
Yuanrang berpamitan dengan Xing Lian dan rombongan. Setelah kepala ular beres. Sekarang dia harus mengabari misi rahasia yang tidak boleh diketahui oleh siapapun. Yaitu menyampaikan surat ke Livilla.
“Kalau bertemu monster yang aneh-aneh lagi, pergilah,” kata Xing Lian, “Aku tidak yakin kau bisa menghadapi ini semua.”
“Ah, kau meremehkanku,” kata Yuanrang.
“Bukan meremehkan. Kita belum mengungkap misteri kenapa para monster berdatangan dari utara. Jangan mati dululah.
Yuanrang pun tertawa, “Iya. Iya. Aku mengerti.”
Mereka berdua pun berpisah. Xing Lian memacu kudanya ke selatan. Yuanrang masuk ke hutan. Bukan hal yang sulit bagi Yuanrang untuk menemukan gua. Dia sudah ke sana tiga kali.
Sesampainya di gua, Yuanrang masuk ke permukaan. Tak ada siapapun di sana. Juga tak ada cahaya. Yang ada keheningan. Dia juga tak berani masuk terlalu dalam. Di samping karena tak ada cahaya, Yuanrang belum menguasai gua sepenuhnya. Jadi dia hanya memanggil-manggil nama Livilla saja.
“Livilla!! Livilla!!” teriak Yuanrang.
Tak ada yang muncul dari dalam gua. Yuanrang pun berpikir negatif. Apa mereka sudah dimakan oleh ular yang tadi? Kemudian dia menggelengkan kepala dan mencoba membuang pikiran negatif ini. Tidak mungkin strigoi yang mampu mengendalikan alam bisa kalah hanya karena ular raksasa biasa. Lagi pula, tidak mungkin juga Kekaisaran Romawi mengirimkan utusan lemah jauh-jauh ke Dinasti Han. Yuanrang pun terus memanggil-manggil nama Livilla. Bahkan dia juga mengeraskan suara.
Setelah dua puluh kali panggilan, terdengar langkah seseorang. Awalnya Yuanrang tak bisa melihat dia. Setelah semakin dekat, akhirnya jelas juga. Ternyata seorang pria dengan rambut pirang dan memakai jubah hitam. Mata kuningnya menyala dan berkulit sangat pucat. Jelas ini partner Livilla yang dia lihat kemarin. Yang lebih mengejutkan, ternyata dia mampu berbahasa Cina.
“Siapa kau? Kenapa kau memanggil-manggil nama Livilla?” tanya pria itu.
Karena pria strigoi ini mampu berbahasa Cina, mudah bagi Yuanrang untuk menanggapinya, “Aku adalah murid Yudhistira yang tadi bernegosiasi dengan Livilla. Perkenalkan namaku Yuanrang. Apa Livilla belum menceritakan padamu?”
“Sudah. Livilla sudah menceritakan semua. Namaku Aquilus Castus. Kekaisaran Romawi,” kata si pria sambil menjulurkan tangan untuk menjabat Yuanrang, “Aku biasa dipanggil Aquilus.”
Yuanrang balik menjabat tangan Aquilus, “Aku kemari untuk menemui Livilla. Ada surat dari guruku.”
“Aku akan ke dalam dulu. Kupanggil Livilla. Kita akan membaca bersama. Tunggu di sini, Yuanrang.”
Yuanrang hanya mengangguk saja. Tahu-tahu Aquilus langsung berbalik, berlari dan menghilang di dalam kegelapan. Yuanrang Kemudian berbalik dan mendekat ke pintu gua. Pikiran Yuanrang masih waspada. Takut jika ada monster lain yang menyerang gua ini. Sambil menunggu, Yuanrang meminum air dan mengamati kondisi luar. Semua masih aman dan terkendali. Tidak ada suara gemerisik mencurigakan di luar dan semak-semak pun masih bergerak normal.
“Yuanrang ...,” terdengar suara wanita dari belakang.
Yuanrang membalikkan badan dan mendekati dua strigoi itu. Dia menyerahkan surat dari Yudhistira yang ditulis dengan Bahasa Romawi. Setelah selesai, Livilla mengembalikan surat ke Yuanrang. Dua strigoi itu berdiskusi dengan Bahasa Romawi yang tidak dipahami Yuanrang.
“Ergo dicemus ad auxilium eorum? (Apakah kita akan membantu mereka?)” kata Livilla.
Patet. Vide beneficia consequamur. Non iam necesse est nos quaerere sanguinem molestare ac statim intendere in missionem nostram adimplendam. (Jelas. Lihat manfaat yang kita peroleh. Kita tidak perlu lagi repot mencari darah dan bisa segera fokus mengerjakan misi kita.),” jawab Aquilus.
Ita etiam pericula attende. Solus ibi sumus et qui novit venire hostem. Nostra retis notitia nondum formata est. (Meski begitu, perhatikan risikonya juga. Kita berdua sendirian di sana dan siapa tahu musuh akan datang. Jaringan informasi kita belum terbentuk.)
“Nonne cum illis postea verberaturi sumus? (Bukankah nanti kita akan mengalahkan bersama-sama dengan mereka?)
“Ita. sed id solum breve tempus. Quomodo solus? (Ya. Itu benar. tapi itu hanya jangka pendek. Bagaimana jika sendirian?)”
“Quomodo de Lang Xue utimur pro temporali spelunca? deinde aliam speluncam quaerimus. (Bagaimana jika kita gunakan Bukit Lang Xue untuk persembunyian sementara? Setelah itu, kita cari gua yang lain.)”
“Constat. Si ita est, auxilium feramus. (Sepakat. Kalau begitu, kita bantu mereka.)”
“Kami akan membantu kalian nanti malam,” kata Aquilus yang menoleh menatap Yuanrang dan menggunakan Bahasa China.
“Terima kasih,” kata Yuanrang yang mengangguk satu kali, “Ngomong-ngomong, apa kau melihat satu ular besar?”
__ADS_1
“Satu??? Aku dan Livilla melihat tiga!!! Aku berhasil membunuh dua. Kusimpan di dalam bangkainya. Lumayan untuk stok darah. Yang satu kabur entah kemana. Kau melihatnya?”
“Aku membunuh satu. Sepertinya yang kabur itu.”
Yuanrang tenggelam dalam pikirannya. Kalau dua orang Romawi ini mampu membunuh dua ular raksasa, dengan kata lain satu lawan satu, berarti mereka cukup kuat. Bahkan lebih kuat dari dirinya.
“Kenapa kau melamun, Yuanrang?” tanya Aquilus.
“Ah, begini. Sebenarnya aku tadi tidak benar-benar sendiri ketika menghadapi ular raksasa. Aku dibantu oleh temanku. Dia pemanah dan menunggangi kuda. Jadi, kupikir, aku tidak akan mampu membunuh ular itu jika tidak ada temanmu,” kata Yuanrang, “Lalu, menurutku kalian cukup hebat. Mampu membunuh dua ular raksasa. Secara sederhana, berarti satu lawan satu, kan? Sepertinya, aku harus belajar lebih banyak dalam bertarung.”
Aquilus mengangguk beberapa kali dan berkata, “Aku paham kerisauanmu.”
Kemudian Aquilus bercerita pada Livilla tentang percakapan barusan. Dengan Bahasa Romawi tentunya. Yuanrang melihat Livilla tersenyum. Terlihat juga gigi taring khas strigoi. Entah Yuanrang harus takut atau tenang saja.
“Yuanrang dixit quod magni sumus pugnatores. Qui cum duobus hominibus fugeret, anguem gigantem interfecit. dum duo contra duo sumus. (Yuanrang berkata kalau kita adalah petarung yang hebat. Dia membunuh ular raksasa yang kabur itu dengan dua orang. Sedangkan kita dua lawan dua.),” kata Aquilus.
“Forsitan eget contra me pugnare. Ita ut vehementius efficiamur. (Mungkin dia perlu bertarung melawanku. Supaya dia lebih termotivasi untuk menjadi lebih kuat.),” kata Livilla.
“Cogitatio bona. (Ide yang bagus.).”
“Bagaimana jika kau latihan bertarung dengan Livilla?” Kata Aquilus seraya menepuk bahu kiri Livilla.
“Latihan? Dimanakah kita latihan? Apa tidak masalah?” tanya Yuanrang.
“Kita latihan di dalam gua tempat sarang bayi lipan tadi. Tempat kalian berdiskusi dengan Livilla. Kenapa jadi masalah?”
“Pertama, aku menggunakan pedang. Akan sangat rugi jika kita saling melukai. Bukankah kita nanti akan saling membantu? Kedua, kondisi gua ini cukup gelap. Aku tidak yakin bisa bertarung dengan kondisi gelap seperti ini.”
“Kujawab pertanyaanmu. Pertama, kalian akan bertarung dengan tangan kosong dan tanpa pengendalian. Kedua, aku adalah pengendali api. Sehingga mudah bagiku untuk membantu penglihatanmu.”
“Tenang. Livilla cukup tangguh untuk menghadapi manusia laki-laki. Kalau kau ingin melawanku, setidaknya bawalah dua temanmu yang lain. Tiga lawan satu.”
“Apa benar tidak masalah?”
“Apa benar kau berani melawan Livilla?Kau banyak alasan juga, Yuanrang.”
Perkataan Aquilus lumayan memprovokasi Yuanrang. Yuanrang pun berdiri dan mengiyakan tantangan latihan dari Aquilus. Mereka berjalan masuk ke gua. Di jalan, Aquilus meminta Yuanrang untuk menceritakan pertarungan dengan Qiong Qi.
“Aku memang pernah mendengar makhluk seperti itu. Tapi tidak menemuinya langsung. Tak kusangka benar-benar ada,” kata Aquilus.
Akhirnya, mereka bertiga sampai di area gua tempat diskusi tadi. Aquilus pun menciptakan api dari tangan. Lalu menyebarkan ke segala arah. Cukup banyak api yang dia keluarkan. Memastikan supaya pertarungan ini terlihat jelas.
“Apakah cahayanya cukup?” tanya Aquilus.
“Sangat cukup,” kata Yuanrang.
“Baiklah. Biar kubawa senjata kalian dan bersiap untuk berhadapan.”
Sesuai permintaan Aquilus, mereka berdua menitipkan senjata ke Aquilus. Yuanrang menyerahkan sebilah pedang dan kumpulan pisau miliknya. Sedangkan Livilla, menyerahkan pedang, dua kapak kecil, sepuluh pisau lempar dan sebilah belati. Tak disangka oleh Yuanrang kalau gadis kecil yang terlihat lemah membawa senjata sebanyak itu. Apakah Livilla mampu menggunakan semua dengan baik? Sekarang, Aquilus duduk di salah satu tebing gua dan memerintahkan mereka berhadapan.
“Perlu kau ketahui, Yuanrang,” kata Aquilus, “Umur Livilla jauh lebih tua darimu. Jadi dia jauh lebih berpengalaman darimu.”
Yuanrang yang sudah diberitahu oleh Yudhistira tentang umur bangsa strigoi hanya mengangguk dan berkata, “Terima kasih informasinya.”
__ADS_1
“Kalau begitu ... Mulailah!”
Livilla langsung muncul begitu saja di depan Yuanrang. Yuanrang yang terkejut dengan gerakan yang cepat langsung menyilangkan lengan. Lengan yang saling menumpuk itu mengurangi dampak pukulan tangan kanan Livilla. Pukulan barusan lumayan mengejutkan Yuanrang lagi. Jika sebelumnya kecepatan, yang barusan tekanan pukulan. Rasanya seperti dipukul dengan tenaga laki-laki. Belum selesai, tangan kanan Livilla membuka tangan menyilang Yuanrang yang masih bertahan. Begitu terbuka, tangan kiri Livilla dengan cepat mengarah ke muka
Yuanrang melakukan dua hal. Pertama menggunakan tangan untuk mengubah arah pukulan Livilla. Sehingga sudut pukulan Livilla melenceng ke atas. Kedua, mencondongkan tubuh ke bawah. Dia melihat tinju Livilla yang ada di atas mukanya berubah menjadi cakar. Sebelum cakar melukai muka, Yuanrang menggunakan tangan sebagai tumpuan dan menendang dagu.
Sudah menyadari serangan Yuanrang, Livilla menggunakan tubuh Yuanrang sebagai tumpuan untuk mendorong mundur dirinya sendiri. Sehingga kaki Yuanrang hanya mengenai udara saja.
Untuk menjaga kestabilan, Yuanrang buru-buru mundur. Otaknya masih kaget melihat kecepatan dan tekanan yang dilakukan oleh wanita ini.
“Bagaimana, Yuanrang?” tanya Aquilus
“Kukira dia cuma modal cantik saja,” kata Yuanrang.
Livilla menyerang lagi. Masih diawali dengan pola yang sama. Yuanrang pun memasang posisi bertahan yang sama. Menyilangkan kedua tangan. Namun ternyata tidak sesuai perkiraan Yuanrang. Livilla sekarang berada di sisi kiri Yuanrang, merunduk dan menjegal kaki Yuanrang. Yuanrang pun terjatuh. Kaki Livilla akan menendangnya. Yuanrang berusaha menahan tendangan dengan telapak tangan yang digabungkan. Tangkisan Yuanrang Memang berhasil menahan betisnya. Tapi tetap saja terhempas dan merasakan tekanan kuat dari tendangan Livilla. Livilla akan menendang lagi. Tapi kali ini dengan kaki kiri. Sudah merasakan tekanan kuat kaki Livilla, Yuanrang tidak lagi menangkis. Hanya berguling saja. Tendangan Livilla pun hanya mengenai udara. Meski begitu, Livilla menggunakan kaki kiri yang baru mendarat sebagai tumpuan, lalu melompat dan berniat mendaratkan sepasang kakinya ke perut Yuanrang. Yuanrang pun berguling lagi dan melompat bangkit.
Ketika bangkit, Livilla sudah berada di depannya. Tinju Livilla sudah mengincar perut Yuanrang. Yuanrang menggunakan tangan kiri untuk menangkis tinju Livilla dan tangan kanan untuk menyerang pipi Livilla. Keduanya sama-sama terkena serangan. Tempelengan Yuanrang berhasil mendarat di pipi Livilla. Sementara pukulan Livilla berhasil mendorong Yuanrang hingga punggungnya membentur dinding gua.
Setelah mengusap darah yang membasahi bibir, Livilla maju lagi. Menggunakan kesempatan ketika Yuanrang masih kesakitan karena punggungnya membentur dinding gua. Tinju Livilla melayang lagi. Namun hanya menghantam dinding gua karena Yuanrang menghindar ke kiri.
Kemudian Yuanrang melakukan tendangan berputar dan mengenai pinggang kanan Livilla. Livilla mundur dua langkah karena berhasil menangkis tendangan Yuanrang. Yuanrang masih belum menyerah. Dia memberi pukulan dan tendangan ke Livilla. Livilla dengan mudahnya menangkis, menepis dan menghindari serangan Yuanrang.
Supaya lebih akurat, Yuanrang mulai memakai otak. Dia membuat gerakan tipu yang seolah akan bergerak ke kiri. Livilla pun bergerak ke sisi kanan Yuanrang. Ketika Livilla di udara, Yuanrang mendaratkan pukulan ke perut Livilla. Livilla sampai berlutut. Tangan kiri Yuanrang berniat meninju. Namun berhasil ditangkis oleh Livilla. Tidak menyerah, Yuanrang menendang Livilla. Livilla menyatukan kedua tangan untuk menangkis tendangan Yuanrang. Livilla pun mundur dua langkah. Yuanrang melayangkan pukulan lagi. Namun, tangan kanan Yuanrang ditangkap Livilla. Dengan cepat, Livilla pun membanting Yuanrang ke belakang. Yaurang merintih kesakitan. Livilla akan mendaratkan pukulan ke kepala. Yuanrang berguling sambil meninju. Target Yuanrang kepala Livilla. Livilla sudah membaca serangan Yuanrang. Wanita itu menghindar meskipun sedikit telat. Pukulan Yuanrang mengenai bahu kanan Livilla. Yuanrang pun bangkit berdiri.
“Bantingan yang keren,” kata Yuanrang yang langsung diterjemahkan Aquilus.
“Id honori accipio. (Kuanggap itu sebagai pujian.),” kata Livilla.
Sekali lagi Livilla menggunakan kecepatan strigoi yang luar biasa. Dari jarak sejauh itu, tahu-tahu sudah ada di depan Yuanrang dan meninju lagi. Sudah mengantisipasi serangan dadakan seperti ini, Yuanrang bergeser dan merunduk. Pukulan Livilla hanya mengenai udara. Namun strigoi wanita itu memukulkan lengan ke kanan. Yuanrang menangkap pukulan Livilla dan balik membanting.
“Kau kira hanya kau yang bisa membanting,” kata Yuanrang.
“Coba lihat trikku ini,” kata Livilla.
Livilla menggunakan kecepatan strigoi lagi. Langsung muncul di depan Yuanrang. Yuanrang sudah sedikit tahu cara mengatasi kecepatan strigoi. Jika jarak antara dirinya dan strigoi cukup jauh, berarti ada kemungkinan strigoi akan menggunakan kecepatannya. Berarti ada dua pilih. Menangkis atau langsung memukul secepat mungkin. Yuanrang memakai pilihan kedua. Namun, pukulannya hanya menyentuh udara karena Livilla segera mundur lagi. Namun, dengan cepat, Livilla langsung melesat lagi dan melayangkan tinju. Kini Yuanrang menggunakan pilihan pertama yaitu menangkis.
Pukulan Livilla sekarang sangat kuat. Padahal Yuanrang sudah menguatkan posisi kedua kaki dan sudah menyilangkan tangan untuk menangkis. Meski sudah usaha seperti itu, Yuanrang tetap saja terhempas dan lagi-lagi terbentur dinding gua. Livilla berlari lagi dan melayangkan tinju. Yuanrang berhasil menepis tinju berusan dengan tangan kiri. Sementara tangan kanan mengarah ke perut Livilla. Livilla berhasil menangkap tinju barusan dengan dua tangan, menggunakan tekanan Yuanrang untuk membalik tubuh Yuanrang yang sekarang membelakangi Livilla, menendang belakang lutut Yuanrang hingga dia berlutut dan kemudian menarik tangan kanan Yuanrang hingga ke punggung. Tentu saja Yuanrang merintih kesakitan karena sudah dilumpuhkan.
“In tali statu, modo collo tuo obstringam manum, tum nexus laxabunt. (Di posisi seperti ini, cukup kutempelkan tanganmu ke tengkukmu, maka sendimu akan lepas.)” kata Livilla dengan Bahasa Romawi yang langsung diterjemahkan oleh Aquilus, “An aliter vis? gladio pereo? Securis? Cultrum? an aqua deflexio? (Atau kau ingin cara lain? Kubunuh dengan pedang? Kapak? Pisau? atau dengan pengendalian air?)”
Di posisi seperti ini, Yuanrang masih belum menyerah. Dia mencoba memukulkan bagian belakang kepala ke Livilla. Namun Livilla yang sudah menyadari serangan ini, langsung menahan kepala Yuanrang. Kaki Yuanrang pun sudah terkunci oleh kaki Livilla. Tangan kanan Yuanrang pun juga sudah terkunci oleh tangan kanan Livilla. Tangan kiri Livilla juga sudah menahan kepala sekaligus juga sudah siap untuk menahan pukulan dari tangan kiri Yuanrang yang masih bergerak bebas namun tidak efektif lagi untuk menyerang. Meski Yuanrang sudah lumpuh secara fisik, mentalnya belum menyerah.
“Cukup, Yuanrang!” Kata Aquilus, “Kau sudah dilumpuhkan.”
“Tapi aku masih bisa!” kata Yuanrang.
“Hemat energimu! Ada pertarungan yang lebih serius di Lang Xue!”
Yuanrang pun melemahkan semua tangan dan kaki yang tegang. Seiring melonggarnya Yuanrang, Livilla pun melepaskan semua kuncian terhadap Yuanrang. Pengendali logam pun berdiri lagi. Wajahnya memang kusut. Memang semua pukulan Livilla cukup menyakitkan. Tapi ada yang lebih menyakitkan bagi Yuanrang. Yaitu dikalahkan oleh seorang wanita. Belum pernah ada di pikiran Yuanrang bakal terjadi seperti ini.
“Beristirahatlah dan buang muka kusutmu itu!” tawa Aquilus.
“Aku tak mengira dikalahkan seorang perempuan, Aquilus,” kata Yuanrang.
__ADS_1
“Jangan berkecil hati, Yuanrang. Livilla salah satu murid terbaikku. Kupastikan dia cocok untuk membuatmu menjadi lebih kuat dan pintar,” tawa Aquilus, “Hanya satu kelemahannya. Dia tidak bisa Bahasa Cina.”