Yuanrang Monster Hunter

Yuanrang Monster Hunter
15. Livilla


__ADS_3

“Apakah di antara kalian yang diam-diam mempelajari pengendalian air atau tiba-tiba mampu mengendalikan air?” kata Mengde.


“Jangan bodoh, Mengde,” kata Yuanrang, “Tidak ada yang namanya diam-diam dan tiba-tiba mampu.”


Tiba-tiba air di kolam seolah bergelombang seperti ditiup angin. Yuanrang yang mulai curiga segera bersiap. Air-air kemudian melayang di udara dan mulai menghujani api-api buatan Mengde. Beberapa gumpalan api pun padam.


“Pengendalian air asli,” kata Yuanrang, “Mengde, jangan sampai kita kehilangan cahaya.”


“Ya,” jawab Mengde.


“Semua tetap tenang!” kata Yudhistira yang melangkah ke depan untuk melindungi tiga muridnya.


Mengde pun menebarkan api lagi dan kali ini lebih banyak. Terlalu berisiko jika mereka tidak bisa melihat di tempat yang tak mendapat cahaya seperti di sini. Jelas ada orang lain di sini. Bahkan berpotensi berbahaya karena mampu mengendalikan air.


Seiring banyaknya api yang ada, area ini semakan terang. Seiring menguatnya cahaya, empat pendekar pun melihat satu sosok yang mendekat. Sosok ini memakai jubah hitam dan bertudung. Yuanrang bersiap menyerang. Namun ditahan oleh Yudhistira. Tangan sosok ini melambai ke empat pendekar. Dia berjalan sambil menggumpalkan air menjadi empat bola air yang cukup besar.


“Tunggu, jangan diserang!” kata Yudhistira, “Dia sepertinya akan mencoba berbicara dengan kita, Yuanrang.”


Siapapun pengendali air, dia membuka tudung jubah. Terlihatlah wajah seorang perempuan yang berkulit pucat, bertaring dan bermata kuning. Jelas perempuan ini adalah manusia bertaring yang mereka temui kemarin. Dilihat dari rambut pirang yang dikepang, jelas juga dia bukan dari etnis Asia Timur. Melainkan dari Kekaisaran Romawi nan jauh di tanah Eropa.


“Strigoi,” kata Miaocai yang akhirnya menggunakan panah juga. Sudah melapisi anak panah dengan es dan sudah membidik strigoi.


“Guru ... Dia ... Aku tak bisa ...,” kata Yuanrang


“Tenang. Aku bisa Bahasa Romawi,” kata Yudhistira yang maju seolah sudah paham apa pikiran Yuanrang, “Biarkan aku yang berbicara dengan dia dan akan menterjemahkan pada kalian.”


“Aku tidak mencari masalah dengan kalian, manusia,” itulah kata awal dari si strigoi, “Kenapa kalian mengganggu tempat kami?”


Karena melompat terlalu jauh, Yudhistira memundurkan komunikasi. Tanpa diawali perkenalan diri, tiba-tiba saja strigoi wanita ini langsung komplain. Yudhistira pun memulai perkenalan dan tetap tenang.


“Sebelum kita masuk ke topik utama, mari kita berkenalan dulu,” kata Yudhistira dengan Bahasa Romawi, “Namaku Yudhistira dan ini tiga muridku. Aku berasal dari India dan sekarang sedang di Dinasti Han karena suatu tugas. Bolehkah aku mengetahui namamu dan tempat asalmu?”


“Livilla. Kekaisaran Romawi. Britannia. Londinium,” kata strigoi perempuan dengan nada yang terdengar kaku dan tidak ramah.


Britannia adalah nama tempat di era zaman Romawi. Kelak, di dunia modern, akan dikenal dengan Britania atau Inggris. Sedangkan Londinium adalah salah satu kota yang termasuk wilayah Britannia. Kelak, di dunia modern, Londinium akan dikenal sebagai London.


“Selama kita berbicara, bolehkah aku memohon waktumu sebentar untuk menterjemahkan komunikasi kita pada tiga muridku? Tiga muridku tidak bisa Bahasa Roma,” kata Yudhistira.


“Silahkan,” kata Livilla.


“Awalnya memang target kami hanya lipan. Untuk pertanyaanmu yang tadi, niatku hanya melindungi strigoi yang menyerang manusia secara brutal. Tiga muridku kemarin bertemu dengan kalian. Aku yakin kau juga mengenali tiga muridku ini. Memang tidak semua strigoi jahat. Tapi tidak semua strigoi baik pula. Karena itulah kami perlu memastikan dulu.”


            “Tanyakan saja ke penduduk desa di sisi selatan hutan. Apakah ada penduduk diserang oleh manusia penghisap darah? Coba tanyakan pada mereka!”


            Sebelum berangkat kemari, Yudhistira memang sudah menanyakan hal ini pada pengungsi. Namun mereka tidak melaporkan apapun soal penghisapan darah. Juga tidak pernah bertemu dengan manusia berkulit pucat, bermata kuning dan berambut pirang. Tidak ada laporan soal strigoi yang mendatangi desa.


            “Aku sudah menanyakan hal barusan pada penduduk desa,” kata Yudhistira, “Memang tidak ada laporan tentang penyerangan kalian.”


            “Jika kau sudah bertanya pada penduduk,” Livilla heran, “Kenapa kalian masih tetap tidak percaya?”       


            “Sebentar. Lalu bagaimana kalian bertahan hidup tanpa darah?” tanya Yudhistira.

__ADS_1


            “Pertama, kami menghisap darah dari ternak penduduk sekitar. Kedua, ada beberapa sarang bandit di sekitar hutan ini. Memang jarak mereka cukup jauh dari hutan ini. Tapi tidak masalah. Kami menculik mereka, menghisap darah mereka dan mengembalikan mereka begitu sudah melemah. Bahkan kami tidak membunuh bandit. Apalagi penduduk desa yang memang tidak berdosa.”


            “Apakah aku bisa mempercayai pernyataan kalian? Bisa saja kalianlah yang mengendalikan para lipan untuk menculik penduduk desa. Lalu menghisap darah para penduduk. Begitu kan?”


            “Kami tidak memiliki hubungan apapun dengan lipan.”


            “Bagaimana bisa aku percaya dengan omonganmu jika kau hidup berdampingan dengan lipan, Nona Livilla?”


            “Lipan ini sudah ada sebelum kami di sini. Yang membawa lipan ke sini adalah tiga lukanthropos. Aku sudah membunuh satu lukanthropos. Lukanthropos kedua dibunuh oleh murid-muridmu kemarin malam. Lukanthropos ketiga melarikan diri entah kemana.”


            “Kau melimpahkan kecurigaanku pada para lukanthropos, Nona Livilla?” tanya Yudhistira, “Jika memang kau tidak mencari masalah dengan penduduk, kenapa tidak kau bunuh para lipan? Bukankah akibatnya sekarang aku mencurigaimu?”


            “Kami sengaja membiarkan para lipan hidup untuk melindungi tempat persembunyian kami. Jangankan gua, para penduduk tidak akan berani mendekati hutan karena ada lipan. Singkatnya, supaya mereka jauh dari kami. Kami tidak punya banyak pilihan. Bayangkan jika kami membunuh lipan? Maka akan banyak penduduk desa yang masuk ke gua dan malah ketemu dengan kami.”


            “Kupersingkat. Jadi kau tidak ada hubungan dengan lukanthropos dan lipan?” kata Yudhistira.


            “Untuk lukanthropos, mereka musuh kami. Untuk lipan, hubungan kami dengan mereka hanya memanfaatkan saja,” kata Livilla, “Untuk bukti-bukti sudah kau dapatkan sendiri dan sudah kujelaskan tadi.”


            “Dari tanah Britannia di ujung barat hingga ke Dinasti Han di ujung timur. Apa tujuan kalian menempuh perjalanan sejauh ini?”


            “Kami memburu seorang strigoi yang berkhianat. Kabarnya, dia kabur ke Dinasti Han. Organisasi mengirim beberapa kelompok strigoi. Kami semua tersebar di seluruh tanah Dinasti Han.”


            “Beberapa kelompok?? Berarti kalian mengirim strigoi dalam jumlah besar??”


            “Begitulah. Untuk jumlah spesifiknya, kami tidak tahu pasti. Karena organisasi kami di Britannia mengirim berangsur-angsur. Setelah sampai di sini, kami juga harus membangun jaringan komunikasi.”


            “Sekuat apa strigoi yang kalian buru? Sampai kalian mengirim banyak strigoi hanya untuk memburu satu strigoi?”


            “Penyelidikanmu di sini, apa kau benar-benar legal?” kata Yudhistira.


            Livilla menghela nafas dan berkata, “Kukira kau sudah percaya. Baiklah. Tak apa. Aku punya cukup bukti.”


Livilla menahan rasa sebal mendengar kalimat Yudhistira yang susah percaya. Terlihat dari wajah. Tapi wanita itu menjaga amarah. Kemudian berkata kalau punya empat bukti legalitas. Dia membuka tas dan mengambil sesuatu. Kemudian menunjukkan sebuah lencana khusus. Lencana terbuat dari lempengan baja berbentuk persegi. Di bagian permukaan, ada tiga cetakan khusus. Cetakan paling atas berlambang elang yang menoleh ke sisi kiri. Lambang negara khas Romawi. Lengkap dengan tulisan SPQR. SPQR adalah slogan kenegaraan Kekaisaran Romawi yang berarti Senatus PopulusQue Romanus. Jika diterjemahkan berarti Senat Bersama Rakyat Romawi. Kemudian di bawah lambang kenegaraan Kekaisaran Romawi, ada cetakan timbul yang berbentuk lambang organisasi tempat Livilla bekerja. Di paling bawah plat, ada tulisan nama LIVILLA.


“Bagaimana? Ini barusan bukti pertama. Biar kau lebih percaya, akan kuambilkan tiga bukti yang lain,” kata Livilla, “Mohon tunggu sejenak di sini.”


“Ya. Silahkan. Kami akan menunggu,” kata Yudhistira.


Livilla membalikkan badan dan berjalan. Kemudian hilang di kegelapan. Yudhistira menyuruh murid-muridnya duduk dan mulai mengobrol.


“Guru, lambang di tengah tadi apa? Aku tahu kalau lambang paling atas adalah lambang Kekaisaran Romawi. Kalau yang di tengah aku tidak tahu,” kata Yuanrang.


“Dia anggota organisasi yang bernama Aquilae Custos. Yang secara bahasa berarti Pelindung Elang. Makna Elang di sini adalah Kekaisaran Romawi. Jadi maksudnya yaitu Pelindung Kekaisaran Romawi. Aquilae Custos mengatasi monster, hantu, penyihir jahat, ilmu hitam dan hal-hal yang mengganggu ketenangan rakyat Romawi. Bukan organisasi main-main. Secara fungsi dan tujuan, miriplah dengan pasukan Pelindung jalur sutra. Kalau Pelindung Jalur Sutra kan didukung dan dibiayai oleh lima negara sekaligus: Dinasti Han, Kekaisaran Persia, India, Arab dan Romawi. Sedangkan Aquilae Custos milik Romawi sendiri.”


Lambang Aquilae Custos berada bagian tengah dan terdiri dari empat simbol. Pertama simbol elang. Kedua simbol perisai yang terletak di depan elang. Ketiga, simbol kapak yang dicengkeram di kaki kiri elang. Keempat simbol pedang yang di kaki kanan elang. Yudhistira juga menerangkan kalau organisasi ini punya slogan yaitu “Melayani Rakyat Roma” meski tidak tertulis di lambang. Bukan dari bagian militer resmi Kekaisaran Romawi.


“Kalau memang bukan bagian dari militer, berarti apakah bagian dari organisasi intelijen Romawi?” tanya Miaocai.


“Tidak juga. Aquilae Custos berdiri sendiri dan independen. Bukan di bawah militer dan bukan di bawah Frumentarii,” kata Yudhistira, “Jumlah anggota Aquilae Custos memang tidak sebanyak intelijen dan militer. Tapi mereka sangatlah kuat. Sistem seleksi Aquilae Custos juga sangat ketat dan pelatihan pun sangat gila. Mereka melindungi penduduk Romawi dari balik bayang-bayang. Anggotanya bisa manusia biasa, strigoi atau lukanthropos.”


“Tunggu, guru … Frumentarii?” tanya Mengde.

__ADS_1


“Ya itu tadi. Frumentarii adalah organisasi intelijen Romawi,” kata Yudhistira.


Tak lama, Livilla pun datang dan muncul lagi. Yuanrang cukup heran melihat cara bergerak bangsa strigoi. Dibilang berjalan juga tidak, dibilang melompat juga tidak. Mereka berjalan tapi seolah melompat. Yuanrang sendiri bingung mendeskripsikan. Yang jelas, cara bergerak seperti itu membuat strigoi terlihat lebih cepat jika dibandingkan dengan manusia biasa. Livilla membawa dua dokumen. Strigoi itu melambat dan menyerahkan tiga dokumen pada Yudhistira.


Yudhistira memeriksa dokumen Livilla. Dokumen pertama, surat perintah yang menerangkan bahwa Livilla, anggota Aquilae Custos, bertugas mencari buronan di Dinasti Han. Di bagian bawah, ada stempel khusus dari Kaisar Romawi. Kaisar Antoninus Pius. Dokumen kedua, mirip dengan dokumen pertama, hanya saja ditulis oleh pihak Aquilae Custos sendiri. Dokumen ketiga, adalah surat izin perburuan dari Dinasti Han. Tidak kalah menyakinkan, dokumen ketiga ditandai dengan stempel khusus kepala pemerintahan Dinasti Han. Yaitu Cao Can. Tidak masalah bagi Yudhistira untuk memahami bahasa Cina dan Romawi. Yudhistira pun mengembalikan tiga dokumen pada Livilla.


“Bagaimana? sudah empat bukti kuberikan dan sebelumnya sudah serangkaian argumen,” kata Livilla yang menghela nafas, “Apa kalian sudah percaya? Kalau kalian masih tak percaya juga, tak apa. Tak masalah. Kami akan pergi dari sini. Tapi, konsekuensinya, kami akan melapor pada Aquilae Custos. Otomatis Aquilae Custos akan melapor ke Kekaisaran Romawi. Bahwa ada sekelompok orang dari Dinasti Han yang mengaku pemburu monster menghalangi penyelidikan dan perburuan Aquilae Custos. Tentu konsekuensi dari informasi barusan akan berdampak pada hubungan antara Dinasti Han dan Kekaisaran Romawi. Aku yakin kau tahu, kalau informasi ini sampai ke Kaisar Antoninus Pius, ini bukan hal yang baik bagi Dinasti Han.”


“Oke, Oke. Maafkan kami. Kami hanya memastikan saja. Kami percaya,” kata Yudhistira.


Livilla tersenyum, “Syukurlah kalau begitu.”


“Sebenarnya begini, aku dan tiga muridku sedang melakukan penyelidikan yang sama terkait dengan kedatangan monster dari utara. Jika kalian berkenan, mungkin kita bisa menggabungkan tenaga?” kata Yudhistira.


“Bisakah kalian tunjukkan bukti kalau kalian benar-benar penyelidik?” inilah serangan balik Livilla, “Aku sudah menunjukkan bukti. Sekarang giliran kalian.”


“Pertemuan berikutnya, akan kuberikan padamu.”


Yudhistira sebenarnya tidak punya surat keterangan ini. Namun, dia percaya kalau bisa mengusahakan dokumen yang diminta oleh Livilla. Karena Yudhistira berniat bekerja sama dengan utusan dari Romawi ini.


“Aku akan sangat senang jika ada bantuan. Tapi ada dua hal yang perlu dipikirkan. Pertama, kami belum membangun koordinasi dengan para rekan di organisasi. Jadi, kami belum bisa mendapat persetujuan akan kerja sama. Kedua, mohon maaf sebelumnya, kami belum sepenuhnya mempercayai kalian,” kata Livilla.


“Kami sudah membunuh membunuh dua lipan dan satu lukanthropos. Kau masih belum percaya?”


“Kalau secara kompetensi, aku percaya. Untuk seukuran bocah remaja, membunuh dua lipan dan satu lukanthropos sangatlah luar biasa,” kata Livilla yang menatap tiga murid Yudhistira bergantian, “Masalahnya di koordinasi dan legalitas.”


“Untuk legalitas, kami akan membawa surat ketika bertemu lagi. Untuk koordinasi, apalagi yang kau butuhkan untuk membuatmu percaya pada kami?”


“Untuk tahap awal, cukup jangan sebarkan pada penduduk kalau kami tinggal di sini. Hanya kalian bertiga yang tahu.”


“Kalau soal itu mudah bagi kami. Tapi seiring dengan kembalinya penduduk ke desa, cepat atau lambat mereka akan mendatangi gua ini. Jadi, meski aku tidak menceritakan pada penduduk kalau ada strigoi tinggal di sini, mereka akan tahu dengan sendirinya. Tanpa kami harus memberitahu. Mau bagaimana lagi, Nona Livilla? Penduduk menggantungkan kehidupan sehari-hari dari hutan ini. Apa kau punya alternatif lain?”


“Sebentar.”


Livilla mengerutkan kening dan menunduk. Dia tampak berpikir keras. Karena perkataan Yudhistira ini. Mau menyuruh Yudhistira untuk mencegah para penduduk yang ingin kembali di sini? Permintaan yang konyol. Mau menyuruh Yudhistira untuk mengalihkan sumber pendapatan penduduk supaya tidak menggantungkan hutan ini? Itu konyol juga. Livilla tampak bingung.


            “Kau ada dua orang kan? Bagaimana jika panggil temanmu kemari dan mari kita berdiskusi?” tanya Yudhistira


            “Maaf, temanku sedang tidur. Aku tidak bisa mengganggunya.”


“Atau begini saja? Aku tahu bangsa strigoi seperti kalian sangat membutuhkan darah. Aku bersedia memberikan darah pada kalian. Jadi kalian tidak perlu repot-repot mencari ternak atau menculik bandit. Kalau masalah darah sudah teratasi, kalian bisa lebih fokus untuk mengerjakan misi dan membangun jaringan informasi dengan para anggota Aquilae Costus yang lain.”


Ekspresi Livilla berubah dari bingung menjadi senang, “Ide yang bagus. Aku bersedia, Temanku juga pasti bersedia. Dia sering mengeluh karena harus mencari darah.”


“Begini, Nona Livilla. Memang ideku ini belum tentu disetujui oleh penguasa setempat. Tapi akan kuajak berdiskusi dulu. Siapa tahu penguasa setempat setuju. Akan kucoba. Sekalian mengusulkan pada penguasa untuk mencarikan kalian gua atau rumah yang lain. Dua orang penyelidik dari Aquilae Costus tidak pantas berada di gua seperti ini. Seperti hewan buas saja.”


“Iya. Terima kasih. Kapan kalian akan kemari lagi?”


“Kami belum bisa memastikan. Karena kami harus berburu ular air raksasa. Aku tidak akan meminta bayaran uang pada penguasa atas dua lipan, satu lukanthropos dan satu ular air. Bayarannya yaitu dukungan operasi jangka panjang menuju utara.”


“Sekali lagi, terima kasih atas bantuanmu, Tuan Yudhistira,” kata Livilla dengan salam yang meniru orang China.

__ADS_1


“Baiklah, kami pulang dulu,” Yudhistira dan tiga muridnya pun berpamitan.


__ADS_2