
Para pendekar dan Xing Lian mencari alat tulis dan kertas. Mereka langsung mencari di rumah kepala desa karena tak mau berlama-lama. Namanya kepala desa, pasti punya banyak alat tulis dan kertas. Sudah menjadi kewajiban kepala desa untuk membuat laporan tertulis kepada penguasa wilayah setempat. Setelah semua lengkap, mereka mulai membagi tugas.
“Miaocai, Yuanrang, tolong kalian congkel mata kiri tiap lipan dan bungkus dengan kain. Kita tunjukkan buktinya. Aku akan menulis surat pada Guru Yudhistira,” kata Mengde.
Yang kami hormati, Guru Yudhistira dan Tuan Penguasa Wilayah.
Saya yang menulis ini, Cao Mengde. Bersama dengan Yuanrang dan Miaocai.
Bersamaan dengan surat ini, kami perlu menyampaikan beberapa hal:
1. Kami berhasil membunuh lipan jantan dan lipan betina. Kami punya bukti berupa kepala dari masing-masing lipan. Dengan surat ini juga, kami kirimkan bukti berupa mata kiri dari setiap lipan.
2. Kami belum membunuh bayi-bayi lipan yang tinggal di dalam gua. Karena kami belum sepenuhnya mengenali hutan, gua tempat para bayi lipan berada dan ada dua kendala misterius yang kami temui.
3. Kendala pertama, kami menemui makhluk berbulu hitam yang cukup aneh. Kami sendiri ragu mengklasifikasikan apakah makhluk itu manusia atau monster buas. Karena sepertinya makhluk berbulu itu punya kecerdasan. Jika memang monster, makhluk berbulu hitam pasti langsung menerkam kita. Tapi nyatanya malah mengamati kami yang sedang bertarung melawan lipan.
4. Kendala kedua, di dalam gua, kami bertemu dengan dua manusia aneh. Berkulit sangat pucat, bermata kuning dan bertaring. Ketika kami menyerang mereka, mereka langsung berlari ke kedalaman gua.
5. Kami harap, jangan ada yang penduduk yang kemari karena kami belum berani memastikan kalau hutan ini sudah aman sepenuhnya. Kami juga memohon kepada guru untuk memberikan informasi tentang dua makhluk misterius yang kami hadapi.
Demikian informasi yang kami sampaikan, Guru Yudhistira dan Yang Terhormat Penguasa Wilayah.
“Dua manusia bertaring tadi … mengingatkanku pada Jiangshi,” kata Miaocai.
“Tidak, dua orang bertaring tadi bukan Jiangshi,” kata Mengde, “Jiangshi kan kaku dan melompat. Mereka tadi berlari.”
“Ada juga kan kemungkinan. Misalnya, Jiangshi yang terlepas dari penyihirnya dan bergerak liar,” kata Yuanrang.
Jiangshi adalah mayat hidup melompat dalam legenda dan cerita rakyat China. Mereka biasanya digambarkan sebagai mayat kaku, bergerak dengan melompat-lompat dan dengan lengan terentang. Makanan mereka adalah energi qi atau chi atau biasa disebut dengan kekuatan hidup. Umumnya, Jiangshi aktif pada malam hari. Sedangkan di siang hari, mereka ada di dalam peti mati atau bersembunyi di tempat gelap seperti gua.
Jiangshi sudah ada sejak dulu. Diciptakan oleh para praktisi sihir yang memanfaatkan energi dari dunia hantu. Jiangshi memang hanya “wadah” kosong. “Wadah” kosong ini diisi oleh para hantu dan arwah penasaran sehingga tubuh pun bisa bergerak. Untuk mendiamkan para Jiangshi, biasanya para penyihir menggunakan kertas mantra yang ditempelkan ke dahi para Jiangshi. Satu penyihir sangat mungkin mengendalikan lebih dari satu Jiangshi. Tergantung kekuatan penyihir yang bersangkutan. Karena kalau penyihir lemah memaksakan diri untuk mengendalikan banyak Jiangshi sekaligus, maka berisiko Jiangshi akan berbalik menyerang si penyihir. Ilmu sihir untuk mengendalikan Jiangshi sudah ada sejak dahulu kala. Ada yang bilang sudah ada ketika Dinasti Shang. Ada pula yang bilang sudah ada di Dinasti Xia. Entahlah, Mengde dan yang lainnya juga tidak tahu pasti.
Setelah mengemas surat dan bukit, Mengde memberikan pada Xing Lian, “Terima kasih atas bantuanmu, Xing Lian. Berhati-hatilah. Di jalanan banyak bandit dan perampok. Kabar kalau desa ini sudah ditinggalkan akan mengundang penjarah kemari. Sebisa mungkin, kau harus sampai di lokasi pengungsian sebelum matahari terbenam.”
“Tenang, aku bawa kuda, kok,” kata Xing Lian, “Selamat jalan, pendekar.”
Setelah Xing Lian beranjak pergi, para pendekar membuat strategi dan merencanakan jebakan. Tidak lupa juga merencanakan jadwal tidur. Supaya nanti malam, jika ada yang muncul, entah bandit atau monster, bisa lebih siap untuk bertarung. Selain itu juga, mereka membuat beberapa alternatif rute kabur. Untuk jaga-jaga jika keadaan menjadi di luar kendali.
Di malam hari, sesosok pria mendekati desa. Dia memakai pakaian khas penduduk desa dan memakai cadar. Berperawakan agak kekar. Di sebelah pinggang kirinya membawa sebilah pedang. Ketika sudah memasuki ujung utara, bibirnya tersungging. Hanya ada kegelapan di sini. Semua penduduk sudah pergi. Entah apa yang di pikirannya. Yang jelas, bukan sesuatu yang mulia. Dia melanjutkan langkah memasuki desa. Sambil menoleh ke kanan dan kiri. Entah apa yang diwaspadainya. Tangan kanan menggenggam gagang pedang dengan erat. Bersiap menebas apapun yang muncul.
__ADS_1
Di tengah desa, mendadak langkahnya berhenti. Karena indra penciuman mendeteksi sesuatu. Sambil mengendus udara beberapa kali. Ada seseorang di sini. Tidak. Lebih tepatnya ada lebih dari satu. Ada bau yang tercampur di udara. Membuat pria berpedang kesusahan menyimpulkan ada berapa orang di sini.
Pria ini menghunuskan pedang pertanda siap bertarung. Lalu mendekat ke rumah di sisi kirinya. Seolah tak memikirkan apapun, dia langsung menendang pintu rumah beberapa kali. Karena tak ada respon, langsung saja mendobrak pintu yang terbuat dari kayu itu. Dia masuk dan menjelajah seisi rumah. Awalnya, dia tidak menemukan siapapun. Sebelum dia masuk ke kamar dengan pintu terbuka.
Di kamar ini, pria misterius menemukan seseorang yang sedang tidur dengan tenangnya. Wajah laki-laki tidak jelas karena terlalu gelap. Selain itu juga dilindungi oleh selimut. Di pikiran, dia bertanya-tanya. Bagaimana mungkin laki-laki ini tetap tidur dengan nyenyak? Sementara tadi pintu terbuka dengan suara keras. Terserah. Pria misterius ini mengangkat pedang tinggi-tinggi untuk memenggal orang yang tidur nyenyak ini.
Belum sempat mengayunkan pedang, pedang yang ada di sudut kamar melayang sendiri dan merobek pergelangan tangan pria misterius. Pria misterius menoleh ke belakang. Pedang barusan menusuk dinding. Berpikir kalau ini ulah hantu, pria misterius itu keluar kamar sambil tertatih-tatih.
“Sekarang, apa yang akan kau lakukan, brengsek?” terdengar suara dari dalam kamar.
Dari dalam kamar, keluarlah Yuanrang dengan pedang di genggaman tangan. Sejak awal, dia sudah memakai baju perang juga. Memang serangan di malam hari sudah diantisipasi oleh tiga pendekar. Meskipun realitanya tidak sesuai yang mereka harapkan.
“Huh, bandit ya?” kata Yuanrang.
“Kau … hanya bocah tengik …,” kata pria misterius.
Pria misterius ini langsung menebaskan pedang ke leher Yuanrang. Namun, serangan pedang berhasil ditangkis dan dialihkan oleh Yuanrang. Sehingga pria misterius malah condong ke kiri Yuanrang karena gaya dorongnya sendiri. Yuanrang pun mendaratkan lutut ke perut pria misterius. Pria misterius masih berusaha melawan. Pedang Yuanrang pun lepas dari genggaman. Masih berusaha menyerang Yuanrang, pria misterius mengayunkan pedang lagi. Tak perlu senjata dan tak perlu pengendalian logam, Yuanrang menangkap pergelangan tangan pria misterius. Pukulan demi pukulan menghajar muka pria misterius hingga tertekan sampai ke pintu. Masih berusaha menyerang, namun tinju barusan juga berhasil ditepis Yuanrang. Di akhir serangan, Yuanrang memutar tubuh dan mendaratkan tendangan tepat ke perut pria misterius hingga terhempas ke jalan. Terdengar suaranya yang batuk darah.
Pedang yang terjatuh di lantai melayang kembali ke genggaman Yuanrang. Yuanrang lalu keluar pintu dan menatap bandit yang sedang batuk darah. Tidak langsung membunuh karena Yuanrang masih bingung. Apakah sebaiknya bandit ini dibunuh atau ditangkap?
“Hanya karena semua penduduk desa sudah pergi, kau berani menjarah sendirian ya?” kata Yuanrang, “Apa kau sungguh berpikir kalau benar-benar tidak ada orang di sini?”
“Untuk seukuran remaja,” kata pria misterius yang mulai berdiri, “Ternyata kau hebat juga, ya? Dari perguruan mana kau?”
“Siapa gurumu?”
“Kutegaskan lagi. Entah nama perguruan atau nama guruku, tak ada gunanya juga memberitahumu.”
“Tenang, bandit,” kata Yuanrang, “Aku tak akan membunuhmu.”
“Untuk apa kau membiarkanku hidup? Apa kau pahlawan yang akan menyerahkanku ke penguasa setempat untuk diadili? Jangan sok jadi polisi, Nak!”
“Aku akan menangkapmu dan menginterogasimu. Tak mungkin juga kan kau akan memberitahuku begitu saja?”
Tiba-tiba, pria misterius itu berlari dan menusuk Yuanrang. Yuanrang melompat ke belakang dan berjongkok. Dia mengambil batu dan melemparkan dari bawah. Pria misterius berguling ke kiri. Membalas Yuanrang dengan melempar batu. Sama seperti cara Yuanrang barusan. Dari posisi jongkok, Yuanrang segera tiarap. Batu pun melayang di atas tubuh.
Di situasi yang gelap seperti ini, Yuanrang tidak boleh gegabah. Penerangan hanya dibantu oleh cahaya bulan purnama. Tentu ini sangat minim untuk penglihatan. Yang berarti sangat berisiko.
Supaya lebih cepat selesai, Yuanrang bersiul tiga kali. Ini adalah sinyal untuk Miaocai dan Mengde. Yang berarti penyergapan dimulai. Dari jendela sebuah rumah, melesatlah sebuah anak panah. Namun serangan barusan meleset. Pria misterius yang tidak menyadari serangan barusan, langsung menghela nafas karena beruntung.
Dari dalam rumah, keluarlah Mengde dan Miaocai. Mengde bergerak ke belakang musuh. Mengepungnya bersama Yuanrang. Sementara Miaocai menghilang di balik kegelapan. Mengintai musuh dan menghujaninya dengan panah dari jauh.
“Jangan bunuh dia, Miaocai! Kita butuh informasi darinya!” teriak Yuanrang.
__ADS_1
“Kau tidak menyerah?” kata Mengde, “Mudah bagi kami untuk mengalahkanmu sekarang. Satu lawan tiga. Selain itu, kau tidak pakai baju perang sedangkan kami bertiga memakainya.”
Mengde menebarkan api ke jalanan supaya lebih terang. Selain itu juga memudahkan Miaocai yang membidik dari kegelapan malam. Mengde berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengenai rumah. Karena ada beberapa rumah penduduk yang terbuat dari kayu dan bambu.
“Menyerah dan ceritakan saja dari kawanan bandit mana dirimu! Ceritakan pula basis operasimu dimana?” kata Yuanrang.
“Menyerah? Buat apa? Setelah kalian menginterogasiku, kalian juga pasti akan membunuhku, kan?” tanya pria misterius.
“Tidak! Kami akan menyerahkanmu ke penguasa setempat!” kata Mengde, “Kami tidak akan membunuhmu!”
“Oh pengadilan?” kata pria misterius, “Kalian main polisi-polisian, ya?”
Pria misterius mengambil sesuatu dari pakaian. Yuanrang dan Mengde langsung waspada. Siapa tahu dia mengambil pisau lempar. Kemudian pria misterius itu memasukkan benda apapun yang diambil ke mulut. Pertahanan Yuanrang dan Mengde pun melonggar lagi karena salah kira.
“Apa yang kau lakukan?” Yuanrang tersenyum, “Apa kau ingin makan malam dulu sebelum mencoba mengalahkan kami bertiga? Ya sudahlah. Tidak apa. Kuberi kesempatan.”
Pria misterius menelan apa yang dimakannya, “Kalian bocah-bocah … Aku sanggup mengalahkan kalian bertiga! Kalian akan menyesal karena sudah memperolokku.”
Yuanrang pun semakin terbahak, “Bahkan kau tak sanggup melawanku, bandit! Jangan sok!”
Tiba-tiba, pria itu langsung berlari mendekat ke Yuanrang dan mengayunkan pedang dari atas. Dengan reflek yang baik, tangan kanan Yuanrang menggenggam erat pedang dan tangan kiri menahan punggung pedang. Memposisikan tangkisan horizontal. Begitu pedang pria misterius mengayun dan membentur mata pedang milik Yuanrang, malah Yuanrang malah tertekan mundur satu langkah.
Masih belum selesai, Yuanrang memposisikan pedang secara vertical. Pedang pun mengayun ke sisi kanan Yuanrang. Serangan kedua terasa lebih kuat dari sebelumnya. Yuanrang sampai bergeser satu setengah langkah.
Serangan ketiga muncul juga, pria misterius mengayunkan dari bawah ke atas. Dengan posisi pedang horizontal juga, Yuanrang bertahan. Serangan ketiga lebih kuat dari serangan kedua. Bahkan pedang Yuanrang pun sampai terangkat ke atas.
Serangan keempat, dengan tebasan vertikal dari atas ke bawah. Mengulang seperti serangan pertama. Yuanrang pun menahan lagi. Tekanan serangan keempat lebih kuat dari serangan ketiga. Bahkan Yuanrang sampai mundur dua langkah.
Serangan kelima bukan dengan senjata lagi. Kali ini dengan tendangan berputar yang diawali gerakan tipuan. Yuanrang yang sudah tertipu, terlanjur memposisikan pedang di atas. Mengira serangan kelima serangan pedang lagi. Tendangan barusan sangat kuat. Meski sudah memakai baju perang, Yuanrang bisa merasakan tekanan yang keras. Dia sampai terlempar sepuluh langkah. Hentakan yang luar biasa.
Pria misterius itu akan berlari maju untuk membunuh Yuanrang. Namun, dia malah mundur karena melihat sosok hitam di bagian atas rumah. Panah Miaocai hanya mengenai tanah. Setelah memanah, Miaocai menghilang lagi ke kegelapan. Pria misterius akan mulai menyerang lagi. Namun, lagi-lagi dia harus mengurungkan niat karena ada duri-duri es di depannya.
Mengde maju dengan lima bola api dan pedang yang sudah terbakar. Suara hentakan Mengde membuat pria misterius membalikkan badan. Mengde mengayunkan pedang dan pria misterius juga sama. Dentangan suara logam yang beradu terdengar kencang. Namun, Mengdelah yang malah terdorong karena tekanan pria misterius. Bahkan punggung pedang hampir mengenai muka.
“Hati-hati, Mengde!” teriak Yuanrang, “Dia lebih kuat dari sebelumnya!”
“Sebaiknya hati-hati, Nak!” kata pria misterius, “Lebih baik dengarkan temanmu barusan!”
Bukan Mengde jika tidak cerdas. Mengde meniup api yang menyelimuti pedang. Kobaran api langsung membakar bagian depan tubuh pria misterius. Karena terkejut, pria misterius menyerang Mengde secara acak. Semua gerakan dia lakukan sambil berusaha memadamkan api dari pakaian. Apapun asal Mengde menjauh.
“Benar. Tekanannya memang cenderung tidak normal untuk manusia dewasa,” kata Mengde, “Tapi, selama dia lebih bodoh dariku, tidak masalah.”
“Bocah keparat!!” bentak pria misterius, “Tak perlu lama-lama lagi.”
__ADS_1
Pria misterius membuka cadar. Memperlihatkan giginya yang penuh taring. Beberapa bagian tubuh yang terlihat pun mulai menumbuhkan bulu-bulu hitam yang sangat tidak asing.