
Aku dan Mas Ray masih saja bercerita panjang lebar tentang jalan hidup yang ia lalui.
Aku rasa ia mengarang cerita ya g indah sehingga membuat aku selalu tersenyum saat mendengar lelucon yang ada dalam ceritanya itu.
"Esy,kamu tahu gak?"Tanya Mas Ray tiba tiba membuatku gugup.
"Tahu apa Mas?"Aku balik bertanya padanya dan ia pun seperti tercengang melihat ke arahku karena memang saat itu aku sedang tersenyun dan asal kalian tahu aja senyumku itu adalah senjata pamungkasku,karena gigi gingsulku mencuat keluar dan menambah kecantikan yang luar biasa terpancar dari wajahku.
"Mas...!!"Panggilku lembut membuat Mas Ray salah tingkah tetapi dengan cepat ia menetralisir keadaan sehingga ia tak seperti sedang canggung.
"Iya sayang...!!"Jawab Mas Ray spontan.
"Eh maaf aku... anu...aku salah menyebut nama kamu...maaf ya?Tapi kalau boleh sih ?"Ucapnya dengan suara setengah berbisik.
"Kalau boleh apa Mas?"Aku kaget dengan ucapan Mas Ray padaku barusan.
"Suatu saat aku akan melamarmu!!"Jawab Mas Ray serius sambil tersenyum.
"Kalau Mas bisa...!!" Jawabku cuek dan datar.
Aku tak ingin terlihat gampang di dekati pria,dan aku tak ingin pria menganggap aku gampangan.
"Emang aku gak pantas ya mendampingi kamu?"Tanya Mas Ray serius sambil menatapku dengan intens.
"Jangan menatapku seperti itu Mas?"Ucap sambil ku dorong wajah Mas Ray agar tak menatapku seperti itu.
"Kenapa kalau aku menatap calon isteriku ,apa aku salah?"Tanyanya lagi.
"Mas ini bercandanya kelewatan deh."Ucapku lagi.
"Aku serius Esy,apa aku boleh melamar gadis pujaanku?"Tanya Mas Ray lagi.
"Kan aku udah bilang dari awal tadi Mas?Kalau Mas bisa menakhlukan kedua abangku."Jawabku tanpa menoleh ke arahnya karena aku takut dengan tatapannya yang sangat menusuk itu,tatapan yang sangat tajam itu sungguh jujur aku tak sanggup melihatnya,aku nervous banget dan aku ingin Mas Ray cepat pergi dari hadapanku.
Ih kenapa sih kedua kutu kupret itu menghilang tanpa jejak?
Aku hanya berharap ada sebuah keajaiban yang mengusir Mas Ray dari hadapanku.
Ketika aku hendak berbalik melihat ke arah Mas Ray ternyata pria itu masih saja menatapku dengan tatapan elangnya itu yang membuat bulu kudukku merinding.
__ADS_1
"Mas bisa gak Mas gak menatapku seperti itu?"Ucapku menegurnya.
"Kan aku udah bilang apa salahku menatap calon isteriku?"Ucapnya lagi sambil menyunggingkan seluas senyum yang semakin menambah kadar ketampananya.
"Kamu kenapa sih?"Tanyanya lagi.
"Aku gak suka ditatap seperti itu Mas?"Ucapku sambil menunduk saja.
"Angkat wajahmu,jangan sembunyikan wajah cantikmu saat aku berbicara karena aku akan segera menciummu kalau kamu masih saja menunduk seperti itu."Ucapnya lagi dengan nada mengancam yang membuat jantungku seperti habis lari maraton saja.
Aku pun mengangkat wajahku dan ku lihat ia masih menatapku dengan tatapan mematikan,dan kegugupanku merajai hatiku yang resah dan gelisah.
"Mas,aku boleh pinjam hp mu?"Tanyaku toba tiba karena aku lupa mengisi pulsa pada hp ku.
"Nih ambil..!!"Katanya sambil memberikan ponselnya padaku.
"Kamu gak takut aku habisin pulsamu Mas?"Tanyaku padanya lagi.
"Untuk calon isteriku mah aku gak perhitungan."Jawabnya masih saja menggodaku.
"Mas ini..."Ucapku sambil menaikkan bibirku manyun.
"Mas ini...aku gak bercanda Mas?"Ucapku lagi.
"Lho siapa yang bercanda?Aku juga gak bercanda kok?"Ucapnya lagi dengan nada serius dan tau aja mata elangnya itu membuat lidahku kelu.
"Pakai aja itu hp pulsaku banyak kok."Ucapnya lagi sambil memandang ke arah lain.
Baiklah aku miss call dulu ke nomorku untuk ku kerjain dirinya awas aja ya Mas Ray?
Setelah itu langsung saja aku hapus nomorku di panggilan keluar di ponselnya itu dan aku pun langsung menelepon Dian dan Icha.
**
Sementara itu kedua sahabat itu sedang asyik asyiknya melihat keramaian di bar di sebelah sana.
Tiba tiba ponsel Dian berdering dan ia pun segera mengangkat ponselnya itu.
"What Mas Ray?Ada apa ya?"Gumamnya pada Icha.
__ADS_1
"Hallo Mas,ada apa ya?"Tanya Dian tanpa mendengar suaraku duluan.
"Eh,Dian ini aku Esy kalian berdua ngapain saja sih lama banget kakiku sampai kesemutan tau,ayo cepat pulang ya Kak Marco sudah telepon aku dari tadi nih."Ucapku berbohong karena Dian tak mudah untuk dibohongi.
"Tumben kamu pakai nomor ponselnya Mas Ray Sy?"Tanya Dian Kepo.
"Aku pinjam ponselnya Mas Ray karena pulsaku habis."Ucapku jujur.
"O gitu aku pikir kalian sudah saling cocok cocokkan makanya aku tanya padamu Sy?"Ucap Dian dari seberang sana.
"Ah Dian kamu jangan bercanda dong mana mungkin akan ada hal sedemikian rupa?"Ucapku sengaja tak menyebut apa yang menjadi tranding topik antara aku dan Mas Ray barusan.
"Jujur ya Sy,aku sangat mendukung kalau Mas Ray bisa mempersuntingmu jadi permaisurinya loh soalnya Mas Ray itu sangat cocok denganmu Esy aku dukung 1000% kalau kalian berdua jadian."Ucap Dian blak blakan soal hubungan Ray dan Esy.
"Eh kamu itu sahabat aku atau bukan sih?"Tanyaku pada Dian yang mulutnya seperti ember bocor itu.
"Dian ayolah cepat pulang aku udah di telepon berulang ulang oleh Kak Marco nih."Ucapku berbohong lagi.
"Kasih ponsel ke Mas Ray biar aku bilang ke dia untuk mengantarmu pulang karena misiku belum selesai."Ucap Dian sambil tersenyum dslam hati karena ia tahu pasti Ray sudah pedekate dengan sahabatnya itu.
"Baiklah...!!" Jawabku lesu dan ku berikan ponsel itu pada Mas Ray.
"Mas ini Dian mau berbicara gak tahu mau bicara apa tuh anak."Ucapku sambil ku kasih hp padanya.
"Makasih ya Esy?"Ucap Mas Ray sambil menerima ponselnya dan mulai berbicara dengan anak bosnya itu.
"Oya Non ada apa ya?"Terdengar Ray mulai berbicara dengan Dian.
"Mas Dian minta tolong ya Mas?Tolong antar sahabat Dian pulang ke rumahnya. "Ucap Dian mambuat mata Ray berbinar binar gembira ia tak tahu harus bilang apa pada Dian karena itu adalah harapannya.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba."Jawab Ray sambil tersenyum dengan wajah berseri seri.
"Mas masih di sana?"Tanya Dian pada Mas Ray.
"Eh iya non baiklah saya akan mengantar sahabat non pulang ke rumahnya."Jawab Mas Ray lagi.
"Sampai ke rumahnya ya jangan macam macam sama sahabat saya nanti aku potong gaji mu kalau ada komplain dari sahabatku."Ucap Dian sambil tersenyum karena ia tahu Ray sangat menyukai sahabatnya itu terlihat dari sorotan wajah dan senyum Mas Ray saat Dian menyebut nama Esy sahabatnya itu.
"Next ya?"
__ADS_1