Yuanrang Monster Hunter

Yuanrang Monster Hunter
23. Lang Xue (3)


__ADS_3

Begitu kode dari Yudhistira terdengar, Mengde dan Miaocai segera membuka pintu es. Tapi tidak langsung keluar secara gegabah. Menunggu momen yang baik untuk menyergap musuh. Yudhistira menyebarkan api ke segala arah. Sehingga Mengde dan Miaocai bisa melihat jelas siapa lawan mereka.


Yudhistira berusaha tetap setenang mungkin. Dua musuhnya ini mampu mengendalikan alam. Yang satu mampu mengendalikan listrik dan yang satunya mampu mengendalikan api. Yudhistira mampu bertarung cukup baik. Dia menggunakan pengendalian logam untuk menghadapi pengendalian api dan menggunakan pengendalian api untuk menghadapi pengendalian listrik.


“Kau yang membunuh Qiong Qi di selatan Bukit Lang Xue?” tanya Jinnanaluo pengendali api.


“Aku tidak sekuat yang kau pikirkan. Bukan aku yang membunuhnya,” kata Yudhistira.


Memang tidak ada kebohongan dari mulut Yudhistira. Karena yang membunuh adalah kombinasi antara Yuanrang dan Miaocai. Yudhistira hanya melukai sedikit bagian saja. Selain itu juga, kondisi Qiong Qi memang sudah melemah.


Jinnanaluo bertombak mencoba melukai kaki Yudhistira. Yudhistira menusukkan pangkal tombak ke tanah. Menangkis tebasan musuh bertombak. Sementara Jinnanaluo berpedang menebas secara vertikal. Berusaha membelah kepala Yudhistira. Yudhistira menggunakan pengendalian logam untuk memperlambat serangan musuh. Kemudian, Yudhistira mundur ke belakang. Menghindari serangan Jinnanaluo berpedang. Tinju Yudhistira menempeleng muka musuh bertombak, lalu melompat dan menendang kepala Jinnanaluo berpedang. Semua tidak sempat menggunakan perisai pengendalian. Karena gerakan tinju dan tendangan barusan sangatlah cepat. Dua manusia berkepala kuda itu terhempas tiga langkah.


Jinnanaluo berpedanglah yang bangkit lebih dulu. Dia melapisi pedang dengan  api dan mulai menyerang Yudhistira dengan membabi-buta. Karena musuh sudah mulai tidak teratur, Yudhistira pun terus berusaha menjaga jarak dan menggunakan lemparan pengendalian api untuk menjangkau musuh. Jinnanluo pun kesulitan menjangkau Yudhistira. Karena Yudhistira juga memanfaatkan pengendalian logam untuk bergerak lebih cepat. Yudhistira terus mundur dan memancing musuh hingga mendekati mulut gua tempat dua muridnya bersembunyi. Kesalahan fatal sudah dilakukan dua Jinnanaluo ini. Jinnanaluo bertombak membiarkan temannya bertarung sendiri. Dia tertinggal di belakang


“Kulihat, kau bukan orang asli etnis Cina?” kata Jinnanaluo yang menebaskan pedang berapi ke leher Yudhistira.


Yudhistira memposisikan tombak secara vertikal untuk menangkis tebasan barusan, menendang balik dan berkata, “Temanmu yang kubunuh tadi juga mempertanyakan hal yang sama. Aku dari India. Apakah bangsa kalian selalu mempermasalahkan ras? Apakah bangsa kalian sebegitu rasisnya?”


Jinnanaluo mundur dua langkah untuk menghindari tendangan Yudhistira dan berkata, “Aku hanya ingin tahu.”


“India,” jawab Yudhistira yang mundur sambil melemparkan pisau berlapis api.


Pisau berlapis api barusan berhasil diatasi semua. Bahkan Yudhistira menilai, meski Jinnanaluo pengendali api ini tidak secepat yang dia bunuh sebelumnya, dia mampu mengamati dengan baik. Empat pisau Yudhistria berhasil ditepis dan dihindari semua. Yudhistira mundur lagi. Membawa musuh lebih dekat ke mulut gua.


“Untuk apa orang India jauh-jauh datang ke China?” Tanya Jinnanaluo sambil menembakkan api berbentuk pisau.


Dengan pengendalian logam, Yudhistira merotasi tombak secara vertikal bagaikan kincir angin dan menangkis semua pisau api, “Yah, hanya membantu beberapa orang. Bukan hal yang istimewa.”


Yudhistira mempercepat langkah mundur. Karena Jinnanaluo bertombak mulai mendekat. Kelihatannya, dia sebal melihat Jinnanaluo berpedang tidak kunjung selesai menghabisi dirinya. Yudhistira pun memberi kode ke Mengde dan Miaocai sambil menunjuk Jinnanaluo berpedang.


Dari kegelapan gua, Mengde dan Miaocai sebenarnya sudah membidik dengan panah sejak tadi. Mengde mengambil panah milik para gerombolan bandit yang sudah tewas. Mengde melapisi panah dengan api dan Miaocai melapisi dengan es. Setelah kode dari Yudhistira, mereka berdua langsung menembakkan panah ke Jinnaluo berpedang. Tembakan Miaocai tepat mengenai bahu kanan musuh. Memberi efek beku untuk Sementara. Sedangkan tembakan Mengde meleset. Hanya menusuk tanah.


“Bodoh!” Mengde mengumpat ke diri sendiri.


“Ah, kau tidak sebodoh itu,” kata Miaocai, “Aku tahu rencanamu.”


Mengde hanya tertawa, “Ayo maju.”


Mengde dan Miaocai segera berlari mendekati Jinnanaluo berpedang. Sementara Yudhistira berlari menghadapi Jinnanaluo bertombak.


“Hadapi dia! Kalian bisa!” kata Yudhistira yang terus berlari.


Dua murid Yudhistira mengeroyok  Jinnanluo dari dua sisi. Mengde bergerak ke sisi kanan Jinnanaluo. Sambil mengayunkan pedang untuk memotong tangan kanan musuh yang sedang sulit digerakkan. Sedangkan Miaocai mengincar sisi kiri.


Sayangnya Jinnanaluo bukan lawan yang bodoh. Dia berusaha menjaga jarak sambil terus menghindar. Tidak hanya itu, dia menggunakan pengendalian api untuk memanaskan titik tusukan panah es barusan. Mempercepat proses netralisasi. Dalam dua menit saja, kondisi lengan kanan Jinnanaluo kembali normal. Kini dia menciptakan pedang lagi dari api di genggaman tangan kiri.


Dalam waktu bersamaan, Jinnanaluo mampu mengatasi serangan dari kiri dan kanan. Mengde mengarahkan pedang ke leher. Sementara Miaocai menusukkan tombak ke perut kanan. Namun Jinnanaluo dengan mudah menangkis semua. Dia memutar pedang dan menendang Mengde. Sementara tombak Miaocai dipukul dari atas dengan pedang api lalu diinjak ke tanah. Dengan cepat Jinnanaluo menendang Miaocai hingga terhempas. Kemudian langsung menendang Mengde. Mengde menangkis dengan menyangga pedang di ujung dan genggan. Dia berhasil menangkis tendangan. Tapi tetap saja terhempas. Meski tidak sejauh Miaocai.


Mengde menembakkan bola-bola api. Namun semua bola api malah dihentikan di udara dan dikembalikan ke Mengde. Mengde segera menciptakan perisai api untuk mengatasi serangan balik barusan.


Dua murid Yudhistira ini paham kalau musuh mereka ini bukan lawan yang mudah. Karena mampu mengambil alih pengendalian. Kemampuan ini bukan hal yang bisa dilakukan dengan mudah. Secara umum, ada tiga syarat utama untuk mengambil alih pengendalian. Pertama, harus punya pengendalian yang sama. Pada kasus ini, Mengde dan Jinnanaluo sama-sama mampu mengendalikan api. Syarat kedua, tingkat konsentrasi pengambil alih harus lebih tinggi beberapa kali lipat dari tingkat konsentrasi yang diambil alih. Syarat ketiga, harus punya banyak energi karena teknik mengambil alih butuh energi yang banyak.


Mengde dan Miaocai kali ini menyerang bersama. Tidak menyerah, Mengde masih mengincar leher Jinnanaluo. Sementara Miaocai lagi-lagi mengincar kaki Jinnanaluo. Tidak butuh usaha yang susah bagi Jinnanaluo. Makhluk berkepala kuda itu menyemburkan api untuk mengatasi Mengde. Kemudian memukulkan tombak Miaocai, menahannya di tanah, lalu berputar dan menendang dengan kaki berlapis api. Ketika Miaocai terhempas, dia sempat melemparkan dua pisau es yang berhasil menusuk paha kiri dan perut kanan Jinnanaluo. Hingga dua pihak ini kelelahan dan sama-sama menjaga jarak. Mereka terengah-rengah. Jinnanluo memusatkan pengendalian api ke kedua luka. Kemudian mencabut pisau es.

__ADS_1


“Kalian ... Anak-anak dari ... Pria India itu? Tidak mirip dengan pria itu? Kalian lebih mirip etnis China asli,” kata manusia berkepala kuda itu.


“Kami muridnya,” jawab Miaocai.


“Oh, pantas.”


“Miaocai,” kata Mengde sambil melirik ke panah api, “Rencanaku.”


Miaocai tak terlalu paham dengan rencana Mengde. Tapi umumnya Mengde akan menggunakan jebakan.


Mengde dan Miaocai berlari mendekati panah Mengde yang masih mengobarkan api. Jinnanaluo pun mengejar dengan lompatan yang cukup tinggi. Begitu, mendarat  di dekat panah yang meleset tadi, Mengde memperbesar apinya. Hingga mampu membakar tubuh Jinnanaluo.


Karena diselimuti api, jelas Jinnanaluo meronta-ronta. Api pun menghalangi pandangannya. Di saat ini, para murid Yudhistira menggunakan kesempatan. Mengde menyayat-nyayat tubuh musuh. Sementara Miaocai menembakinya dengan panah es. Lama-lama api padam, dikontrol sendiri oleh Jinnanaluo, lalu dihempaskam ke segala arah. Mengde terlambat menghindar. Malah dirinya yang dilalap api. Jinnanaluo yang sudah mampu mengontrol api yang melahap dirinya, mulai menyerang lagi. Kali ini dia akan menebaskan pedang ke kepala Mengde.


Miaocai pun dengan sigap menembakkan panah. Tembakan barusan tepat mengenai pergelangan tangan kanan Jinnanaluo. Pedang di genggaman pun terlepas. Tapi masih ada pedang api yang di tangan kiri. Dia pun masih berusaha membunuh Mengde meski panah masih menusuk lengan kanannya. Tak mau Mengde mati, Miaocai menggenggam erat tombak es dan langsung menahan tebasan Jinnanaluo. Tombak berlapis es pun beradu.


“Kau cepat juga, ya?” kata Jinnanaluo sambil membakar anak panah yang bersarang di pergelangan tangan kanan.


“Mari menari bersamaku,” kata Miaocai yang mendorong balik


Miaocai berdiri dan berkonsentrasi. Dia  melapisi tangan dan kaki dengan pelindung es. Kemudian menambahkan ujung es yang runcing di siku dan lututnya.


“Wow, menyeramkan,” tawa Jinnanaluo sambil menyerang.


Jinnanaluo menebaskan pedang api di udara. Dari kibasannya, muncul gelombang api berbentuk mirip bulan sabit. Miaocai menghindari tebasan ini. Tebasan kedua, Miaocai menangkis hingga lapisan es di tangan terbakar. Miaocai semakin mendekat. Sambil mundur, Jinannaluo menebaskan pedang. Namun, lagi-lagi Miaocai berhasil menangkis. Jinnanaluo  meninju muka Miaocai. Miaocai kali ini gagal menangkis. Tapi tetap mencoba mencengkeram tangan Jinnanaluo dan melayangkan pukulan. Jinnanaluo berhasil menangkis. Namun, Miaocai berhasil membanting Jinnanaluo ke balik arah. Sehingga makhluk berkepala kuda itu membelakangi Mengde yang pura-pura pingsan di tanah. Mengde menggenggam erat pisau dan berkedip tiga kali ke Miaocai. Kemudian memejamkan mata. Miaocai paham kalau Mengde akan menjebak Jinnanaluo. Sehingga, rencana Mioacai berusaha menekan Jinnanaluo supaya lebih mendekati Mengde.


“Kau masih nekat bertarung?” tanya Jinnanaluo setelah menatap Mengde yang terkapar di tanah, “Temanmu sudah tak berdaya dan kau masih nekat menyerangku?”


“Berarti bisamu hanya mengulur waktu sampai gurumu membantumu kan? Sekarang mari kita lihat, berapa lama kau bisa mengulur waktu?”


“Bisa lama,” kata Miaocai sambil menendang jauh-jauh pedang Jinnanaluo yang di tanah, “Kau hanya punya pedang api sekarang.”


“Kau berpikir hanya karena aku kehilangan pedangku, kau bisa bertahan lebih lama?” kata Jinnanaluo, “Mari kita coba.”


Jinnanaluo mencoba menyerang lagi. Namun harus mundur untuk menghindari tebasan melintang tombak es milik Miaocai. Kemudian Miaocai menebaskan tombak secara membujur. Terus begitu supaya menekan Jinnanaluo. Dia bahkan membuat jebakan es di depan. Jaga-jaga jika Jinnanaluo berhasil menghindari serangan tombak dan langsung bergerak maju. Jinnanaluo pun melompat tinggi. Sambil menghujani Miaocai dengan bola api.


Miaocai hanya tersenyum. Dia berlari menjaga jarak dan mengambil busur. Ketika Jinnanaluo di ketinggian, Miaocai menembakkan panah. Panah berhasil ditangkis oleh Jinnanaluo. Tapi serpihan es yang melekat di panah menyebar. Dari ketinggian, serpihan es runcing menusuk-nusuk tubuh Jinnanaluo. Sudah jatuh tertimpa tangga. Ketika mendarat, tangan kirinya malah tertusuk-tusuk bunga es buatan Miaocai yang tersebar di tanah.


Kesembronoan membuat Jinnanaluo sudah kesakitan. Miaocai pun menggunakan kesempatan ini untuk merobek dan melumpuhkan Telapak tangan kiri. Tangan kirinya Tertembus oleh tombak Miaocai hingga menembus tanah. Mengde juga bangkit dari pura-pura matinya. Mengde menginjak lengan kanan dengan dua kaki. Kedua tangan Mengde juga menusukkan pedang ke telapak tangan kanan Jinnanaluo. Menggenggam erat gagang pedang. Meski Jinnanaluo ini sudah dilumpuhkan, tenaganya masih kuat.


“Lepaskan aku!!!” teriak Jinnanaluo.


“Miaocai! Cepat!!” Teriak Mengde.


“Ya!!” teriak Miaocai.


“Kalian ... Bajingan kecil!!” Eranh Jinnanaluo.


Miaocai sekarang berada di atas Jinnaluo yang tengkurap. Miaocai mengambil tiga anak panah, melapisi dengan es, membidik kepala Jinnanaluo dan menembaknya. Tiga anak pahah mengoyak otak belakang. Bibit-bibit es pun mulai memberi efek beku.


Meski serangan barusan jelas fatal, dua murid Yudhistira ini masih ragu. Mengde mengambil pedang yang berserakan di tanah dan memenggal kepala musuh.


“Akhirnya selesai juga ...” kata Miaocai sambil mencabuti panah kemudian bersandar.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan, Miaocai? Ayo kita bantu guru,” kata Mengde.


Melihat dua muridnya akan mendekat, Yudhistira berteriak, “Jangan! Tidak usah!”


“Tapi, guru ...” kata Mengde.


“Mengde, geledah Jinnaluo yang barusan kalian bunuh,” kata Yudhistria yang sedang beradu senjata dengan Jinnaluo bertombak, “Miaocai, ambil semua panah yang ada di sini!”


“Baik, Guru!!” kata Mengde dan Miaocai.


Mengde pun mendekati mayat Jinnaluo. Sebelum mulai menggeledah, dia menyebarkan api untuk mempermudah Miaocai dalam mencari panah di kegelapan. Mengde pun mulai menggeledah. Dia menemukan sebilah pisau, beberapa keping uang, satu botol aneh yang sudah kosong dan lembaran kain.


Lembaran kain ini terlihat aneh. Mengde pun menambah api supaya lebih terang. Di kain aneh ini, tertulis huruf dengan Bahasa Romawi. Di pojok kanan bawah ada simbol yang sangat asing bagi Mengde. Simbol bisa bermakna banyak. Seperti organisasi, ritual sihir, komunikasi rahasia dan masih banyak lagi.


“Kusimpan saja,” kata Mengde seraya memasukkan kain putih itu ke saku.


Keanehan yang dilihat Mengde masih belum selesai. Tak sengaja, Mengde melihat kepala Jinnanaluo yang terpenggal. Kepala yang mirip kuda itu perlahan mulai berubah bentuk. Mengde mendekat dan menyalakan api untuk penerangan. Bocah cerdik itu terus mengamati proses perubahan kepala.


“Kenapa kau terus berjongkok di sana, Mengde?” tegur Miaocai, “Kalau menganggur, tolonglah bantu aku mengumpulkan panah.”


“Kemarilah,” kata Mengde, “Hati-hati dengan darahnya.”


Dua murid Yudhistira itu bersama-sama mengamati perubahan bentuk kepala Jinnanaluo. Perlahan kepala kuda itu mulai membentuk mirip kepala manusia lagi. Moncong kuda mulai hilang. mata yang awalnya terpisah di sisi kiri dan kanan, kini mulai bergerak ke depan seperti manusia. Telinga kuda yang runcing pun, kini perlahan berbentuk bulat seperti manusia. Hanya kondisi rambut yang tidak berubah.


“Aku mulai bingung. Apa yang sebenarnya kita hadapi?” kata Miaocai.


“Aku juga. Untuk menjawab pertanyaan itu, lebih baik kita amati juga Jinnanaluo yang dibunuh oleh guru tadi,” kata Mengde.


Mengde dan Miaocai berjalan mencari mayat Jinnanaluo. Supaya lebih mudah, seperti biasa Mengde menebarkan api. Setelah ketemu, mereka juga melihat hasil yang sama. Tidak ada kepala kuda. Yang mereka lihat hanya kepala manusia biasa yang sudah memucat.


“Lukanthropos yang kita bunuh kemarin, tidak berubah menjadi manusia lagi kan? Apakah Jinnanaluo ini punya sifat yang sama dengan lukanthropos?” tanya Mengde.


“Mulai malam sampai kita berangkat ke hutan untuk menemui para strigoi, tidak ada perubahan. Masih berwujud serigala. Lengkap dengan moncong, bulu dan ciri khas serigala yang lain. Tidak ada perubahan,” jawab Miaocai, “Untuk sifat yang sama, aku tidak tahu.”


“Aku punya dugaan. Tapi masih lemah. Tidak yakin dengan pendapatku sendiri.”


“Seperti apa pendapatmu?”


“Jinnanaluo adalah manusia yang terkena pengaruh sihir. Sedangkan lukanthropos monster asli.”


“Bisa jadi lukanthropos juga terkena ilmu sihir kan. Mungkin sihir yang berbeda.”


“Ah, benar juga. Sudahlah lupakan. Kita kumpulkan saja dulu anak panah yang berserakan.”


Sambil memunguti anak panah yang berserakan, Mengde menatap ke selatan. Tak terlihat apapun di selatan. Hanya kegelapan di bawah langit malam yang bertabur bintang. Hati dan otak Mengde berharap Yuanrang dan para strigoi segera datang. Mungkin mereka bertiga bisa mengatasi semua gangguan ini. Tapi selalu ada kemungkinan serangan susulan. Pertanyaannya, apakah mereka bertiga bisa mengatasi jika ada serangan susulan dari pihak musuh?


Kemudian, mata Mengde melihat pertarungan Yudhistira. Suara benturan logam antara dua petarung itu seolah memecah keheningan malam. Memang sekarang Gurunya itu sudah unggul. Tapi tetap saja ada ganjalan besar di hati Mengde. Mereka sama sekali tidak tahu musuh macam apa yang mereka hadapi. Padahal, di teori perang buatan Sun Tzu, kita harus mengenali diri kita dan mengenali musuh untuk memenangkan perang. Kekhawatiran melanda Mengde. Dia kembali memunguti anak panah dengan hati tidak tenang.


Tak sengaja, mata Mengde menangkap kilatan cahaya dari utara. Cukup jauh dari sini. Kilatan itu hanya tiga kali. Jelas bukan petir karena kilatan itu dari bawah. Setelah tiga kali, Mengde dan Miaocai tidak melihat kilatan lagi


“Apa-apaan itu?” tanya Miaocai yang juga menyadari.


“Entahlah, yang jelas, ada yang tak beres di utara,” jawab Mengde simpel.

__ADS_1


__ADS_2