
“Aku percaya kalian bisa!” Kata Yudhistira seraya meninggalkan Miaocai dan Mengde untuk bertarung melawan Jinnanaluo bertombak.
Yudhistira dan Jinannaluo pun berhadapan. Mereka masih belum saling menyerang. Hanya saling mengitari dan saling mengamati. Yudhistira sendiri menunggu musuh untuk menyerang dulu. Tidak ada ketegangan di dalam diri Yudhistira. Lain dengan Jinnanaluo. Mata manusia berkepala kuda itu menatap Yudhistira dengan buas. Seperti harimau yang kepalaran dan mengintai mangsanya.
“Sebenarnya, kalian ada berapa?” tanya Jinnanaluo.
“Aku dan dua muridku saja,” jawab Yudhistira.
“Apa benar hanya tiga orang? Aku tidak yakin,” kata Jinnanaluo seraya melapisi tombak dengan listrik.
“Kalau tak percaya, silahkan saja periksa seluruh Bukit Lang Xue,” kata Yudhistira seraya melapisi tombak dengan api, “Sementara kau berlari dan memeriksa, aku akan mengejar dan mencoba membunuhmu. Ide yang bagus, kan?”
“Kubunuh kau dulu, lalu kuperiksa semua Bukit Lang Xue. Ide yang bagus kan?”
Jinnaluo menggenggam erat tombak dan menusukkan ke kepala Yudhistira. Yudhistira memiringkan kepala ke kanan. Tusukan tombak hanya mengenai udara. Lalu Jinnanaluo menebaskan tombak ke sisi kiri kepala Yudhistira. Namun lagi-lagi Yudhistira berhasil berguling ke kanan. Sambil menembakkan sebilah pisau api ke perut Jinnanaluo. Jinnanaluo pun menepis pisau barusan. Kemudian menciptakan burung listrik ke Yudhistira. Yudhistira memutar tombak bagai kincir angin dengan pengendalian logam. Menangkis semua serangan burung listrik. Setelah semua burung listrik lenyap, tombak berlapis api itu terbang ke leher Jinnanaluo. Bukan hal sulit bagi Jinnanaluo untuk mengatasi serangan pengendalian logam ini. Cukup memutar tombak dan tertepislah tombak berlapis api yang mengincar lehernya itu. Jinnanaluo tersenyum dan maju ke Yudhistira.
Yudhistira menciptakan perisai dan tombak api. Namun, belum sempat Jinnanaluo menjangkau Yudhistira, dia langsung berbalik ke belakang sambil memasang perisai listrik. Jinnanaluo dihujani oleh puluhan bola api yang berasal dari tombak. Ketika tombak Yudhistira tadi ditepis, sebenarnya masih dilapisi api. Yudhistira menggunakan pengendalian api untuk memanfaatkan api-api yang melapisi tombak demi menyerang Jinnanaluo dari belakang. Ketika disibukkan dengan serangan bola api, Yudhistira maju dan berusaha menusukkan tombak ke Jinnanaluo yang sedang membelakangi dirinya. Memang Yudhistira bukan melawan Jinnanaluo biasa. Karena dia menyadari serangan Yudhistira. Manusia berkepala kuda itu langsung berguling ke kanan, merubah perisai menjadi burung listrik dan menyerang Yudhistira. Yudhistira yang menyadari bahaya menggunakan perisai api untuk berlindung. Di posisi yang tergeletak di tanah, Jinnanaluo masih sempat menusukkan tombak ke kaki kanan Yudhistira. Yudhistira melompat, namun sedikit terlambat. Sehingga hanya tergores sedikit. Meski begitu, tombak Jinnanaluo berlapis listrik kuning melumpuhkan kaki Yudhistira. Pria India itu pun roboh.
Melihat musuhnya roboh, Jinnanaluo segera melemparkan belasan burung petir. Meski kaki masih susah digerakkan, bukan berarti Yudhistira tidak bisa melakukan apapun. Dengan pengendalian logam, Yudhistira memutar tombak bagai kincir angin. Kesal dengan cara Yudhistira, Jinnanaluo membelokkan sisi burung petir. Menyerang Yudhistira dari tiga arah: atas, kiri dan kanan. Masih mudah juga bagi Yudhistira. Dia menciptakan cangkang api dan berhasil menangkis semua burung api menyerangnya. Murka karena tidak bisa kena juga, Jinnanaluo pun melompat dan menusukkan tombak. Yudhistira menggunakan cangkang api, yang awalnya bertahan jadi menyerang, untuk membakar Jinnanaluo. Sudah terbaca, Jinnanaluo pun membatalkan serangan. Dia menggunakan tombak sebagai tumpuan dan melompat menjauh. Api Yudhistira pun menghilang di udara.
Kaki Yudhistira sudah hampir pulih. Dia menggunakan tombak untuk berdiri. Mata Yudhistria melirik sekitar. Mencari senjata-senjata berbahan dasar logam milik para bandit yang berserakan di sekitar. Karena gelap, Yudhistira hanya menemukan beberapa senjata saja. Pria India itu pun segera mengkonsentrasikan pengendalian logam ke beberapa senjata yang terjangkau oleh mata.
Yudhistira tertawa dan berkata, “Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan. Musuhmu menggunakan cangkang api dan kau malah berlari menyerang secara langsung.”
Jinnanaluo hanya tersenyum dan berkata, “Aku melihat celah untuk membunuhmu tadi?”
“Celah? Seberapa besar celah itu, kawan?”
“Sudah tahu celah. Namanya celah ya kecil.”
“Sudah tahu kecil, kenapa masih nekat?”
“Namanya juga mencoba, teman Indiaku.”
“Meksipun risikonya malah diguyur oleh apiku?”
“Sudah kuperhitungkan risiko terbakar. Buktinya seranganmu tidak ada yang mengenaiku.”
“Bagaimana dengan ini?”
Beberapa senjata yang berserakan di medan tempur pun melayang. Lalu semua mata senjata mengarah ke ke Jinnanaluo. Hebatnya, Jinnanaluo mampu menangkis sebagian besar senjata yang terlempar. Sebagian kecil hanya menggores kulitnya. Yudhistira paham sekarang. Ini karena apinya sendiri. Sehingga mudah bagi Jinnanaluo untuk menangkis. Yudhistira pun mematikan api. Kini Jinnanaluo melaha melompat-lompat menjauh. Dua pihak pun kehilangan konsentrasi dan tidak bisa melacak posisi masing-masing. Yudhistira pun menyebarkan api lagi. Diam-diam, dia mencari kain yang mungkin cocok untuk mendukung taktik berikutnya.
Yudhistira dan Jinnanaluo pun lanjut berduel. Suara benturan dua tombak, suara erangan dan suara umpatan terdengar. Mereka cukup ahli menggunkan senjata. Suara gemuruh petir pun terdengae. Ini yang namanya kuat sama-sama kuat. Hingga akhirnya rencana Yudhistira di mulai.
Yudhistira membalut tangan kanan dengan kain. Supaya tidak tersengat lapisan petir yang menempel di tombak Jinnanaluo. Yudhistira menangkap tusukan tombak. Melihat Yudhistira menangkap tombaknya, Jinnanaluo pun segera mengganti petir kuning menjadi biru. Biru lebih berbahaya dari kuning. Karena mampu mencabik-cabik lapisan kain. Tangan Yudhistira mengalami pendarahan. Tapi langsung memukulkan tinju ke muka Jinnanaluo. Jinnanaluo pun terhempas empat langkah. Selagi Jinnanaluo terkapar, Yudhistira mengendalikan senjata-senjaya yang berserakan. Dia menghujani Jinnanaluo dengan senjata-senjata itu. Meski dalam posisi yang susah, Jinnanaluo masih bisa menangkis sebagian besar senjata. Sementara sebagian kecil menusuk-nusuk dirinya.
Yudhistira melapisi tombak dengan api dan berlari untuk menghabisi Jinnanaluo. Jinnanaluo menepis tusukan Yudhisita. Tapi kepala Yudhistira beradu dengan kepala Jinnanaluo. Benturan kepala yang tak terduga barusan, membuat Jinnanaluo pusing. Tangan kiri Yudhistira mengambil pedang dari tanah dan langsung menyabetkan ke leher Jinnanaluo. Hebatnya, Jinnanaluo berhasil menghindar. Belum menyerah, Yudhistira mencoba menerbangkan pedang. Itu pun masih bisa ditangkis. Yudhistira mengendalikan belati di belakang Jinnanaluo. Namun, lagi-lagi Jinnanaluo berhasil menepis. Yudhistira pun maju dan menusukkan tombak. Di saat inilah usaha Yudhistira berhasil. Jinnanaluo memang sempat membuat gerakan menangkis. Tapi tidak akurat. Sehingga tusukan tombak Yudhistira berhasil merobek perut Jinnanaluo hingga tembus sampai ke punggung.
Meski sudah terkena tusukan fatal seperti itu, Jinnanaluo tidak menyerah. Dia mencengkeram tombak Yudhistira dan mengalirkan petir merah. Yudhistira terlambat melepaskan pegangan tombak. Darah pun mengucur deras dari telapak tangan hingga siku Yudhistra. Tercabik-cabik oleh petir merah. Jinnanaluo pun berusaha mengincar leher Yudhistira. Namun tidak kena karena Yudhistira merunduk dan mundur.
“Kau ...” kata Jinnanaluo.
Jinnanaluo memulai serangan yang lebih kuat. Dia menciptakan burung-burung petir berwarna merah. Ragu bisa menangkis serangan seperti ini, Yudhistira memadamkan api untuk mengurangi penglihatan Jinnanaluo dan segera menjauh.
Semua burung petir di awal memang mengejar Yudhistira. Namun berkat antisipasi Yudhistira, banyak burung petir yang akhirnya melenceng dari sasaran. Karena kegelapan membuat akurasi Jinnanaluo berkurang. Yudhistira sendiri menghilang di balik kegelapan.
Tusukan tombak tadi sangatlah fatal menurut Yudhistira. Tidak hanya luka yang mengenai target vital, tapi juga lapisan api yang menyelimuti tombak. Jika dengan hitungan normal, seharusnya tidak butuh waktu lama Jinnanaluo akan menemui ajalnya. Meski begitu, Yudhistira tetap berhati-hati dan tidak berani terlalu yakin kalau dirinya sudah berhasil membunuh Jinnanaluo. Siapa tahu musuh kali ini punya kemampuan tersembunyi yang tidak terduga. Lagi pula, kemampuan tempurnya lebih hebat dari dua Jinnanaluo yang lain. Pria India itupun mendekati Jinnanaluo dari kegelapan. Mau bagaimana pun, harus dipastikan. Sebagian musuh dikatakan mati jika kepalanya sudah terpenggal.
Jinnanaluo kini bersandar di batu. Tubuhnya sudah lemas. Darah pun bercucuran membasahi rumput. Nafas pun terengah-rengah. Maut sudah hampir menjemput. Mungkin saja dia punya serangan dadakan.
Yudhistira pun berkata pada Jinnanaluo, “Jika kau menjawab pertanyaanku, akan kubiarkan kau bertahan hidup. Aku akan berusaha menyembuhkan lukamu.”
__ADS_1
“Jika kau ingin bertanya, kemarilah. Aku tidak tahu dimana lawan bicaraku,” kata Jinnanaluo.
Yudhistira mengendalikan tombak milik Jinnanaluo dan membuangnya jauh-jauh. Tapi, Yudhistira tetap bersembunyi karena bisa jadi Jinnanaluo masih mampu melawan.
“Iya. Aku mendekat dan kau melemparkan listrik merahmu ke mukaku. Lebih baik dari sini saja,” kata Yudhistira setelah berpindah semak-semak.
Jinnanaluo pun tertawa, “Kau sangat berhati-hati, ya? Apa yang ingin kau tanyakan?”
“Apa tujuanmu kemari dan darimana organisasi mana kau berasal?”
“Kami dari utara. Desa Fan Rong. Tujuan kami menguasai wilayah ini supaya lebih dekat ke selatan. Aku bergerak di bawah organisasi tak bernama yang bahkan aku sendiri tak paham seperti apa isinya. Organisasi ini sangatlah tertutup. Bahkan kami yang hanya orang bawah hanya diberi tahu rencana jangka pendek saja,” Jinnanaluo Menjawab sambil terbatuk darah.
“Untuk apa organisasimu bergerak ke selatan?”
“Supaya terhubung dengan di seberang lautan timur.”
“Tanah di seberang lautan timur?”
“Tanah Wa. Jika kau tidak tahu, mungkin penyebutannya Wakoku.”
Wakoku atau Tanah Wa adalah nama lain tanah luas setelah lautan di sisi timur daratan Cina. Para warga China di Era Dinasti Han menyebutnya dengan nama Wakoku. Manusia modern menyebutnya dengan Nihon, Nippon atau Jepang.
“Ah, ya. Wakoku. Aku tahu maksudmu. Jika sudah terhubung, memangnya kenapa?”
“Kami tidak tahu pasti. Sudah kubilang organisasi kami tertutup. Hari ini kami hanya disuruh mengantar obat ke Qiong Qi saja. Kami juga dibekali dengan senjata dan ramuan ini untuk berubah menjadi Jinnanaluo. Apakah ada pertanyaan lain lagi? Cepat bunuhlah aku.”
“Dimana basis operasi organisasimu?”
“Aku tak tahu. Kami hanya menerima perintah dari orang yang menghampiri rumah kami.”
“Lalu bagaimana jika kalian ingin melaporkan proses atau hasil kerja kalian? Bukankah sangat menyusahkan jika kalian tidak tahu basis operasinya?”
“Seperti apa orang itu?”
“Untuk penampilan fisik secara total, kami tidak tahu pasti. Yang jelas dia bukan etnis Asia seperti kita. Kemungkinan besar dari Eropa. Yang aneh ada di matanya.”
“Kenapa dengan matanya?”
“Kadang matanya normal seperti kita. Dia bermata biru. Tapi kadang pula hitam total. Bahkan bagian biru dan bagian putih mata pun menghitam. Di sekeliling mata juga muncul mirip pembuluh darah tapi berwarna hitam.”
Yudhistira menelan ludah. Karena dia tahu persis dengan kumpulan orang-orang yang berwarna mata hitam itu. Yang jelas bukan kumpulan orang baik. Kemampuan tempur mereka juga di atas rata-rata. Mereka mampu mengendalikan elemen-elemen alam. Cukup banyak juga di antara mereka yang mampu menguasai senjata dengan baik. Yudhistira pernah membunuh orang-orang yang sama. Mungkin Yudhistira bisa menghadapi mereka. Tapi, untuk tiga muridnya, harus diasah lebih dalam lagi.
“Kenapa diam?” Tanya Jinnanaluo.
“Tidak. Aku hanya teringat sesuatu. Orang yang bermata hitam itu, mampu mengendalikan apa?”
“Oh, kau menyadari juga kalau mereka sama seperti kita? Aku tidak tahu. Aku tidak pernah melihatnya mengeluarkan pengendalian atau bertarung. Ngomong-ngomong, kau tahu banyak tentang pria bermata hitam.”
“Yah, tidak banyak juga. Pernah membunuh beberapa. Lalu kenapa kau dan dua temanmu bergabung dengan organisasi tidak jelas seperti itu?”
“Uang. Bayarannya lumayan. Selain itu mereka juga menjamin kalau pekerjaannya bebas risiko. Sampai hari ini ... Mereka tidak memperhitungkan kalau akan ada seseorang yang kemari selain kami.”
“Tidak berisiko bagaimana? Jelas-jelas mereka menyuruh kalian bertemu dengan Qiong Qi. Makhluk yang sangat buas dan tak ragu memakan manusia.”
“Kami sudah mengenal Qiong Qi yang kalian bunuh. Organisasi juga sudah menjamin perlindungan pada kami. Jika Qiong Qi berani-beraninya membunuh kami, maka organisasi akan mengejar Qiong Qi. Singkatnya, di awal, kami terlanjur mengira kalau ini misi yang mudah. Cukup mengantar obat dan misipun selesai.”
“Apa kalian yakin organisasi yang kalian layani adalah organisasi baik?"
“Siapa peduli baik dan buruk? Kami hanya butuh uang. Tak ada uang berarti buruk. Ada uang berarti baik. Jika ingin menganggap mereka baik juga bisa. Setelah kedatangan mereka, para monster pun sudah lenyap. Mereka juga sudah bisa mengusir bandit dari sini supaya tidak mengganggu warga biasa.
“Apa di Desa Fan Rong ada monster?”
__ADS_1
“Monster??? Dulu memang ada. Tapi sekarang sudah tidak ada. Sudah sejak setahun yang lalu keadaan aman-aman saja. Seperti yang kukatakan barusan.”
“Kenapa kau mau menjawab semua pertanyaan kami?”
“Aku mau minta tolong kepadamu,” kata Jinnanaluo yang terus terbatuk darah sejak tadi, “Di saku kananku ada kain. Jika kau pergi ke desa Fan Rong. Berikan kain itu pada anakku yang bernama Tian Bingbing.”
“Bagaimana aku mengenali anakmu dan bagaimana aku tahu dimana dia sekarang?”
“Tanyakan saja ke penduduk sekitar. Mereka mengenali Tian Bingbing dan kami tinggal di sisi timur Fan Rong. Mereka pasti akan menunjukkan padamu.”
“Kau meminta tolong padaku? Orang yang membunuhmu?”
“Memangnya aku punya pilihan lain? Firasatku mengatakan kalau kalian orang baik. Tidak tahu kenapa. Selain itu juga, jangan ceritakan pada anakku kalau kau yang membunuhku. Bilang saja kalau seseorang menitipkan ini padamu. Jika anakku tanya nama 'seseorang' yang menitipkan ini, jawab saja kalau kau tidak tahu namanya.”
“Sebisa mungkin. Aku tidak mau berbohong.”
“Kau tidak berbohong. Kau juga sampai detik ini tidak tahu namaku, kan?”
Yudhistira tidak menjawab lebih lanjut dan mengambil pedang yang berserakan dengan pengendalian, lalu berkata, “Kau tidak ingin disembuhkan?”
“Jangan konyol. Organ pencernaanku sudah robek semua. Seranganmu terlalu fatal.”
“Padahal masih bisa ...”
“Sekali lagi, jangan konyol. Kau mau membawaku kemana? Kantor pemerintahan atau rumah tabib? Bukit Lang Xue sarang bandit. Pasti jauh dari pusat kota. Sekalipun sekarang kau membawaku, Sebelum sampai pusat kota atau rumah tabib, aku pasti sudah mati kehabisan darah.” kata Jinnanaluo.
Dari semak-semak, Yudhistira mengendalikan pedang dan menempelkan ke leher Jinnanaluo, “Pejamkan matamu. Ini akan cepat.”
Jinnanaluo memejamkan mata dan berkata, “Sudah.” Beberapa detik kemudian, kepala Jinnanaluo pun menggelinding.
Setelah semua selesai, Yudhistira pun berjalan keluar dari semak-semak. Dia berhenti mayat Jinnanaluo, mencabut tombak dan kembali ke murid-muridnya. Lalu menceritakan pembicaraan dengan Jinnanaluo barusan ke Mengde dan Miaocai.
“Begitulah,” kata Yudhistira mengakhiri ceritanya.
“Jadi misi kita berikutnya ke Desa Fan Rong?” tanya Miaocai.
“Tidak. Kita kembali ke selatan untuk menghadapi ular raksasa,” jawab Yudhistira, "Setelah itu, kita pergi ke Fan Rong
“Tapi, siapapun pria bermata hitam itu, akan segera membuat rencana baru. Kita akan kehilangan momen penyelidikan. Bisa saja dia langsung pergi meninggalkan Desa Fan Rong segera setelah tahu kalau orang suruhannya mati. Atau bahkan akan menyerang Bukit Lang Xue ini,” kata Mengde.
“Bagus, Mengde. Kau menyadari potensi risiko. Tapi aku sudah janji untuk menghabisi ular itu,” kata Yudhistira.
Tidak lama kemudian, Yuanrang dan dua strigoi pun datang. Aquilus segera berkenalan dengan Yudhistira dan dua muridnya. Setelah itu, mereka duduk dan mendengarkan semua cerita Yudhistira. Di akhir kalimat, Yudhistira memohon maaf.
“Maafkan kami. Kami gagal mencarikan tempat yang layak untuk kalian. Memang gua ini kosong sekarang. Namun bisa jadi besok akan ada serangan musuh ke Lang Xue,” kata Yudhistira.
Aquilus mengangguk, “Kami menghargai niat baik kalian. Mohon maaf juga kami terlambat datang ke sini. Kami akan tinggal di gua ini untuk sementara. Sambil mencari gua yang lain.”
“Jangan. Terlalu berisiko,” kata Yudhistira, “Tinggal di hutan saja dulu. Kami bisa membicarakan ini pada penguasa untuk memberikan kelonggaran. Jika kami sudah menyelesaikan ular raksasa dan kalian masih kesulitan untuk mencari tempat tinggal, Nanti bisa kami bantu.”
“Begini saja, sementara kalian menyelesaikan ular raksasa, kami akan menyelidiki siapa sebenarnya laki-laki bermata hitam itu. Sambil mencari tempat tinggal yang baru.”
“Apa kalian tidak lelah dengan jarak yang entah berapa li ini? Dari hutan ke Desa Fan Rong sepertinya cukup jauh.”
“Tenang. Aku tidak masalah. Nanti sekalian mencari tempat baru. Jika kami beruntung menemukan tempat baru yang lebih dekat dengan Desa Fan Reng, kami akan pindah ke sana. Lagi pula, akan lebih mudah kan jika kita mulai mencicil pekerjaan sedikit demi sedikit? Nanti kalian boleh bergabung. Kalian bekerja di siang hari dan kami di malam hari.
“Baiklah, aku setuju,” Yudhistira menjabat tangan Aquilus.
“Kapan kau akan membunuh ular raksasa?”
“Mungkin empat hari lagi. Ada beberapa jebakan dan anti racun? yang perlu kusiapkan.”
__ADS_1