
Tersadar dari rasa terkejut, Yuanrang langsung menarik pedanh dari sarungnya. Bersamaan dengan itu pula ular besar membuka mulut dan langsung menyerang Yuanrang. Yuanrang langsung menangkis. Memang tangkisan Yuanrang berhasil. Tapi dia malah terjatuh. Karena gaya dorong ular. Kuda pun panik dan malah ambruk juga. Untung Yuanrang berhasil mencegah kuda supaya tidak kabur dengan cara memegang tali kekangnya. Yuanrang menaiki kuda lagi dan menjauh bersama Xing Lian.
“Bagian mana yang sakit?” kata Xing Lian.
Yuanrang yang meringis kesakitan menjawab, “Tulang ekorku.”
Yuanrang dan Xing Lian terus menjaga jarak dengan ular. Bukan karena takut. Tapi karena mereka belum ada strategi untuk melawan ular. Efek syok barusan masih belum sepenuhnya hilang. Meski Xing Lian tidak terkena serangan, dia juga sama terkejutnya. Jantung Yuanrang pun masih berdebar-debar. Ular masih mengikuti mereka. Mereka terus menjauh dan menjaga jarak.
“Bagaimana rencanamu?” tanya Xing Lian
“Sebentar,” kata Yuanrang yang masih terengah-rengah.
Sambil memacu kuda dan membingungkan ular besar ini, Yuanrang menggunakan pengendanlian logam. Dia memainkan beberapa pisau lempar untuk menusuk-nusuk ular.
“Apakah dia beracun?” tanya Xing Lian.
“Ah, benar juga,” kata Yuanrang, “Kau jadi umpan aku akan mengecek dulu.”
“Umpan?? Hei, Yuanrang!!!”
Yuanrang memacu kuda lebih cepat. Xing Lian pun bingung kenapa dia jadi umpan dan apa yang ingin dicek oleh Yuanrang. Hasilnya, Xing Lian malah yang dikejar oleh ular besar. Setelah jauh, Yuanrang berputar balik dan mendekat ke sisi ekor si ular. Ujung ekor hanya satu dan tidak bercabang.
“Syukurlah. Untung kecemasanku salah,” kata Yuanrang.
Yuanrang mengeluarkan dan mengarahkan pedang untuk menusuk-nusuk punggung ular. Sekali lagi, dia bersyukur tubuh ular tidak sekeras dugaannya. Karena di kepala Yuanrang masih terbayang kerasnya tubuh lipan raksasa kemarin. Setelah itu, giliran dia yang kembali dan melindungi Xing Lian.
“Apa yang ingin kau cek tadi?” tanya Xing Lian.
“Ingat ular yang di perairan? Ular di perairan punya ekor yang bercabang dua dan beracun. Terpicu oleh pertanyaanmu tadi, Aku khawatir kalau ular ini adalah ular yang sama. Berhasil kabur dari intaian para tentara. Untungnya bukan. Ujung ekor hanya satu. Sepertinya tidak beracun,” kata Yuanrang.
“Seberapa yakin kalau dia tidak beracun?”
“Dia sejauh ini tidak pernah menyemburkan racunnya ke kita. Kalau memang bisa, dia pasti sudah berkali-kali melakukan.”
“Baguslah. Lalu bagaimana strategi kita?”
“Kini giliran aku yang jadi umpan. Biarkan aku yang mengatasinya dari jarak dekat. Tugasmu memanahnya dari jarak jauh,” kata Yuanrang sambil menangkis dan mendorong balik mulut ular.
“Boleh juga. Tapi dengan taktik itu, aku hanya bisa membantu selama anak panahku masih penuh.”
“Jangan cemas, Xing Lian. Aku mampu mengendalikan logam,” kata Yuanrang yang mengalihkan kuda ke kiri untuk menghindari serangan, “Setiap panah yang menusuk kulitnya, akan kucabut lagi dan kukembalikan padamu.”
“Boleh juga,” Xing Lian pun menjauh.
“Hei, hei, jangan menjauh dulu! Kita pancing dia ke padang rumput tempat aku membunuh lipan.”
“Oh, iya benar.”
Yuanrang dan Xing Lian pun memacu kuda ke selatan. Ular pun mengikuti. Mungkin si ular sudah sangat lapar karena di hutan tidak menemukan makanan. Meski jelas lebih cepat daripada laju ular, mereka berdua tetap mengendalikan kecepatan. Menjaga supaya ular tidak tertinggal jauh dan tetap bisa menjangkau mereka. Sambil berlari, Yuanrang membuat beberapa pisaunya melayang dan menusuk-nusuk tubuh ular. Lumayan untuk mencicil dan memperlemahnya. Mereka berdua terus memacu kuda hingga sampai di padang rumput di sisi selatan hutan. Inilah pertarungan yang sebenarnya.
Yuanrang dan ular beradu pandangan. Beberapa kali mata Yuanrang teralihkan setiap ular itu menjulurkan lidahnya yang bercabang. Kini jarak Yuanrang dan ular hanya delapan langkah kaki. Entah apa yang dipikirkan ular ini. Kenapa dia tidak langsung menyerang? Apakah dia mampu berpikir? Tidak. Mana mungkin. Ular ini mungkin hanya kelelahan karena harus mengejar kuda.
Tusukan panah membuat ular ini mendesis. Kemudian langsung membuka mulut dan menyerang Yuanrang. Yuanrang dan kudanya berhasil mengelak ke kiri. Di saat inilah, Yuanrang mencondongkan tubuh ke kanan, lalu menebas-nebaskan pedang berkali-kali ke sisi kanan ular. Ular itu meronta-ronta dan mendesis terus. Namun, Yuanrang harus terlempar karena terkibas oleh ekornya.
__ADS_1
Yuanrang dan kudanya pun terjatuh. Keduanya bangkit bersamaan. Namun naas bagi Yuanrang. Kudanya meringkik ketakutan dan menjauh. Berlari ke selatan. Kini, Yuanrang hanya berdiri di atas kakinya. Kecepatannya pun sekarang sama dengan kecepatan ular.
“Yuanrang! Naik kudaku dan kita kabur!” teriak Xing Lian.
“Tidak. Kita tetap bertahan pada strategi!” kata Yuanrang.
“Kita bisa minta bantuan ke tentara yang mengawalku, Yuanrang! Kita hadapi bersama-sama! Mereka sekarang ada di desa!”
“Tidak. Aku tidak mau mereka mati terlilit ular raksasa ini. Mereka hanya terlatih untuk menghadapi manusia biasa. Bukan monster berukuran besar seperti ini.”
“Kenapa tidak ikut naik kudaku saja?”
“Pertama, aku akan membuatnya bingung dengan mengepung dari dua arah. Kedua, aku tak mau memperlambat kudamu.”
Tak mampu membantah dan tak mampu meninggalkan Yuanrang, Xing Lian hanya terdiam. Dia mengambil anak panah dan menyiapkannya di busur. Pikiran Xing Lian juga menebak-nebak kenapa Yuanrang memperlakukan dirinya seolah memang terlatih untuk membunuh monster.
Ular besar itu mendekati Yuanrang. Setelah berjarak tiga langkah, ular menganga dan langsung berusaha melahap. Pedang Yuanrang beradu dengan taring kiri ular. Dengan tekanan taring itu pula, Yuanrang menggunakai sebagai tumpuan, mendorong dirinya ke sisi kiri tubuh ular dan menyerang lehernya. Baru akan mengayunkan pedang yang sudah terangkat ke atas, Yuanrang secepat mungkin mengubah posisi menyerang menjadi bertahan. Dia pun terhempas karena hantaman kepala ular.
Melihat serangan tak terduga barusan, Xing Lian pun memacu kuda. Dia menembakkan anak panah ke kepala ular. Memang kena, tapi tak mampu membunuhnya. Mengambil anak panah dan menembak lagi. Xing Lian pun terus melakukan hal yang sama. Memberi waktu Yuanrang untuk bangkit dan menghilangkan rasa pusingnya. Hingga sekarang, total ada lima anak panah yang sudah menancap masuk di tubuh ular. Ular pun mengejar Xing Lian.
Mencemaskan Xing Lian, Yuanrang pun berlari mengejar ular. Ular itu juga masih belum menyadari dan terlalu fokus untuk mengejar Xing Lian. Yuanrang pun menebas ekor ular. Ular pun mendesis kencang. Tak cukup, Yuanrang terus menebas beberapa kali sampai ular itu menyadari keberadaannya. Ular pun membalikkan kepala dan mulai mengejar. Di saat ini, Yuanrang berlari mundur. Sambil mengendalikan logam dan pisaunya untuk dari jarak jauh. Menusuk-nusuk tubuh si ular. Pada prinsipnya, semua makhluk hidup akan melemah perlahan seiring berkurangnya darah.
Ketika sudah teralihkan, Xing Lian mendekati ular yang sekarang membelakanginya. Berusaha memanah kepalanya. Mungkin Xing Lian tidak sebaik dan tidak seakurat Miaocai dalam memanah. Beberapa panah yang ditembakkan hanya mengenai tubuh ular. Namun, usaha Xing Lian sangat membantu Yuanrang. Mereka masih memperhatikan prinsip dasar dengan menghabiskan darah ular besar ini.
Yuanrang segera berlari mendekat. Ketika ular itu kesakitan dan menganga, Yuanrang menebaskan pedang ke taring kiri atas. Sambil terus dihujani panah oleh Xing Lian. Yuanrang melakukan dengan pengendalian logam. Sehingga jaraknya cukup aman. Dia melakukan berkali-kali sampai gigi ular yang keras itu remuk. Dengan brutal, ular raksasa langsung bergerak menyerang Yuanrang. Tanpa mempedulikan tembakan panah yang terus menghujani tubuhnya. Yuanrang berhasil menghindar dan menjauhi ular. Dia kini berdiri di atas bebatuan yang tinggi. Mengamati pergerakan ular yang kini lebih lambat.
“Yuanrang, kenapa tidak mengincar matanya?” kata Xing Lian.
“Astaga, benar juga. Bodohnya aku,” kata Yuanrang.
“Baik. Jadikan dirimu umpan dulu. Aku akan mengkonsentasikan pengendalian logamku ke setiap anak panahmu.”
Yuanrang berlari menjauh dan Xing Lian yang mendekat. Sesuai dengan strategi. Yuanrang memakai mode meditasi. Karena memang susah jika harus mengendalikan banyak objek sekaligus dan tersebar. Meskipun objek berukuran kecil seperti anak panah. Sehingga butuh konsentrasi yang lebih kuat dan lebih ekstra jika hanya dibandingkan dengan mengendalikan satu atau dua pedang.
Bahkan, pikiran Yuanrang sekarang tidak terlalu mempedulikan Xing Lian yang dikejar-kejar ular. Xing Lian berputar, menghindar, berhenti, lalu memacu kudanya lagi. Sekalian membiarkan pendarahan. Perempuan itu melakukan ini semua untuk memberi waktu pada Yuanrang.
Beberapa menit kemudian, Yuanrang sudah mengumpulkan semua anak panah. Kini dia berfokus pada pergerakan Xing Lian. Yuanrang turun dari batu, meletakkan tumpukan anak panah di batu dan berlari maju.
“Xing Lian! Kemarilah dan ambil anak panahmu di bawah batu,” kata Yuanrang, “Sekarang giliranku!”
Yuanrang terus maju dan menatap ke depan. Membiarkan Xing Lian melewatinya. Menyambut mulut ular yang menganga lebar. Sebelum sampai ke Yuanrang, pedang itu berhasil menusuk-nusuk mata ular hingga buta. Yuanrang pun berguling ke sisi ular. Ular itu terus melaju hingga menabrak kaki batu. Bibir Yuanrang tersungging puas. Sekarang, sisi ofensif kiri ular sudah lumpuh. Tak punya gigi kiri dan tak punya mata kiri.
Xing Lian kini berhenti di sisi kiri Yuanrang. Tempat panah Xing Lian juga sudah penuh. Mereka menunggu ular yang sepertinya pusing setelah menghantam batu.
“Apa rencanamu selanjutnya?” kata Xing Lian.
“Jelas. Membutakan mata kanan dan mematahkan taring kanan atas,” jawab Yuanrang.
Ular itu berbalik dan mulai menyerang lagi. Xing Lian memacu kuda ke sisi kanan ular raksasa. Sambil terus menembaki mata kanan ular. Setelah empat kali percobaan, panah Xing Lian berhasil menusuk mata kanan ular raksasa.
“Kena, Yuanrang! Kena!” sorak Xing Lian.
“Bagus, Xing Lian! Tembakan yang mantap!” kata Yuanrang.
__ADS_1
Yuanrang berlari mendekati ular raksasa yang menganga dan meronta kesakitan. Kemudian berhenti lima langkah dari kepala ular. Dengan pengendalian logam, Yuanrang menebas-nebaskan pedang ke taring kanan atas. Ular itu pun berusaha menyerang ke sekelilingnya. Mengira musuh ada di dekatnya. Mau bagaimana lagi? Ular raksasa ini sudah buta. Butuh lima belas tebasan untuk mematahkan gigi ular. Xing Lian pun juga terus mendukung dengan tembakan panahnya. Setelah menghancurkan taring kanan atas, Yuanrang pun menggunakan pedang dan semua pisaunya untuk menusuk-nusuk tubuh ular berkali-kali. Sampai akhirnya, Yuanrang naik ke batu. Ingin memberi serangan yang sama dengan lipan kemarin. Yaitu menusuk kepala langsung.
Ular pun sudah cukup lemah. Dua matanya pun sudah hancur dan buta. Taring atas kiri dan kanan sudah putus. Sudah banyak kehilangan darah juga. Dia sudah terlalu lemah dan kehabisan banyak darah. Yuanrang terjun dari ketinggian dan menusukkan pedang ke rahang atas ular. Tusukan Yuanrang menembus rahang atas, lidah, rahang bawah hingga permukaan tanah. Tusukan fatal ini membuat ular meronta kuat beberapa kali. Bahkan Yuanrang pun sampai terhempas. Xing Lian pun terus menghujani kepala ular dengan panah-panahnya. Hingga akhirnya tidak bergerak lagi.
“Apakah sudah selesai?” tanya Xing Lian yang terengah-rengah.
“Sepertinya,” kata Yuanrang yang mendekati Xing Lian sambil membuka telapak tangan, “Berikan pedangmu dan akan kupenggal kepalanya.”
“Ambil saja.”
Dengan pengendalian logam, Yuanrang mengkonsentrasikan pikiran ke pedang di pinggang kiri Xing Lian. Pedang itu keluar dari sarung, perlahan dan melayang ke genggaman Yuanrang. Yuanrang pun bergerak ke leher ular. Mengangkat pedang tinggi-tinggi dan mengayunkan ke leher ular sekuat tenaga. Butuh lima kali tebasan sampai benar-benar terpisah dari badannya. Kemudian, Yuanrang mencabut pedang miliknya yang menusuk mulut ular. Lalu mengembalikan pedang milik Xing Lian.
Yuanrang menghela nafas dan merebahkan diri di padang rumput, “Akhirnya selesai juga. Kita akan menghadapi ular kan di misi berikutnya, Xing Lian?”
“Iya. Memangnya kenapa?”
“Ular barusan, lumayan untuk latihan sebelum menghadapi ular yang lebih sulit. Minimal, aku tahu apa yang harus aku lakukan.”
Xing Lian mengistirahatkan kepala ke bagian belakang kuda, “Sekarang bagaimana?”
“Seperti biasa, bawa kepala ular ini dan tunjukkan ke penguasa.”
“Lalu apakah Kau tetap bertahan pada misimu untuk menjelajah hutan?”
“Ya. Aku harus melaksanakan misi Guru Yudhistira.”
“Kau tak akan mampu berlari kencang jika ada monster yang lebih besar dan lebih kuat dari dirimu.”
“Benar juga. Tapi mau bagaimana lagi. Aku akan memikirkan cara lain yang lebih aman meskipun tanpa kuda.”
“Anggap saja kau bertahan hidup dan sudah selesai menjelajah hutan. Lalu apa yang akan kau lakukan?”
“Tetap kembali menaiki Bukit Lang Xue untuk melaporkan hasil penjelajahanku.”
“Jalan kaki?”
“Mau bagaimana lagi? Kalau yang ini aku tidak punya cara lain.”
Xing Lian tersenyum dan berkata, “Kau sangat gigih juga. Masih ada kuda yang tersisa di desa. Sebaiknya kita kembali ke sana dan bawa saja satu kuda.”
“Lalu bagaimana dengan tentara yang mengawalmu? Bukankah mereka juga butuh kuda untuk kembali.”
“Jangan dibuat sulit, Yuanrang. Di antara mereka, akan ada dua orang yang menaiki kuda. Untuk sekarang, kita bisa pakai kuda ini bersama,” kata Xing Lian sambil menepuk kepala kudanya, “Untuk kepala ular, biarkan saja dulu di sini. Nanti kita akan mencari karung di desa untuk wadahnya dan kembali ke sini. Kemudian, lanjutkan misimu dan aku akan kembali.”
“Baguslah kalau begitu.”
“Tak ingin membawa mayat ular ini untuk makanan para pengungsi? Lumayan lho, dengan ukuran sebesar ini, bisa memberi makan banyak orang.”
“Uh. Ide yang menjijikkan.”
Yuanrang dan Xing Lian pun mengambil semua anak panah yang sudah ditembakkan. Baik dari tubuh ular maupun yang meleset dan berserakan di padang rumput. Setelah selesai, mereka pun segera ke desa.
“Terima kasih atas bantuanmu, Xing Lian,” kata Yuanrang sambil memacu kudanya, “Maafkan aku karena menempatkanmu di situasi berbahaya seperti barusan.”
__ADS_1
“Iya. Tak masalah,” kata Xing Lian yang duduk di belakang Yuanrang, “Tapi aku masih heran dengan kalimatmu yang tak mau mengajak tentara karena menurutmu mereka tidak terlatih untuk membunuh monster. Memangnya menurutmu aku terlatih?”
Yuanrang pun tertawa, “Benar juga. Kalau kita kembali ke desa, ular akan mengikuti dan otomatis para tentara akan terlibat. Mengatur orang dalam jumlah banyak pun aku belum bisa. Kecuali jika aku punya otak secerdas Guru Yudhistira dan Mengde.”