Yuanrang Monster Hunter

Yuanrang Monster Hunter
13. Strigoi dan Lukanthropos


__ADS_3

            “Sebenarnya, yang membuatku penasaran, kenapa para strigoi dan lukanthropos sampai jauh-jauh datang ke China?” kata Yudhistira, “Apakah di Eropa sulit mencari mangsa? Atau pemerintahan Romawi semakin represif terhadap mereka?”


            “Lukan … apa?” tanya Mengde.


            “Lukanthropos, Mengde,” kata Yudhistira, “Itu sebutan orang-orang Romawi terhadap manusia serigala.”


            “Sebentar, ada yang tidak kupahami. Jika lukanthropos berasal dari Eropa, pasti para lukanthropos punya penampilan fisik khas orang Eropa. Maksudku, ketika dalam wujud manusia. Namun, lukanthropos yang kami lihat, secara etnis mereka menyerupai orang Asia Timur. Sama seperti kami,” kata Mengde.


            “Benarkah seperti itu?” tanya Yudhistira pada Miaocai dan Yuanrang.


            Anggukan dari Miaocai dan Yuanrang membuat Yudhistira semakin pusing. Bagaimana bisa? Tidak masuk akal. Yudhistira yang di awal memakai kata lukanthropos, kini menjadi tidak yakin. Secara umum, para lukanthropos naturalnya memang mampu mengubah diri menjadi manusia atau campuran antara manusia dan serigala. Tidak ada obat atau sihir yang mampu mengubah manusia biasa menjadi lukanthropos. Jika di logika mungkin bisa. Kemungkinan, ada lukanthropos yang menikahi manusia biasa. Sehingga anak yang dilahirkan punya setengah sifat lukanthropos. Namun, apakah argumen yang bersifat teoritis ini bisa terjadi secara realistis? Bagaimana mungkin makhluk pemakan daging bisa menikahi manusia dan bisa mengontrol nafsu makannya? Di titik ini, Yudhistira mulai menyesali keputusannya dulu untuk meninggalkan Kekaisaran Romawi. Supaya bisa lebih fokus mempelajari Asia Timur. Ternyata, di tanah Eropa masih ada hal-hal yang belum dikuasai.


            “Aku tidak tahu,” kata Yudhistira yang menggeleng, “Ini di luar pengetahuanku. Aku sudah berumur ribuan tahun dan masih saja ada hal yang di luar pengetahuanku. Sekarang aku tanya, apakah dua strigoi yang kalian lihat di gua juga beretnis Asia Timur?”


            Yuanrang mengerutkan kening, “Kalau yang ini, kami agak susah untuk memastikan karena beberapa alasan. Pertama karena cahaya yang sangat kurang. Kami hanya mengandalkan api Mengde sebagai penerangan. Kedua, karena mereka bergerak begitu cepat. Begitu api Mengde menyala, mereka langsung membalikkan badan dan masuk ke kedalaman gua. Ketiga, kami terlalu terkejut untuk melihat mereka lebih detail. Kami hanya fokus ke ciri khas aneh mereka.”


            “Hhmm,” kata Yudhistira yang mengerutkan kening, “Begini, seperti yang kalian tahu, ciri khas bangsa Eropa yaitu berambut pirang. Meski tidak semua. Cukup banyak juga bangsa Eropa yang berambut hitam seperti kita. Tapi paling tidak, bisa kita jadikan informasi untuk melengkapi teka-teki ini. Bagaimana warna rambut mereka?”


            Para murid Yudhistira kompak menggeleng. Kemudian Miaocai berkata, “Untuk yang ini juga tidak berani memastikan, guru.”


“Ah, baiklah. Tidak masalah,” Yudhistira menggelengkan kepala, “Sepertinya kelak aku harus menetap di Kekaisaran Romawi lebih lama. Banyak pengetahuan yang belum kukuasai. Apakah para strigoi kemari melalui sī chóu zhī lù? Bagaimana cara mereka lolos dari pengawasan para pemburu yang melindungi sī chóu zhī lù?”


Sī chóu zhī lù jika diterjemahkan dalam bahasa modern berarti jalur sutra. Jalur Sutra adalah sebuah jalur perdagangan melalui Asia yang menghubungkan antara Timur yang diwakili oleh Dinasti Han dan Barat yang diwakili oleh Kekaisaran Romawi. Tidak lupa juga ada dua peradaban besar di tengah jalur sutra. Seperti Persia dan India. Jalur ini dihubungkan oleh pedagang, pengelana, biarawan, prajurit, nomaden dengan menggunakan karavan dan kapal laut, dan menghubungkan Chang'an, Republik Rakyat Tiongkok, dengan Antiokhia, Suriah, dan juga tempat lainnya pada waktu yang bervariasi. Pengaruh jalur ini terbawa sampai ke Korea dan Jepang. Pertukaran ini sangat penting tak hanya untuk pengembangan kebudayaan Cina, India dan Roma namun juga merupakan dasar dari dunia modern. Jalur sutra sudah mulai aktif tiga ratus tahun sebelum tiga pendekar ini lahir.


            Yudhistira membuka tas dan mengambil lima roti mantou. Masing-masing mendapatkan satu. Kecuali Yuanrang yang mendapat dua. Yudhistira sangat paham dengan sifat Yuanrang sebagai pencinta roti.


Yuanrang tertawa begitu menerima roti dan segera menyandarkan diri, “Guru tahu sendiri kalau urusan roti, aku tidak bisa kompromi dengan nafsu makanku sendiri.”


            “Aku pernah dengar, belum mencicipi langsung, katanya roti orang-orang Romawi cukup enak. Kau tidak ingin mencicipinya, Yuanrang?” kata Mengde.


            “Ya. Aku dengar begitu,” kata Yuanrang, “Kalau keinginan, jelas ingin. Aku bahkan ingin berkunjung ke Kekaisaran Romawi.”


            “Guru Yudhistira, apakah aku bisa menemani guru di Kekaisaran Romawi?” tanya Yuanrang, “Aku ingin mencicipi roti buatan Romawi.”

__ADS_1


“Hah?” permintaan yang tidak terduga membuat Yudhistira terkejut.


“Boleh, ya, guru?” kata Yuanrang.


Yudhistira menghela nafas, “Ya. Boleh-boleh saja, sih. Tapi ingat, jangan harap monster dan semua keanehan di sana sama persis dengan yang ada di China ya? Kau harus belajar dari awal bagaimana monster di sana.”


“Tidak masalah, Guru.”


“Sekarang kita diskusikan rencana kita,” kata Yudhistira, “Kita mulai dari yang mudah dulu. Yaitu pembasmian bayi-bayi lipan. Kita akan bertarung di gua. Tapi untuk di awal, kita hanya akan memancing para lipan keluar. Dengan daging hewan tentunya. Pasti para lipan sekarang sedang kelaparan setelah tidak makan seharian karena dua induk mereka sudah mati. Begitu kita letakkan daging mentah, mereka akan mencium bau daging dan akan berdatangan.”


            “Guru, hutan di sana sudah kehabisan rusa dan hewan-hewan lainnya. Dugaan kami, semua sudah dimakan oleh para lipan,” kata Miaocai, “Agak susah juga jika kita harus mencari hewan.”


            “Untuk masalah itu, untung kalian sudah bercerita pada Xing Lian,” kata Yudhistira, “Dia akan segera kemari. Misi akan dimulai setelah Xing Lian sampai.”


            “Tunggu? Xing Lian? Akan membantu kita bertarung?” kata Mengde, “Untuk menjalani misi ini, kita saja yang bisa bertarung dan bisa melakukan pengendalian cukup kesusahan. Apalagi Xing Lian. Kita tidak mungkin mengorbankan warga biasa untuk mengadu nyawa.”


            “Tenang, Mengde,” kata Yuanrang, “Kenapa kau begitu mencemaskan Xing Lian?”


            Yudhistira tersenyum, “Dia memang membantu kita. Tapi hanya berperan sebagai pendukung logistik kita dan pengirim pesan untuk penguasa.”


            “Ada yang lupa kutanyakan, Guru,” kata Yuanrang, “Guru bilang kalau para strigoi lemah terhadap matahari. Berarti kita cukup menyeret mereka ke luar dan biarkan mereka mandi cahaya matahari. Lumayan untuk menyehatkan mereka.”


            “Benar. Dulu aku pernah berburu strigoi dan memang itu yang kulakukan,” kata Yudhistira, “Tapi memang begitu. Pada umumnya, Sebagian besar strigoi takut pada matahari. Hanya sebagian kecil saja yang mampu tahan sinar matahari. Sebut saja strigoi spesial. Wujud strigoi spesial ini sangat mirip dengan manusia biasa. Sehingga mereka sangat mudah berbaur. Mereka juga tidak terlalu membutuhkan banyak darah. Strigoi special ini sangat langka dan jarang. Mungkin hanya beberapa persen saja.”


            “Guru pernah bertemu dengan strigoi spesial?” tanya Yuanrang.


            “Pernah. Bahkan aku mengenal beberapa dari mereka. Seperti manusia, mereka ada yang baik dan ada pula yang jahat. Ada yang berteman baik dan ada yang pernah kubunuh juga,” kata Yudhistira, “Semua kutemui ketika masih menetap di Kekaisaran Romawi dulu. Karena memang umumnya para strigoi berasal dari sana. Aku saja kaget ketika mendengar kabar dari kalian yang bertemu dengan strigoi di sini. Untung saja kemarin kalian tidak terburu-buru mengejar mereka masuk lebih dalam ke gua. Beruntung juga para strigoi tidak ikut menyerang kalian kemarin malam.”


            “Kemarin malam, mungkin kita masih bisa bertahan jika scenario tiga lawan tiga yang muncul,” kata Yuanrang, “Guru juga pada akhirnya datang dan menolong kita.”


Yudhistira menghela nafas, “Salahku juga tidak pernah memberitahu kalian tentang strigoi dan lukanthropos. Aku benar-benar tak pernah menduga mereka akan sampai ke tanah China ini. Ah, aku jadi punya banyak teka-teki.”


            Karena memang punya banyak pertanyaan di otak, Yudhistira mengambil kertas dari tas. Dia mulai menulis beberapa pertanyaan yang muncul. Pertama, kenapa banyak monster berdatangan dari utara? Kedua, apa urusan dua strigoi di sini? Ketiga, apa urusan lukanthropos di sini? Keempat, ada hubungan apa antara dua strigoi dan lukanthropos? Kelima, bagaimana cara yang mudah untuk menangkap dua strigoi? Keenam, apakah ada hubungan antara makhluk-makhluk dari Eropa dengan kedatangan monster di utara? Ketujuh, bagaimana cara yang mudah untuk memastikan bahwa hutan benar-benar aman setelah berhasil membunuh bayi-bayi lipan dan menangkap dua strigoi?

__ADS_1


            Yudhistira menutup kertas dan berkata, “Untuk sementara, yang terpikir masih ini dulu.”


            “Tunggu, menangkap strigoi, guru?” kata Miaocai.


            “Memangnya ada cara lain untuk mengetahui informasi tentang mereka?” tanya Yudhistira.


            Miaocai berpikir beberapa saat kemudian menggeleng, “Sepertinya memang harus menangkap mereka.”


            “Untuk pertanyaan nomor enam,” kata Mengde, “Ada dua pilihan.  Pertama, kita harus minta tolong tentara lokal. Mereka memang murah tapi juga cukup lemah. Pilihan kedua, aku yakin guru mengenal beberapa pemburu monster atau pelindung jalur sutra. Mereka mungkin lebih mampu tapi butuh biaya mahal.”


            “Memang dua pilihan barusan bisa dipertimbangkan,” kata Yudhistira, “Setelah misi hutan selesai, kita buat analisis untung rugi dan kita serahkan ke penguasa. Kita pikir nanti saja, Mengde.”


            Para petarung ini saling berdiskusi tentang operasi penyerangan. Mereka membuat berbagai scenario, potensi masalah dan berbagai alternatif solusi dari setiap potensi masalah. Bahkan mereka juga membuat skenario terburuk. Skenario dimana mereka secara tak terduga harus menghadapi musuh dan monster yang sangat kuat. Sangat kuat sampai mampu membunuh mereka. Yang dilakukan yaitu mengaktifkan sinyal suara supaya didengar oleh Xing Lian. Ketika suara terdengar, biarkan Xing Lian melaporkan berita kematian ke penguasa setempat.


            Tak lama, terdengar suara derapan langkah kuda dari selatan. Para petarung menoleh ke selatan dan terlihatlah lima orang yang menunggang kuda putih. Setelah jarak menyempit, mereka bisa melihat ternyata Xing Lian yang datang. Dikawal oleh empat tentara. Dia datangan dengan senjata lengkap. Pedang, busur, anak panah dan tombak. Di belakang, ternyata gadis itu membawa gerobak juga. Sesuai kalimat Yudhistira tadi, Xing Lian membawa bantuan logistik. Setelah Xing Lian sampai, Yudhistira memberikan informasi bagaimana peran dia nanti.


            “Kalian berarti akan masuk ke gua?” tanya Xing Lian.


            “Sebetulnya kami ingin tetap di luar, memancing musuh keluar,” kata Mengde, “Tapi, kita tak punya pilihan lagi. Mau tidak mau harus masuk.”


            “Buat apa kau memakai pakaian perang lengkap seperti itu?” tanya Yuanrang, “Kau mau ikut berburu?”


            “Hanya jaga-jaga, kan?” jawab Xing Lian.


            Mata Xing Lian tak sengaja menatap mayat lucanthropus yang disandarkan di depan sebuah rumah. Xing Lian dan para pengawal utusan penguasa mendekati mayat. Para pengawal Xing Lian langsung ketakutan dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Padahal sebelumnya mereka tidak percaya. Hanya Xing Lian yang tesenyum puas. Dengan bukti nyata, Xing Lian bisa meyakinkan penduduk desa di pengungsian kalau yang dilihatnya selama ini bukan bohongan.


            “Boleh aku bawa ke pengungsian, Tuan Yudhistira?” tanya Xing Lian.


            “Silahkan, Xing Lian,” kata Yudhistira, “Tapi, setelah itu, tolong segera kembalilah ke sini.”


            “Siap, Tuan Yudhistira.”


            “Tunggu. Kau bawa daging dan semua jenis umpan, kan?”

__ADS_1


            “Kami membawa semua yang kita butuhkan. Mungkin kami butuh bantuan untuk menurunkan logistik.”


            “Kita gunakan rumah ini sebagai tempat logistic kita,” kata Yudhistira sambil menunjuk rumah yang kemarin malam digunakan untuk menginap para pendekar.


__ADS_2