" MENDADAK JADI AROGAN "

" MENDADAK JADI AROGAN "
"Gegana(Gelisah Galau Merana)


__ADS_3

SELAMAT MERAYAKAN HARI NATAL BUAT SEMUA SAUDARA SAUDARI YANG MERAYAKANNYA❄🎄🎊🎉SALVE🎄🎄🎄❄❄


Hari ini hari kedua dimana Esy bekerja dan menekuni pekerjaannya.


Pagi pagi sekali ia sudah berada di ruangannya karrna hari ini ada Visite dari Direktur Rumah Sakit Dirgantara Hospital jadi Esy sudah duluan untuk mempersiapkan segala sesuatu yang mungkin akan mereka inspeksi.


Hati ini serasa sangat dag dig dug aku tak tahu entah mengapa aku merasa seperti ini.


"Pagi Dok,hari ini bayi X sudah mulai therapinya Dok."Ucap Suster Chelsea sambil tersenyum menunjukkan deretan giginya yang putih.


"Iya lanjutkan ya Sus,mungkin besok sudah bisa pulang."Ucap Dokter Esy sambil tersenyum penuh kebahagiaan.


**


Di sebuah rumah besar sedang terlihat seorang gadis yang sementara makan salad buah di taman belakang rumah yang ditumbuhi berbagai macam bunga.


Itulah Dian,ia sedang makan salad buah sambil bermain ponselnya dan di sekitarnya ada seorang pria tampan ya g selalu berjaga jaga.


Ponsel Dian berdering ada panggilan masuk dari Icha dan segera ia buat speaker agar ia tak perlu meletakkan ponselnya di telinga.


"Hallo Cha ada apa?"Tanya Dian pada Icha.


"Aku hanya ingin tanya di mana putri arogan kita Dian?"Tanya Icha pada Dian.


"Mana ku tahu sudah Dua hari ini dia gak ada kabar entah lagi ngambek atau apa aku juga belum tahu."Jawab Dian pada Icha.


"Yuk kita samperin ke rumahnya."Ucap Dian padanya.


"Iya boleh juga idemu."Ucap Icha pada Dian.


Ketika keduanya asyik bercerita tiba tiba Ray mendekat ke Dian dan bertanya "Kemana Esy?Dua hari tak melihatnya membuatku merasa galau,entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang hilang."Ucap Ray pada Dian.


"Mas Ray memangnya Mas belum mengungkap isi hati Mas padanya?"Tanya Dian pada Ray.


"Sahabatmu itu sangat cuek dan datar dan buat aku belum bisa mengungkapkan isi hatiku padanya aku takut ditolak."Ucap Ray sambil tersenyum.


"Pelan pelan Mas soalnya sahabatku itu memang seperti itu,rada rada tomboi dan juga cuek Mas."Ucapku pada Mas Ray yang sejak tadi mondar mandir tak karuan karena ternyata beliau sedang gegana alias gelisah galau merana.


"Rasanya tak lengkap kalau tak ada Esy disini."Ucapku lagi membuat Mas Ray tak kuat menahan gejolak dalam hatinya.


"Non Dian tahu di mana rumah Esy?"Tanya Mas Ray memberanikan diri.


"Maaf Mas aku gak tahu di mana rumahnya?"Jawabku iseng dan berberbohong.


"Eh Dian kenapa kamu gak kasih tahu saja alamat si bawel?"Tanya Icha lagi.


"Ah kamu ini biarkan saja itu urusan mereka dan kita lihat dulu berapa lama Ray akan bertahan tanpa Esy?"Jawab Dia sambil tersenyum.


"Benar juga ya dia kan sahabat kita kenapa kita harus mempermudah perjuangan pria itu ya?"Ucap Icha lagi.


"Nah otakmu pintar juga..."jawab Dian pada Icha dan keduanya tertawa terbahak bahak.

__ADS_1


**


Seminggu telah berlalu tanpa ada pertemuan antara Ray dan Esy bahkan Ray merasa kehilangan sesuatu barang yang sangat berharga dalam dirinya.


Ia pun terlihat sangat tegas dan tetap menjaga Dian.


Tetapi minggu berikutnya bossnya memintanya menemani bosnya transaksi pembangunan proyek mereka di Milan sana membuat hatinya semakin galau karena ia tak lagi bertemu Esy selama sebulan lebih karena tender proyek itu harus ditanda tangani oleh bos property di Milan sana.


Hari keberangkatan telah tiba,ia merasa gelisah tak karuan.


Bagaimana aku akan pergi selama sebulan lebih tanpa melihat wajahmu Esy?


Kamu benar benar menyiksa diriku,kamu tega padaku dan tak ada ampun untuk melihatku barang sejenak.


"Aku tak menyangka kamu hilang dari pandanganku entah kemana aku tak tahu tapi aku janji pada diriku sendiri apabila aku sukses mendapatkan tender proyek itu aku akan mencarimu,sampai dalam tumpukan jarum dan jerami pun akan aku cari camkan itu baik baik Esy."Gumamku perlahan lahan pada diriku sendiri.


Ray sedang gelisah galau merana di perusahaan tempat ia bekerja,dan Esy sedang melakukan operasi usus buntu pada seorang anak remaja berusia empat belas tahun.


Di runag operasi itu Esy sangat cekatan menginsisi bagian anatomi usus buntu pasien.


Satu jam kemudian prosesnya selesai dan Esy berencana untuk mengambil cuti libur 2 hari karena di jari jumat tak ada jadwal pasien yang akan operasi sehingga ia mengambil cuti libur di jari jumat,sabtu sekaligus minggu.


Jam ganti shift pun tiba,dengan langkah gontai ia pun berjalan menuju ke ruang ganti dimana pakaian formalnya ia simpan.


Setelah berganti pakaian ia pun menemui suster Chelsea dan pamit pulang.


"Ah rasanya badanku remuk semua aku merasa perlu berendam di dalam bathup dengan aroma vanilla kesukaanku."Gumamnya dalam hati.


Si pria kecil pun mendekat ke arahnya dan menyapa Dokter Esy sambil tersenyum.


"Ehm...Dok terima kasih atas bantuannya ya hari ini ibu saya sudah bisa pulang ke rumah dan ibu berniat untuk bertemu Bu dokter."Ucapnya sambil mempersilahkan Esy menuju ke ruang dimana ibunya dirawat yaitu di ruangan vvip...


"Baiklah ayo kita kesana tengok ibumu."Ucap wanita itu pada pria remaja tampan itu.


"Ah wajahnya tampan dan sangat familiar sekali tapi siapa ya?"Gumamku dalam hati.


Sesampainya di depan kamar dimana ibunya pria kecil tadi di rawat.


"Eh ...aku lupa maaf perkenalkan namaku Dedy,aku baru saja naik kelas 2 SMP Bu dokter."Ucap pria remaja tampan itu.


"Aku Govina...panggil saja aku mbak atau kakak ya!!"Jawabku sambil menyebutkan nama ku yang jarang aku gunakan karena aku tak ingin aku dikenal banyak orang,itu sangat mengganggu ketentramanku.


Kami pun masuk ke dalam kamar dimana ibunya dirawat.


"Permisi,selamat siang ibu."Ucapku menyapa wanita di dalam ruangan itu dan duduk di atas sebuah kursi kecil di hadapan wanita setengah abad kebih itu.


"Eh Bu Dokter,mari masuk Dok."Ucap Ibunya Dedy sambil mempersilahkan aku masuk ke dalam ruangan itu dan duduk di kursi dekat ranjang.


"Bagaimana kabar ibu?"Tanyaku dengan nada lembut selembut sutra membuat yang mendengar suaraku mengira aku bidadari yang baru keluar dari hutan(🤩)


"Maaf ibu sudah benar benar pulih?"Tanyaku lagi karena akubtak ingin ada pasien yang pulang karena terpaksa.

__ADS_1


"Iya nak ibu sudah bisa pulang nih lagi menunggu sopir pribadi ibu yang masih di jalan. "Jawab Bu Beatrix dengan nada lembut juga.


"O baiklah kalau begitu."Jawabku sambil tersenyum.


"Bu Dokter boleh saya minta nomor ponselnya siapa tahu kita bjsa sharing pendapat soal kesehatan Bu Dokter."Ucap Bu Beateix sambil tersenyum dan meraih tanganku.


"Terima kasih untuk beberapa waktu lalu kalau gaj ada kamu nak ibu pasgi sudah tak ada lagi di dunia ini."Ucapnya lagi.


"Terima kasih Bu,saya akan menolong siapapun tanpa pandang bulu karena itu layak dan pantas sebagai manusia saling tolong menolong."Jawabku sekenanya dan tak mau merasa mwreka berhutang budi padaku,itu gak ada dalam kamus ajaran mama Barbara pada kami anak anaknya(aku tersenyum dalam hati sambil ku tatap wajah wanita setengah abad lebih di depanku itu).


"Baik Bu saya pamit ya?"Ucapku hendak berdiri tetapi tangannya kembali di tarik oleh ibu Beatrix sambil berkata.


"Dok,tunggulah sampai sopir pribadi saya datang menjemput."Ucap wanita itu menvoba menahanku agar aku tak segera pergi.


Dengan berat hatiakhirnya aku pun kembali duduk di atas kursi kayu ukiran itu.


"Baiklah Bu,"Ucapku lagi sambiltersebyum agar wajah cemberutku tak kelihatan.


Beberapa saat kami pun bercerita panjang lebar,aku lebih memilih untuk memberikan edukasi kesehatan padanya sedangkan beliau berbicara panjang lebar tentang anak anaknya entah yang mana anak anak itu tetapi aku tetap menjadi pendengar yang baik.


Tak berapa lama pintu kamar diketuk tanda yang jemput mereka sudah datang.


Aku sudah mengganti pakaian sehingga orang yang melihatku mengira kalau aku datang untuk menjenguj saja.


"Siang Nyonya maaf Tuan muda sedang mengikuti kegiatan yang tak bisa ditinggal sehingga saya yang datang untuk menjemput anda Nyonya."Ucap pria itu yang bernama Pak Bejo.


"O baiklah kalau begitu."Jawab Bejonsambil melirik ke arahku dan mengernyitkan kepalanya seakan ia berpikir keras kapan dan dimana ia bertemu denganku dan tanpa aku tahu ia memotret secara sembunyi sembunyi aku yang sedang membantu ibu Beatrix berjalan dan masuk ke dalam mobil yang sudah di parkir di depan pintu keluar itu.


"Nak kalau gak keberatan ayo bareng."Ajak Bu Beatrix lagi.


"Maaf Bu aku masig ada pekerjaan yang belum selesai kukerjakan,baiknya ibu pulang dan istirahat saja dulu ya Bu?"Ucapu menolak ajakannya dengan halus.


"Baiklah Nak sampai jumpa."ucap wankta setengah abad lebih itu lagi.


"Pamit ya Kak?"sebuah kalimat meluncur dari Dedy si pria remaja tampan itu.


"Baiklaj Dek...jagain ibu ya?"Ucapku sambil melambaikan tanganku pada mereka,dan mobil itupun melaju meninggalkan aku yang masih berdiri terpaku.


**


Rasanya ingin aku bertanya pada nyonya majikanku tentang gadis tadi tetapi aku tak punya keberanian sama sekali.


Aku rasa aku ssperti mengenal gadis itu entah dimana?Aku seperti pernah melihat gadis itu tapi entah dimana aku benar benar lupa dan aku rasa yang aku ingat itu benar benar itu gadis yang pernah aku lihat.


Tetapi ah otakku jadi buntu seketika.


Dari tadi Pak Bejo seakan berpikir sangat keras tentang gadis yang ia temui barusan dengan Nyonya majikannya itu.


"Ah sudahlah nanti juga aku akan kembali mengingatnya kok."Gumamku dalam hati dan melajukan mobil menuju mansion Tuanku.


Tak berapa lama kami pun tiba di depan kompleks rumah elit dan aku pun melaporkan pada Satpam di depan kemudian kami di persilakan masuk ke dalam kompleks itu menuju rumah Nyonya Beatrix.

__ADS_1


__ADS_2