3600 detik bersama Ayah

3600 detik bersama Ayah
BAB 1


__ADS_3

Udara yang dingin malam ini sangat tidak biasa. Bahkan Tifani yang biasanya memakai pakaian pendek berubah seperti putri tudung merah. Pakaiannya bak orang yang tercebur ke dalam air es 3 hari 2 malam. Tifani yang biasanya keluyuran dan pulang dini hari, malam ini lebih suka mengunci diri di dalam kamar dan tak hentinya membalas WhatsApp dari teman teman di grup chatnya. Dia yang ditunggu tunggu teman nya di base camp malah sudah terlanjur nyaman di atas kasur empuk nya itu. Tifani juga berkali kali meminta maaf kepada teman teman nya karena malam ini dirinya tidak bisa bergabung dengan mereka seperti malam malam biasanya.


"Ya kale gue disuruh kesana. Mau ke kamar mandi aja males ketemu air. Kenapa si kok dingin banget malem ini?" gumamnya di dalam kamar sendirian.


Dia memang sangat menyendiri semenjak ibunya meninggal 2 tahun lalu. Ayahnya yang tak pernah perhatian dengan dia dan Tania, kakak nya yang tak pernah menganggap nya sebagai manusia membuatnya enggan untuk berada di rumah itu kecuali di kamarnya. Hanya Bi Icu yang memperlakukan nya seperti anaknya sendiri. Karena memang anak Bi Icu sudah meninggal 6 bulan lalu saat kecelakaan bersama dengan suaminya. Dan saudara sulungnya, Veraldi yang akrab disapa Kak Eral, yang mampu membujuk dan meredakan emosi Tifani.


Di ruang makan


"Bi, Tifani dimana? Kok nggak ikut makan? Dia nggak pergi kan malam ini?" tanya Kak Eral pada Bi Icu.


"Non Tifani ada di kamarnya den. Katanya tadi mau makan di kamar aja, tadi bibi juga sudah nganter makanan ke kamarnya non Tifani." jawab Bi Icu.

__ADS_1


"Oh ya udah bi, tolong pastikan Tifani makan dengan teratur ya!"


"Iya den pasti."


"Kakak ngapain sih, ngurusin anak tiri itu. Dia aja kurang ajar banget sama aku." kini Tania ikut berbicara dengan nada kesal kepada Kak Eral.


"Tania!" tiba tiba suara Kak Eral meninggi ketika mendengar omongan Tania. "Jangan pernah bicara seperti itu lagi di depan kakak."


Kak Eral meletakkan sendok makannya dan mengepalkan tangan tanda dia sudah mulai gemas dengan tingkah adik nya itu "Cukup Tania. Kakak udah cukup capek sama masalah di kantor jadi kamu nggak usah nambahin pikiran lagi di rumah"


Kini mereka saling beradu mulut di meja makan hingga menyebabkan Pak Tommy, yang tak lain adalah Ayah mereka ikut bicara dan menengahi pertengkaran mereka.

__ADS_1


"Cukup. Lanjutkan makan kalian atau tidur dan kembali saja ke kamar kalian!" tegas Pak Tommy dengan nada keras yang membuat kedua anaknya terdiam.


Tania, sang putri yang memang berwatak keras namun manja kini membanting sendok dan dengan wajah marah berlari menuju kamarnya.


"Eral, bagaimana perusahaan yang kamu pegang di Banten ? Apa ada masalah ?" tanya Pak Tommy mencairkan suasana.


"Tidak, Yah. Semua nya lancar. Maaf untuk kejadian yang barusan, Yah. Eral sangat emosi." Eral yang merasa tidak enak kemudian meminta maaf kepada Ayahnya karena sikap nya tadi.


"Tak apa. Lupakan saja. Kamu yang lebih tau dari siapapun bagaimana sikap adikmu Tania itu."


Akhirnya mereka melanjutkan makan malam hanya berdua dan menganggap kejadian tadi tak pernah terjadi hari itu.

__ADS_1


__ADS_2