
“Sebentar, ada yang ingin aku bicarakan,” kata Yudhistira, “Kita tidak mengira kalau strigoi di dalam gua ternyata netral dan baik. Yang pasti, jangan sampai para penduduk desa dan semuanya tahu detailnya. Hanya kita dan penguasa yang boleh tahu.”
“Termasuk Xing Lian?” Kata Mengde.
“Termasuk Xing Lian,” tegas Yudhistira.
“Kalau begitu, kita bilang saja ke Xing Lian dan tentara yang mengawalnya kalau kita belum menyelesaikan dua orang aneh itu,” kata Yuanrang, “Kalimatku memang jujur kan? Kita belum menyelesaikan mereka. Kalau Xing Lian tanya lebih spesifik, kita jawab saja situasi di dalam sangat gelap. Bahkan cahaya api Mengde pun kesusahan untuk menjangkau. Kita laporkan saja kalau kita berhasil membunuh lipan.”
“Masalahnya, apakah Xing Lian sudah memberitahu ke penduduk desa kalau ada sesuatu di sana selain lipan?” tanya Miaocai.
“Xing Lian berkata padaku kalau dia belum memberitahu. Setelah surat kalian sampai padaku, aku pun memperingatkan Xing Lian supaya tidak memberitahu penduduk desa supaya tidak terjadi kepanikan. Maksimal, hanya para pengawal Xing Lian yang tahu,” kata Yudhistira.
“Baguslah, kalau begitu,” kata Yuanrang, “Tapi hari ini tidak seru, ya?”
“Kenapa tidak seru?” tanya Mengde.
“Tidak ada pertarungan. Kita hanya berperan seperti pembasmi bayi serangga saja,” kata Yuanrang.
Miaocai memukul punggung Yuanrang, “Bodoh. Kau ini lebih suka sesuatu yang sulit, ya? Mendapat situasi yang mudah malah tidak bersyukur!”
“Kau sama saja dengan lukanthropos kemarin malam, Yuanrang!” kata Mengde, “Kalau ada jalan yang sulit, kenapa harus memilih jalan yang mudah?”
“Kalau kita bertarung, kita bisa mendapatkan pelajaran lebih banyak kan?” kata Yuanrang.
“Hei, hei, hei, hentikan perdebatan konyol, kalian. Kalau masalah pelajaran, bukankah kalian tadi juga belajar bagaimana menggali informasi, memastikan, menyamakan kepentingan dan bernegosiasi?” kalimat Yudhistira barusan mendiamkan tiga muridnya.
Empat pendekar melanjutkan perjalanan pulang. Yudhistira menyuruh para muridnya untuk berpikir bagaimana strategi dan membuat rancangan jebakan untuk menghadapi ular raksasa. Sementara Yudhistira berpikir untuk merancang beberapa kalimat persuasif. Supaya penguasa menyetujui kerja sama dengan para strigoi dari Kekaisaran Romawi. Termasuk mendukung serta menyimpan rahasia mereka. Dalam hati Yudhistira, ada sedikit sesal juga. Pria India itu sangat jarang memberikan materi tentang lobi-lobi politik, interogasi, negosiasi dan semacamnya. Selama ini, kebanyakan hanya cara bertarung, jenis-jenis monster dan strategi bertarung.
Tak lama terdengar suara derap kuda dari utara hutan. Awalnya para pendekar tidak terlalu mempedulikan. Mungkin hanya seseorang yang mencari jalan pintas melalui hutan. Mereka juga tidak memperingatkan. Toh, lipan raksasa dan para bayi lipan sudah jadi bangkai semua. Namun seiring mendekatnya penunggang kuda itu, terdengar pula suara meminta tolong. Selain itu juga semakin terlihat jelas pula penampilannya. Penunggang kuda bersimbah darah. Kulit dan tubuhnya menderita luka. Dia pun menghentikan kuda di depan para pendekar. Mentalnya terlihat kacau. Tangan kanannya masih menggenggam gagang tombak yang sudah kehilangan ujungnya.
“Tolong! Kumohon tolong kami!” kata orang bersimbah darah itu.
“Turun dan duduklah!” kata Yudhistira.
Orang bersimbah darah itu duduk dan ditenangkan oleh para pendekar. Yuanrang menatap punggung orang ini. Ada goresan yang membentuk mirip cakar. Meski penasaran, Yuanrang memberi minum sebelum dia berbicara. Semua pendekar mengerumuni orang bersimbah darah. Dia masih belum berbicara karena terengah-rengah. Matanya dipenuhi teror dan ketakutan.
“Hei, hei, atur nafasmu,” kata Mengde, “Kenapa kau sampai mandi darah seperti ini?”
“Semua ... Se-se-semua temanku ... Tewas,” kata pria itu.
“Hei, hei, pelan-pelan? Jelaskan hewan macam apa yang melukai punggungmu!” Kata Yuanrang.
“Jangan terlalu cepat, Yuanrang,” kata Miaocak, “Paling tidak, kita tahu siapa dia.”
“Aku ... Aku tinggal di p-p-per-perbukitan ... utara. Bukit Lang Xue. Namaku ... Na-namaku ... Jintao,” kata orang bernama Jintao ini.
__ADS_1
“Miaocai, rawat semua lukanya!” perintah Yudhistira.
Yuanrang mencoba menganalisis dia. Setahu Yuanrang, tak ada pemukiman penduduk di bukit Lang Xue. Dinamai Lang Xue karena secara bahasa berarti sarang serigala. Mana ada manusia yang tinggal di bukit penuh hewan buas seperti itu. Kalaupun ada, palingan hanya kawanan bandit. Dan memang jika melihat dari muka dan busana, pria ini jelas bandit.
Karena Jintao masih terlihat panik, Yuanrang pun bertanya, “Apa yang mengejarmu sekarang jaraknya cukup dekat?”
“Tidak ... Tidak ... Sepertinya tidak ... makhluk itu membantai teman-temanku dan aku ... Aku ... Kabur ...,” kata Jintao, “Aku ... Tak ... Tidak ... Tidak mau tercabik-cabik. S-se-sepertinya ... monster itu masih di .. d-d-di ... Lang Xue.”
“Kalau begitu tidak usah terlalu panik, kan? Kau bisa menjelaskan pada kami,” kata Yuanrang, “Nih minum dulu untuk menenangkan pikiranmu.”
Setelah minum dan kepanikannya sedikit berkurang, Jintao pun melanjutkan, “Kami diserang makhluk aneh. Berwujud mirip harimau, bertanduk dan punya satu sayap besar di punggung seperti burung di sisi kanannya. Ekornya pun keras seperti kayu. Anehnya, dia bisa bicara seperti manusia.
“Oh, makhluk itu,” kata Yudhistira, “Ada berapa?”
“Hanya satu. Meski hanya satu, kemampuan destruktifnya bukan main,” kata Jintao.
“Guru tahu?” tanya Mengde.
“Aku pernah dua kali membunuh monster seperti itu,” kata Yudhistira yang kemudian menoleh kembali ke Jintao, “Namanya harimau pasti berkulit loreng, kan? Jelaskan padaku, motifnya orange atau merah?”
“Tidak! Ini bukan harimau!” Jintao menggeleng, “Mana ada harimau bertanduk, bersayap dan bisa bicara?? Sangat berbeda!”
“Iya, iya. Jelaskan saja padaku! Orange atau merah?”
“Orange dan ada hitamnya. Seperti harimau pada umumnya.”
“Mudah katamu? Kau ... bagaimana ...,” kata Jintao, “Kami yang puluhan orang saja dibunuh tanpa ampun. Bagaimana mungkin kau ...”
Yudhistira hanya tersenyum dan memotong kebingungan Jintao, “Sudah kubilang tadi. Aku punya pengalaman dengan makhluk ini dan pernah membunuh dua ekor.”
“Kau bandit, ya?” kata Yuanrang tiba-tiba. Mengutarakan hasil analisisnya tadi.
“Ti ... Tidak ... Bukan ... Aku hanya ...,” kata Jintao, “Hanya penduduk biasa.”
“Pertama, Jelas dari penampilanmu yang memakai pakaian serba kuning. Kedua, ada banyak serigala di Perbukitan Lang Xue. Tak mungkin ada penduduk dan manusia yang bisa bertahan di lingkungan penuh serigala. Kecuali ada 'puluhan' orang yang memang terlatih untuk bertarung dan siap menghadapi sekumpulan serigala. Ketiga, kau menghiasi setiap kaki kudamu dengan kain kuning. Aku tahu benar kau dari kelompok bandit mana. Aku hanya baru tahu kalau kelompokmu selama ini bersembunyi di sana,” kata Yuanrang yang membuat mata Jintao semakin membelalak, “Sekarang katakan padaku, Jintao. Berapa orang tak berdosa yang mati di tanganmu??”
“Aku ... A-ak-aku ... Tidak pernah membunuh warga tak berdosa!!!”
“Mungkin, teman-temanmu tidak lolos dari karma harimau bertanduk itu. Tapi kau berhasil lolos. Masalahnya, karma baik atau buruk, akan selalu mengikuti,” Yuanrang pun menghunuskan pedang, “Akulah yang jadi karmamu.”
“Kumohon! Kumohon! Aku hanya juru masak dan pembuat panah!” kata Jintao yang bersimpuh, “Kumohon! Aku tidak pernah ikut operasi teman-temanku.”
Yudhistira mendengus, “Berhenti menakutinya dan masukkan pedangmu lagi, Yuanrang!!”
Yuanrang pun tertawa dan menuruti perintah gurunya, “Baik, Guru.”
__ADS_1
“Apa yang terjadi pada ketua kelompokmu, Jintao?” kata Yudhistira.
“Tanduk runcing harimau itu merobek perut dan isinya keluar semua,” kata Jintao.
“Kapan penyerangan terjadi dan darimana datangnya harimau itu?” tanya Miaocai.
“Ketika matahari baru terbit. Tiga jam yang lalu,” kata Jintao, “Dia datang dari utara.”
Suasana pun sekarang cukup hening. Para pendekar tampak tenggelam di pikirannya sendiri. Jintao berkali-kali melihat ke utara. Ketakutan karena bisa jadi harimau bertanduk itu menyerang dengan melacak bau darah. Namanya hewan, Jintao berpikir kalau semua hewan sebangsa anjing dan kucing pasti punya penciuman yang kuat. Pertanyaan Miaocai pun memecah keheningan.
“Hei, hei, aku bertanya padamu. Apa kau bisa berubah menjadi manusia serigala?” kata Miaocai.
“Haaaaaahhh?” kata Jintao.
Tawa Yuarang pun meledak mendengar pertanyaan Miaocai dan ekspresi bingung Jintao. Miaocai bertanya seperti itu karena kemarin malam ada manusia mirip bandit yang mampu berubah menjadi serigala. Mungkin Miaocai masih trauma karena kejadian kemarin malam. Sedangkan Jintao, yang mungkin tidak pernah menghadapi keanehan seperti itu, tentu saja bingung. Bahkan pertanyaan Miaocai terkesan jauh di luar logika manusia biasa. Mana ada manusia yang mampu berubah menjadi serigala?
“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan,” kata Jintao, “Tapi, salah seorang rekanku melihat serigala yang berdiri seperti manusia satu bulan yang lalu. Aku pikir, dia salah lihat atau mengantuk atau entah bagaimana.”
“Hmmm, sudah ada pergerakan sejak sebulan lalu, ya? Tapi itu kita bahas nanti. Prioritas kita membunuh monster ini,” kata Yudhistira, “Begini saja, Miaocai dengarkan semua perintahku. Pertama, tolong bawa Jintao ke Xing Lian. Kedua, Jangan lupa lepas semua kain kuning di kaki kuda. Jangan sampai para tentara membunuh dia. Bicarakan pada para tentara kalau dia berada di bawah perlindunganku. Aku membutuhkan dia untuk membuat anak panah. Stok anak panah kita sudah banyak berkurang. Ketiga, bawa lima kuda sekaligus kemari. Keempat, Ajak Xing Lian ikut misi kita dan bawa semua stok panah yang tersisa. Empat kuda untuk kita dan satu untuk Xing Lian. Kami akan menunggu di sini.”
“Siap, Guru Yudhistira,” kata Miaocai yang segera melakukan semua perintah gurunya. Kemudian segera bergegas dan meninggalkan semuanya.
“Apa yang guru ketahui tentang Qiong Qi?” tanya Yuanrang.
Yudhistira pun menjelaskan Qiong Qi. Qiong Qi adalah salah satu makhluk mitologi Cina yang bertubuh dan berkepala harimau, bertanduk dan bersayap. Hewan pemakan daging yang merepotkan. Populasi Qiong Qi sangatlah jarang dan tidak sepenuhnya berasal dari dunia ini. Bisa berpikir dan berbicara seperti manusia. Inilah yang membuat Qiong Qi berbahaya. Sering kali disimbolkan dengan pembela kejahatan. Bahkan Qiong Qi memprovokasi para penjahat dan pendosa untuk semakin sering melakukan kejahatan. Qiong Qi benci orang jujur dan sering kali memakan hidung orang jujur dan adil. Ada banyak jenis Qiong Qi. Yang menyerang markas bandit di Perbukitan Lang Xue adalah jenis yang terlemah. Biasanya warna kulitnya orange. Kalau yang merah mampu menyemburkan api dan lebih merepotkan.
“Yang aku bingung, Qiong Qi yang ditemui Jintao hanya punya satu sayap di punggung kanan. Berbeda dengan deskripsi guru yang seharusnya punya sepasang sayap,” kata Mengde.
“Kemungkinan ada yang memotongnya,” kata Yudhistira, “Kalau hanya satu orang, berarti orang yang berhasil memotong sangatlah hebat. Kalau sekelompok orang, dalam jumlah tertentu, entah berapa orang yang tewas dimangsa Qiong Qi.”
“Setidaknya, jika Qiong Qi sudah kehilangan salah satu sayapnya, tidak akan mampu terbang dengan baik,” kata Yuanrang.
“Qiong Qi datang dari utara. Lipan datang dari utara. Ular raksasa yang akan kita hajar sepertinya datang dari utara juga. Aliran sungainya dari utara,” kata Yudhistira, “Aku semakin penasaran apa yang sedang terjadi di utara?”
“Kata Jintao dan guru sendiri, Qiong Qi bisa berbicara seperti manusia,” kata Yuanrang, “Nanti bisa kita interogasi dia untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di utara dan motif makhluk itu menyerang Perbukitan Lang Xue?”
“Iya. Ada dua alasan kenapa kita harus mengerjakan Qiong Qi ini. Pertama, untuk mencari informasi sesuai dengan ide Yuanrang tadi. Meskipun aku ragu makhluk buas ini bisa diajak kooperatif,” tawa Yudhistira, “Kedua, kita rebut tempat persembunyian para bandit dari Qiong Qi. Bisa kita gunakan untuk persembunyian Livilla yang baru. Kata Jintao, puluhan bandit itu sudah terbantai. Mungkin hanya tersisa beberapa. Tapi itupun sudah terusir oleh Qiong Qi. Sekarang, status persembunyian bandit milik Qiong Qi.”
“Pasti Qiong Qi sedang berpesta dengan puluhan mayat bandit,” kata Mengde.
“Situasi masih sangat pagi,” kata Yudhistira, “Cukup optimal untuk berburu!”
Begitu Miaocai dan Xing Lian muncul bersama empat kuda, para pendekar segera berangkat. Mereka bergerak menuju utara. Melalui hutan yang sangat teduh dan sejuk. Meski para lipan sudah mati, strigoi ternyata baik dan para lukanthropos sudah lenyap, para pendekar tetap waspada. Karena siapa tahu hutan ini masih menyimpan misteri yang mengintai dari balik semak-semak, bambu, pohon pinus, bebatuan dan rerumputan tinggi. Pikiran ini bukan tanpa alasan. Siapapun yang mereka hadapi sekarang, pengaruhnya sudah sampai hutan ini.
Kewaspadaan para pendekar sedikit melonggar ketika keluar dari hutan. Rerumputan bergerak lembut tertiup angin. Seolah menimbulkan kesan suasana yang damai dan tenteram. Mereka melihat padang rumput yang begitu luas. Hamparan padang rumput di utara hutan sangatlah luas. Sejauh mata memandang, lautan rerumputan hijau yang membentang. Hampir semua rumput berukuran pendek. Sehingga mereka bisa melihat bukit Lang Xue yang ada jauh di utara. Langit di sisi utara perbukitan Lang Xue berwarna biru tua. Beberapa bagian ditutupi oleh awan-awan putih yang menggumpal. Awan bergerak pelan melintasi langit. Menciptakan bayangan awan di tanah. Sayangnya, tak ada hewan darat di sini. Mungkin sudah dimakan oleh lipan raksasa dan lukanthropos. Yang ada hewan terbang saja. Yuanrang menatap langit. Dia melihat seekor elang yang terbang begitu indahnya. Suara burung-burung yang berkicau menambah ketenangan hati. Yuanrang rasanya ingin tiduran di sini sampai sore. Sayangnya sekarang bukan waktunya tamasya.
__ADS_1
“Guru, kira-kira berapa lama kita akan sampai di Bukit Lang Xue?” kata Yuanrang, “Aku tidak sabar melihat Qiong Qi.”
“Kata Jintao, dua puluh lima menit lagi,” jawab Yudhistra.