktikmu atau manifestasi dari adrenalinmu yang selalu ingin bertarung?” kata Mengde.
“Ini murni taktikku,” kata Yuanrang.
“Jangan bodoh, sepupu,” kata Miaocai, “Aku tidak mau moncongnya yang tajam merobek bahumu dan membawamu pergi ke hutan di sana.”
“Oke, oke,” kata Yuanrang yang mengalah karena ditentang dua orang sekaligus.
Dari jalanan utara, muncullah hewan buas. Hewan itu berlari kencang dan langsung melompat untuk menerkam Yuanrang. Menunggu momen yang tepat, Yuanrang dan Mengde pun segera merunduk untuk menghindari terkaman hewan buas. Hewan buas hanya menerkam udara. Lalu mendarat di tanah. Ketika mendarat, tangan kanan hewan terkena jebakan api. Hewan buas mengibas-ibaskan tangan. Di saat itu, Yuanrang dan Mengde menghujani hewan dengan pengendalian mereka. Miaocai bahkan berhasil menusukkan tiga panah ke tubuh hewan buas. Hewan buas itu lari lagi dan menghilang.
“Menghilang lagi?” kata Yuanrang.
“Ya. Kita gunakan taktik yang sama saja,” kata Mengde.
“Apakah kita tidak menggunakan jebakan yang kita buat?”
“Belum. Kemungkinan sukses jebakan kita akan meningkat jika kita sudah melukai mata kaki atau lutut. Intinya alat dia bergerak.”
Yuanrang menghela nafas, “Serangan barusan juga kita malah melupakan sepasang kakinya. Kita hanya fokus melukainya saja.”
“Miaocai,” kata Mengde, “Jika dia muncul lagi. Kita fokus ke kakinya, ya.”
“Iya. Kita juga harus segera menyelesaikan dia,” kata Miaocai, “Panahku juga tinggal seperempat.”
“Apa? Seperempat? Gawat juga!” kata Mengde.
Yuanrang mengkonsentrasikan pengendalian logamnya. Anak panah yang berserakan di jalanan pun terangkat ke udara. Lalu semua anak panah melayang ke Miaocai. Memang hanya sedikit yang masih bisa digunakan kembali. Yang lain sudah patah karena dipatahkan oleh hewan buas.
“Cuma segitu yang kita dapat,” kata Yuanrang.
“Tak apa. Ini juga cukup membantu,” kata Miaocai.
“Sepertinya … aku tak perlu menerkam lagi,” terdengar suara geraman.
__ADS_1
Hewan buas muncul dari gang dengan menggenggam golok. Entah apa yang dipikirkan hewan buas itu. Kenapa dia sekarang berani terang-terangan. Panah Miaocai pun melesat ke kaki hewan buas. Namun hewan buas berhasil menghindar. Miaocai mencoba memanah lagi. Lagi-lagi hewan buas berhasil menghindar. Tapi ketika panah menyentuh tanah, serpihan es pun pecah dan melukai kaki-kaki hewan buas. Serangan barusan membuat hewan buas lumpuh beberapa detik.