
Akhirnya hari ini aku pun memenuhi permintaan Papaku untuk bersamanya mengunjungi rumah sakit milik kami.
Papaku seorang Dokter Spesialis Jantung Paru,sekaligus seorang direktur utama di perusaahaan Dirgantara.
Aku adalah pewaris tunggal Dirgantara Corporate tetapi aku masih diuji oleh papaku dengan cara menjadikan aku seorang bodyguard di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang property dan minyak bumi milik Tuan Broto.
Tuan Broto dan Papaku adalah sahabat sejak mereka muda dulu.
Aku sempat kuliah di kedokteran selama Tiga semester tetapi akhirnya aku memutuskan untuk kuliah bisnis dan perbankan hingga S3 di universitas harvard.
"Bagaimana Nak apa kamu sudah siap?"Tanya papa mengagetkan aku.
"Sudah Papa,kita berangkat sekarang?"Tanyaku padanya.
"Iya nak sekarang,kamu sudah siap?"Tanya Papa padaku.
"Siap dong Pap...!!"Jawabku penuh semangat.
**
Di Rumah Sakit Dirgantara,terlihat seorang Dokter muda yang tampan memasuki ruang operasi,dialah Dokter Rafael seorang Dokter Obstetri ginekologi yang hari ini adalah hari pertama bekerja di Rumah sakit Dirgantara.
Hari ini Dokter Rafael melakukan operasi caesar pada seorang ibu hamil yang mengalami plasenta previa.
Akhirnya Operasi berjalan lancar dan ibu serta bayinya selamat semua.
"Puji Tuhan semuanya berjalan lancar,ibu dan bayinya sehat sekarang aku akan beristirahat sejenak."Ucap Dokter Rafael pada dirinya sendiri.
Ketika melangkah keluar tak sengaja ia bertabrakan dengan Dokter Esy yang sementara berjalan sambil membaca ponselnya.
"Brukkk....!!"Suara tabrakan yang mengakibatkan keduanya jatuh ke lantai.
"Punya mata gak sih?"Ucap Dokter Esy yang saat itu masih memakai pakaian bebasnya.
Ia belum sempat ganti karena ada seorang pasien yang mengamuk dan terpaksa ia harus pergi membantu menenangkan pasien tersebut.
"Maaf mbak saya buru buru."Jawab Dokter Rafael sambil tersenyum.
"Iya gak apa apa,cepat pergi sana!!"Ucap Esy sambil berlalu menuju ke ruangannya dan ternyata ruangannya bersebelahan dengan ruangnya Dokter Rafael.
Ketika hendak melangkah masuk ke dalam ruangnya ia melihat siluet seseorang yang ia kenal berjalan di lobi bersama seorang pria setengah abad lebih atau tepatnya pria berumur swkitar 60an.
Saat ia melihat ternyata itu adalah Ray bodyguard Tuan Brottepatnya bodyguard dari sahabatnya Dian.
"Wah mampus,ngapain tuh pria ke sini?"Gumamnya dalam hati.
"Apa sebaiknya aku pakai rambut palsu dan sebuah tahi lalat palsu agar ia bingung dan tak mengenaliku ya?Ah...sebaiknya aku coba aja deh sapa tau benar ia tak mengenaliku."Gumam Esy pada dirinya sendiri.
Akhirnya ia pun kompak dengan perawat Chelsea untuk merubah penampilannya.
Ketika mereka semua berkumpul di Aula Rumah Sakit,tiba tiba Ray dan Pak Direktur Rumah sakit itu masuk ke dalam aula dan menyapa semua dokter dan perawat serta semua tenaga medis di aula tersebut.
Ketika Ray menatap satu persatu tiba tiba matanya menatap wajah Esy dan ia sempat mengernyitkan keningnya ia pun seperti berpikir dengan keras.
" Sepertimya wajah gadis itu tak asing bagiku tetapi aku bertemunya di mana ya?"Ucap Ray dalam hati dan terus menatap Esy karena Esy berdiri tepat di hadapan Ray atau tepatnya di barisan depan.
Siapa ya gadis ini?Aku seperti sangat mengenalinya tetapi di mana aku lupa?Ray bertanya dalam hatinya.
Ketika ia menatap fokus ke Esy,terlihat jelas Esy sengaja menunduk dan bahkan melihat ke arah lain.
Ray menjadi curiga ketika melihat Esy tak menatapnya sama sekali ia seperti menghindari tatapan dari Ray.
"Kenapa sih gadis itu celingak celinguk kayak pencuri saja?"Ucap Ray perlahan agar tak di dengar oleh Papanya.
Akhirnya Pak Dirgantara mulai berbicara
Pak Dirgantara pun memperkenalkan dirinya dan Ray pada semua orang dalam aula itu dan mulai berbicara maksud dan tujuan mereka ke sini.
Sepanjang pengarahan itu,Dokter Rafael terus saja menatap ke arah Esy yang kelihatannya sangat aneh dengan penampilannya yang serba palsu itu.
__ADS_1
"Bukankah itu gadis yang tadi menabrakku ya,gadis itu sangat galak udah tabrak aku malah marah marah lagi untungnya ia gak memperpanjang masalah sehingga aku pun bisa pergi dengan leluasa kalau gak bisa bisa aku semakin pusing menghadapi cewek arogan seperti gadis itu."Gumam Dokter Rafael dalam hati dan matanya tak lepas dari gadis yang berdiri di bagian sayap terdepan aula Rumah sakit itu.
Ray menatap tajam ke arah Dokter Rafael yang sedari tadi terus saja menatap Esy.
"Apakah mereka pacaran?"Gumam Ray dalam hati.
Terlihat sangat jelas kalau banyak Dokter muda yang menatap penuh kagum pada pria yang berdiri di samping direktur Rumah Sakit itu.
"Oh andai aku bisa memacarinya...!!"Ucap Dokter muda yang rambutnya di kuncir kuda dan name tag nya tertulis nama shangrilla.
"Jangan halu Rill,gak mungkinlah anak direktur itu suka sama lo,secara pria itu sangat tampan dan terlihat sangat ganas wajahnya pun tak terlihat bersahabat,aku yakin pasti dia sudah memiliki seorang kekasih hati,jangan berharap pada sesuatu yang tak mungkin deh."Ucap Dokter Amira pada Dokter Shangrilla dengan penuh bijaksana.
"Eh kamu lihat Esy kok aneh ya mau jadi badut apa tuh anak aneh aneh saja pakai acara pakai wig segala belum lagi ia juga memakai tahi lalat palsu di pipinya."Ucap Shangrilla pada Amira.
"Iya juga ya ada apa ya?"Tanya Amira pada Shangrilla lagi.
"Gak tahu aku,nanti selesai ini kita serang langsung orangnya ya?"Ucap Shangrilla sambil tersenyum.
Selesai ramah tamah mereka pun kembali ke pekerjaan masing masing.
Ketika hendak melangkah masuk ke ruangannya ia berpapasan lagi dengan Dokter Rafael.
"Hiis dasar aneh..."Sindir Dokter Rafael pada Esy.
Tidak peduli dengan kata Dokter Rafael ia pun masuk ke dalam ruangannya.
Ketika masuk ke dalam ruangannya tiba tiba Shangrilla dan juga Amira menghampirinya dan tanpa basa basi mereka langsung menarik wignya Esy sehingga jatuh dan juga Amira langsung mengupas tahi lalat palsu milik Esy sambil tertawa terbahak bahak.
"Say kamu kenapa merubah penampilanmu seperti ini?"Tanya Shangrilla sambil tersenyum.
"Ada deh kepo amat sih?"Ucap Esy santuy...
"Emang kamu gak mau cerita ke kami ya?Kenapa?"Tanya Amira.
"Nanti deh aku ceritain."Jawab Esy sambil berjalan masuk ke ruang pribadinya dan mengganti pakainnya dengan pakaian seragam mereka yang sangat cantik itu.
"Hei kutu sana kembali ke ruangan kalian,ntar kalau ada visite dari Pak Dirgantara bagaimana?"Ucapanku mewakili hatiku yang dengan halus mengusir kedua gadis bar bar itu.
"Esy kamu ini gak asyik ah..kita kan pengen tahu aja apa motif kamu untuk bergaya seperti tadi?"Ucap Shangrilla lagi gak mau pergi dari hadapan Esy.
"Saat istirahat nanti aku cerita ya sekarang kalian berdua kembali ke ruangan kalian karena aku harus ke ruangan VIP untuk mengontrol pasienku."Ucapku pada mereka berdua.
Kemudian mereka pun pergi dari ruanganku menuju ke ruangan mereka masing masing.
**
"Papa duluan ya Ray masih ada sedikit urusan disini...!!"Ucap Ray pada Pak Dirgantara yang saat itu hendak kembali ke perusahaannya.
"Baiklah Nak,Papa tunggu kabar gembiranya ya kalau sudah ketemu sama calon menantu papa dan mama?"Ucap Papa Dirgantara sambil tersenyum dan memasang seatbeltnya.
"Ah Papa kepo banget sih,Ray kan masih mengadakan penjajakan agar gak salah pilih Papa?"Ucap Ray sambil menatap wajah sang Papa.
"Baiklah Nak,papa tunggu kabar baiknya ya?"Ucap Papa Dirga dan ia pun pergi bersama sopir pribadinya untuk pulang ke perusahaannya.
Ray pun kembali ke dalam lobi dan menuju ke ruangannya.
Di sana ia meminta bagian administrasi untuk mengecek nama yang ia cari.
Ia telah meminta nama lengkap Esy dari Dian.
Setelah beberapa menit ia mencari cari akhirnya ketemu juga dokumen pribadi milik Esy.
Ia pun mengeceknya dan ia pun tersenyum penuh kemenangan.
"Oo Jadi tadi saat Visite kamu menyamar ya sayangku?Gumam Ray sambil tersenyum lagi.
"Aduh kenapa aku sangat bahagia, dan kenapa jantungku berdetak kencang?Apakah karena dia adalah belahan jiwaku?"Gumam Ray pada dirinya sendiri.
Ia pun hendak mengangkat tangannya tetapi pas ia mengayunkan tangannya tanpa sengaja ia menjatuhkan gelas berisi kopi itu ke lantai sehingga gelasnya pecah dan belingnya berserahkan di mana mana.
__ADS_1
Asistennya yang melihat itu langsung berteriak meminta tolong karena lukanya yang terkena tusukan pecahan gelas tadi mengalir darah yang cukup banyak.
Kebetulan saat itu Esy pas melewati tempat dimana Ray terluka dan ia pun langsung memberikan pertolongan tanpa melihat siapa yang ia tolong itu.
"Bagaimana Pak?Apa masih sakit?"Ucap Esy sambil membersihkan luka Ray dan mengoleskan salepnya.
"Iya sudah agak mendingan...!!"Jawabku sambil menengadahkan kepalaku dan betapa ia terperanjat melihat bidadari yang sudah ia rindukan itu.
"Esy?"Panggil Ray sambil membulatkan matanya.
"Aku gak salah lihat kan?"Tanyanya sambil menampar pipinya dengan tangan kanannya yang tidak terluka.
"Iya Mas Ray,kok bisa Mas terluka?kenapa Mas bisa seceroboh ini?"Esy pun akhirnya membuka suara.
"Aku cinta kamu Esy...!!Tolong jangan pernah menghindar dariku lagi,aku merasa hampa kalau tidak melihatmu sedetikpun.Please jangan pernah menghindari aku sayang...!!"Ucap Ray sambil meraih tangan Esy.
"Maaf Mas aku lagi kerja ngobrolnya nanti pas makan siang aja aku ada jadwal operasi Lima belas menit lagi."Ucap Esy sambil mencoba berdiri tapi tangannya di tarik oleh Ray.
"Biarkan aku menatapmu sebentar saja,aku ingin agar rinduku selama ini tersampaikan sayang...!!"Ucap Ray sambil menggenggam erat jemari Esy dengan tangan kanannya yang sehat.
"Tapi Mas,aku harus mempersiapkan alat alatku dulu,aku janji Mas selesai operasi aku bakal kesini lagi jenguk Mas.please lepaskan tanganku dulu Mas."Ucap Esy memelas.
Akhirnya Ray pun melepaskan tangan Esy.
"Ya sudah aku menunggumu ya?Jangan mencoba untuk menghindariku lagi aku tak kuat menahan rasa rindu yang tak bertepi ini."Ucap Ray sambil mendaratkan sebuah kecupan melalui dunia halunya.
"Mas ini..."Ucap Esy sambil melangkah pergi meninggalkan Ray di dalam ruang IGD.
"Kamu sangat manis sayang aku merasa kalau kamu juga merasakan hal yang sama seperti aku rasakan saat ini,dada bergemuruh,hati dag dig dug,jantung bergetar hebat seakan ia sedang memainkan musik DJ saat ini dalam tubuhku."Gumam Ray sambil tersenyum penuh makna.
"Baiklah aku akan kembali ke perusahaan papa dulu aku akan beritahu Papa kalau aku akan bekerja di perusahaan Papa sambil mengawasi Rumah sakit."Ucap Ray sendiri.
**
Di ruang operasi terlihat perawat instrumen sedang menyiapkan duk steril dan semua perlengkapan operasi yang akan dilakukan lima menit lagi.
Akhirnya Esy mulai melakukan insisi pada bagian yang akan dibuka secara perlahan lahan dan mengeluarkan sebuah bongkahan besar di dalam rahim wanita itu.
Esy sangat cekatan sehingga ia dengan cepat mengeluarkan benda itu dari rahim wanita itu dengan secepat kilat dan memasukkan pada wadah yang telah disediakan dan berisi air steril untuk menjaga agar sebelum penelitian dilanjut semua hasil sudah di dapat.
Setelah selesai mengeluarkan benda itu Dokter Esy dan assisten nya segera pamit pulang ke ruangannya.
Ketika sampai dalam ruangan tiba tiba pintu diketuk dari luar.
Dan ternyata yang mengetuk adalah kedua kutu kupret tukang kepo alias Dokter Shangrilla dan Dokter Amira kedua Dokter muda itu benar benar tidak kapok dan ingin sekali bertanya soal pertolongan Dokter Esy pagi tadi terhadap CEO dingin tanpa senyum itu.
"Dokter Esy,apa kamu masih ingin menghindari semua pertanyaan dari kami?"Tanya Dokter Shangrilla alias Miss Kepo itu.
"Dokter Esy ayolah jawab pertanyaan Dokter Shangrilla dan aku juga kepo banget pengen tahu hubungan kalian karena aku melihat ada gurat gurat cinta antara kalian berdua CEO Ray Dirgantara."Ucap Amira tanpa peduli situasi saat itu.
Mereka tak tahu kalau CEO Ray sementara di dalam kamar mandi milik Dokter Esy bersembunyi di balik pintu kamar mandi.
"Eh kalian mau keluar gak dari ruanganku?"Hardik Esy pada kedua gadis yang tak bisa menahan diri itu.
"Apakah kalian sudah jadian Dokter Esy?"Pertanyaan yang sama di ajukan oleh Dokter Amira.
"Kalau sudah jadian emang kenapa kalian kok kepo banget sih sama hubungan orang?"Ucap Esy tanpa senyum di wajahnya.
"Jangan cemberut gitu dong Dokter cantik."Ucap Dokter Shangrilla sambil mencubit pipi Dokter Esy.
"Kalau kalian sudah jadian kami mengundurkan diri kalau begitu,karena kita sesama perempuan tidak boleh saling menyakiti satu sama lain iya gak Amira?Ucapan Shangrilla mengandung pernyataan yang mendalam pada kalimatnya itu.
"Ayo sana pergi aku pengen istirahat,pagi ini hingga sekarang belum makan karena operasiku dua kali dan semuanya butuh tenaga dan ketenangan sehingga menguras habis tenagaku,kalian pergilah aku ingin istirahat sejenak."Usir Esy secara halus pada kedua temannya itu.
Sementara Ray yang berada di balik pintu itu tersenyum penuh kemenangan.
"Akhirnya dia mengaku juga kalau pertanyaannya memaksa."Gumam Ray pada dirinya sendiri.
To be continued...
__ADS_1