Yuanrang Monster Hunter

Yuanrang Monster Hunter
18. Dua Surat


__ADS_3

“Tidak. Aku tidak sependapat denganmu, Guru,” kata Mengde.


“Kenapa?” Tanya Yudhistira.


“Tidak efektif jika kita semua harus bergerak bersama-sama ke Bukit Lang Xue. Lebih baik kita menyebar. Dua orang ke Bukit Lang Xue. Dua orang mengabari Livilla.”


“Ide yang baik, Mengde. Tapi, bukankah kalian tidak bisa Bahasa Romawi?”


Pertanyaan balik Yudhistira mendiamkan tiga pendekar. Memang bagian itulah yang dilupakan tiga pendekar. Di sini hanya Yudhistira yang mampu Bahasa Romawi.


“Bagaimana jika guru saja yang menemui Livilla? Kami bertiga akan pergi ke Lang Xue,” tanya Yuanrang.


“Jangan tolol, Yuanrang,” kata Yudhistira, “Dua alasan. Pertama, Kita semua tidak tahu seperti itu 'bajingan tua' yang diceritakan oleh Qiong Qi ini. Kalau 'bajingan tua' itu mampu menebas sayap Qiong Qi dan bahkan mampu memanfaatkan Qiong Qi untuk melakukan agendanya, berarti dia sangat kuat. Kupertegas lagi. Meski yang kita hadapi barusan jenis Qiong Qi terlemah, pada dasarnya, Qiong Qi adalah monster yang cukup kuat. Kedua, aku punya firasat, kalau kita semakin mendekat ke utara, maka musuh yang akan kita hadapi semakin kuat.”


Lagi-lagi argumen Yudhistira mendiamkan tiga pendekar. Awalnya Yuanrang begitu bersemangat untuk bertarung. Namun semangatnya langsung redup lagi. Keningnya berkerut dan berpikir keras.


“Kalian kesusahan menemukan jawaban dari argumenku? Kenapa kalian tidak menyarankanku untuk menulis surat pada Livilla?” dengus Yudhistira, “Biarkan salah satu dari kalian yang pergi mengantar suratku ke Livilla. Yang lain akan bersamaku menuju Bukit Lang Xue.”


Mata Yuanrang yang awalnya redup langsung cerah kembali. Pikiran Yuanrang tentang petualangan baru di Bukit Lang Xue langsung menguat. Selain pertarungan, Yuanrang juga ingin melihat pemandangan sekitar dari dataran tinggi. Jarang sekali Yuanrang mendapatkan kesempatan seperti ini.


“Biarkan Mengde atau Miaocai yang mengantar surat ke Livilla. Aku ingin ikut bersama guru,” kata Yuanrang.


“Tidak, Yuanrang. Kaulah yang akan mengantar suratku ke Livilla,” kata Yudhistira.


Tentu saja Yuanrang protes dengan keputusan Yudhistira, “Tunggu. Tunggu. Kenapa aku?”


“Hutan itu,” kata Yudhistira yang menunjuk hutan di selatan, “Masih penuh dengan misteri. Apa kau yakin sudah tidak ada monster di sana? Kau yakin di sana benar-benar aman? Aku sih tidak yakin. Kemampuan dan kecerdasanmu bertarung mampu mengatasi monster-monster aneh jika mereka muncul. Jika monster muncul dan jika ternyata kau tidak mampu mengalahkan mereka, kau tinggal meminta perlindungan pada Livilla.”


“Kenapa bukan Mengde? Kukira kita sama-sama mengakui kalau dia paling cerdas di antara kita bertiga.”


“Memang Mengde cerdas. Tapi bakatnya terakumulasi ke otak. Kalau dengan angka, Mengde itu 75 persen otak dan 25 persen bertarung. Kalau kau, 50 persen otak dan 50 persen bertarung.”


Meski sadar sudah mulai kewalahan dengan argumen gurunya, Yuanrang tidak menyerah beradu argumen, “Kenapa bukan Miaocai?”


“Aku membutuhkan Miaocai untuk serangan jarak jauh. Pengendalian esnya juga mampu memperlambat gerakan musuh. Apa kau tidak memperhitungkan juga kemungkinan lain? Misal, bagaimana jika yang datang nanti tidak hanya 'bajingan tua'? Ada kemungkinan 'bajingan tua' membawa tentaranya. Ingat, tujuan 'bajingan tua' memanfaatkan Qiong Qi karena dia ingin menjadikan Lang Xue sebagai markasnya supaya bisa lebih dekat untuk menjangkau wilayah selatan. Jika dia membutuhkan tempat sebesar itu, berarti dia memang tidak sendiri.”


Yuanrang menghela nafas dan berkata, “Baiklah, Guru.”


Empat pendekar itupun segera bersiap untuk kembali. Tidak lupa mereka mengemas kepala Qiong Qi. Kemudian mereka segera menaiki kuda dan kembali. Tidak butuh waktu lama. Begitu melihat Xing Lian, mereka segera menghentikan kuda dan langsung turun.


“Nona Xing Lian,” kata Yudhistira, “Aku akan menulis surat untuk penguasa. Setelah aku menyelesaikan surat, Tolong pulanglah dan sampaikan ke penguasa. Istirahatlah. Tolong besok pagi kembalilah ke desa.”


“Baik, Guru Yudhistira,” kata Xing Lian, “Apakah Qiong Qi berhasil ditaklukkan?”


Miaocai membuka karung dan memperlihatkan kepala Qiong Qi. Harimau bertanduk itu membuat Xing Lian takjub. Gadis itu berkata bahwa baru pertama kali ini melihat harimau bertanduk.


“Guru Yudhistira,” kata Xing Lian, “Apakah makhluk ini benar-benar dari dunia ini?”


Yudhistira menggeleng, “Dia dari dunia yang disebut Svartalfheim. Dipanggil kemari dengan sihir berkekuatan tinggi.”


“Hah? Apa dunia lain benar-benar ada? Kukira hanya dunia kita dan dunia hantu?” tanya Xing Lian.


“Alam semesta ini luas, Nona Xing Lian. Tuhan tidak menciptakan bumi ini saja. Svartalfheim didominasi oleh makhluk yang sangat mirip dengan manusia. Namun berkulit agak keunguan dan bertelinga runcing.”


“Kalau memang dari dunia lain kan seh Qiong Qi bisa Berbahasa Mandarin, guru. Apa dia pernah kursus Bahasa Mandarin atau semacamnya?” tanya Mengde.


“Berarti Qiong Qi sudah cukup lama tinggal di daerah Cina,” jawab Yudhistira, “Sudahlah! Aku tidak ingin membebani kalian dengan pengetahuan yang tidak perlu di situasi seperti ini. Mengde, Miaocai ... Istirahatlah bersama Xing Lian! Kita akan menempuh perjalanan yang menanjak. Yuanrang, temani aku menulis surat!”


Mereka semua menuruti perintah Yudhistira. Miaocai, Mengde dan Xing Lian duduk di bawah pohon pinus. Sementara Yudhistira dan Yuanrang duduk di bawah sekumpulan pohon bambu. Sengaja terpisah supaya Xing Lian tetap tidak mengetahui keberadaan Livilla. Selagi Yudhistira menyiapkan semua alat tulis, Yuanrang mengamati yang lain. Senyum Yuanrang mengembang ketika tingkah Mengde. Mengde seolah tak mampu melepaskan pandangannya dari wajah Xing Lian. Sesekali menunduk, lalu mengamati Xing Lian lagi. Mengde juga sangat bersemangat ketika menceritakan pertarungan pada Xing Lian.


“Si bodoh itu ...,” kata Yuanrang.


“Hah? Si bodoh?” kata Yudhistira.


“Maksudku Mengde, guru. Dia tampak begitu bersemangat.”

__ADS_1


Yudhistira menghentikan persiapan sesaat. Mengamati tingkah Mengde terhadap Xing Lian. Kemudian, pria India itu menggelengkan kepala dan tersenyum lebar.


“Guru menyadarinya?” tanya Yuanrang


“Jelas menyadarinya. Aku pernah seumuran kalian, Yuanrang. Umurku juga sudah ribuan tahun dan melihat pola yang sama seperti Mengde dan bocah-bocah seumuran kalian,” kata Yudhistira.


“Ketika di Kekaisaran Romawi?”


“Romawi, Persia, Arab, India dan China. Yah, memang seumuran kalian sudah waktunya merasakan yang seperti ini. Aku dan empat adikku dulu juga begitu,” kata Yudhistira, “Yang penting, ingat pesanku. Cinta, kagum dan semacamnya hal yang normal bagi manusia. Tapi tetap jaga diri kalian agar tidak dikuasai oleh perasaan. Jaga diri kalian supaya tetap pada otak dan logika. Intinya, usahakan tetap objektif. Jangan sampai kalian melakukan hal bodoh dan mati gara-gara cinta. Seperti yang kulihat ketika di Persia dulu.”


“Memang apa yang guru lihat di Persia?”


“Ada bocah seumuran kalian yang tewas mengenaskan. Gara-gara berlagak sok pahlawan dan sok jago,” Hasilnya? Perutnya robek tertembus tanduk Karkadann.”


“Hah? Ada anggota pasukan pelindung jalur sutera yang seumuran denganku? Kukira harus berumur 25 atau 30.”


“Memang Ada bocah seumuran kalian yang bergabung dengan pasukan pelindung. Meski tidak banyak. Itu pun harus melalui seleksi yang ketat. Bocah yang seumuran kalian sebenarnya baik dan punya kemampuan bertarung yang hebat pula. Hanya karena ketololan dia mati mengenaskan di tanduk Karkadann.”


“Karkadan itu makhluk apa?”


Karkadan adalah makhluk mitologi dari Arab dan Persia. Ia digambarkan sebagai makhluk garang yang menyerupai badak atau kerbau dengan satu tanduk panjang dan bengkok di tengah dahinya. Menurut legenda, tanduk Karkadan dikatakan memiliki khasiat obat dan sangat berharga karena kekuatan penyembuhannya.


Dalam mitologi, Karkadan sering digambarkan sebagai musuh yang tangguh yang hanya bisa dikalahkan oleh pahlawan paling berani. Dikatakan memiliki kekuatan luar biasa dan kebal terhadap senjata konvensional. Namun, ada juga cerita di mana Karkadan dijinakkan dan digunakan sebagai tunggangan oleh para pahlawan dan penguasa yang kuat.


Yudhistira pun memulai menulis surat untuk penguasa:


Berikut akan kami sampaikan proses hari ini.


1.       Untuk bayi-bayi lipan, sudah kami musnahkan semua.


2.       Untuk dua makhluk bertaring, berkulit pucat dan bermata kuning, belum bisa kami selesaikan. Aku juga butuh diskusi denganmu tentang ini. Karena itulah, jangan izinkan penduduk untuk kembali kemari.


3.       Kami juga belum mengeksplorasi apa isi gua dan memeriksa keseluruhan hutan. Tapi sejauh ini, kami belum menemukan monster lain di hutan. Ini juga perlu kita diskusikan lagi.


5.       Bandit ini dalam perlindunganku. Dia bekerja sebagai juru masak dan pembuat panah. Jika kau tidak mempercayai bandit ini, penjarakan saja tidak masalah. Asal jangan kau bunuh dan aku mohon rawatlah lukanya. Aku membutuhkan kemampuannya membuat panah. Mungkin juga berguna untukmu. Bisa kau manfaatkan untuk memasak dan memberi makan para pengungsi.


6.       Sekarang, kami akan memeriksa Bukit Lang Xue. Jika sudah benar-benar aman, bisa kita manfaatkan. Aku dan murid-muridku tidak akan pulang dulu.


7.       Keadaan ini semua lebih kompleks dari yang kita duga. Kita perlu menyelidiki kenapa para monster berdatangan dari utara.


8.       Tenang, aku tidak melupakan ular yang mendiami perairan. Setelah Bukit Lang Xue selesai, kami akan mengerjakan ular itu.


“Selesai, Yuanrang,” kata Yudhistira yang menyerahkan surat ke Yuanrang, “Coba bacalah. Siapa tahu ada bagian yang kulewatkan. Sekarang aku akan menulis surat untuk Livilla.”


1.       Ketika kami keluar dari gua kalian, kami bertemu dengan bandit. Bandit dari bukit Lang Xue di utara yang melarikan diri dari Qiong Qi. Qiong Qi menyerang markasnya. Kami sudah berhasil membunuh Qiong Qi.


2.       Qiong Qi menyerang markas para bandit di bawah perintah seseorang. Seseorang ini memotong salah satu sayap Qiong Qi. Kemudian menyuruh Qiong Qi untuk membantai semua bandit di Bukit Lang Xue.


3.       Sekarang kami akan memeriksa Bukit Lang Xue. Area ini bisa kalian gunakan sebagai tempat tinggal pengganti. Posisinya juga ada di utara. Penduduk juga jarang ke sini karena di sini banyak serigala. Menurutku, bukan masalah bagi kalian untuk menghadapi serigala. Aku percaya pada pengalaman kalian dan pelatihan Kekaisaran Romawi.


4.       Setelah matahari terbenam, tolong susul kami kemari. Kalian akan dipandu oleh Yuanrang. Ada kemungkinan, seseorang yang menyuruh Qiong Qi menyerang tempat ini akan datang nanti malam. Ada kemungkinan juga seseorang ini membawa teman-temannya.


5.       Mohon maaf, muridku yang mengantar surat ini tidak bisa Bahasa Romawi.


“Semua dengan Bahasa Romawi, Guru?” kata Yuanrang.


“Ya, jelas. Teman kita orang Romawi. Kubacakan dulu biar kau mengerti.”


Setelah membacakan surat, Yudhistira mengajak semua untuk makan siang. Sambil makan siang, semua melupakan permasalahan dan teka-teki yang ada. Di momen ini, Yudhistira mengajarkan pada para muridnya Bahasa Romawi tingkat dasar. Seperti perkenalan diri, berterima kasih, memberi selamat dan semacamnya selam setengah jam. Setengah jam setelah ilmu dasar selesai, Yudhistira menyuruh tiga muridnya dan Xing Lian untuk mempraktikkan.


Setelah semua selesai, Xing Lian bertanya pada Yudhistira, “Kenapa kau mengajarkan Bahasa Romawi pada kami?”


“Mereka bertiga kelak ingin melihat-lihat jalur sutra. Di jalur sutra bahasa Romawi sering digunakan,” kata Yudhistira tanpa kebohongan karena tiga muridnya memang ingin seperti itu. Tanpa harus memberitahu Xing Lian kalau mereka bekerja sama dengan Livilla.


Yudhistira mengizinkan mereka semua mengistirahatkan perut dulu setelah makan. Mereka merebahkan diri di padang rumput. Hanya Yudhistira yang tampak serius. Mata pria India itu terus menatap Bukit Lang Xue yang ada di utara. Memikirkan strategi terbaik untuk memasang pertahanan dan jebakan jika kemungkinan terburuk muncul. Tak berapa lama, istirahat pun selesai dan mereka mulai bersiap.

__ADS_1


“Sepertinya yang kujelaskan sebelumnya, tugas sudah kubagi,” kata Yudhistira, “Aku, Mengde dan Miaocai akan menuju Bukit Lang Xue. Xing Lian akan mengirimkan surat ke penguasa. Yuanrang akan memeriksa hutan. Apakah semua sudah jelas?”


“Jelas!” jawab semua kompak.


Para pendekar pun berpisah sesuai tugas masing-masing. Mereka menaiki kuda. Yudhistira, Mengde dan Miaocai berangkat ke utara. Yuanrang dan Xing Lian menuju ke selatan.


“Hei, apa kau yakin mau memeriksa hutan sendirian?” tanya Xing Lian yang berkuda di samping Yuanrang.


“Yakin,” jawab Yuanrang singkat tanpa memberitahukan misi sebenarnya, “Kenapa tidak yakin?”


“Siapa tahu ada kejutan lain di sana. Apa kau mampu menghadapi seorang diri? Tanpa bantuan guru dan dua temanmu?”


“Guru bilang aku tidak perlu bertarung jika memang jumlahnya banyak atau satu monster tapi terlalu susah. Minimal, tugasku hanya mendata ada apa saja di hutan?”


“Kau tak takut dengan dua manusia misterius berkulit pucat itu? Bagaimana jika mereka mengincarmu?


“Ya. Sebenarnya takut. Tapi mau bagaimana lagi? Pekerjaan harus cepat selesai. Penduduk harus segera memulai hidup dengan normal. Stok makanan wilayah juga terbatas. Kalau terlalu lama juga, desa juga tidak ada pendapatan.”


“Untuk lebih aman, kenapa tidak menunggu bantuan tentara saja?”


“Begini, guru membagi dua tahap pemeriksaan. Tahap pemeriksaan hutan pertama oleh aku sendiri. Aku mendata ada monster apa saja di hutan yang mungkin belum terdeteksi. Tahap kedua, akan dilakukan bersama para tentara yang memang direncanakan untuk membunuh monster. Tujuan dari tahap pertama yaitu kita perlu tahu monster apa saja yang kita hadapi. Ini juga memudahkan persiapan untuk menyelesaikan tahap kedua.”


“Guru Yudhistira sangat berhati-hati juga, ya.”


Yuanrang mengangguk, “Guruku pernah berkata padaku. Sebelum bertempur, kenalilah musuh dan medan tempurmu lebih dulu. Memang ini juga belum pasti menang. Hanya meningkatkan kemungkinan menang saja.”


“Menurutku, Mengdelah yang paling mirip dengan Guru Yudhistira?”


“Oh, kau menyadari juga, ya?”


Xing Lian mengangguk, “Ketika kau dan Guru Yudhistira tadi sedang sibuk menulis surat, Mengde banyak cerita tentang teori taktik perang dan aplikasinya ke pertarungan nyata. Dia begitu bersemangat.”


“Memang Mengdelah yang paling pintar dan cerdik di antara kita bertiga. Dia mudah paham dan mudah mengingat perkataan dan ajaran guru. Dia juga banyak membaca. Seolah, isi kepalanya adalah perpustakaan kerajaan.”


“Benar. Perpustakaan. Tadi dia cerita sangat detail,” kata Xing Lian, “Dia lucu juga, ya.”


“Bicara tentang lucu, coba puji Mengde. Dengan kata pintar, kreatif, cerdik, banyak wawasan, rajin membaca dan semacamnya. Jika dia tersipu, aku yakin pasti lucu.”


Yuanrang dan Xing Lian sudah melewati padang rumput dan masuk ke sisi utara hutan. Mereka disambut pohon-pohon rimbun yang mampu menahan sinar matahari. Yuanrang berkata akan mengantar Xing Lian dulu ke desa. Sekalian melihat kondisi Jintao dan para tentara. Setelah itu, baru kembali ke hutan untuk mengerjakan misinya.


“Jintao ini cukup berharga juga, ya?” kata Xing Lian.


“Jelad. Dia mampu menambah stok panah dan memasak bahan-bahan untuk para pengungsi.”


Tiba-tiba muncul suara gemerisik di semak-semak bunga Loropetalum. Yuanrang menghentikan laju kuda dan menoleh ke kanan. Xing Lian pun berhenti juga. Cukup tinggi juga semak-semaknya sehingga tidak jelas ada apa di sana.


“Ternyata masih ada hewan di sini,” kata Xing Lian, “Kukira sudah habis semua karena dimakan oleh lipan.”


“Ya mungkin saja hewan yang kabur dari utara karena takut dengan Qiong Qi,” kata Yuanrang, “Kenapa kau tidak coba memanahnya? Besar atau kecil pun lumayan kan untuk stok bahan makanan di pengungsian.”


“Boleh,” kata Xing Lian.


Xing Lian pun mengambil panah dan milai membidik ke semak-semak. Di awal dia membidik bagian bawah untuk mengincar kaki hewan. Kemudian menaikkan bidikan karena mencoba mengincar kepala hewan. Xing Lian hanya menerka-nerka hewan macam apa di sana? Kalau terlalu dekat, hewan buruan akan segera sadar dan kabur. Siapa tahu rusa, kelinci atau hewan yang melarikan diri dari utara. Ketika hewan di balik semak-semak bergerak lagi, Xing Lian melepaskan anak panah. Gemerisik semak pun berhenti.


“Dia berhenti,” kata Yuanrang.


“Mungkin bidikanku tepat,” kata Xing Lian, “Tapi akan kutambah lagi. Dengan dua panah.”


Xing Lian membidik sebisanya. Karena memang tak tahu ada apa di sana. Setelah tiga tembakan, tak ada lagi suara.


“Sepertinya sudah mati,” kata Xing Lian


“Ayo kita cek dulu. Sekalian mengambil panah yang sudah kau tembakkan,” kata Yuanrang


Yuanrang dan Xing Lian mendekat. Masih di kuda-kuda mereka. Belum sempat mendekat, muncullah sesosok kepala ular yang cukup besar. Ukuran kepala dan leher sama seperti ukuran kuda. Jika kepalanya sebesar itu, bisa dibayangkan seperti apa diameter tubuhnya. Dia menjulurkan lidah seperti ular pada umumnya. Dua belah pihak ini sama-sama membantu. Mata juga saling menatap. Panah Xing Lian tadi menusuk kepalanya. Meski begitu, ular besar ini tampak tidak bergeming.

__ADS_1


__ADS_2